Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

daddy-daughter

daddy-daughter

azima dan ayah: like father like daughter
azima dan ayah: like father like daughter

percakapan azima dan bundanya siang tadi setelah makan mangga:
bunda: azima, sudah habis ya mangganya,
azima: abi (abis), abi (abis),
bunda: iya, nanti kita makan mangga lagi kalau ada ayah ya
azima: ayah, ayah (nunjuk gambar boneka-boneka hewan di dinding, biasanya jadi panduan ayahnya untuk buat boneka jari dari kain flanel)
bunda: iya, ayah yang buatin azima boneka gajah ya
azima: gadaah (gajah)
bunda: iya, terus apalagi?
azima: ssh.. (sambil pegang bahunya, memperagakan ketika ayahnya gendong azima di bahu)
bunda: hoo, azima seneng ya digendong bahu sm ayah?
azima: (angguk-angguk)
bunda: (senyum-senyum terharu: anak gadisnya sudah mulai semakin kuat perasaannya :”))

:)
🙂

thanks for being there,Azima, and Azima’s daddy 🙂

Anak-anak dan Bahasa

Anak-anak dan Bahasa

Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan tentang perkembangan sosial–dalam hal ini komunikasi Azima dengan lingkungan barunya. Saya sempat mengkhawatirkan adanya jetlag sosial yang Azima hadapi karena minimnya balita sebaya dengannya yang bisa diajak bermain dan berbahasa yang lazim dia dengar selama 17 bulan tumbuh besar di Indonesia.

Tapi berdasarkan konsultasi dengan para ibu-ibu senior yang pernah mengalami keadaan serupa, saya jadi lebih tenang dan santai menghadapi kenyataan tersebut. Selama bahasa utamanya, bahasa Indonesia, tetap saya (sebagai Ibunya) gunakan untuk percakapan sehari-hari, seorang anak insyaAllah tidak akan mengalami bingung bahasa yang menyebabkan ia terlambat dalam berkomunikasi dengan sesama.

Dari pengamatan saya akhir-akhir ini pula saya terpikir lebih jauh, bagaimana sebenarnya asal muasal kita, dengan ragam bahasa dari benua satu ke benua lainnya dapat berkomunikasi? Bagaimana kita bisa bersepakat bahwa “makan” adalah “makan” dan “kursi” adalah “kursi”? Satu dari salah satu alasannya bisa jadi karena dasar komunikasi manusia adalah bahasa tubuh/bahasa isyarat. Ketika saya mencoba memahami tangisan Azima dengan menanyakan, “Azima mau makan?” sembari menggerakkan tangan saya berulang ke mulut dan bersegera mengambil makanan, serta responnya kemudian positif (terdiam dan makan dengan lahap), saat itu ia belajar bahwa yang sedang ia lakukan adalah makan.

Atau ketika secara spontan saya bereaksi dengan nada agak tinggi dan wajah berkerut ketika melihatnya melakukan hal yang berbahaya, ia otomatis memang berhenti, tapi dengan raut agak takut. Baru kemudian ketika saya mengubah nada bicara dengan lebih lunak, wajah yang sambil tersenyum dan deretan penjelasan kenapa hal tersebut dilarang, rautnya kembali tenang (dan beberapa waktu kemudian mengulang perbuatan yang sama :D). Dari nada, raut wajah dan gesture itu kemudian manusia belajar memahami bahasa sesamanya yang mungkin awalnya terdengar aneh, lama kelamaan jadi saling memahami.

Terkait kemampuan berbahasa ini juga memang ternyata sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan banyak kata-kata yang diucapkan dari orang-orang terdekat di sekitarnya kepada sang anak. Dalam buku Bright From The Start yang ditulis oleh DR Jill Stamm, profesor di Arizona State University, perkembangan intelektual anak sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak kata-kata yang ia dengar sejak lahir sampai ia berusia 3 tahun.

Ia menukil sebuah studi yang dilakukan oleh dua orang peneliti (Betty Hart, Ph.D dan Todd Risley, Ph.D) di pertengahan 1990an, di mana sebuah tim dari University of Kansas mengamati 42 keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam dalam kurun waktu dua setengah tahun, ketika anak-anak dalam setiap keluarga tersebut tumbuh sejak usia 7-9 bulan sampai tiga tahun. Tim peneliti duduk mengamati di setiap rumah dan menghitung berapa banyak kata yang diucapakan dalam rumah tersebut. Mereka juga mencatat nada bicara, apakah kata-kata yang diucapkan terkesan positif atau negatif.

Kemudian, tim peneliti mengevaluasi bagaimana signifikannya jumlah kata-kata yang diucapkan terhadap IQ anak-anak tersebut di kemudian hari. Hasilnya, semakin banyak kata-kata positif yang diucapkan, smakin tinggi pula IQ yang diraih–tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi setiap keluarga. IQ yang lebih tinggi pada anak juga dipengaruhi dengan nada, interaksi dua arah dalam percakapan, dan lebih banyak kata-kata yang bersifat bertanya daripada memerintah.

 

Azima di San Francisco Public Library
Azima di San Francisco Public Library: read and grow, dear!

Stamm juga menuturkan bahwa secara ilmiah, perbedaan bahasa rupanya juga memiliki pengaruh pada kemampuan berbahasa seorang anak. Sejak ia berusia dua bulan, seorang bayi bisa membedakan bahasa dengan dua pola penekanan yang berbeda, contohnya bahasa Inggris dan Jepang. Ketika bayi tersebut semakin familiar dengan bahasa asli (native) mereka, skill mereka semakin terlatih dan mampu membedakan dua bahasa dengan pola penekanan yang sama, contohnya bahasa Inggris dan Jerman.

Ketika usianya menginjak lima bulan, bahkan bayi bisa membedakan dua bahasa yang serupa tapi dengan dialek yang berbeda, contohnya Inggrisnya US dan British! Fatabarakallahu ahsanul khaaliqiin.. Masih cukup panjang penjelasan Stamm soal proses bagaimana kata-kata yang ia dengar dapat tersusun dalam otak, dan menstimulasi proses berbicara sang bayi dan bahkan mempengaruhi kerja otak (mudah-mudahan di lain kesempatan saya dapat mereview terkait hal tersebut).

Setelah mendapat wawasan baru tersebut dan menerapkannya beberapa hari terakhir pada Azima, saya cukup melihat perbedaan yang siginifikan dalam komunikasi antara kami berdua: Azima yang lebih curious dan ekspresif ketika mendengar saya berbicara dan merespon juga dengan “kata-kata”nya, serta emosinya yang lebih terkendali (sebelumnya karena ibunya lama fahamnya dan kurang kreatif bicara dengan Azima, Azima tampak lebih “kesal” ketika mengungkapkan keinginannya).

Saya jadi semakin faham mengapa keponakan pertama saya, Afnan, di usianya yang empat tahun sudah sangat cemerlang bercerita panjang lebar dalam dan tinggi soal kesehariannya dan apa yang dia temui, dengan gaya bahasa yang mature. Ya, di samping mungkin karena faktor genetik ayah bundanya yang memang cemerlang (ihiy mas af dan kak aisyah :D), ia tumbuh sejak lahir di keluarga besar  yang memilki sangat banyak perbendaharaan kata setiap harinya.

Mungkin sekali waktu terbetik di benak kita (atau mungkin saya saja :D), kenapa sih harus menyiapkan anak-anak sejak dini dengan segala stimulasi abcdez? Agar ‘sekedar’ jadi superkids di antara deretan anak-anak generasi Alpha? Tentu saja jauh dari sekedar itu: agar ia siap jadi pewaris estafet kebaikan di masanya kelak, di mana tantangannya akan berbeda bentuk dengan zaman ayah ibunya dahulu. More than one of Generation Alpha to be, but to be Rabbaniy Generation. Aamiin.. 

 

Referensi:

Stamm, Jill. (2007). Bright from The Start: the simple, science-baked way to nurture your child’s developing mind, from birth to age 3. USA: Penguin Group Inc.

worth it

worth it

Setelah heboh bolak-balik kamar dan ruang pantry, minta spaghetti berulang-ulang, mengulang ipin-upin di youtube yang sudah serial keberapa–tapi tidak serius juga ia lihat, melempar-lempar mainan, mengobrak-abrik pakaiannya di lemari, mengikuti gerak bundanya ke manapun pergi, akhirnya gadis cilik itu lelah juga dan tertidur. Ada masanya di mana saya hanya bisa terdiam sejenak ketika tangisannya yang minta diperhatikan atau minta sesuatu–yang saya belum paham, meraung di telinga. Dengan kondisi fisik saya yang sedang melemah karena adaptasi cuaca, ada keinginan untuk berjarak sejenak dengan batita yang beberapa bulan lagi genap dua tahun usianya. Tapi saya tahu, terdiam bukanlah solusi akhir atas keriuhan yang tiap harinya ia ciptakan. Tapi saya tahu, masa-masa di mana ia mengikuti saya ke manapun pergi pasti akan berlalu juga, berganti dengan munculnya dunia baru untuk seorang anak perempuan yang beranjak dewasa, dan mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk melepasnya ketika ia berpindah tanggung jawab pada lelaki yang kelak jadi imamnya. Tapi saya tahu, kelucuan-kelucuan dan tawanya yang riang mengajak saya bermain cilukba atau kuda-kudaan akan berlalu juga, berganti keasikan dengan dunia maya atau buku-buku favoritnya. Tapi saya tahu, ciuman-ciumannya untuk mengajak saya bermain ketika saya tak kuat menahan kantuk karena kelelahan seharian, akan berganti dengan izin pulang agak malam karena ada kesibukan sekolah atau kampusnya. Dan ketika masa itu tiba, saya akan sangat merindukan masa-masa di mana 24 jam sehari saya selalu bersama gadis kecil itu.

so, all messiness in motherhood thing is worth it.

bunda sayang azima :)
bunda sayang azima 🙂

So I pray, yes I pray
‘Cause I know the life I want
When it’s hard I keep working
I’ll never give this up
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end

(“Worth It – Harris J)

‘Uluwwul Himmah

‘Uluwwul Himmah

Setiap harinya bagi kita adalah tantangan, tapi bentuk dan kadar tantangannya seperti apa sangat ditentukan sejauh dan sebesar apa cita-cita kita. Bagi yang pergi kuliah ke kampus untuk sekedar mengisi waktu atau terlihat keren misalnya, tentunya akan menganggap kendala berupa jarak yang jauh atau ketiadaan transportasi adalah kendala yang sangat berarti. Tapi bagi yang berniat kuliah ke kampus untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, yang dengan begitu bisa mendapat bekal untuk berbagi pada masyarakat, ia akan menjadikan kendala jarak, ketiadaan transportasi, atau bahkan ketiadaan finansial sebagai challenge untuk membuktikan bahwa cita-citanya cukup mulia untuk diperjuangkan. Ia akan mencari solusi dan tidak stuck pada satu hambatan, meyakini bahwa akan ada jalan untuk mereka yang memang punya kesungguhan.

Hari-hari ini saya diingatkan kembali soal himmah, yang secara bahasa memiliki arti semangat atau cita-cita, tetapi secara maknawi setidaknya punya tiga makna: pertama adalah niyyah (niat), kedua adalah iradah (kehendak), dan ketiga adalah ‘azimah (tekad). Sebagai contoh, saya berniat untuk pergi ke seminar di Islamic Society of  San Francisco besok pagi, ia baru sebatas niat jika hanya sebatas lintasan pikiran, berubah menjadi kehendak ketika mulai direncanakan, dan berubah menjadi tekad ketika saya dengan kesungguhan mulai melakukan perjalanan naik bus dan BART menuju San Francisco.

karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut :) semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya
karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut 🙂 semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya.

Orang yang memiliki ‘uluwwul himmah atau semangat yang tinggi tidak akan mudah goyah ketika ada satu dua atau seribu kendala yang menghalangi cita-citanya. Ia tidak akan mengambil banyak keringanan-keringanan yang dengan begitu justru memperbesar peluang kemalasan atau berkurangnya rasa kesungguhan dalam dirinya. Bukankah manisnya perjuangan baru terasa ketika sudah lelah berjuang?  Di samping itu, ia akan memperbaiki kesalahannya yang lalu jika memang ia sadari itu sebagai penghambat bagi cita-citanya.

‘Uluwwul himmah tidak terbatas pada ‘kekerenan’ cita-cita yang tampak ‘wow’ dari segi materi, tapi ia disandarkan pada visi ukhrowi yang mungkin kadangkala jauh dari gemerlap dan tepuk tangan dunia. Adakalanya ia merajut impiannya di sudut yang sepi, kasat mata mungkin tak tampak, tapi manfaatnya bisa dirasa sejagat, jika tidak sekarang mungkin nanti. Pun jika harus berhadapan dengan tepuk tangan dunia, orang yang memiliki ‘uluwwul himmah juga harus bertarung dengan dirinya, dengan bisikan untuk riya’, ‘ujub atau sum’ah,  manakala ekspektasi orang membuatnya kehilangan arah karena tidak ingin membuat khalayak kecewa.

‘Uluwwul himmah akan membuat orang mampu memikul beban yang berat, terus mengulang-ulang dalam jiwanya untuk tidak sebatas berfikir tentang dirinya, tapi juga untuk orang lain. Hari-hari ini, ketika semakin banyak fenomena sosial yang membuat kening berkerut, mungkin sudah saatnya tidak lagi berfikir mendekap anak erat-erat saja di dalam rumah, mengurungnya agar steril dari ‘ragam kejahatan dan penyimpangan sosial’, mungkin sekarang saatnya saya, anda, kita semua berfikir ulang: apakah yang saya lakukan saat ini bagian dari perwujudan cita-cita yang mulia? Adakah ‘uluwwul himmah itu bersemi di dada kita?

a friend of her

a friend of her

Salah satu hal yang saya semakin sadari ketika merantau jauh di tanah asing adalah karakter dasar Azima yang ternyata memang sangat suka bersosialisasi. Kondisi di tempat tinggal kami (paviliun) yang cukup terbatas untuk Azima bermain bebas akhirnya membuat saya dalam sehari selalu mengajaknya ke luar, minimal sekali ke park, yang sudah disertai juga playground untuk anak usia balita sampai jelang remaja. Ada banyak permainan di sana dan lingkungannya juga sangat bersih. Setiap kali Azima ke park, baik di waktu siang ataupun sore (karena kalau pagi masih sangat dingin untuk ukuran manusia-manusia tropis seperti kami), ada balita sampai remaja yang sedang bermain di playground. Subhanallah, mereka luar biasa lincahnya berlarian memanjat dan melompat. Azima terlihat paling mungil dan tampak perlahan sekali mencoba mengejar mereka, entah karena faktor genetika (keturunan/ras) atau asupan kuantitas dan kualitas makanan, :”D. Pastinya memang di sini porsi makan satu orang setara dengan dua porsi makan saya dan suami sebagai orang Indonesia. Ikan salmon pun bisa habis satu ekor sendirian untuk satu porsi lelaki dewasa.

Selain faktor fisik, rupanya faktor bahasa menjadi salah satu kendala yang membuat sosialisasi Azima dengan kawan-kawan sebayanya menjadi kurang optimal. Azima yang sangat mudah teralihkan fokusnya dari mainan kesukaannya di playground–ayunan dan perosotan, ketika melihat ada anak sebayanya sedang berjalan-berlari di sekitarnya: Azima yang awalnya beraut cerah dan berteriak-teriak memanggil untuk mengajak main, kemudian menjadi (tampak) kecewa ketika ternyata sang teman yang diharap dapat bermain bersama menganggapnya sebagai stranger (duh, bunda jadi ikut sedih nak 😦 ). Stranger dari sisi perbedaan fisik dan kemampuan berbahasa (aksen, logat) yang Azima belum bisa fahami. Akhirnya teman main terbaiknya selama di playground adalah ibunya :””D. Alhamdulillah, ada satu anak ummahat WNI di sini, perempuan yang usianya sekitar 8 tahun, terlihat sangat sayaang sekali dengan Azima. Tapi sayangnya, rumahnya lumayan jauh dari lokasi tempat tinggal kami. Pertemuan dengan Fatimah, nama anak perempuan tersebut, setidaknya dua kali sebulan, dalam acara pengajian bulanan atau taklim rutin dwimingguan WNI di bay area.

Akhirnya tantangan saya selanjutnya di sini adalah, menciptakan lingkungan tempat tinggal yang homy  dan indoor games yang membuat Azima betah berlama-lama di dalam kamar. Saya kadang ikut gembira melihat sumringahnya wajah Azima ketika saya mulai bersiap-siap mengajaknya keluar, dengan mengenakan pakaian hangat dan kaus kaki. Gadis cilik itu ikutan mengambil sepatu dan segera beranjak ke tangga menuju pintu keluar. Padahal pakaian tempurnya (jaket, kupluk, kaus kaki) dan stoller belum juga disiapkan. Ck, ck, ck.. Kadang pula saya tidak tega melihatnya menangis ketika saya paksa duduk di stoller untuk pulang dari park, karena hari sudah sore dan semakin dingin, perut kami sudah minta diisi, dan teman bermainnya (yaitu saya) sudah mulai kecapekan :”|

Setiap tantangan insyaAllah akan membuat kita jadi semakin cerdas kan? satu hikmah lain yang saya dapatkan dengan menjadi orang asing di tanah asing adalah peluanga  semakin kuatnya ikatan kami sebagai sebuah keluarga. Azima yang selalu terbangun ketika ayahnya pulang dari kantor (selarut apapun) dan keinginan saya untuk terus berusaha ada di sisinya, menjadi teman belajar dan bermain yang seru untuk Azima, di saat teman bermainnya belum banyak di sini. yo, semangat bunds dan azima! #talktomyself.

Bagi sidang pembaca yang mungkin pernah mengalami pengalaman serupa, monggoo, silakan berbagi di sini yaa 🙂

Keterarahan

Keterarahan

Sembari memandangi Azima yang tidur di pangkuan (mari biarkan ia tetap di posisi tersebut supaya ibunya bisa lanjut menulis :D), saya mencoba menyelesaikan satu postingan ini. Fyi, meskipun ini hanya salinan tulisan dari salah seorang penulis yang saya kagumi profesi kepenulisannya, ini akan menjadi draft ke-tiga yang tersimpan di dalam wordpress saya kalau gagal terkirim xD. *oke, ini kurang penting dibahas*

Tulisan beliau menjadi menarik untuk saya resapi pesannya karena berkaitan dengan apa orang yang sebut dengan “quarter-life crisis”. Saya terpengarah ketika salah seorang senior diselamati atas ulang tahunnya yang ke-32, padahal saya kira beliau masih berada di rentang 20an. Lalu saya menampar diri sendiri: kamu sendiri sudah 25 tahun. Sudah mendampingi seorang laki-laki yang padanya ketaatanmu dibaktikan, pada ridhonya hidupmu akan terberkahkan. Sudah membangun seorang anak manusia berusia 8,5 bulan yang sejak kehadirannya kau harus semakin bijak memilih pilihan-pilihan hidup. Mendidik seorang anak yang kelak menjadi ibu dari sekian generasi, rahim dari sebuah peradaban.

Deretan tanggung jawab baru tersebut tak ayal membuat saya merasa belakangan agak gamang dalam menentukan cita-cita. Merasa cukup dan terus merasa muda karena banyak berkutat dengan urusan domestik. Namun ketika di suatu waktu saya ke kampus, berjumpa dengan adik-adik kelas, bertukar kabar dengan kawan-kawan seangkatan, kesadaran belum berbuat banyak untuk orang lain itu terus membuntuti. Mengikuti saya ke manapun saya pergi, tapi saya belum mampu menjawabnya dengan tegas bahwa apa yang saya lakukan sekarang pun juga termasuk ke dalam bagian dari cita-cita besar yang kalau saya melakukkannya dengan ikhlas, ihsan dan itqon, akan menimbulkan multiplier effect bagi orang banyak.

Lantas kemudian saya menemukan buku lama dan tipis ini di deretan buku-buku Bapak saya. Buku yang dibeli kakak saya 12 tahun lalu dan sekarang sudah tidak terbit lagi tersebut seingat saya sudah saya baca berulang kali, tapi saat sekarang saya membacanya, pemaknaannya menjadi berbeda karena berbagai lintasan peristiwa yang saya alami.

Penulis yang mengangkat tema soal pernikahan itu menjabarkan di dalam satu bagian bukunya, bahwa empat unsur yang menjadi penyebab kebahagiaan bagi sekelompok manusia, yakni keterarahan, keharmonisan, konsistensi, dan materi. Yang ingin saya angkat di sini adalah adanya perasaan terarah (keterarahan). Setelah membacanya membuat saya merenung dalam-dalam, jangan-jangan memang tanpa sadar saya semakin jauh dari menuju-Nya. 😦 .

Agar kawan-kawan pembaca bisa lebih menangkap maknanya, saya salinkan tulisan beliau berikut ini,

“Pertanyaan tentang arah kehidupan itu merupakan pertanyaan fithri yang melekat di setiap lubuk hati manusia. Selama pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, selama itu pula manusia akan merasakan disorientasi dalam hidupnya. Kehidupan akan berubah menjadi hutan belantara dan dia menjadi orang yang tersesat di dalam hutan itu. 

Perasaan terarah menciptakan keutuhan kepribadian bagi seseorang. Masalahnya, dari manakah perasaan terarah itu terbentuk? Siapa saja yang membuat kita terarah?

Keterarahan dalam hidup hanya mungkin kita rasakan apabila kita secara yakin mampu merumuskan tentang visi kehidupan. Setiap orang harus memiliki statement misi dalam hidupnya. 

Untuk itulah kita bisa memahami mengapa Al-Qur’an yang turun 13 tahun pertama di Makkah hanya memfokuskan pembahasannya pada tiga hal, yaitu iman kepada Allah, iman kepada hari akhir serta iman kepada Rasul dan Islam. 

Iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, menciptakan unsur yang sangat kuat tentang misi kehidupan. Maka, jabaran pribadi kemudian selalu mengikuti alur bahwa untuk menyadarkan manusia tentang misi hidupnya, manusia harus dimasuki dari arah unsur-unsur kematian.

Berkali-kali Al-Qur’an berbicara tentang kematian, supaya orang menemukan suasana bahwa mereka sedang menuju ke sana. Kehidupan hakiki adalah kehidupan yang ada di akhirat. Akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya. 

Jika  kita merumuskan, maka inilah awal di mana kita akan merasa mampu mengutuhkan seluruh sektor dan bagian yang membentuk kepribadian kita, karena kita mengarah ke situ. 

Untuk bisa mengarah ke akhirat, Allah menjelaskan misi hidup kita selanjutnya, dengan mengatakan, “wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’ buduun..” (QS. Adz-Dzariyat: 61), artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Semua sikap yang bertentangan dengan hakikat kehidupan kemudian disebut sebagai penyimpangan kebenaran. Orang yang meyimpang dari kebenaran adalah orang yang mengalami disorientasi dalam hidupnya. 

Allah SWT berbicara tentang orang musyrik itu seperti orang yang kehilangan arah dalam hidup. Allah mengatakan, “Dan siapa yang mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia terlempar dari langit, lalu disambar burung, atau dia dibawa oleh angin kencang ke suatu tempat yang teramat jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Kalimat “terlempar dari langit” berarti orang itu kehilangan pegangan dan arah. Karena itu, angin dapat meniupnya dari segala arah dan membawanya menuju ke suatu tempat yang sangat jauh. 

Orang-orang yang keluar dari jalur ini adalah orang-orang yang terdisorientasi, kehilangan arah. Orang yang kehilangan arah, dengan sendirinya akan merasakan kepribadiannya menjadi terbelah. Selamanya ia akan mengalami berbagai goncangan hidup. Ia tidak akan pernah merasakan bahwa suatu saat, seluruh unsur dalam diri, emosi dan sikap-sikapnya akan menyatu dalam satu titik yang membentuk kesinambungan, membuat rasa harmonis dengan dirinya, dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan. “

(Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu, Anis Matta)

Dari tulisan beliau juga saya semakin memahami, bahwa sungguh, di setiap hela nafas kita, kita butuh bimbingan-Nya. Seperti kata salah seorang ulama, Ibnu Taimiyah, “Doa teragung, terkuat dan paling manfaat adalah doa surah Al-Fatihah. Karena Al-Fatihah itu awalnya tahmid, tengahnya tauhid (iyaka na’budu) & akhirnya doa (ihdina).”

“Karena setiap rahmat Allah di dunia ini harus ada jalannya, maka yang harus selalu kita pinta ya petunjuk jalan itu!” – Ustadz A. Mudzoffar Jufri

Bismillahirrahmanirrahiim.. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.. Arrahmaanirrahiim.. Maa liki yaumiddiin.. Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.. Ihdinash-shiraathal mustaqiim..