why do bad things happen?

why do bad things happen?

Di pengajian dwi pekanan east bay beberapa hari yang lalu, ada salah seorang Ibu muda yang bercerita bahwa terdapat sekitar 40 % masyarakat Amerika yang menenggak pil penenang sebagai obat anti depresi. Selain itu, dua profesi yang marak dan menempati profesi papan atas di sini (US) adalah psikiater dan divorce lawyer. 

Saya tercenung mendapati fenomena tersebut. Di sebuah negara yang diagung-agungkan sebagai negara pelindung kebebasan dan hak asasi manusia, nyatanya jiwa masyarakatnya kering. Di sebuah negara yang mewajibkan car seat untuk anak-anak demi keselamatan, sayangnya tidak ada “pengaman jiwa” anak-anak berupa kasih sayang yang meneduhkan dari kedua orang tuanya.

Teringat di benak saya penjelasan salah satu muslim scholar, Ustadz Nouman Ali Khan, tentang hakikat musibah dan bagaimana seharusnya orang beriman menyikapinya. Beliau mencoba mentadabburi salah satu ayat al-Qur’an yang membahas soal musibah, yakni surat Al-Baqarah ayat 155-156.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mushibah, atau jika ditarik ke akar katanya, “ashaba”, bermakna “headed target”. yang berarti setiap peristiwa buruk yang menimpa setiap manusia, sifatnya khusus, spesifik, dan tidak persis sama dengan manusia lainnya. Maka tidak tepat apabila kita dengan mudahnya men-judge sebuah peristiwa buruk yang terjadi di masa sekarang (kecuali di zaman dahulu yang secara jelas sudah Allah terangkan alasan dan hikmahnya dalam al-Qur’an) dan menimpa orang lain, dengan standar penilaian kita. Misalnya, “tuh kan kehilangan mobil, Allah pasti murka sama kamu karena kamu blabla..”

why

Rasa sedih dan takut yang lahir dari lintasan kejadian-kejadian buruk yang menimpa kita, adalah wajar adanya. Tapi jika kita menilik kembali ayat-ayat Allah di atas, kita akan lebih mudah dan lapang hati menerima kenyataan buruk tersebut. Dalam konteks ayat tersebut, Allah menyampaikan “wa basysyirish-shaabiriin”, “dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, atau dengan kata lain, “congratulate the people who have shabr”.

Kapan kita mengucapkan kata, “selamat ya!”? Tentu ketika ada kabar gembira bukan? Misalnya ketika kita berhasil diterima di perguruan tinggi favorit yang kita inginkan, ketika bayi yang kita nanti selama berbulan-bulan akhirnya lahir dengan selamat, atau ketika berhasil mencapai sebuah prestasi tertentu. Lantas mengapa ketika ada musibah, kemudian Allah memerintahkan untuk mengucapkan selamat?

Sebab ternyata ujung dari segala kejadian buruk atau musibah yang menimpa kita, tidak lain bertujuan untuk menjadikan kita orang yang sabar. Ketika kita berhasil menjadi orang yang sabar, maka kita pantas untuk mendapatkan ucapan “selamat”. Dari siapakah? Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan kata “wa basysyir” yang berarti kata perintah untuk satu orang. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa yang diperintahkan untuk mengucapkan selamat pada orang-orang sabar dalam ayat tersebut adalah Rasulullah SAW. :”)

Pernah kita merasa bangga ketika dipanggil oleh atasan di kantor, atau kepala sekolah, dekan atau rektor atas prestasi yang berhasil diraih. Terbayangkah ketika di akhirat kelak, Rasulullah sendiri yang menyampaikan pada kita, “selamat ya, telah menjadi orang yang sabar.” 🙂 MasyaAllah… Hal ini mengingatkan saya pada keindahan janji Allah dalam surat ar-Ra’d ayat 22-24,

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

size-500x500

Lantas, siapakah orang yang sabar itu? Ialah orang ketika ditimpa musibah, secara refleks mengatakan, “innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” Aksi reaksi yang muncul secara spontan, tidak butuh waktu untuk meratapi keadaan terlebih dahulu, tapi secara refleks langsung menyadari bahwa, we have nothing. We own nothing. We are from Allah. All things that we have are from Allah, gift from Him. So why do we complain? 

It’s not easy anyway. But it’s worth it.

Ketika kita sadar bahwa pada hakikatnya kita tidak punya apa-apa, rasa lapang akan lebih mudah menjalari hati kita dan mengimbangi rasa sedih yang wajar muncul akibat rasa kehilangan. Tapi insyaAllah, karena kita tersadar kembali big picture yang Allah SWT ingatkan dalam buku petunjuk-Nya: kita cuma transit, kebahagiaan sejati ada di akhirat nanti, daya lenting kita untuk move on akan muncul lebih cepat, dan lebih kuat.

Angka-angka tentang banyaknya orang yang depresi dan menenggak pil penenang niscaya tidak akan meningkat. Kekurangan, kesalahan dan perbedaan pendapat dengan pasangan akan lebih lapang kita sikapi, dan tidak berujung pada keretakan rumah tangga yang berdampak pada retaknya jiwa sang anak.

Tentu di samping adanya kesadaran penuh bahwa musibah adalah ujian untuk melatih kita menjadi orang yang sabar, kita juga harus mengimbanginya dengna sisi lain bahwa ujian juga adalah untuk membuat kita belajar, bahwa bisa jadi ada kesalahan yang memang kita lakukan, atau ketidaktaatan kita pada aturan main-Nya. Pada akhirnya, Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. He loves people who listen to Him. He loves people who trust in Him. He cares for them. 

Wallahu a’lam. 

*Referensi: Khuthbah Nouman Ali Khan, Why Do Bad Things Happen. 

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

Akhir pekan kemarin (20 – 21 Februari 2016) menjadi salah satu momen berharga bagi saya, sebab Allah beri kesempatan untuk saya dapat belajar lebih luas dan dalam tentang Islam. It’s a blessing, sebab berbeda dengan  di Indonesia (Jakarta dan Depok tepatnya) di mana saya sangat mudah menjumpai kajian keislaman dengan berbagai topik yang diisi dengan ustadz yang berkapasitas di bidangnya (serta gratis), mengisi kembali gelas ilmu yang kosong atau menguap di pikiran saya merupakan hal yang harus diperjuangkan di sini.

Pertimbangan jarak, dana, dan Azima menjadi hal yang membuat saya maju mundur ingin ikut berpartisipasi atau tidak, ketika melihat brosur acara seminar yang diisi oleh Syeikh Yasir Qadhi, bertajuk “No Doubt: God, Religion, & Politics in The Modern World”. Kak Jay yang pada saat yang sama juga ada acara mabit bersama teman-temannya pun menyerahkan pada saya untuk ikut atau tidak. InsyaAllah beliau tidak berkeberatan soal dana yang akan beliau kucurkan untuk kebutuhan ilmu istrinya, asal dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan lebih efisien dalam penggunan dana di hari-hari selanjutnya.

brosur seminar "No Doubt" yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda
brosur seminar “No Doubt” yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda

Syukurnya lokasi mabit Kak Jay tidak terlalu jauh dari lokasi acara, sehingga pertimbangan jarak bisa dicoeret. Setidaknya menempuh perjalanan selama dua jam dengan BART dan bus tidak akan saya lalui seorang diri.  Adalah Anin dan Mbak Arin, dua orang kawan saya yang berhasil meyakinkan saya untuk ikut acara tersebut. Anin, high quality single muslimah yang sedang S2 di UK ini sering jadi tempat saya konsultasi soal hidup di luar negeri, khususnya negara Barat. Sedangkan Mbak Arin, lulusan S1 Teknik Sipil ITB yang kini sudah menjadi ibu muda dengan 3 orang anak, serta sudah menyelesaikan jenjang S2nya di Univeristy of California Davis sudah lebih dulu registrasi ke seminar tersebut dan meniatkan membawa tiga putra-putrinya ke lokasi acara. (Yeah, they’re very inspiring, indeed!) 

Mereka berdua menyarankan saya untuk ikut karena merupakan kesempatan yang langka dapat menimba ilmu dari syaikh sekelas Syaikh Yasir Qadhi, sosok keturunan Pakistan yang lahir dan besar di Amerika, serta memiliki kemampuan untuk memberikan wawasan keislaman yang terkombinasi secara unik: antara Universitas Madinah dan Yale University. Menurut cerita Mbak Arin, ada salah seorang temannya yang jauh-jauh terbang dari Seattle ke San Jose untuk mengikuti seminar tersebut. Saya jadi semakin terpicu untuk mensyukuri keberadaan saya yang tidak terlalu jauh dari San Jose, untuk hadir di seminar tersebut.

Kekhawatiran lain berupa tanggung jawab meng-handle Azima alhamdulillah bisa dihapus dengan ketersediaan childcare di lokasi acara. Meskipun harus menambah biaya lagi, saya bersyukur Azima dan saya bisa sama-sama fokus: sang bunda fokus menyimak seminar, sang anak fokus bermain dengan teman-temannya 😀

From “the Quest for ‘real Islam'” to ”Divine Law and Modern Governance”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam dari tempat saya tinggal, tibalah kami di lokasi acara, MCA (Muslim Community Building), San Jose, California. Auditorium yang lumayan besar tersebut (lebih kurang seukuran AJS FISIP UI ) terisi penuh sampai belakang, dengan audience dari ragam suku bangsa dan terikat agama yang sama.

Materi selama dua hari dengan durasi perharinya sekitar 8 jam tersebut diisi seorang instruktur, tidak lain adalah Sh Yasir Qadhi sendiri, dan dibagi menjadi 5 modul utama.

*disclaimer: ulasan materi di bawah ini dipahami dari seorang perempuan yang bahasa Inggrisnya masih tergolong standar (belum advanced gitu :D), bisa memahami inti konteks dari sebuah speech, tapi agak kesulitan mengurai detilnya dalam bahasa Indonesia. Actually, the genuine speech is much better than this review*

Pembahasan dimulai dari hal yang paling mendasar seputar aqidah Islam, The Quest for Real Islam, yang membahas beragam theologies yang ada di dalam Islam itu sendiri, yakni Khawarij, Mu’tazila, Zaidiyah, Syiah Itsna Asy’ari dan Sunni.

Kemudian berlanjut ke modul kedua, Faith and Reason, yang tak lain merupakan komparasi antara Islam dan beragam kepercayaan yang lahir sebelum dan sesudah (atheism, new atheism dan western theists). Hal yang menarik dari pembahasan beliau di antarnya ketika beliau berusaha mengkomparasi argumentasi dari paham atheist: kalau memang Tuhan itu ada, mengapa terjadi bencana besar, seperti tsunami yang meluluhlantakkan sebuah bangsa dan menelan korban jiwa? mengapa ada anak-anak yang menderita kelaparan di berbagai belahan dunia?

Menjawab pertanyaan tersebut, beliau menuturkan bahwa di antara hikmah  ada musibah atau bencana besar yang melanda manusia, adalah untuk melahirkan sisi kemanusiaan itu sendiri: dari mana akan lahir sifat dermawan, saling berbagi, kalau tidak ada lagi yang kelaparan? Selain itu, peristiwa buruk yang menimpa kita sejatinya adalah untuk menaikkan derajat kita di surga, dan menghapus segala dosa-dosa kita. Ujian juga sesungguhnya merupakan sarana untuk mengkoneksikan kembali jiwa kita pada Allah. Mengutip kekata Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “The divine decree related to the believer is always a bounty, even if it is in the form of withholding (something that is desired), and it is a blessing, even if it appears to be a trial, and an affliction that has befallen him is in reality a cure, even though it appears to be a disease!”

Seringkali pula Tuhan dan agama menjadi ‘kambing hitam’ atas segala pertikaan dan peperangan di dunia ini. Dengan tegas Sh Yasir Qadhi membantah, “human history told us, that the greatest war, greatest harm in the world has nothing to do with religion.” Beliau mengambil contoh peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, adalah buah dari ketamakan manusia-manusia yang well educated, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada masa tersebut).

http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html
http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html

Pola penjajahan atau peperangan besar di dunia memiliki karakteristik dua pihak yang konstan: between (west) civilization and uncivilization. Saya berfikir dan coba mengingat ragam perisitiwa besar yang terjadi dan secara siginifikan mengubah tata dunia, dan ya, akarnya seringkali adalah ego manusia, wajah lain dari megalomaniak yang me-negara.

Di lain pihak,  ada ragam argumentasi lain yang berasal dari ilmuwan Barat, seperti argumentasi soal moralitas, argumentasi soal Consciuousness, Higher Purpose (Transcendence), dan Beauty, yang keseluruhannya mewakili argumentasi bahwa Tuhan itu ada. Seperti argumentasi dari Augustine of Hippo, salah seorang teolog Barat, yang berkata, “Who made these beautiful changeable things, if not one who is beautiful and unchangeable?” 

Argumentasi-argumentasi tersebut secara komprehensif terrangkum dalam ajaran Islam. Secara retoris Allah SWT bertanya dalam QS. Ath-Thur ayat 35, “Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”, dan yang barangkali seringkali kita dengar, “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk: 3-4) 

Keberadaan Nabi dan Rasul yang Allah SWT utus dengan beragam mu’jizat juga menjadi bagian dari argumentasi yang menggenapkan segala kejanggalan yang tidak bisa dijawab oleh argumentasi-argumentasi Barat.

Jauh di atas itu semua, ada senjata rahasia yang menjadi pamungkas dari berbagai argumentasi tersebut, hal paling mendasar yang inheren dalam jiwa kita: setitik fithrah yang sudah Ia titipkan ke setiap manusia. Fithrah yang menuntun setiap manusia menemukan Tuhannya dan mengajarkan bahwa pada dasarnya jauh di dasar lubuk manusia, ia butuh hal mendasar bernama moralitas (bahwa membunuh dan mencuri adalah hal yang dilarang dan disepakati seluruh manusia), ia sadar bahwa ada Dzat yang Maha Esa yang mengatur segalanya.

“Fithrathallahillatii fatharannasa ‘alaiha — This is the fithra that Allah created mankind upon” (QS. Ar-Rum: 30-30)

Sayangnya, fithrah bukanlah sesuatu yang terus menerus konstan seperti OS dalam sebuah gagdet. Ia bisa terus menerus terjaga selama manusia berikhtiar untuk menjaga diri dengan aturan main-Nya, dan bisa juga corrupted jika manusia semena-mena membebaskan nafsu syahwatnya.

“And verily for everything that a slave loses there is a substitute, but the one who loses Allah will never find anything to replace Him.” Ibn al-Qayyim

–bersambung–

Anak-anak dan Bahasa

Anak-anak dan Bahasa

Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan tentang perkembangan sosial–dalam hal ini komunikasi Azima dengan lingkungan barunya. Saya sempat mengkhawatirkan adanya jetlag sosial yang Azima hadapi karena minimnya balita sebaya dengannya yang bisa diajak bermain dan berbahasa yang lazim dia dengar selama 17 bulan tumbuh besar di Indonesia.

Tapi berdasarkan konsultasi dengan para ibu-ibu senior yang pernah mengalami keadaan serupa, saya jadi lebih tenang dan santai menghadapi kenyataan tersebut. Selama bahasa utamanya, bahasa Indonesia, tetap saya (sebagai Ibunya) gunakan untuk percakapan sehari-hari, seorang anak insyaAllah tidak akan mengalami bingung bahasa yang menyebabkan ia terlambat dalam berkomunikasi dengan sesama.

Dari pengamatan saya akhir-akhir ini pula saya terpikir lebih jauh, bagaimana sebenarnya asal muasal kita, dengan ragam bahasa dari benua satu ke benua lainnya dapat berkomunikasi? Bagaimana kita bisa bersepakat bahwa “makan” adalah “makan” dan “kursi” adalah “kursi”? Satu dari salah satu alasannya bisa jadi karena dasar komunikasi manusia adalah bahasa tubuh/bahasa isyarat. Ketika saya mencoba memahami tangisan Azima dengan menanyakan, “Azima mau makan?” sembari menggerakkan tangan saya berulang ke mulut dan bersegera mengambil makanan, serta responnya kemudian positif (terdiam dan makan dengan lahap), saat itu ia belajar bahwa yang sedang ia lakukan adalah makan.

Atau ketika secara spontan saya bereaksi dengan nada agak tinggi dan wajah berkerut ketika melihatnya melakukan hal yang berbahaya, ia otomatis memang berhenti, tapi dengan raut agak takut. Baru kemudian ketika saya mengubah nada bicara dengan lebih lunak, wajah yang sambil tersenyum dan deretan penjelasan kenapa hal tersebut dilarang, rautnya kembali tenang (dan beberapa waktu kemudian mengulang perbuatan yang sama :D). Dari nada, raut wajah dan gesture itu kemudian manusia belajar memahami bahasa sesamanya yang mungkin awalnya terdengar aneh, lama kelamaan jadi saling memahami.

Terkait kemampuan berbahasa ini juga memang ternyata sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan banyak kata-kata yang diucapkan dari orang-orang terdekat di sekitarnya kepada sang anak. Dalam buku Bright From The Start yang ditulis oleh DR Jill Stamm, profesor di Arizona State University, perkembangan intelektual anak sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak kata-kata yang ia dengar sejak lahir sampai ia berusia 3 tahun.

Ia menukil sebuah studi yang dilakukan oleh dua orang peneliti (Betty Hart, Ph.D dan Todd Risley, Ph.D) di pertengahan 1990an, di mana sebuah tim dari University of Kansas mengamati 42 keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam dalam kurun waktu dua setengah tahun, ketika anak-anak dalam setiap keluarga tersebut tumbuh sejak usia 7-9 bulan sampai tiga tahun. Tim peneliti duduk mengamati di setiap rumah dan menghitung berapa banyak kata yang diucapakan dalam rumah tersebut. Mereka juga mencatat nada bicara, apakah kata-kata yang diucapkan terkesan positif atau negatif.

Kemudian, tim peneliti mengevaluasi bagaimana signifikannya jumlah kata-kata yang diucapkan terhadap IQ anak-anak tersebut di kemudian hari. Hasilnya, semakin banyak kata-kata positif yang diucapkan, smakin tinggi pula IQ yang diraih–tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi setiap keluarga. IQ yang lebih tinggi pada anak juga dipengaruhi dengan nada, interaksi dua arah dalam percakapan, dan lebih banyak kata-kata yang bersifat bertanya daripada memerintah.

 

Azima di San Francisco Public Library
Azima di San Francisco Public Library: read and grow, dear!

Stamm juga menuturkan bahwa secara ilmiah, perbedaan bahasa rupanya juga memiliki pengaruh pada kemampuan berbahasa seorang anak. Sejak ia berusia dua bulan, seorang bayi bisa membedakan bahasa dengan dua pola penekanan yang berbeda, contohnya bahasa Inggris dan Jepang. Ketika bayi tersebut semakin familiar dengan bahasa asli (native) mereka, skill mereka semakin terlatih dan mampu membedakan dua bahasa dengan pola penekanan yang sama, contohnya bahasa Inggris dan Jerman.

Ketika usianya menginjak lima bulan, bahkan bayi bisa membedakan dua bahasa yang serupa tapi dengan dialek yang berbeda, contohnya Inggrisnya US dan British! Fatabarakallahu ahsanul khaaliqiin.. Masih cukup panjang penjelasan Stamm soal proses bagaimana kata-kata yang ia dengar dapat tersusun dalam otak, dan menstimulasi proses berbicara sang bayi dan bahkan mempengaruhi kerja otak (mudah-mudahan di lain kesempatan saya dapat mereview terkait hal tersebut).

Setelah mendapat wawasan baru tersebut dan menerapkannya beberapa hari terakhir pada Azima, saya cukup melihat perbedaan yang siginifikan dalam komunikasi antara kami berdua: Azima yang lebih curious dan ekspresif ketika mendengar saya berbicara dan merespon juga dengan “kata-kata”nya, serta emosinya yang lebih terkendali (sebelumnya karena ibunya lama fahamnya dan kurang kreatif bicara dengan Azima, Azima tampak lebih “kesal” ketika mengungkapkan keinginannya).

Saya jadi semakin faham mengapa keponakan pertama saya, Afnan, di usianya yang empat tahun sudah sangat cemerlang bercerita panjang lebar dalam dan tinggi soal kesehariannya dan apa yang dia temui, dengan gaya bahasa yang mature. Ya, di samping mungkin karena faktor genetik ayah bundanya yang memang cemerlang (ihiy mas af dan kak aisyah :D), ia tumbuh sejak lahir di keluarga besar  yang memilki sangat banyak perbendaharaan kata setiap harinya.

Mungkin sekali waktu terbetik di benak kita (atau mungkin saya saja :D), kenapa sih harus menyiapkan anak-anak sejak dini dengan segala stimulasi abcdez? Agar ‘sekedar’ jadi superkids di antara deretan anak-anak generasi Alpha? Tentu saja jauh dari sekedar itu: agar ia siap jadi pewaris estafet kebaikan di masanya kelak, di mana tantangannya akan berbeda bentuk dengan zaman ayah ibunya dahulu. More than one of Generation Alpha to be, but to be Rabbaniy Generation. Aamiin.. 

 

Referensi:

Stamm, Jill. (2007). Bright from The Start: the simple, science-baked way to nurture your child’s developing mind, from birth to age 3. USA: Penguin Group Inc.

‘Uluwwul Himmah

‘Uluwwul Himmah

Setiap harinya bagi kita adalah tantangan, tapi bentuk dan kadar tantangannya seperti apa sangat ditentukan sejauh dan sebesar apa cita-cita kita. Bagi yang pergi kuliah ke kampus untuk sekedar mengisi waktu atau terlihat keren misalnya, tentunya akan menganggap kendala berupa jarak yang jauh atau ketiadaan transportasi adalah kendala yang sangat berarti. Tapi bagi yang berniat kuliah ke kampus untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, yang dengan begitu bisa mendapat bekal untuk berbagi pada masyarakat, ia akan menjadikan kendala jarak, ketiadaan transportasi, atau bahkan ketiadaan finansial sebagai challenge untuk membuktikan bahwa cita-citanya cukup mulia untuk diperjuangkan. Ia akan mencari solusi dan tidak stuck pada satu hambatan, meyakini bahwa akan ada jalan untuk mereka yang memang punya kesungguhan.

Hari-hari ini saya diingatkan kembali soal himmah, yang secara bahasa memiliki arti semangat atau cita-cita, tetapi secara maknawi setidaknya punya tiga makna: pertama adalah niyyah (niat), kedua adalah iradah (kehendak), dan ketiga adalah ‘azimah (tekad). Sebagai contoh, saya berniat untuk pergi ke seminar di Islamic Society of  San Francisco besok pagi, ia baru sebatas niat jika hanya sebatas lintasan pikiran, berubah menjadi kehendak ketika mulai direncanakan, dan berubah menjadi tekad ketika saya dengan kesungguhan mulai melakukan perjalanan naik bus dan BART menuju San Francisco.

karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut :) semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya
karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut 🙂 semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya.

Orang yang memiliki ‘uluwwul himmah atau semangat yang tinggi tidak akan mudah goyah ketika ada satu dua atau seribu kendala yang menghalangi cita-citanya. Ia tidak akan mengambil banyak keringanan-keringanan yang dengan begitu justru memperbesar peluang kemalasan atau berkurangnya rasa kesungguhan dalam dirinya. Bukankah manisnya perjuangan baru terasa ketika sudah lelah berjuang?  Di samping itu, ia akan memperbaiki kesalahannya yang lalu jika memang ia sadari itu sebagai penghambat bagi cita-citanya.

‘Uluwwul himmah tidak terbatas pada ‘kekerenan’ cita-cita yang tampak ‘wow’ dari segi materi, tapi ia disandarkan pada visi ukhrowi yang mungkin kadangkala jauh dari gemerlap dan tepuk tangan dunia. Adakalanya ia merajut impiannya di sudut yang sepi, kasat mata mungkin tak tampak, tapi manfaatnya bisa dirasa sejagat, jika tidak sekarang mungkin nanti. Pun jika harus berhadapan dengan tepuk tangan dunia, orang yang memiliki ‘uluwwul himmah juga harus bertarung dengan dirinya, dengan bisikan untuk riya’, ‘ujub atau sum’ah,  manakala ekspektasi orang membuatnya kehilangan arah karena tidak ingin membuat khalayak kecewa.

‘Uluwwul himmah akan membuat orang mampu memikul beban yang berat, terus mengulang-ulang dalam jiwanya untuk tidak sebatas berfikir tentang dirinya, tapi juga untuk orang lain. Hari-hari ini, ketika semakin banyak fenomena sosial yang membuat kening berkerut, mungkin sudah saatnya tidak lagi berfikir mendekap anak erat-erat saja di dalam rumah, mengurungnya agar steril dari ‘ragam kejahatan dan penyimpangan sosial’, mungkin sekarang saatnya saya, anda, kita semua berfikir ulang: apakah yang saya lakukan saat ini bagian dari perwujudan cita-cita yang mulia? Adakah ‘uluwwul himmah itu bersemi di dada kita?

3 alasan

3 alasan

Di antara beberapa #firstworldproblem bagi kaum perempuan ketika memasuki dunia rumah tangga adalah apakah akan memutuskan untu menjadi seorang ibu yang full mengurus rumah tangga atau melanjutkan tangga karir. setelah energi terpakai untuk memperdebatkan antara ASI atau susu formula, vaksin atau no vaksin, pembicaraan yang acap terulang adalah antara full time mother atau working mother. Apalagi ditambah dengan perkembangan zaman yang semakin membahayakan bagi si kecil, ART yang tidak bertanggung jawab, membuat sebagian kalangan ibu memutuskan untuk menghentikan pekerjaan tetapnya di luar rumah.

Lantas, apakah benar pilihan bekerja adalah pilihan yang tidak seharusnya dipilih?

Saya tidak bisa berbicara banyak berdasarkan pengalaman pribadi saya, karena di samping peran saya di dunia kerumahtanggaan masih seumur jagung, sampai saat ini saya memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktu saya di rumah: mengurus Azima dan ayahnya, dan tempat tinggal mereka. Minimal 3 kali dalam sepekan saya ke luar rumah untuk menunaikan amanah membina. Tapi toh roda kehidupan akan terus berputar, peran hidup kita tidak akan pernah benar-benar ajeg di satu peran saja kan?

Oleh sebab itu, tulisan ini saya buat sebagai bentuk pengingatan bagi diri saya sendiri, jika suatu saat situasi berubah, setidaknya beberapa hal inilah yang menjadi landasan saya untuk memutuskan mengambil peran di luar rumah lebih banyak. Pertama, adalah untuk syi’ar dan da’wah Islam. Ya, kelak saya ingin menjadi teladan yang baik untuk Azima, membuat Azima senang dan bersyukur, karena ibunya bisa ikut terlibat dalam perbaikan masyarakat. Kedua adalah untuk peningkatan kapasitas diri, dan ketiga adalah untuk mencari maisyah (pendapatan).

Tentu, dibutuhkan kemampuan untuk mengatur waktu dan menemukan partner yang bisa mendorong dan mengingatkan ketika sudah terlupa tujuan akhir, terlewat batas dan koridor yang Allah inginkan, atau sudah merasa jenuh dan ingin menyerah. Mengingat kembali bahwa setinggi apapun peran seorang perempuan di luar rumah, peran asasi dan terbaiknya adalah sebagai istri dan ibu yang shalihah, qanitah, dan hafizhatulil ghaib bimaa hafizhallah..

Never Stands Alone

Never Stands Alone

Benak saya tergelitik ketika melihat Mata Najwa pekan kemarin. Episode bertajuk “Menatap yang Menata” itu merupakan salah satu episode yang paling saya tunggu-tunggu. Saya kesampingkan dulu semua teori bahwa media merupakan sarana pencitraan politik sesaat, saya hanya ingin menikmati harapan yang disajikan secara piawai oleh host bergaris wajah Arab itu, Najwa Shihab.

Meski terlambat mengikuti episode berdurasi 90 menit tersebut, saya bersyukur tidak tertinggal di sesi terakhir. Sesinya Bapak Walikota Bandung–yang akhir-akhir menyita banyak kalangan muda, termasuk saya, karena kreativitas dan keunikannya memimpin kota kembang tersebut. Gaya bicara dan jawaban beliau sederhana dan santai, lucu khas Sunda, tapi menukik dan tidak terkesan diplomatis-politis.

Sesi bincang-bincang ringan tapi bernada tajam itu membuat saya senyum-senyum; bandul yang bergerak di antara cemas dan harap, berdoa semoga beliau dikuatkan untuk mengemban amanah teresebut. Tapi ketika sesi itu berakhir dan lagu berlirik Inggris mulai terdengar sebagai soundtrack penutup, kening saya dibuat berkerut ketika melihat resume singkat seluruh pengisi acara di episode itu: Kang Emil dan dua pemimpin daerah yang namanya belum familiar di telinga saya, yakni Pak Suyoto (Bupati Bojonegoro) dan Pak Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng). Bantaeng di mana pula itu? Saya segera menoleh dan bertanya ke Bapak yang tidak jauh dari saya. Oh, Sulawesi Selasatan! Ah, malulah kau Fah, di mana ke-Indonesia-anmu itu? 😀 Syukurlah kau punya Bapak yang sudah menjelajah hampir separuh dunia.

Sepintas, saya membaca profil singkat mereka. Pak Nurdin dan Pak Suyoto adalah incumbent yang menurut versi Najwa mampu membawa banyak perubahan signifikan selama beliau berdua memimpin daerahnya masing-masing, berbeda dengan Kang Emil yang baru sekitar lima-enam bulan memimpin Bandung. Titik kesamaannya yang membuat saya tertarik adalah, latar belakang mereka bertiga yang tidak terlalu kental dengan aroma politik praktis, tapi justru akrab dengan dunia akademis dan profesi. Bertahun-tahun mereka membangun karir di dunia yang secara tidak langsung mendapat imbas dari efek besar politik suatu rezim, tapi tidak terlalu kentara benang keterlibatannya. Lantas, pertanyaan yang menggelitik benak saya saat itu adalah: bagaimana bisa orang-orang dengan tipikal lurus (saya sering menyebut para politisi praktis itu seperti pelaku jalan yang berkelok-kelok, :D) seperti itu mampu muncul ke permukaan dan memiliki kuasa atas wilayah tertentu, mampu bertahan cukup lama, dan membuat terobosan-terobosan baru yang bermanfaat bagi daerah yang dipimpinnya?

Saya merumuskan sebuah sintesa singkat yang menghasilkan kesyukuran tersendiri di otak saya; mereka mampu maju dan kemudian membawa banyak perubahan, pastilah bukan sebagai produk one man show atau titisan ksatria piningit-godotnya masyarakat Indonesia yang banyak mengendap di sebagian khalayak masyarakat. Tapi saya yakin, mereka adalah hasil kerja kolektif dan panjang yang telah dimulai oleh orang-orang terdahulu. Di balik mereka, masih ada, masih banyak bahkan, orang-orang baik yang kuat, yang berusaha keras, memupuk kesabaran untuk menempuh jalan panjang, memelihara bibit-bibit penerus yang diharapkan akan membawa perubahan di masa depan, tidak berhenti berharap semoga Tuhan berkenan membuka pintu-pintu takdir kebaikan. Akumulasi orang-orang baik, berani mengambil resiko, yang bersatu, kemudian bertemu momentum itulah, kemudian kita sebut dengan kemenangan. Kemenangan bersama.

Because, the winner never stands alone. 

Jangan pernah meremehkan sekecil apapun kontribusi kebaikan kita untuk cita-cita kebangkitan negeri ini. Meski hanya dengan terus mendukung orang-orang baik, berani, untuk tetap kuat di pos-pos perbatasan penjagaan negeri ini. Pos perbatasan yang mungkin sekedar membayangkan untuk menempatinya saja kita tidak berani..

keep planting..

keep planting..

Pagi yang masih cerah. Bincang-bincang dua rakyat jelata. 

Sebuah pesan WA masuk dari gadis ‘satu marga’ itu . Link singkat yang merujuk ke sebuah artikel panjang tentang salah seorang kepala daerah.

“Udah baca ini?”

“Beberapa kali lihat kutipannya, tapi belum baca sampai tuntas. Kenapa Fraw?”

“Makin nggak ngerti dengan dunia ini, Fah. Nggak tau diri ini musti jadi apa untuk bisa mengubah kondisi serunyam ini.”

beberapa menit.

“Aku baru selesai baca. Satire, hehe. Dapat perspektif lain, ada benernya mungkin, tapi sebagian terlalu ‘membunuh’ optimisme. Jadi ‘cukup tau aja’, yang nulis sosialis sih :p. Ya kali, revolusi. -_- revolusi yang nggak selesai jadinya kayak di Mesir. Negara dalam negara..” tulisan panjang itu ditulis oleh orang berkebangsaan asing, dari nama dan backgroundnya saya jadi punya gambaran awal kira-kira latar apa yang mendorongnya menulis setajam itu.

“cuma fakta di balik permukaan itu bikin aku nggak habis pikir.. tapi memang ‘sabar itu harusnya nggak ada batas :)’ Kalau mau ada perubahan, memang harus sabar dalam membenahi hal-hal yang prinsipil dulu. Nggak bisa dapat hasil yang cepat. #katatarbiyahbegitu”

“terlalu naif kalau kita menutup mata dari kepentingan bisnis. ****** dan **** terlalu “too good to be true”. Cuma aku jadi kebayang Kang Aher dan Kang Emil aja.”

“yup, sama..”

“Arus yang mereka hadapi deras, tapi apa kemudian kita juga apatis sama mereka?”

——————————————————————————————-

siang yang terik, menyimak bincang ringan seorang kepala daerah yang ditemani istrinya itu dengan presenter berita tivi biru.

“Kenapa anda meminta kekuatan?” presenter tivi dengan nadanya yang khas itu bertanya kepada perempuan berkerudung di hadapannya.

“.. karena kalau sudah terjun itu kan harus berenang. Kalau berenang harus sampai di tempat tujuan, sementara arusnya sangat deras. Itulah kenapa saya mohon (pada Allah) kekuatan (untuk Kang Emil)” Atalia Praratya, istri Walikota Bandung Ridwan Kamil itu menjawab lugas.

adakah yang lebih buruk daripada pencuri harapan dan optimisme? maka menjaga keduanya–harapan dan optimisme adalah salah sumber energi terbesar agar terus bergerak dan memberi, dan terus berharap pada Allah yang tidak akan menyalahi janji-Nya. 

“Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad)