Jembatan

Jembatan

Banyak kisah hidup orang lain yang lebih drama daripada drama paling drama yang pernah kita lihat. Real, nyata di sekitar kita menanti untuk dipetik sekian ribu pelajaran. Menegur kita dengan halus untuk lebih banyak bersyukur, menggali ilmu lebih dalam, dan menempuh jalan panjang kehidupan dengan lebih tangguh.
Tangisan yang mengiringi pertanyaan-pertanyaan tentang “kenapa harus aku?”, seperti berubah kalimat yang menohok saya, “lihatlah ia yang begitu kuat.” Sekian problematika yang selama ini membuntuti saya, tak ubahnya seperti butiran debu ketika disandingkan dengan cerita-cerita kelabu dari saudari-saudari kuat itu.

Kita, yang kadang hanya berperantara sebagai pendengar, tak ubahnya seperti jembatan yang berusaha memberikan exit door, escape road, berusaha mengajak kekawan yang sedang dirundung awan mendung menuju kisah yang lebih cerah. Kita yang berperan sebagai jembatan, harus sering-sering menguatkan diri, membuka lebar-lebar mata hati kita agar tak keliru memberikan arahan, berfikir jernih dan tak emosional, mengiringinya dalam proses perbaikan.

Tak hanya mental dan ruhiyah, fisikpun harus kuat. Jembatan  yang terlalu banyak dilewati orang butuh bahan baku yang kokoh sehingga tak rapuh dan seharusnya menyelamatkan. Dan tentu, aspek pengetahuan dan wawasan menjadikan sang jembatan lebih menjanjikan dan meyakinkan untuk dilewati. Namun ada batas emosi yang harus dijaga, hingga kita bisa menyimpan kisah-kisah itu di kotak-kotak tertentu di benak kita, dan fokus kita untuk melaksanakan peran yang sudah inheren di dalam hidup bisa terus terjaga.

Menjadi jembatan, pada akhirnya, adalah pengajaran dari-Nya. Dengannya  kita terdorong untuk terus melaju memperbaiki diri, mensyukuri apa yang diberi, dan belajar untuk terus memberi.

*di tengah pening kepala karena flu berat, nyeri perut dan gigi yang linu-linu, saya jadi yakin: “jiwa yang sehat  dan fisik yang kuat punya hubungan yang erat.”

Perlukah?

Perlukah?

Pertanyaan pertama: perlukah seorang Ibu memiliki kekuatan superwoman? 

Pertanyaan kedua: perlukah bagi seorang Ibu untuk menjaga kebahagiaannya?

Dari dua pertanyaan tersebut, mana yang paling mudah untuk dijawab?

Bagi seorang Lusi–sebutlah namanya demikian, pertanyaan pertama lebih mudah baginya untuk dijawab. Bagaimana tidak? Ia harus bangun sejak jam 2 dini hari untuk mulai memasak air, merendam pakaian, menyiapkan sarapan, dan yang paling mendasar: ia merasa tidak berhak untuk tidur terlalu lama dengan setumpuk pekerjaan yang ia miliki. Dua hatinya yang masih membutuhkan perhatiannya akan mulai menyita perhatiannya tidak lama setelah matahari terbit. Si bungsu yang merengek meminta ASI akan menghentikan segala pekerjaannya. Dengan ketiadaan mesin cuci, dispenser, dan penanak nasi otomatis, pekerjaan rumah menjadi berkali lipat waktunya ia kerjakan dibandingkan dengan mamah muda seusianya, yang mungkin baru akan mulai menggeliat terbangun ketika ia usai mencuci pakaian.

Jadi, apakah perlu bagi seorang Ibu untuk memiliki kekuatan superwoman? Jawabannya bukan perlu, bagi Lusi, jawabannya adalah harus. Ia sudah lupa apa itu arti bahagia. Tepat setelah ia menyelesaikan bangku sarjana dan dipinang oleh lelaki yang kini menjadi suaminya.

Sementara bagi Lisa, pertanyaan kedua lebih mudah untuk dijawab. Baginya, Ibu harus menjaga kebahagiaannya agar tetap waras. Itulah yang membuatnya menitipkan balitanya di daycare selama beberapa jam sekedar untuknya agar bisa singgah di warung kopi–level Star****s tentunya. Setelah itu pergi ke salon untuk hair spa, facial, manicure, pedicure. Setelah itu pergi ke mall terdekat untuk sekedar melihat-lihat tanpa tahu apa sebenarnya yang seharusnya dibeli dan apa yang sepintas dilihat tapi sudah mampu menarik tangannya untuk membeli. Ah ya, tak lupa, ia beli beberapa makanan siap saji untuk dihidangkan sebagai makan malam bersama suami dan anaknya.

Sepulang dari berjalan-jalan, ia jemput kembali buah hatinya dengan perasaan yang sumringah, seakan-akan energinya terisi kembali. Rutinitas ini ia lakukan setidaknya dua pekan sekali.

Lain lagi dengan Sali. Ia merenung sejenak: apa itu bahagia? apa sesungguhnya tugas seorang ibu sehingga perlu baginya memiliki kekuatan superwoman? Tapi, bukankah tugas seorang ayah pun juga banyak sekali, bahkan ia lebih beresiko bertemu kemungkinan penyebab-penyebab hilangnya nyawa setiap harinya? Ia memutar otak agar keluarganya bisa sejahtera, bukan sekedar menyambung nyawa perharinya, tapi sebulan ke depan, lima tahun ke depan, menyiapkan sekolah untuk anak-anaknya, dan masa depan terbaik keluarganya. Ah, bahkan Sali mengingat wajah suaminya yang sering bertambah kerutnya karena tak hanya berfikir tentang keluarganya, tapi juga untuk banyak kemaslahatan masyarakat di luar sana.

Tipe ibu yang manakah anda? Lusi, Lisa, atau Sali?

Mungkin salah satunya, atau bisa jadi anda adalah tipe yang lainnya, yang begitu mudah menemukan bahagia bahkan hanya dengan melihat senyum sumringah buah hati anda, yang sudah bisa berhasil menghabiskan sepiring makannya sendiri tanpa perlu dikejar-kejar, diberi iming-iming video U*** & I***. Sesederhana melihat suami yang berkata, “makanannya enaaak, bun!”.

Di atas itu semua, kita semua berharap kita bukanlah deret ibu yang kelak melahirkan dan mendidik orang-orang yang arogan ketika menjadi pemimpin, kasar bicaranya dan kebingungan memposisikan manusia pada tempatnya. Bukan pula bagian dari orang tua yang membiarkan anak tumbuh dalam keluarga yang mendorongnya kelak membantai suatu etnis, sebagai sasaran pembalasan dendam atas rasa sakitnya disiksa oleh ayahnya. Bukan pula orang tua yang mendidik anaknya lupa pada Tuhannya, pada esensi kenapa ia diberi anugerah besar berupa kehidupan.

Banyak penjahat-penjahat yang lahir kadangkala bukan karena ia ingin, tapi karena ia tak tahu bagaimana menjadi orang baik. Tak pernah diberi teladan bagaimana menjadi orang baik, tak pernah diajarkan bagaimana berbuat baik. Tidak pula kebaikan itu ia dapatkan bahkan dari lingkaran orang terdekatnya sendiri. Dari darah dagingnya sendiri.

Begitu pula banyak pemimpin besar, berbicara santun, bertekad baja, berjiwa kukuh, lahir dan tumbuh bukan semata menurutnya pilihan menjadi sosok seperti itu menyenangkan, tapi karena dari lingkaran terdekatnyalah ia melihat bahwa berbuat baik tak pernah merugikan. Bahwa bertahan dalam kebaikan, walaupun sulit, adalah pilihan yang menjanjikan sebenar-benar kebahagiaan.

Kita berharap kita adalah ibu yang kelak bisa melahirkan sosok-sosok seperti itu, yang menemukan hakikat kebahagiaannya ketika berhasil melipatgandakan kebaikan untuk orang lain, untuk orang banyak.

Yang doa-doa tiap malamnya mengiringi langkah-langkah kecil buah hati, sang pewaris kebaikan. yang tangan-tangannya cekatan dan pikiran mendetilnya mengisi visi besar bapak komandan, sang kepala keluarga.

Kita berharap, melalui harapan-harapan kita sebagai seorang ibulah, sebuah peradaban yang berkeadilan dapat terwujudkan. Tidak hanya mengejar kebahagiaan semu atau menghabiskan energi mengejar titel ibu ideal menurut kebanyakan orang.

Ada banyak jalan untuk mewujudkan harapan itu, salah satunya bergabung bersama komunitas yang dapat mencerahkan, memberi jalan, menjadi perantara bagi sekian ibu-ibu yang memiliki berjuta kebaikan. Institute Ibu Profesional, salah satunya.

Sejak berapa tahun lalu saya sudah banyak terinspirasi dengan gerakan yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani tersebut, namun akhirnya baru  pada kesempatan kali ini berhasil melanjutkan niat yang dulu baru sekedar niat: bergabung dalam sebuah grup pra-matrikulasi (semacam kuliah online yang berkelanjutan). Minimal, ikhtiar sudah saya lakukan untuk mencari ilmu tentang per-ibu-an, agar kelak tak lagi bingung dengan pertanyaan ke mana seharusnya langkah saya diayunkan.

 

yaa haamilal qur’aan

yaa haamilal qur’aan

Interaksi dengan Al-Qur’an mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah kesabaran dan pengingatan bahwa ingatan kita, adalah milik Allah.

Bagi teman-teman yang memiliki hafalan tentunya memiliki tekad agar suatu ketika bisa memiliki hafalan yang mutqin, yang bisa kita “bawa” minimal dalam ingatan dan lisan, agar suatu ketika dapat terejawantahkan dalam amal perbuatan. Tapi nyatanya, mengulang hafalan lebih menantang ujiannya daripada menambah hafalan bukan? 😀

Sebagaimana yang saya alami beberapa waktu terakhir, ketika saya menyadari usia saya sudah mendekati kepala tiga, sementara hafalan yang pernah saya setorkan semakin banyak yang menguap *tears*. Mengulang sendiri tetap tidak selengket ketika kita mengulang dengan menyetorkannya kepada orang lain. Mendengarkan orang lain menyetorkan hafalannya pun tidak cukup membantu saya untuk mengingat kembali hafalan-hafalan yang menguap.

Sayangnya, beberapa pengalaman saya ke lembaga qur’an di sekitar saya agak sulit menerima orang yang langsung memuroja’ah hafalan, rerata mereka mewajib kembali ke tingkat tahsin sebagai standarisasi lembaga. Akhirnya saya putuskan untuk mencari orang yang saya percayakan bisa membantu saya menjaga hafalan dengan kapasitas dan konsistensinya. Syukurnya, Allah pertemukan saya dengan seorang senior akhwat, alumni Syari’ah LIPIA yang sudah memiliki 5 orang putra-putri tapi terus konsisten menjaga hafalan Qur’annya. 10 tahun lalu kami bertemu di suatu masjid di Bandung, dalam suasana i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ah, saya rindu sekali dengan suasana syahdu itu..

Singkat cerita, niat saya yang pada awalnya ingin belajar bahasa Arab Qur’an kepada beliau (saat ini beliau membuka beberapa kelas bahasa Arab Qur’an untuk kelas muslimah), akhirnya berubah untuk mengulang hafalan, menarik dan mengikat kembali ayat-ayat-Nya sebelum terus menguap.

Daan, sungguh itu adalah perjuangan tersendiri!

Seperti samudera yang tak bertepi, interaksi dengan Al-Qur’an selalu menimbulkan kesan yang berbeda jika kita membuka lebar-lebar mata hati kita, meski ayat yang sama bisa  jadi sudah kita ulang berratus dan berribu kali. Interaksi dengan Al-Qur’an seperti melatih jiwa untuk terus bersabar, untuk tidak sombong, untuk terus mengingat bahwa kita ini bukan apa-apa tanpa rahmat-Nya.

Bagaimana tidak? Sedetetik ini bisa yakin sangat  kita sudah mengingat kuat hafalan yang kita punya, detik berikutnya bisa tiba-tiba blank. apa? apa setelah ini? kok bisa lupa? *tears*

Interaksi dengan Al-Qur’an, pada akhirnya adalah ikhtiar sepanjang hayat agar terus menerus Allah berikan hidayah, berikan kekuatan untuk memegang erat hidayah tersebut, agar Dia beri kita kekuatan untuk bisa menebarkan hidayah tersebut..

yaa haamilal qur’aan… 

Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

Pulang Ke Rumah

Pulang Ke Rumah

Kemarin, seorang ibu muda yang saya kenal di negeri Paman Sam, pamit di sebuah grup, “saya pamit pulang dulu ya.. ibu-ibu. Malam ini insyaAllah akan pulang ke Indonesia.” tentu saja beliau berpamitan di sebuah grup yang mayoritas isinya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, dalam hal ini Amerika.

Satu hal yang menarik dari pamitan beliau adalah ketika beliau menggunakan kata “pulang” ketika merujuk pada aktivitas kembali ke sebuah negeri yang terbentang jauh dari lokasinya saat itu. Pulang ke tanah air, tanah kelahiran, kampuang nan jauh di mato, homeland.

Kenapa bagi saya hal tersebut menarik? Karena bisa jadi, aktivitas kembali ke tanah air tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sebagian (besar?) orang yang sudah menghabiskan sebagian besar usianya, making a living, membesarkan  anak-anaknya (bahkan menikah, kemudian melahirkan anak pertamanya) di sebuah negeri di mana standar hidup seorang manusia menjadi sangat layak. Setidaknya pada standar dasar: udara yang bersih, air yang bersih, makanan yang kesehatannya dijamin dari pemerintah.

Pulang, menjadi suatu hal yang bisa jadi memberatkan bukan hanya karena biaya tiket perjalanan, tapi juga karena “beratnya” membayangkan apa yang akan dihadapi sesampainya di tanah kepulangan. Kemacetan, polusi, banjir, makanan yang dibumbui was-was dalam hati soal kesehatannya (ini gorengan dicampur plastik apa nggak ya? ini baso daging sapi apa daging yang lain?), inflasi yang tak sebanding dengan daya beli, tingkat keamanan yang rendah, de-el-el, de-es-be.

Rencana saya dan suami untuk coba menerapkan rihlah gembira sekaligus playdate alias silaturahim antar keluarga-keluarga kecil di antara teman-teman dan kerabat sepertinya menjadi tantangan yang cukup sulit untuk direalisasikan di Indonesia. Berbeda dengan rihlah gembira yang mudah dilakukan di sana, dua minggu sekali atau sebulan sekali, di tempat-tempat yang indah dan bersih dengan biaya masuk yang murah, membayangkan menempuh perjalanan ke suatu tempat yang berjarak 15 km dari tempat tinggal kami saja sudah pusing karena kemacetannya. -_-a

20160611_165005
Azima menatap kota Depok

Sepuluh hari menjejak kembali di tanah kelahiran, Indonesia, membuat saya berpikir ulang makna “pulang”.

Pulang, artinya menerobos segala kenyamanan yang didapat di negeri kunjungan, dan membawa kenyamanan itu sebagai kenangan untuk mengubahnya menjadi energi perubahan.

Menatap mobil yang berderet-deret menyesaki jalan Raya Bogor, Juanda, Margonda, sambil berulang menatap jam yang terus berputar, saat 15 km jarak ditempuh dalam rentang waktu nyaris 2 jam. Terbersit kenangan ketika suatu ketika diajak Mbak Gilda, ibu kontrakan tempat saya tinggal di US, ke Santa Cruz Beach, dengan jarak tempuh 112 km (sekitar 70 miles) dalam rentang waktu yang sama, sekitar 2 jam sahaja.

Atau ketika saya terheran-heran dengan banyaknya orang di sepanjang jalan selama saya di downtown Tokyo–sebuah kota yang sangat crowded, yang mau menempuh berkilo meter jalan kaki. Bapak dan abang-abang (?) muda dengan setelan jas siap ke kantor, tapi tak segan mengayuh sepeda menuju lokasi di mana mereka bekerja. Ibu-ibu yang membonceng anak balitanya di depan dan di belakang dengan sepeda yang memiliki bangku anak-anak yang aman, tampak sangat damai. Tidak diwarnai asap ibu kota dan stress kemacetan melihat deret mobil yang tak bergerak.

Kapankah tanah kelahiranku, Jakarta, (dan kini tanah kelahiran anakku, Depok) bisa seperti itu?

Pulang, berarti kita menuju sesuatu yang dirindukan. Karena ada sebagian atau seluruhnya hati yang tertinggal, di tanah kelahiran. Rindu adzan yang bersahutan, rindu akan tempat di mana Ramadhan menjadi bulan yang dirayakan, di mana ibu-ibu bisa mengajar anaknya melafaz dzikrullah di tempat umum tanpa harus dilihat aneh dengan tatapan dari-planet-mana-kamu-berasal atau apakah-kamu-teroris?, rindu bakso dan siomay bervetsin,  dan tentu saja rindu dengan keluarga, saudara-saudari, dan sahabat-sahabat yang sedikit banyak membentuk kepribadian kita sampai saat ini.

Meski berat dan payah, serta segudang amanah menanti diselesaikan, pulang menandakan kita masih punya kepedulian, masih punya perhatian. Pulang juga menandakan kita masih punya harapan, masih punya impian, agar tanah kelahiran menjadi tanah yang dapat (semakin) dibanggakan, menjadi ladang kebaikan sebelum kita benar-benar “pulang” .

Inspirasi Dari Google

Inspirasi Dari Google

Ada beberapa inspirasi yang saya dapat dari mengunjungi kantor Google kemarin, meskipun hanya bagian luarnya saja yang saya dapat lihat, tapi cukup mengesankan.

di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View
di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View, bersama Android Marshmallow

Di balik sebuah hal “sederhana” yang seringkali kita jumpai setiap hari, kita ambil manfaatnya tak terhitung lagi dan bahkan menjadi istilah yang populer dalam dialog sehari-hari (“googling” aja!), ada sebuah kompleksitas sistem yang raksasa. Saya takjub ketika melihat komplek perkantoran Google yang ternyata luass sekali, dan memiliki banyak gedung (yang saya juga tak sepenuhnya faham fungsi tiap gedungnya, haha).

Tapi dari sana saya belajar: tampilan boleh sederhana dan sangat user friendly, tapi jangan lupa bahwa untuk menjadi satu hal yang bermanfaat dan berimplikasi besar, butuh kerja keras dan kerja banyak tangan yang saling berpilin bersama-sama, mencapai tujuan yang sama.

di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollypop
di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollipop

sdr

Sampai sekarang saya belum tahu mengapa Google memberi nama atau sebutan makanan untuk berbagai macam versi Androidnya, tapi kalau saya ambil hikmahnya: salah satu hal yang membuat orang menjadi lebih akrab dengan barang yang awalnya asing adalah ketika barang asing tersebut diperkenalkan dengan nama yang sehari-hari dijumpai, disukai dan bahkan dibutuhkan. Dalam hal ini, Google menggunakan nama-nama makanan yang sering dijumpai oleh masyarakat pada umumnya.

Google menciptakan Android yang kini sangat common digunakan oleh para pengguna handphonetanpa melihat strata sosial atau secanggih apa handphonenya. Ketika kita berfokus pada fungsi dan tujuan, maka tools akan mengikuti dan sangat fleksibel serta mampu diterapkan siapa saja.

Dalam skup menciptakan hidup yang tak sekedar hidup, saya yakin seorang muslim punya hal yang lebih berharga untuk diperjuangkan dengan cara-cara ala Google yang “basyiran wa nadzira, yassir wa laa tu’assir.”

means (2)

means (2)

“Kemewahan” bisa menjadi sangat relatif bergantung situasi dan seberapa besar kita mensyukurinya.

Setelah hampir 5 bulan di US, akhirnya saya berhasil membeli tempe pesanan dan mengolahnya sendiri. Membelinya pun tidak mudah, karena tidak banyak orang (dalam hal ini WNI) yang mengorbankan waktunya untuk berfokus membuat tempe, dan kemudian menjualnya dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi yang rutin. Kalau di Indonesia bisa dengan mudahnya menemukan sepotong tempe di tukang sayur, di pasar, setiap pagi setiap hari, orang-orang Indonesia di sini harus menunggu ketika ada yang membuatnya dalam jumlah yang massif, atau kalau punya waktu luang membuatnya sendiri dengan kesabaran yang ekstra: mengupas kulit kedelainya satu persatu, menunggu raginya berfungsi dan berubahlah kacang-kacang itu menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Jawa (saya baru tahu kalau ternyata tempe tidak terlalu digemari di dataran Sumatera :D).
Setelah memesannya lewat Mbak Tatin, seorang ibu baik hati yang membeli tempe dari produsen tempe yang berlokasi di San Jose (dari lokasi tempat tinggal saya ke San Jose dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam – 2 jam, lumayan yah), akhirnya tibalah 4 potong tempe tersebut di tangan saya. Mengulang kembali rutinitas masakan paling ringkas yang sering saya olah di Indonesia: tempe kecap. Pertama mencicipi tempe tersebut, rasanya enaaak, masyaAllah. 😅 Padahal resepnya biasa saja, pakai penyedappun tidak. Entah, apa mungkin karena faktor waktu memakannya setelah saya berpuasa seharian. Tapi sepertinya lebih disebabkan karena sulitnya menemukan panganan tersebut, menjadikan makanan sederhana tersebut terasa berbeda di lidah, lebih (me)wah. Harganya pun 10x lipat dari di Indonesia😅 Alhamdulillah ala kulli hal.. 😊

Bang San Thai, adalah nama resto Thailand halal favorit kami yang berlokasi di San Francisco. Pertama kali mencicipi panganan di sana ketika kami baru mendarat di tanah Paman Sam, dan dijemput sekaligus dijamu oleh Mbak Wiwid, seorang ibu baik hati berputra empat yang sudah bertahun-tahun tinggal di US untuk menemani suaminya yang bekerja di sini. Rasa hidangannya yang mengingatkan pada tanah kelahiran membuat kami (saya, suami dan Azima) berulang-ulang (setidaknya 2 minggu sekali) bertandang ke sana. Pun meski tidak mudah menjangkaunya dengan kendaraan umum, kalau sudah ingin sekali mencicipi nasi goreng dan sup tom kha di sana, jalan menanjak dari Islamic Society of San Francisco (tempat kami biasa shalat kalau sedang berperjalanan ke SF) sepanjang 1 KM pun kami tempuh jua. Dalam kondisi dingin, berangin, lelah menanjak dan berjalan, mencicipi masakan kaya rempah itu rasanya nikmaat benar. MasyaAllah..

Akira, adalah nama bocah berusia 11 tahun yang ditinggal pergi ibunya dengan kondisi sangat kekurangan, dan harus menjaga 3 orang adik-adiknya yang masih kecil. Ketika akhirnya kiriman uang dari ibunya tidak kunjung tiba, air dan listrik diputus dari pusat dan membuat mereka harus menjalani hari-hari di sebuah kamar sempit apartemen yang tidak layak untuk ditempati. Kertas pun menjadi penghibur yang dikunyah Shigeru, sang adik, karena tidak kuat menahan lapar. Shigeru yang rajin memeriksa kolong tempat kembalian minuman kaleng, kalau-kalau ada receh yang ditinggal pembeli dan bisa dikumpulkan untuk membeli sepotong nasi. Yuki, adik bungsu berusia 4-5 tahun yang akhirnya wafat karena tidak tertolong setelah jatuh dari kursi, sebab kakak-kakaknya tak punya cukup uang untuk membawanya berobat, pun harus menunggu cukup lama untuk dikuburkan (dan jenasahnya dimasukkan ke koper) di tanah yang jauh dari keramaian. Kisah nyata tentang kakak beradik di Jepang yang diangkat ke dalam sebuah film humanis berjudul “Nobody Knows” itu menyentil kesadaran saya betapa seringkali saya luput memperhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi suatu “kemewahan” untuk orang lain.

Ya, bahkan sebuah “kesyukuran” bisa menjadi suatu hal yang “mewah”.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)