Betah dan Butuh

Betah dan Butuh

@scientiafifah

Karena alasan apa lazimnya kita bertahan di suatu kondisi? Konsisten mengerjakan sesuatu. Teguh berpegang pada satu pilihan yang ujungnya kita belum benar-benar tahu akan berakhir ke mana. Karena apa?
Ada yang beralasan karena memang “betah”: nggak tahu, saya suka aja menjalaninya walau harus kurang tidur. Saya betah aja berlama-lama dengannya.

Ada yang beralasan karena memang “butuh”: ya habis bagaimana lagi, saya butuh uang untuk makan dan menyambung nafas keluarga saya, maka berdesakan di kereta tiap hari menjadi hal biasa.

Berapa banyak pilihan yang kita bertahan karena keduanya: betah dan butuh. Kita betah berlama-lama karena senang, dan butuh karena dengannya kita bisa bertahan hidup? Atau mungkin awalnya betah tapi tak butuh, tapi lama2 butuh. Atau awalnya bergerak karena butuh tapi lama2 betah.

Namun iman menjalin keduanya dengan cara yang apik. Memilih apa yang sebenarnya kita butuhkan, membuat kita lebih betah dalam mempertahankan dan menanggung konsekuensi atas sebuah pilihan.
siapa dan apalah kita, makhluk alfa yang sesaat setelah memutuskan, detik berikutnya saja tak pernah tahu ujung dari sebuah pilihan?

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat kebetahan kita terhadap sesuatu adalah faktor kedekatan. Kedekatan ini tak hanya bermakna kedekatan fisik, bahkan jauh melampaui sekedar kedekatan fisik. Tapi kedekatan emosional, kelekatan hati. Ia bisa tersebab kesamaan pemahaman, kemiripan karakter, dan kesatuan frekuensi jiwa.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR. Muslim)

18.12.16

18.12.16

Kadar kepedulian kita terhadap sesama kadang baru bisa muncul ketika kita memaksakan diri untuk terjun langsung ke lapangan. Ketika kita melihat langsung ada yang tidak beres dengan sekitar,  dan memutuskan untuk terlibat langsung dalam proses perbaikan. 

Rasa gemas, geram, heran,  yang berakar dari kecintaan dan menghasilkan kepedulian dalam bentuk amal. Rasa kesal melihat keadaan yang memaksamu keluar dari zona nyaman–yang bisa jadi justru merupakan jebakan ketidakpedulian. 

Kadangkala,  semua butuh paksaan. Bisa jadi memang membekaskan kelelahan dan kepenatan,  tapi nantinya istirahatmu lebih memiliki pemaknaan. 

giving

giving

Keinginan untuk terus memberi, bahkan di tengah sempitnya situasi yang menghimpit kita, adalah sebuah anugerah. Anugerah tak lain memang pemberian, namun ia tetap harus diusahakan. Ada banyak kondisi di mana ketidakidealan membuntuti kita. Di situlah bermimpi memiliki arti. Bermimpi agar tetap bisa memberi. Bermimpi yang mendorong kita untuk bangun dari ketidakberdayaan, dari kemalasan, dari kejenuhan, dari ketakutan-kekhawatiran, melewati batas-batas logis kemampuan kita.

Keinginan untuk terus memberi, pada akhirnya adalah anugerah terindah dalam hidup. dengannya manusia belajar bahwa seindah-indahnya kesendirian, lebih indah bersama meski dalam kesulitan.

Jum’at Sore

Jum’at Sore

Jum’at sore, adalah kebahagiaan bagi banyak orang. Karena esok adalah Sabtu, dan esoknya adalah Ahad.

Jum’at sore tetap saja adalah kebahagiaan, sehingga bayangan tentang kemacetan yang ekstra ditemui karena commuter beralih massif ke wilayah suburban bisa terusir dengan bayangan istirahat leyeh-leyeh di rumah pada dua hari ke depan, bercanda ria dengan orang-orang kesayangan.

Kadang kala, kita siap menerjang kesedihan dan kesulitan karena mengetahui ada harapan kebahagiaan yang menanti di balik itu semua. Dan seringkali seindah apapun kondisi kita saat ini tidak bisa menciptakan kebahagiaan karena hati kita sudah menutup celah harapan.

Sama seperti seorang ibu yang berharap tak habis-habis untuk kebaikan anaknya, seorang guru yang tak habis kesabaran mengajari murid-muridnya, seorang suami/istri yang setia mendampingi dan siap bertumbuh kembang bersama, harapan itu berputar seiring waktu yang terus berganti  dari Jum’at sore ke Jum’at sore lagi. ‘Memaksa’ kita terus bergerak dari Senin pagi untuk kembali lagi bertemu Senin pagi. Mendorong kita tetap menanam benih kebaikan walau mungkin sudah yang kesekian kali panen kita gagal.

Hingga nanti kitabenar-benar  pulang, tak ada beban.

ke Jakarta.. aku akan kembali.

ke Jakarta.. aku akan kembali.

JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK. Jakarta barangkali akan cepat menua, terlalu banyak kendaraan yang dipacu di atas jalannya, tapi orang lupa membaca cinta disebaliknya. Barangkali, di Jakarta cinta menjelma terlalu pragmatis. Saat kasih dan sayang pada keluarga tak memekarkan bunga-bunga puisi di jalan-jalan, seperti yang kita kira. Jadi jangan terlalu melankolis, kisanak. Kalau menganggap hanya […]

via JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK — DEBUTERBANG

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Di antara beberapa destinasi wisata di California yang selama beberapa waktu terakhir saya kunjungi, Lake Tahoe adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena bentangan alam yang indah sepanjang perjalanan ke sana, terpenuhinya rasa penasaran melihat dan merasakan salju seperti apa, tapi proses perjalanan panjang ke sana sebagai backpacking family ternyata meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

 Terletak di antara state California dan Nevada, Lake Tahoe terbagi menjadi dua bagian besar yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri, yaitu North Lake Tahoe dan South Lake Tahoe. Berdasarkan informasi dan rekomendasi dari beberapa ibu-ibu di sini, North Lake Tahoe menjadi pilihan karena di sana masih terdapat salju dikarenakan kondisi geografisnya. Di samping pertimbangan waktu (dan dana tentunya :D) yang terbatas, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan sulit ditemui di daerah lain, khususnya tidak bisa dijumpai di negeri asal kami. Tentu saja salju adalah poin lebih yang kami incar selaku manusia-manusia khatulistiwa 😀

Berikut adalah jejak dokumentasi yang saya tuliskan sebagai bentuk sharing bagi ayah-ibu dengan balita yang berkesempatan pergi jauh ke sana tanpa kendaraan pribadi dan tanpa rombongan tour. Terasa benar travellingnya! 🙂

Setelah tertunda-tunda selama beberapa weekend, akhirnya berangkatlah kami Sabtu pagi pekan kemarin. Pukul 5 pagi sudah berjalan keluar rumah menuju ke pool Amtrak (kereta antar kota dan state di Amerika) di San Francisco, dengan kondisi Azima diangkat dalam kondisi tertidur. Tiket sudah kami pesan langsung ke loketnya satu hari sebelumnya.

Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak
Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak

Ohya, kalau ada credit card, tiket Amtrak bisa dibeli melalui online di situsnya langsung, dan ternyata memang lebih murah dan eksak tujuannya daripada kita membeli di loketnya. Kenapa eksak? Karena  meminimalisir bias pelafalan dan pendengaran dari dua komunikan seperti yang terjadi pada kami: suami saya menyampaikan “Truckee, Lake Tahoe” (lokasinya di North Tahoe) kepada petugas loket, sedangkan petugas hanya mendengar, “Lake Tahoe”, (which is lokasinya di South Tahoe). Kesalahan pemesanan ini baru kami sadari ketika sudah tiba di rumah, alhamdulillah bisa diatasi via telepon dan membayar langsung keesokan harinya.

Salah satu kekurangan dari perjalanan dengan kendaraan umum adalah harus bersedia menyediakan waktu lebih banyak untuk antisipasi keterlambatan dan bersedia untuk sambung menyambung beragam kendaraan dan agak sedikit berputar jaraknya daripada langsung dengan kendaraan pribadi.

Tapi syukurnya, berperjalanan jauh dengan Amtrak menimbulkan kesan tersendiri karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah, bentangan savana, bukit, gunung serta laut ala Amerika. Layanan serta fasilitas di Amtrak pun tergolong memuaskan untuk ukuran perjalanan antar kota jarak jauh.

penampakan Amtrak dari luar
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak, yey, kami sudah nyaris sampai!

Dalam cerita kami, ada spare waktu sktr 5 jam “sekedar” untuk hal-hal di atas tadi: kami keluar rumah jam 5 shubuh, naik bus dari Alameda ke SF, tiba di SF jam 6 pagi. Kemudian menaiki bus thruway (semacam penghubung) dari SF ke stasiun Amtrak di Emeryville jam 8, dari Emeryville berangkat jam 9.30, tiba di  stasiun Amtrak Truckee jam 14.38 disambut oleh hawa segar tapi dingin yang menusuk kulit. Sayangnya, 14.38, adalah 8 menit setelah bus lokal (TART, Tahoe Area Local Transportation) berangkat meninggalkan kami, sebuah bus yang baru datang sejam sekali :D.

Alameda-Tahoe
Alameda-Tahoe

Setelah menunggu bus sejam kemudian, berangkatlah kami dari Truckee, sebuah kota di wilayah utara Lake Tahoe, dan tiba di Tahoe City Inn, tempat penginapan yang kami pesan melalui booking.com jam 17.00.  Harapan kami untuk segera mendapatkan kehangatan setelah berjalan kedinginan nyaris buyar ketika kami ditolak oleh resepsionis karena tidak punya credit card sebagai bentuk jaminan. Meskipun pembayaran bisa melalui cash, tetapi tampaknya di sini (Amerika), alas dasar kepercayaan bagi sesama stranger adalah uang :(, dalam hal ini credit card. 

Setelah berfikir beberapa saat dan mencari penginapan lain di internet yang ternyata juga penuh, akhirnya Kak Jay mencoba menghubungi kawannya, Mas Jimo, sesama tim dari iGrow yang syukurnya bisa dipinjam sementara akun CC-nya. (Big thanks to Mas Jim0-Mbak Ayun! 🙂 ). Setelah coba diproses, alhamdulillah, akhirnya kami tidak jadi terlunta-lunta kedinginan mencari penginapan sepanjang jalan yang mau menerima kami, :D.

Suasana Lake Tahoe di senja hari sangat indah, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Indonesia. Meski dengan suasana dan hawa yang berbeda, serta penjagaan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih tertib daripada di Indonesia. Terlintas di fikiran saya, bahwa bentangan alam dan daratan yang Allah berikan untuk Indonesia dan Amerika adalah sama-sama blessing. Tapi bukan tanpa hikmah juga tentunya ketika Allah memilih ras, agama, dan sejarah manusia-manusia yang hidup di atasnya (begitu) berbeda. And yeah, I’m still loking for that hikmaaat.. 

di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi
di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi

-to be continued-

 

twenty-some

twenty-some

Harijadi ke 26 beberapa waktu lalu bagi saya menjadi salah satu bagian dari turning point di mana saya semakin menyadari bahwa: semakin bertambah bilangan usia, semakin independen manusia menentukan pilihan hidupnya, serta seharusnya semakin besar pula tanggung jawab yang diembannya.

Bertambahnya usia, somehow, juga mengajari saya bahwa koneksi kita dengan banyak orang menjadi tidak terlalu dalam. Yes, maybe we have many Whatsapp group, we have many contacts in our phone, but, it’s not mean that we are fully connected with them. People who have same ages with me have their own problem, in their own world.

Hence, family comes first.

sweet surprise from my sweetheart :)
sweet surprise from my sweetheart 🙂

After that, people who see you  directly more often, talk active with you, share the same problem in the same area, have a stronger bond than other. 

12250_10153375226900496_4145829736996087734_n
dua orang di sebelah saya (keduanya milad juga di bulan Maret), mengajak saya berbagi syukur dengan berbagi tumpeng di pengajian ibu-ibu 🙂

And, there are people who always be in your prayer: even they are not in your sight, you connected to them. I can’t explain more about it. But i’m sure you can feel it. 🙂

Pergi jauh dari tanah kelahiran pun bagi saya menjadi momen di mana saya bisa merenungkan kembali posisi keberadaan saya di dunia ini. Di mana variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan saya jauh berkurang, dan lebih berfokus pada what’s next? get some challenges to prove that you actually twenty-some-year-old woman! 

Waktu kita terbatas, memilih yang benar-benar prioritas menjadi keterdasakan yang niscaya. Ah, saya jadi ingat sebuah puisi yang digubah oleh Robert Frost, seorang penyair Amerika,

THE ROAD NOT TAKEN
by: Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.