Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

Advertisements
A-ba-ta-tsa in Alameda

A-ba-ta-tsa in Alameda

Hari ini genap sebulan saya dan keluarga kecil saya tinggal di US. Refleksi yang cukup lengkap tentang bagaimana kami tinggal di sini alhamdulillah sudah dituliskan oleh bapak komandan, di sini. Tulisan ini sekedar melengkapi satu dari sekian pembelajaran yang saya dapati, dan mudah-mudahan menjadi bekal untuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Salah satu pembelajaran tersebut adalah mendapat challenge berupa mengajar mengaji seorang anak perempuan berusia 5 tahun dengan bahasa Inggris.

Setiap kali ditanya oleh orang, “Jadi Ifah di sana ngapain aja?”, saya tersenyum-senyum sambil berfikir. Iya, apa hal bermanfaat yang bisa saya berikan pada orang lain, di samping memastikan keluarga kecil saya terjaga kesehatannya lahir dan batin, mengurus hal-hal domestik teknis kerumahtanggaan dan mendampingi masa-masa emas si kecil Azima?

Kalau di Indonesia ada banyak pilihan pekerjaan yang bisa saya lakukan di samping sebagai full time mother (membantu mengurus pembinaan di kampus, menjadi pengajar al-Qur’an dan pengurus LTQ yang Ibu saya bangun, ikut les, seminar ini dan itu sembari mempersiapkan S2), kondisi merantau dengan ketiadaan keluarga dan mahalnya daycare membuat pilihan pekerjaan yang sifatnya kontributif jadi tidak terlalu banyak. Sebab ke manapun saya pergi ada tangan kecil yang akan selalu mengikuti, Azima. Di tambah dengan jarak dari satu tempat ke tempat lainnya yang tergolong jauh, mobilitas saya jadi agak terhambat karena ketiadaan transportasi pribadi (dan kemampuan mengendarainya :D).

“..keberadaan kita di suatu tempat adalah pilihan Allah. Oleh karena itu saya begitu yakin, di manapun Allah menempatkan kita, di situlah Allah menginginkan kebaikan bagi kita.” – Mbak Kiki Barkiah

Refleksi Mbak Kiki di atas, seorang ibu beranak lima yang pernah mengalami masa perantauan di California selama beberapa tahun tersebut agaknya memang benar.

Tentunya bukan tanpa maksud Allah mempertemukan saya dengan Ibu kontrakan (pemilik paviliun yang saya tempati sekarang), yaitu seorang Ibu keturunan Padang yang sebaya dengan Bu Lik atau tante saya, bersuamikan orang Mesir yang sudah menjadi WN Amerika serta memiliki dua anak perempuan lucu-lucu dan pintar. Putri pertamanya bernama Noureen (yang berarti Nuur ‘Aini = cahaya mata), berusia lima tahun, dan Janna Rose (Mawar Surga, sang ibu menuturkan bahwa spelling-nya juga bisa menjadi generous = baik hati, dermawan) berusia 3 tahun. Keduanya lahir dan besar di sini, sehingga first language mereka adalah English.

Kesibukan sang ayah bekerja dan sang ibu mengurus setumpuk pekerjaan rumah tangga membuat kedua putri cilik tersebut belum diajari membaca Al-Qur’an. Terpikirlah di benak saya, barangkali inilah ladang pembelajaran dan mudah-mudahan bisa menjadi ladang amal pula semasa saya tinggal di negeri yang tidak meletakkan pengajaran agama dalam kurikulum sekolah negerinya.

Alhamdulillah gayung bersambut setelah saya coba tawarkan kepada sang Ibu, apakah berkenan sekiranya saya bantu mengajar ngaji anak pertamanya.

Mengajar anak-anak tentulah berbeda dengan mengajar orang dewasa. Sepengalaman saya yang masih sedikit dalam mengajar al-Qur’an, saya belum pernah mengajar anak-anak dari nol, kecuali Azima yang saya sudah perkenalkan dengan flashcard hijaiyah dan diakrabkan langsung dengan talaqqi langsung dari saya, bacaan dan lantunan al-Qur’an.

Sesulit apapun mengajar orang dewasa yang baru mengeja huruf hijaiyah, saya masih bisa dengan perlahan menjelaskannya dalam bahasa Indonesia, contohnya untuk huruf ‘dal’, “iya Bu, lidahnya diangkat dan dipertemukan dengan gusi dekat gigi atas bagian dalam ya.” Nah, kira-kira bagaimana menjelaskannya dalam bahasa Inggris? 😀

Tentu harus lebih disederhanakan ya. Setelah bertanya-tanya pada orang-orang yang lebih pengalaman, berdiskusi dengan kak Jay dan mengingat bagaimana Ibu mengajari saya dan saudara-saudari di masa kecil, akhirnya bi idznillah saya memutuskan untuk bereksperimen sendiri berbekal ilmu yang saya tahu.

Dengan waktu yang terbatas (kurang dari empat bulan lagi kami akan berada di sini), frekuensi belajar yang saat ini baru sepekan sekali (selama kurang lebih 45 menit setiap pertemuan), serta sulitnya mencari source modul pembelajaran untuk anak-anak pemula (iqro’, qiroati, metode ummi, dll), saya memilih membeli modul Qur’an Made Easy melalui Amazon.

Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat
Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat

Awalnya agak canggung mengajar dengan bahasa Inggris, tapi seiring waktu berjalan, ide-ide improvisasi itu bermunculan saja ketika momen mengajar berlangsung.

Saya mencari akal bagaimana mencari asosiasi yang mudah dengan huruf-huruf ‘asing’ tersebut, “This is like you call your daddy!”

“Dal!”

“and your mommy?”

“Mim!”

“Like you exhausted after loonngg running,” (saya menirukan nafas terengah-engah dengan makharijul huruf ‘ha’ tipis)

“Ha!

“and this one?” (saya memasang wajah terkejut)

“Waww””

and so on, so on.

Keberadaan papan tulis hitam dan kapur warna-warni juga saya optimalkan sebisa mungkin dengan menulis huruf-huruf hijaiyah dan membuat tebak-tebakan untuk Noureen, serta memintanya untuk menuliskan huruf yang saya sebutkan. Saya juga memanfaatkan lagu-lagu (nasyid) anak-anak yang bertebaran di youtube, yang konten lagunya adalah huruf-huruf  hijaiyah.

Alhamdulillah Allah karuniakan kecerdasan intelektual yang lebih di atas rata-rata bagi Noureen, sehingga di usia 2 tahun sudah pandai membaca dan berbicara dengan artikulasi yang jelas. Begitu pula ketika saya ajarkan huruf-huruf hijaiyah, daya serapnya sangat cepat dan ia dapat mengingat serentetan huruf bisa jadi untuk Noureen tampak sangat asing.

Meskipun pada beberapa huruf yang spelling-nya memang tidak lazim digunakan di sini, seperti ‘kha’, ‘dha’, butuh waktu lebih lama daripada huruf-huruf lainnya, Noureen tampak antusias untuk terus belajar.  Keberadaan flashcard hijaiyah yang saya bawa dari Indonesia untuk bekal belajar Azima pun syukurnya sangat bermanfaat untuk games tebak huruf, sehingga Noureen lebih enjoy menikmati pembelajaran (thanks to Eza yang sudah menawarkannya ke saya :)) . Ketika mengalami kesulitan dan Noureen tampak overwhelmed, saya putar kembali nasyid hijaiyah dan bernyanyi bersama. Begitu seterusnya sehingga tidak terasa waktu belajar sudah habis.

Saat ini saya dan Kak Jay sedang berusaha mengatur waktu agar intensitas pertemuan bisa lebih sering, setidaknya tiga kali sepekan. Jadwal ini dipengaruhi pula oleh jadwal kepulangan Kak Jay dari kantor, sebab selama saya mengajar, Kak Jay-lah yang akan menemani Azima bermain.

Mungkin apa yang saya lakukan terlihat sederhana, dan kadangpula ketika saya tengah stuck atau kehabisan ide kreativitas bagaimana mengajar gadis cilik tersebut, saya membayangkan jika suatu saat, dengan izin Allah, Noureen kelak menjadi cahaya mata tidak hanya bagi orang tuanya, tapi juga bagi masyarakat Amerika yang rindu akan fitrah kemanusiaannya. Aamiin.

Anak-anak dan Bahasa

Anak-anak dan Bahasa

Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan tentang perkembangan sosial–dalam hal ini komunikasi Azima dengan lingkungan barunya. Saya sempat mengkhawatirkan adanya jetlag sosial yang Azima hadapi karena minimnya balita sebaya dengannya yang bisa diajak bermain dan berbahasa yang lazim dia dengar selama 17 bulan tumbuh besar di Indonesia.

Tapi berdasarkan konsultasi dengan para ibu-ibu senior yang pernah mengalami keadaan serupa, saya jadi lebih tenang dan santai menghadapi kenyataan tersebut. Selama bahasa utamanya, bahasa Indonesia, tetap saya (sebagai Ibunya) gunakan untuk percakapan sehari-hari, seorang anak insyaAllah tidak akan mengalami bingung bahasa yang menyebabkan ia terlambat dalam berkomunikasi dengan sesama.

Dari pengamatan saya akhir-akhir ini pula saya terpikir lebih jauh, bagaimana sebenarnya asal muasal kita, dengan ragam bahasa dari benua satu ke benua lainnya dapat berkomunikasi? Bagaimana kita bisa bersepakat bahwa “makan” adalah “makan” dan “kursi” adalah “kursi”? Satu dari salah satu alasannya bisa jadi karena dasar komunikasi manusia adalah bahasa tubuh/bahasa isyarat. Ketika saya mencoba memahami tangisan Azima dengan menanyakan, “Azima mau makan?” sembari menggerakkan tangan saya berulang ke mulut dan bersegera mengambil makanan, serta responnya kemudian positif (terdiam dan makan dengan lahap), saat itu ia belajar bahwa yang sedang ia lakukan adalah makan.

Atau ketika secara spontan saya bereaksi dengan nada agak tinggi dan wajah berkerut ketika melihatnya melakukan hal yang berbahaya, ia otomatis memang berhenti, tapi dengan raut agak takut. Baru kemudian ketika saya mengubah nada bicara dengan lebih lunak, wajah yang sambil tersenyum dan deretan penjelasan kenapa hal tersebut dilarang, rautnya kembali tenang (dan beberapa waktu kemudian mengulang perbuatan yang sama :D). Dari nada, raut wajah dan gesture itu kemudian manusia belajar memahami bahasa sesamanya yang mungkin awalnya terdengar aneh, lama kelamaan jadi saling memahami.

Terkait kemampuan berbahasa ini juga memang ternyata sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan banyak kata-kata yang diucapkan dari orang-orang terdekat di sekitarnya kepada sang anak. Dalam buku Bright From The Start yang ditulis oleh DR Jill Stamm, profesor di Arizona State University, perkembangan intelektual anak sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak kata-kata yang ia dengar sejak lahir sampai ia berusia 3 tahun.

Ia menukil sebuah studi yang dilakukan oleh dua orang peneliti (Betty Hart, Ph.D dan Todd Risley, Ph.D) di pertengahan 1990an, di mana sebuah tim dari University of Kansas mengamati 42 keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam dalam kurun waktu dua setengah tahun, ketika anak-anak dalam setiap keluarga tersebut tumbuh sejak usia 7-9 bulan sampai tiga tahun. Tim peneliti duduk mengamati di setiap rumah dan menghitung berapa banyak kata yang diucapakan dalam rumah tersebut. Mereka juga mencatat nada bicara, apakah kata-kata yang diucapkan terkesan positif atau negatif.

Kemudian, tim peneliti mengevaluasi bagaimana signifikannya jumlah kata-kata yang diucapkan terhadap IQ anak-anak tersebut di kemudian hari. Hasilnya, semakin banyak kata-kata positif yang diucapkan, smakin tinggi pula IQ yang diraih–tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi setiap keluarga. IQ yang lebih tinggi pada anak juga dipengaruhi dengan nada, interaksi dua arah dalam percakapan, dan lebih banyak kata-kata yang bersifat bertanya daripada memerintah.

 

Azima di San Francisco Public Library
Azima di San Francisco Public Library: read and grow, dear!

Stamm juga menuturkan bahwa secara ilmiah, perbedaan bahasa rupanya juga memiliki pengaruh pada kemampuan berbahasa seorang anak. Sejak ia berusia dua bulan, seorang bayi bisa membedakan bahasa dengan dua pola penekanan yang berbeda, contohnya bahasa Inggris dan Jepang. Ketika bayi tersebut semakin familiar dengan bahasa asli (native) mereka, skill mereka semakin terlatih dan mampu membedakan dua bahasa dengan pola penekanan yang sama, contohnya bahasa Inggris dan Jerman.

Ketika usianya menginjak lima bulan, bahkan bayi bisa membedakan dua bahasa yang serupa tapi dengan dialek yang berbeda, contohnya Inggrisnya US dan British! Fatabarakallahu ahsanul khaaliqiin.. Masih cukup panjang penjelasan Stamm soal proses bagaimana kata-kata yang ia dengar dapat tersusun dalam otak, dan menstimulasi proses berbicara sang bayi dan bahkan mempengaruhi kerja otak (mudah-mudahan di lain kesempatan saya dapat mereview terkait hal tersebut).

Setelah mendapat wawasan baru tersebut dan menerapkannya beberapa hari terakhir pada Azima, saya cukup melihat perbedaan yang siginifikan dalam komunikasi antara kami berdua: Azima yang lebih curious dan ekspresif ketika mendengar saya berbicara dan merespon juga dengan “kata-kata”nya, serta emosinya yang lebih terkendali (sebelumnya karena ibunya lama fahamnya dan kurang kreatif bicara dengan Azima, Azima tampak lebih “kesal” ketika mengungkapkan keinginannya).

Saya jadi semakin faham mengapa keponakan pertama saya, Afnan, di usianya yang empat tahun sudah sangat cemerlang bercerita panjang lebar dalam dan tinggi soal kesehariannya dan apa yang dia temui, dengan gaya bahasa yang mature. Ya, di samping mungkin karena faktor genetik ayah bundanya yang memang cemerlang (ihiy mas af dan kak aisyah :D), ia tumbuh sejak lahir di keluarga besar  yang memilki sangat banyak perbendaharaan kata setiap harinya.

Mungkin sekali waktu terbetik di benak kita (atau mungkin saya saja :D), kenapa sih harus menyiapkan anak-anak sejak dini dengan segala stimulasi abcdez? Agar ‘sekedar’ jadi superkids di antara deretan anak-anak generasi Alpha? Tentu saja jauh dari sekedar itu: agar ia siap jadi pewaris estafet kebaikan di masanya kelak, di mana tantangannya akan berbeda bentuk dengan zaman ayah ibunya dahulu. More than one of Generation Alpha to be, but to be Rabbaniy Generation. Aamiin.. 

 

Referensi:

Stamm, Jill. (2007). Bright from The Start: the simple, science-baked way to nurture your child’s developing mind, from birth to age 3. USA: Penguin Group Inc.

cita kini, untuknya nanti

cita kini, untuknya nanti

Kemarin pagi, saya antusias sekali ketika mendapati kotak bouncer itu tiba di rumah. Tempat bayi multifungsi itu saya sambut dengan semangat kehadirannya karena di samping bisa menjadi tempat bermain Azima selama saya mengerjakan pekerjaan lain, musik dan mainan di atasnya mudah-mudahan bisa menjadi stimulus yang bagus untuk tumbuh kembangnya. Bentuknya yang juga bisa diayun-ayun saya harap bisa membuatnya tertidur lebih nyenyak.

Ketika mengeluarkan rangkaiannya dari kotak, saya buru-buru mengambil buku petunjuk untuk merangkainya. Ambil rangkaian besinya.., dan haih, sepertinya cukup rumit dan butuh obeng yang entah di mana tempatnya sekarang :D. Berulang kali saya coba lihat buku petunjuk dan gambar jadi yang ada di sampul kotaknya. Beberapa menit berjalan, akhirnya saya putuskan untuk menunggu ayahnya Azima pulang, secara kemampuan spasial dan tekniknya jauh di atas saya 😀

Azima di atas bouncernya :D
Azima di atas bouncernya 😀

Kmudian saya jadi terpikir, analogi membentuk dan mendidik anak kira-kira seperti ketika saya ingin merangkai bouncer itu. Akan seperti apa jadinya kelak, sangat ditentukan oleh persepsi dan desain yang jelas dari orang tua sang anak. Ayahnya berperan sebagai desainer/arsitektur, ibunya penjahit/insyinyur sipil. Semakin blur desain yang dimiliki, peluang ketidakjelasan akan menjadi seperti apa anaknya kelak akan semakin besar. Semakin kompak kedua orang tuanya menjalani peran masing-masing, akan lebih mudah bangunan karakter dan cita-cita anak terbentuk. Desain dan pembangunan karakter-cita sang anak itu bisa sangat dipengaruhi oleh pemahaman, wawasan, pengalaman hidup orang tuanya, lingkungan, dan tentu, di atas itu semua, kehendak Allah.

Persepsi dan desain yang jelas di awal yang dimiliki kedua orangtuanya juga memberikan harapan dan energi yang besar bagi orangtuanya dalam menjalani hari-hari bersama sang anak. Saya misalnya, tak peduli terlihat mengobrol atau mengoceh sendiri di hadapan Azima karena tahu, dengan begitu kemampuan verbal Azima akan lebih mudah terstimulus. Mengulang-ulang membacakan surat pendek sampai panjang, dan doa-doa pendek juga menjadi kebiasaan tersendiri yang menyenangkan, karena saya berharap kelak secara verbal lisannya sudah akrab dengan simbol penjagaan Allah. Begitu juga ketika beberapa hari belakangan Azima mengalami growth sprut,  nyaris sepanjang hari dan malam tidak berhenti menyusu dan minta digendong, energi yang saya miliki untuk tetap berusaha tersenyum dan mengoceh untuk menghiburnya tetap terjaga karena memiliki harapan kelak ia jadi anak yang shalihah, cerdas dan sehat. Perdebatan di kepala saya beberapa waktu yang lalu untuk memutuskan full time di rumah saja atau mulai mencari aktivitas di luar rumah yang menyita waktu agaknya sudah berakhir, ketika mendapati ada kesempatan mewah yang Allah beri pada saya: mendampingi tumbuh kembang Azima. Ya, tidak melewati momen emas ketika Azima tersenyum dan tertawa untuk yang pertama kalinya, ketika ia bersuara menyambut ocehan saya, ketika ia mulai bisa mengangkat kepalanya dalam poisi tengkurap, dan insyaAllah milestone-milestone selanjutnya yang menanti di hadapan. 🙂

Terima kasih Allah, sudah memberi saya kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Kesempatan yang akan saya perjuangkan untuk menjadi bekal kebaikan di akhirat kelak.

The Senjayas :D
The Senjayas 😀

Azima dan Ayahnya, let’s fighting till the end! :’D

juru kunci

juru kunci

Sesi terakhir  itu menjadi momen pamungkas dari keseluruhan rangkaian seminar di hari itu. Tensinya cenderung melunak, berbeda dari beberapa topik sebelumnya yang membuat peserta seminar mengurut dada dan menggelengkan kepala. Sesi yang diisi oleh dua bapak-bapak kebapakan itu menjadi topik kunci yang terasa sangat real. Real untuk menjadi solusi atas banyak penyimpangan sosial yang dibahas di sesi sebelumnya.

“Sebagian pecandu narkoba itu bukanlah dari kalangan anak-anak yang tidak pernah shalat dan mengaji. Tapi anak-anak yang pernah shalat dan mengaji, tapi mengalami kebosanan. Orang tua sekedar menjadi timer, nggak bisa jadi partner dan entertainer. Rumah sekedar menjadi terminal. Tahu kan ya terminal? di terminal manapun orang seringnya numpang lewat, pas ada bisnya datang, ya langsung pergi. Nggak ada itu rapat di terminal, kecuali petugas terminalnya kan?” Anggukan audiens diiringi tawa kecil, membenarkan bapak berusia tiga puluhan berkacamata itu. Sejak duduk di tingkat satu kuliah, saya beberapa kali mengikuti acara yang diisi oleh Bapak tersebut. Gayanya belum berubah, masih kocak, satire, tapi substansinya mendalam. Meskipun sudah beberapa kali mengikuti kajian bapak-bapak yang akrab dipanggil Ustadz Bendri ini, baru dua kali saya mengikuti kajian bertema parenting yang beliau bawakan, termasuk momen seminar di sudut Tebet itu.

“Oleh sebab itu, di dalam Islam itu dikenal konsep ‘al-ummu madrasatul ula wal abu mudiiruha. Ibu adalah madrasah/sekolah pertama, dan ayah adalah kepala sekolahnya. Apa saja tugas kepala sekolah? Ada tiga, pertama menyamankan sekolah (membuat Ibu nyaman). Ibunya nggak usah dibuat pusing besok makan apa, biar fokus menjalankan fungsinya sebagai guru. Kedua, menetapkan visi dan misi. Ketiga, menjalankan evaluasi.” paparannya sekali lagi membuat saya dan audiens yang hadir mengangguk-angguk.

Usai giliran Ustadz Bendri dengan segala bawaan khasnya yang kocak, berlanjut ke pembicara kedua, seorang bapak yang saya taksir usianya sudah menginjak kepala empat. Bagi para penonton film Sang Murabbi pastilah akrab dengan wajahnya, sang pemeran alm. Ustadz Rahmat Abdullah. Pak Irwan Rinaldi, lulusan Psikologi UI yang pernah berpindah profesi dari pengajar di UI menjadi pengajar TK Islam itu menuturkan sepak terjang dan ikhtiarnya di dunia’perayahan’.

Ada satu kisahnya yang membuat saya semakin bersyukur telah diberi kesempatan hadir di forum tersebut. Kisah penutup yang membuat saya tercenung beberapa saat: bahwa peran dan tanggung jawab orang tua adalah salah satu peran kunci yang menentukan baik dan buruknya suatu bangsa.

Di medio 1995, saat Perang Bosnia mulai berakhir, Pak Irwan menjadi salah satu relawan yang pergi ke sana. Di tengah musim salju yang membekukan tubuh, datang kepada beliau tiga orang anak kecil, kakak beradik dengan usia kakak tertuanya 6 tahun. Refleks, Pak Irwan menyodokan beberapa coklat untuk menghangatkan tubuh. “Dengan naif saya saat itu memberikan cokelat, karena memang wajarnya begitu kan. Tapi apa jawab anak tertua itu? ‘Terima kasih Pak atas cokelatnya, tapi jauh-jauh kami ke sini bukan untuk cokelat. Kami ingin al-Qur’an. Sudah lama kami tidak membaca al-Qur’an.”