Jum’at Sore

Jum’at Sore

Jum’at sore, adalah kebahagiaan bagi banyak orang. Karena esok adalah Sabtu, dan esoknya adalah Ahad.

Jum’at sore tetap saja adalah kebahagiaan, sehingga bayangan tentang kemacetan yang ekstra ditemui karena commuter beralih massif ke wilayah suburban bisa terusir dengan bayangan istirahat leyeh-leyeh di rumah pada dua hari ke depan, bercanda ria dengan orang-orang kesayangan.

Kadang kala, kita siap menerjang kesedihan dan kesulitan karena mengetahui ada harapan kebahagiaan yang menanti di balik itu semua. Dan seringkali seindah apapun kondisi kita saat ini tidak bisa menciptakan kebahagiaan karena hati kita sudah menutup celah harapan.

Sama seperti seorang ibu yang berharap tak habis-habis untuk kebaikan anaknya, seorang guru yang tak habis kesabaran mengajari murid-muridnya, seorang suami/istri yang setia mendampingi dan siap bertumbuh kembang bersama, harapan itu berputar seiring waktu yang terus berganti  dari Jum’at sore ke Jum’at sore lagi. ‘Memaksa’ kita terus bergerak dari Senin pagi untuk kembali lagi bertemu Senin pagi. Mendorong kita tetap menanam benih kebaikan walau mungkin sudah yang kesekian kali panen kita gagal.

Hingga nanti kitabenar-benar  pulang, tak ada beban.

Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

Pulang Ke Rumah

Pulang Ke Rumah

Kemarin, seorang ibu muda yang saya kenal di negeri Paman Sam, pamit di sebuah grup, “saya pamit pulang dulu ya.. ibu-ibu. Malam ini insyaAllah akan pulang ke Indonesia.” tentu saja beliau berpamitan di sebuah grup yang mayoritas isinya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, dalam hal ini Amerika.

Satu hal yang menarik dari pamitan beliau adalah ketika beliau menggunakan kata “pulang” ketika merujuk pada aktivitas kembali ke sebuah negeri yang terbentang jauh dari lokasinya saat itu. Pulang ke tanah air, tanah kelahiran, kampuang nan jauh di mato, homeland.

Kenapa bagi saya hal tersebut menarik? Karena bisa jadi, aktivitas kembali ke tanah air tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sebagian (besar?) orang yang sudah menghabiskan sebagian besar usianya, making a living, membesarkan  anak-anaknya (bahkan menikah, kemudian melahirkan anak pertamanya) di sebuah negeri di mana standar hidup seorang manusia menjadi sangat layak. Setidaknya pada standar dasar: udara yang bersih, air yang bersih, makanan yang kesehatannya dijamin dari pemerintah.

Pulang, menjadi suatu hal yang bisa jadi memberatkan bukan hanya karena biaya tiket perjalanan, tapi juga karena “beratnya” membayangkan apa yang akan dihadapi sesampainya di tanah kepulangan. Kemacetan, polusi, banjir, makanan yang dibumbui was-was dalam hati soal kesehatannya (ini gorengan dicampur plastik apa nggak ya? ini baso daging sapi apa daging yang lain?), inflasi yang tak sebanding dengan daya beli, tingkat keamanan yang rendah, de-el-el, de-es-be.

Rencana saya dan suami untuk coba menerapkan rihlah gembira sekaligus playdate alias silaturahim antar keluarga-keluarga kecil di antara teman-teman dan kerabat sepertinya menjadi tantangan yang cukup sulit untuk direalisasikan di Indonesia. Berbeda dengan rihlah gembira yang mudah dilakukan di sana, dua minggu sekali atau sebulan sekali, di tempat-tempat yang indah dan bersih dengan biaya masuk yang murah, membayangkan menempuh perjalanan ke suatu tempat yang berjarak 15 km dari tempat tinggal kami saja sudah pusing karena kemacetannya. -_-a

20160611_165005
Azima menatap kota Depok

Sepuluh hari menjejak kembali di tanah kelahiran, Indonesia, membuat saya berpikir ulang makna “pulang”.

Pulang, artinya menerobos segala kenyamanan yang didapat di negeri kunjungan, dan membawa kenyamanan itu sebagai kenangan untuk mengubahnya menjadi energi perubahan.

Menatap mobil yang berderet-deret menyesaki jalan Raya Bogor, Juanda, Margonda, sambil berulang menatap jam yang terus berputar, saat 15 km jarak ditempuh dalam rentang waktu nyaris 2 jam. Terbersit kenangan ketika suatu ketika diajak Mbak Gilda, ibu kontrakan tempat saya tinggal di US, ke Santa Cruz Beach, dengan jarak tempuh 112 km (sekitar 70 miles) dalam rentang waktu yang sama, sekitar 2 jam sahaja.

Atau ketika saya terheran-heran dengan banyaknya orang di sepanjang jalan selama saya di downtown Tokyo–sebuah kota yang sangat crowded, yang mau menempuh berkilo meter jalan kaki. Bapak dan abang-abang (?) muda dengan setelan jas siap ke kantor, tapi tak segan mengayuh sepeda menuju lokasi di mana mereka bekerja. Ibu-ibu yang membonceng anak balitanya di depan dan di belakang dengan sepeda yang memiliki bangku anak-anak yang aman, tampak sangat damai. Tidak diwarnai asap ibu kota dan stress kemacetan melihat deret mobil yang tak bergerak.

Kapankah tanah kelahiranku, Jakarta, (dan kini tanah kelahiran anakku, Depok) bisa seperti itu?

Pulang, berarti kita menuju sesuatu yang dirindukan. Karena ada sebagian atau seluruhnya hati yang tertinggal, di tanah kelahiran. Rindu adzan yang bersahutan, rindu akan tempat di mana Ramadhan menjadi bulan yang dirayakan, di mana ibu-ibu bisa mengajar anaknya melafaz dzikrullah di tempat umum tanpa harus dilihat aneh dengan tatapan dari-planet-mana-kamu-berasal atau apakah-kamu-teroris?, rindu bakso dan siomay bervetsin,  dan tentu saja rindu dengan keluarga, saudara-saudari, dan sahabat-sahabat yang sedikit banyak membentuk kepribadian kita sampai saat ini.

Meski berat dan payah, serta segudang amanah menanti diselesaikan, pulang menandakan kita masih punya kepedulian, masih punya perhatian. Pulang juga menandakan kita masih punya harapan, masih punya impian, agar tanah kelahiran menjadi tanah yang dapat (semakin) dibanggakan, menjadi ladang kebaikan sebelum kita benar-benar “pulang” .

ke Jakarta.. aku akan kembali.

ke Jakarta.. aku akan kembali.

JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK. Jakarta barangkali akan cepat menua, terlalu banyak kendaraan yang dipacu di atas jalannya, tapi orang lupa membaca cinta disebaliknya. Barangkali, di Jakarta cinta menjelma terlalu pragmatis. Saat kasih dan sayang pada keluarga tak memekarkan bunga-bunga puisi di jalan-jalan, seperti yang kita kira. Jadi jangan terlalu melankolis, kisanak. Kalau menganggap hanya […]

via JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK — DEBUTERBANG

Inspirasi Dari Google

Inspirasi Dari Google

Ada beberapa inspirasi yang saya dapat dari mengunjungi kantor Google kemarin, meskipun hanya bagian luarnya saja yang saya dapat lihat, tapi cukup mengesankan.

di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View
di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View, bersama Android Marshmallow

Di balik sebuah hal “sederhana” yang seringkali kita jumpai setiap hari, kita ambil manfaatnya tak terhitung lagi dan bahkan menjadi istilah yang populer dalam dialog sehari-hari (“googling” aja!), ada sebuah kompleksitas sistem yang raksasa. Saya takjub ketika melihat komplek perkantoran Google yang ternyata luass sekali, dan memiliki banyak gedung (yang saya juga tak sepenuhnya faham fungsi tiap gedungnya, haha).

Tapi dari sana saya belajar: tampilan boleh sederhana dan sangat user friendly, tapi jangan lupa bahwa untuk menjadi satu hal yang bermanfaat dan berimplikasi besar, butuh kerja keras dan kerja banyak tangan yang saling berpilin bersama-sama, mencapai tujuan yang sama.

di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollypop
di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollipop

sdr

Sampai sekarang saya belum tahu mengapa Google memberi nama atau sebutan makanan untuk berbagai macam versi Androidnya, tapi kalau saya ambil hikmahnya: salah satu hal yang membuat orang menjadi lebih akrab dengan barang yang awalnya asing adalah ketika barang asing tersebut diperkenalkan dengan nama yang sehari-hari dijumpai, disukai dan bahkan dibutuhkan. Dalam hal ini, Google menggunakan nama-nama makanan yang sering dijumpai oleh masyarakat pada umumnya.

Google menciptakan Android yang kini sangat common digunakan oleh para pengguna handphonetanpa melihat strata sosial atau secanggih apa handphonenya. Ketika kita berfokus pada fungsi dan tujuan, maka tools akan mengikuti dan sangat fleksibel serta mampu diterapkan siapa saja.

Dalam skup menciptakan hidup yang tak sekedar hidup, saya yakin seorang muslim punya hal yang lebih berharga untuk diperjuangkan dengan cara-cara ala Google yang “basyiran wa nadzira, yassir wa laa tu’assir.”

means (2)

means (2)

“Kemewahan” bisa menjadi sangat relatif bergantung situasi dan seberapa besar kita mensyukurinya.

Setelah hampir 5 bulan di US, akhirnya saya berhasil membeli tempe pesanan dan mengolahnya sendiri. Membelinya pun tidak mudah, karena tidak banyak orang (dalam hal ini WNI) yang mengorbankan waktunya untuk berfokus membuat tempe, dan kemudian menjualnya dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi yang rutin. Kalau di Indonesia bisa dengan mudahnya menemukan sepotong tempe di tukang sayur, di pasar, setiap pagi setiap hari, orang-orang Indonesia di sini harus menunggu ketika ada yang membuatnya dalam jumlah yang massif, atau kalau punya waktu luang membuatnya sendiri dengan kesabaran yang ekstra: mengupas kulit kedelainya satu persatu, menunggu raginya berfungsi dan berubahlah kacang-kacang itu menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Jawa (saya baru tahu kalau ternyata tempe tidak terlalu digemari di dataran Sumatera :D).
Setelah memesannya lewat Mbak Tatin, seorang ibu baik hati yang membeli tempe dari produsen tempe yang berlokasi di San Jose (dari lokasi tempat tinggal saya ke San Jose dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam – 2 jam, lumayan yah), akhirnya tibalah 4 potong tempe tersebut di tangan saya. Mengulang kembali rutinitas masakan paling ringkas yang sering saya olah di Indonesia: tempe kecap. Pertama mencicipi tempe tersebut, rasanya enaaak, masyaAllah. 😅 Padahal resepnya biasa saja, pakai penyedappun tidak. Entah, apa mungkin karena faktor waktu memakannya setelah saya berpuasa seharian. Tapi sepertinya lebih disebabkan karena sulitnya menemukan panganan tersebut, menjadikan makanan sederhana tersebut terasa berbeda di lidah, lebih (me)wah. Harganya pun 10x lipat dari di Indonesia😅 Alhamdulillah ala kulli hal.. 😊

Bang San Thai, adalah nama resto Thailand halal favorit kami yang berlokasi di San Francisco. Pertama kali mencicipi panganan di sana ketika kami baru mendarat di tanah Paman Sam, dan dijemput sekaligus dijamu oleh Mbak Wiwid, seorang ibu baik hati berputra empat yang sudah bertahun-tahun tinggal di US untuk menemani suaminya yang bekerja di sini. Rasa hidangannya yang mengingatkan pada tanah kelahiran membuat kami (saya, suami dan Azima) berulang-ulang (setidaknya 2 minggu sekali) bertandang ke sana. Pun meski tidak mudah menjangkaunya dengan kendaraan umum, kalau sudah ingin sekali mencicipi nasi goreng dan sup tom kha di sana, jalan menanjak dari Islamic Society of San Francisco (tempat kami biasa shalat kalau sedang berperjalanan ke SF) sepanjang 1 KM pun kami tempuh jua. Dalam kondisi dingin, berangin, lelah menanjak dan berjalan, mencicipi masakan kaya rempah itu rasanya nikmaat benar. MasyaAllah..

Akira, adalah nama bocah berusia 11 tahun yang ditinggal pergi ibunya dengan kondisi sangat kekurangan, dan harus menjaga 3 orang adik-adiknya yang masih kecil. Ketika akhirnya kiriman uang dari ibunya tidak kunjung tiba, air dan listrik diputus dari pusat dan membuat mereka harus menjalani hari-hari di sebuah kamar sempit apartemen yang tidak layak untuk ditempati. Kertas pun menjadi penghibur yang dikunyah Shigeru, sang adik, karena tidak kuat menahan lapar. Shigeru yang rajin memeriksa kolong tempat kembalian minuman kaleng, kalau-kalau ada receh yang ditinggal pembeli dan bisa dikumpulkan untuk membeli sepotong nasi. Yuki, adik bungsu berusia 4-5 tahun yang akhirnya wafat karena tidak tertolong setelah jatuh dari kursi, sebab kakak-kakaknya tak punya cukup uang untuk membawanya berobat, pun harus menunggu cukup lama untuk dikuburkan (dan jenasahnya dimasukkan ke koper) di tanah yang jauh dari keramaian. Kisah nyata tentang kakak beradik di Jepang yang diangkat ke dalam sebuah film humanis berjudul “Nobody Knows” itu menyentil kesadaran saya betapa seringkali saya luput memperhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi suatu “kemewahan” untuk orang lain.

Ya, bahkan sebuah “kesyukuran” bisa menjadi suatu hal yang “mewah”.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Di antara beberapa destinasi wisata di California yang selama beberapa waktu terakhir saya kunjungi, Lake Tahoe adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena bentangan alam yang indah sepanjang perjalanan ke sana, terpenuhinya rasa penasaran melihat dan merasakan salju seperti apa, tapi proses perjalanan panjang ke sana sebagai backpacking family ternyata meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

 Terletak di antara state California dan Nevada, Lake Tahoe terbagi menjadi dua bagian besar yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri, yaitu North Lake Tahoe dan South Lake Tahoe. Berdasarkan informasi dan rekomendasi dari beberapa ibu-ibu di sini, North Lake Tahoe menjadi pilihan karena di sana masih terdapat salju dikarenakan kondisi geografisnya. Di samping pertimbangan waktu (dan dana tentunya :D) yang terbatas, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan sulit ditemui di daerah lain, khususnya tidak bisa dijumpai di negeri asal kami. Tentu saja salju adalah poin lebih yang kami incar selaku manusia-manusia khatulistiwa 😀

Berikut adalah jejak dokumentasi yang saya tuliskan sebagai bentuk sharing bagi ayah-ibu dengan balita yang berkesempatan pergi jauh ke sana tanpa kendaraan pribadi dan tanpa rombongan tour. Terasa benar travellingnya! 🙂

Setelah tertunda-tunda selama beberapa weekend, akhirnya berangkatlah kami Sabtu pagi pekan kemarin. Pukul 5 pagi sudah berjalan keluar rumah menuju ke pool Amtrak (kereta antar kota dan state di Amerika) di San Francisco, dengan kondisi Azima diangkat dalam kondisi tertidur. Tiket sudah kami pesan langsung ke loketnya satu hari sebelumnya.

Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak
Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak

Ohya, kalau ada credit card, tiket Amtrak bisa dibeli melalui online di situsnya langsung, dan ternyata memang lebih murah dan eksak tujuannya daripada kita membeli di loketnya. Kenapa eksak? Karena  meminimalisir bias pelafalan dan pendengaran dari dua komunikan seperti yang terjadi pada kami: suami saya menyampaikan “Truckee, Lake Tahoe” (lokasinya di North Tahoe) kepada petugas loket, sedangkan petugas hanya mendengar, “Lake Tahoe”, (which is lokasinya di South Tahoe). Kesalahan pemesanan ini baru kami sadari ketika sudah tiba di rumah, alhamdulillah bisa diatasi via telepon dan membayar langsung keesokan harinya.

Salah satu kekurangan dari perjalanan dengan kendaraan umum adalah harus bersedia menyediakan waktu lebih banyak untuk antisipasi keterlambatan dan bersedia untuk sambung menyambung beragam kendaraan dan agak sedikit berputar jaraknya daripada langsung dengan kendaraan pribadi.

Tapi syukurnya, berperjalanan jauh dengan Amtrak menimbulkan kesan tersendiri karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah, bentangan savana, bukit, gunung serta laut ala Amerika. Layanan serta fasilitas di Amtrak pun tergolong memuaskan untuk ukuran perjalanan antar kota jarak jauh.

penampakan Amtrak dari luar
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak, yey, kami sudah nyaris sampai!

Dalam cerita kami, ada spare waktu sktr 5 jam “sekedar” untuk hal-hal di atas tadi: kami keluar rumah jam 5 shubuh, naik bus dari Alameda ke SF, tiba di SF jam 6 pagi. Kemudian menaiki bus thruway (semacam penghubung) dari SF ke stasiun Amtrak di Emeryville jam 8, dari Emeryville berangkat jam 9.30, tiba di  stasiun Amtrak Truckee jam 14.38 disambut oleh hawa segar tapi dingin yang menusuk kulit. Sayangnya, 14.38, adalah 8 menit setelah bus lokal (TART, Tahoe Area Local Transportation) berangkat meninggalkan kami, sebuah bus yang baru datang sejam sekali :D.

Alameda-Tahoe
Alameda-Tahoe

Setelah menunggu bus sejam kemudian, berangkatlah kami dari Truckee, sebuah kota di wilayah utara Lake Tahoe, dan tiba di Tahoe City Inn, tempat penginapan yang kami pesan melalui booking.com jam 17.00.  Harapan kami untuk segera mendapatkan kehangatan setelah berjalan kedinginan nyaris buyar ketika kami ditolak oleh resepsionis karena tidak punya credit card sebagai bentuk jaminan. Meskipun pembayaran bisa melalui cash, tetapi tampaknya di sini (Amerika), alas dasar kepercayaan bagi sesama stranger adalah uang :(, dalam hal ini credit card. 

Setelah berfikir beberapa saat dan mencari penginapan lain di internet yang ternyata juga penuh, akhirnya Kak Jay mencoba menghubungi kawannya, Mas Jimo, sesama tim dari iGrow yang syukurnya bisa dipinjam sementara akun CC-nya. (Big thanks to Mas Jim0-Mbak Ayun! 🙂 ). Setelah coba diproses, alhamdulillah, akhirnya kami tidak jadi terlunta-lunta kedinginan mencari penginapan sepanjang jalan yang mau menerima kami, :D.

Suasana Lake Tahoe di senja hari sangat indah, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Indonesia. Meski dengan suasana dan hawa yang berbeda, serta penjagaan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih tertib daripada di Indonesia. Terlintas di fikiran saya, bahwa bentangan alam dan daratan yang Allah berikan untuk Indonesia dan Amerika adalah sama-sama blessing. Tapi bukan tanpa hikmah juga tentunya ketika Allah memilih ras, agama, dan sejarah manusia-manusia yang hidup di atasnya (begitu) berbeda. And yeah, I’m still loking for that hikmaaat.. 

di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi
di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi

-to be continued-