worth it

worth it

Setelah heboh bolak-balik kamar dan ruang pantry, minta spaghetti berulang-ulang, mengulang ipin-upin di youtube yang sudah serial keberapa–tapi tidak serius juga ia lihat, melempar-lempar mainan, mengobrak-abrik pakaiannya di lemari, mengikuti gerak bundanya ke manapun pergi, akhirnya gadis cilik itu lelah juga dan tertidur. Ada masanya di mana saya hanya bisa terdiam sejenak ketika tangisannya yang minta diperhatikan atau minta sesuatu–yang saya belum paham, meraung di telinga. Dengan kondisi fisik saya yang sedang melemah karena adaptasi cuaca, ada keinginan untuk berjarak sejenak dengan batita yang beberapa bulan lagi genap dua tahun usianya. Tapi saya tahu, terdiam bukanlah solusi akhir atas keriuhan yang tiap harinya ia ciptakan. Tapi saya tahu, masa-masa di mana ia mengikuti saya ke manapun pergi pasti akan berlalu juga, berganti dengan munculnya dunia baru untuk seorang anak perempuan yang beranjak dewasa, dan mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk melepasnya ketika ia berpindah tanggung jawab pada lelaki yang kelak jadi imamnya. Tapi saya tahu, kelucuan-kelucuan dan tawanya yang riang mengajak saya bermain cilukba atau kuda-kudaan akan berlalu juga, berganti keasikan dengan dunia maya atau buku-buku favoritnya. Tapi saya tahu, ciuman-ciumannya untuk mengajak saya bermain ketika saya tak kuat menahan kantuk karena kelelahan seharian, akan berganti dengan izin pulang agak malam karena ada kesibukan sekolah atau kampusnya. Dan ketika masa itu tiba, saya akan sangat merindukan masa-masa di mana 24 jam sehari saya selalu bersama gadis kecil itu.

so, all messiness in motherhood thing is worth it.

bunda sayang azima :)
bunda sayang azima 🙂

So I pray, yes I pray
‘Cause I know the life I want
When it’s hard I keep working
I’ll never give this up
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end

(“Worth It – Harris J)

Advertisements
‘Uluwwul Himmah

‘Uluwwul Himmah

Setiap harinya bagi kita adalah tantangan, tapi bentuk dan kadar tantangannya seperti apa sangat ditentukan sejauh dan sebesar apa cita-cita kita. Bagi yang pergi kuliah ke kampus untuk sekedar mengisi waktu atau terlihat keren misalnya, tentunya akan menganggap kendala berupa jarak yang jauh atau ketiadaan transportasi adalah kendala yang sangat berarti. Tapi bagi yang berniat kuliah ke kampus untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, yang dengan begitu bisa mendapat bekal untuk berbagi pada masyarakat, ia akan menjadikan kendala jarak, ketiadaan transportasi, atau bahkan ketiadaan finansial sebagai challenge untuk membuktikan bahwa cita-citanya cukup mulia untuk diperjuangkan. Ia akan mencari solusi dan tidak stuck pada satu hambatan, meyakini bahwa akan ada jalan untuk mereka yang memang punya kesungguhan.

Hari-hari ini saya diingatkan kembali soal himmah, yang secara bahasa memiliki arti semangat atau cita-cita, tetapi secara maknawi setidaknya punya tiga makna: pertama adalah niyyah (niat), kedua adalah iradah (kehendak), dan ketiga adalah ‘azimah (tekad). Sebagai contoh, saya berniat untuk pergi ke seminar di Islamic Society of  San Francisco besok pagi, ia baru sebatas niat jika hanya sebatas lintasan pikiran, berubah menjadi kehendak ketika mulai direncanakan, dan berubah menjadi tekad ketika saya dengan kesungguhan mulai melakukan perjalanan naik bus dan BART menuju San Francisco.

karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut :) semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya
karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut 🙂 semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya.

Orang yang memiliki ‘uluwwul himmah atau semangat yang tinggi tidak akan mudah goyah ketika ada satu dua atau seribu kendala yang menghalangi cita-citanya. Ia tidak akan mengambil banyak keringanan-keringanan yang dengan begitu justru memperbesar peluang kemalasan atau berkurangnya rasa kesungguhan dalam dirinya. Bukankah manisnya perjuangan baru terasa ketika sudah lelah berjuang?  Di samping itu, ia akan memperbaiki kesalahannya yang lalu jika memang ia sadari itu sebagai penghambat bagi cita-citanya.

‘Uluwwul himmah tidak terbatas pada ‘kekerenan’ cita-cita yang tampak ‘wow’ dari segi materi, tapi ia disandarkan pada visi ukhrowi yang mungkin kadangkala jauh dari gemerlap dan tepuk tangan dunia. Adakalanya ia merajut impiannya di sudut yang sepi, kasat mata mungkin tak tampak, tapi manfaatnya bisa dirasa sejagat, jika tidak sekarang mungkin nanti. Pun jika harus berhadapan dengan tepuk tangan dunia, orang yang memiliki ‘uluwwul himmah juga harus bertarung dengan dirinya, dengan bisikan untuk riya’, ‘ujub atau sum’ah,  manakala ekspektasi orang membuatnya kehilangan arah karena tidak ingin membuat khalayak kecewa.

‘Uluwwul himmah akan membuat orang mampu memikul beban yang berat, terus mengulang-ulang dalam jiwanya untuk tidak sebatas berfikir tentang dirinya, tapi juga untuk orang lain. Hari-hari ini, ketika semakin banyak fenomena sosial yang membuat kening berkerut, mungkin sudah saatnya tidak lagi berfikir mendekap anak erat-erat saja di dalam rumah, mengurungnya agar steril dari ‘ragam kejahatan dan penyimpangan sosial’, mungkin sekarang saatnya saya, anda, kita semua berfikir ulang: apakah yang saya lakukan saat ini bagian dari perwujudan cita-cita yang mulia? Adakah ‘uluwwul himmah itu bersemi di dada kita?

a friend of her

a friend of her

Salah satu hal yang saya semakin sadari ketika merantau jauh di tanah asing adalah karakter dasar Azima yang ternyata memang sangat suka bersosialisasi. Kondisi di tempat tinggal kami (paviliun) yang cukup terbatas untuk Azima bermain bebas akhirnya membuat saya dalam sehari selalu mengajaknya ke luar, minimal sekali ke park, yang sudah disertai juga playground untuk anak usia balita sampai jelang remaja. Ada banyak permainan di sana dan lingkungannya juga sangat bersih. Setiap kali Azima ke park, baik di waktu siang ataupun sore (karena kalau pagi masih sangat dingin untuk ukuran manusia-manusia tropis seperti kami), ada balita sampai remaja yang sedang bermain di playground. Subhanallah, mereka luar biasa lincahnya berlarian memanjat dan melompat. Azima terlihat paling mungil dan tampak perlahan sekali mencoba mengejar mereka, entah karena faktor genetika (keturunan/ras) atau asupan kuantitas dan kualitas makanan, :”D. Pastinya memang di sini porsi makan satu orang setara dengan dua porsi makan saya dan suami sebagai orang Indonesia. Ikan salmon pun bisa habis satu ekor sendirian untuk satu porsi lelaki dewasa.

Selain faktor fisik, rupanya faktor bahasa menjadi salah satu kendala yang membuat sosialisasi Azima dengan kawan-kawan sebayanya menjadi kurang optimal. Azima yang sangat mudah teralihkan fokusnya dari mainan kesukaannya di playground–ayunan dan perosotan, ketika melihat ada anak sebayanya sedang berjalan-berlari di sekitarnya: Azima yang awalnya beraut cerah dan berteriak-teriak memanggil untuk mengajak main, kemudian menjadi (tampak) kecewa ketika ternyata sang teman yang diharap dapat bermain bersama menganggapnya sebagai stranger (duh, bunda jadi ikut sedih nak 😦 ). Stranger dari sisi perbedaan fisik dan kemampuan berbahasa (aksen, logat) yang Azima belum bisa fahami. Akhirnya teman main terbaiknya selama di playground adalah ibunya :””D. Alhamdulillah, ada satu anak ummahat WNI di sini, perempuan yang usianya sekitar 8 tahun, terlihat sangat sayaang sekali dengan Azima. Tapi sayangnya, rumahnya lumayan jauh dari lokasi tempat tinggal kami. Pertemuan dengan Fatimah, nama anak perempuan tersebut, setidaknya dua kali sebulan, dalam acara pengajian bulanan atau taklim rutin dwimingguan WNI di bay area.

Akhirnya tantangan saya selanjutnya di sini adalah, menciptakan lingkungan tempat tinggal yang homy  dan indoor games yang membuat Azima betah berlama-lama di dalam kamar. Saya kadang ikut gembira melihat sumringahnya wajah Azima ketika saya mulai bersiap-siap mengajaknya keluar, dengan mengenakan pakaian hangat dan kaus kaki. Gadis cilik itu ikutan mengambil sepatu dan segera beranjak ke tangga menuju pintu keluar. Padahal pakaian tempurnya (jaket, kupluk, kaus kaki) dan stoller belum juga disiapkan. Ck, ck, ck.. Kadang pula saya tidak tega melihatnya menangis ketika saya paksa duduk di stoller untuk pulang dari park, karena hari sudah sore dan semakin dingin, perut kami sudah minta diisi, dan teman bermainnya (yaitu saya) sudah mulai kecapekan :”|

Setiap tantangan insyaAllah akan membuat kita jadi semakin cerdas kan? satu hikmah lain yang saya dapatkan dengan menjadi orang asing di tanah asing adalah peluanga  semakin kuatnya ikatan kami sebagai sebuah keluarga. Azima yang selalu terbangun ketika ayahnya pulang dari kantor (selarut apapun) dan keinginan saya untuk terus berusaha ada di sisinya, menjadi teman belajar dan bermain yang seru untuk Azima, di saat teman bermainnya belum banyak di sini. yo, semangat bunds dan azima! #talktomyself.

Bagi sidang pembaca yang mungkin pernah mengalami pengalaman serupa, monggoo, silakan berbagi di sini yaa 🙂

Keterarahan

Keterarahan

Sembari memandangi Azima yang tidur di pangkuan (mari biarkan ia tetap di posisi tersebut supaya ibunya bisa lanjut menulis :D), saya mencoba menyelesaikan satu postingan ini. Fyi, meskipun ini hanya salinan tulisan dari salah seorang penulis yang saya kagumi profesi kepenulisannya, ini akan menjadi draft ke-tiga yang tersimpan di dalam wordpress saya kalau gagal terkirim xD. *oke, ini kurang penting dibahas*

Tulisan beliau menjadi menarik untuk saya resapi pesannya karena berkaitan dengan apa orang yang sebut dengan “quarter-life crisis”. Saya terpengarah ketika salah seorang senior diselamati atas ulang tahunnya yang ke-32, padahal saya kira beliau masih berada di rentang 20an. Lalu saya menampar diri sendiri: kamu sendiri sudah 25 tahun. Sudah mendampingi seorang laki-laki yang padanya ketaatanmu dibaktikan, pada ridhonya hidupmu akan terberkahkan. Sudah membangun seorang anak manusia berusia 8,5 bulan yang sejak kehadirannya kau harus semakin bijak memilih pilihan-pilihan hidup. Mendidik seorang anak yang kelak menjadi ibu dari sekian generasi, rahim dari sebuah peradaban.

Deretan tanggung jawab baru tersebut tak ayal membuat saya merasa belakangan agak gamang dalam menentukan cita-cita. Merasa cukup dan terus merasa muda karena banyak berkutat dengan urusan domestik. Namun ketika di suatu waktu saya ke kampus, berjumpa dengan adik-adik kelas, bertukar kabar dengan kawan-kawan seangkatan, kesadaran belum berbuat banyak untuk orang lain itu terus membuntuti. Mengikuti saya ke manapun saya pergi, tapi saya belum mampu menjawabnya dengan tegas bahwa apa yang saya lakukan sekarang pun juga termasuk ke dalam bagian dari cita-cita besar yang kalau saya melakukkannya dengan ikhlas, ihsan dan itqon, akan menimbulkan multiplier effect bagi orang banyak.

Lantas kemudian saya menemukan buku lama dan tipis ini di deretan buku-buku Bapak saya. Buku yang dibeli kakak saya 12 tahun lalu dan sekarang sudah tidak terbit lagi tersebut seingat saya sudah saya baca berulang kali, tapi saat sekarang saya membacanya, pemaknaannya menjadi berbeda karena berbagai lintasan peristiwa yang saya alami.

Penulis yang mengangkat tema soal pernikahan itu menjabarkan di dalam satu bagian bukunya, bahwa empat unsur yang menjadi penyebab kebahagiaan bagi sekelompok manusia, yakni keterarahan, keharmonisan, konsistensi, dan materi. Yang ingin saya angkat di sini adalah adanya perasaan terarah (keterarahan). Setelah membacanya membuat saya merenung dalam-dalam, jangan-jangan memang tanpa sadar saya semakin jauh dari menuju-Nya. 😦 .

Agar kawan-kawan pembaca bisa lebih menangkap maknanya, saya salinkan tulisan beliau berikut ini,

“Pertanyaan tentang arah kehidupan itu merupakan pertanyaan fithri yang melekat di setiap lubuk hati manusia. Selama pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, selama itu pula manusia akan merasakan disorientasi dalam hidupnya. Kehidupan akan berubah menjadi hutan belantara dan dia menjadi orang yang tersesat di dalam hutan itu. 

Perasaan terarah menciptakan keutuhan kepribadian bagi seseorang. Masalahnya, dari manakah perasaan terarah itu terbentuk? Siapa saja yang membuat kita terarah?

Keterarahan dalam hidup hanya mungkin kita rasakan apabila kita secara yakin mampu merumuskan tentang visi kehidupan. Setiap orang harus memiliki statement misi dalam hidupnya. 

Untuk itulah kita bisa memahami mengapa Al-Qur’an yang turun 13 tahun pertama di Makkah hanya memfokuskan pembahasannya pada tiga hal, yaitu iman kepada Allah, iman kepada hari akhir serta iman kepada Rasul dan Islam. 

Iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, menciptakan unsur yang sangat kuat tentang misi kehidupan. Maka, jabaran pribadi kemudian selalu mengikuti alur bahwa untuk menyadarkan manusia tentang misi hidupnya, manusia harus dimasuki dari arah unsur-unsur kematian.

Berkali-kali Al-Qur’an berbicara tentang kematian, supaya orang menemukan suasana bahwa mereka sedang menuju ke sana. Kehidupan hakiki adalah kehidupan yang ada di akhirat. Akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya. 

Jika  kita merumuskan, maka inilah awal di mana kita akan merasa mampu mengutuhkan seluruh sektor dan bagian yang membentuk kepribadian kita, karena kita mengarah ke situ. 

Untuk bisa mengarah ke akhirat, Allah menjelaskan misi hidup kita selanjutnya, dengan mengatakan, “wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’ buduun..” (QS. Adz-Dzariyat: 61), artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Semua sikap yang bertentangan dengan hakikat kehidupan kemudian disebut sebagai penyimpangan kebenaran. Orang yang meyimpang dari kebenaran adalah orang yang mengalami disorientasi dalam hidupnya. 

Allah SWT berbicara tentang orang musyrik itu seperti orang yang kehilangan arah dalam hidup. Allah mengatakan, “Dan siapa yang mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia terlempar dari langit, lalu disambar burung, atau dia dibawa oleh angin kencang ke suatu tempat yang teramat jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Kalimat “terlempar dari langit” berarti orang itu kehilangan pegangan dan arah. Karena itu, angin dapat meniupnya dari segala arah dan membawanya menuju ke suatu tempat yang sangat jauh. 

Orang-orang yang keluar dari jalur ini adalah orang-orang yang terdisorientasi, kehilangan arah. Orang yang kehilangan arah, dengan sendirinya akan merasakan kepribadiannya menjadi terbelah. Selamanya ia akan mengalami berbagai goncangan hidup. Ia tidak akan pernah merasakan bahwa suatu saat, seluruh unsur dalam diri, emosi dan sikap-sikapnya akan menyatu dalam satu titik yang membentuk kesinambungan, membuat rasa harmonis dengan dirinya, dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan. “

(Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu, Anis Matta)

Dari tulisan beliau juga saya semakin memahami, bahwa sungguh, di setiap hela nafas kita, kita butuh bimbingan-Nya. Seperti kata salah seorang ulama, Ibnu Taimiyah, “Doa teragung, terkuat dan paling manfaat adalah doa surah Al-Fatihah. Karena Al-Fatihah itu awalnya tahmid, tengahnya tauhid (iyaka na’budu) & akhirnya doa (ihdina).”

“Karena setiap rahmat Allah di dunia ini harus ada jalannya, maka yang harus selalu kita pinta ya petunjuk jalan itu!” – Ustadz A. Mudzoffar Jufri

Bismillahirrahmanirrahiim.. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.. Arrahmaanirrahiim.. Maa liki yaumiddiin.. Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.. Ihdinash-shiraathal mustaqiim..

Aku Ingin

Aku Ingin

Aku ingin meletakkan cita-citaku tinggi di atas bintang, agar saat lelah, jenuh, dan malas mulai menghampiri, aku bisa cepat bangkit, karena sadar perjalananku masih jauh dan panjang

Aku ingin meletakkan cita-citaku tinggi di atas bintang, di langit yang terbentang, agar saat rasa sakit dan sedih mulai datang berkunjung, aku bisa menerima mereka dengan lapang, karena belajar dari bentangnya langit yang seluas pandangan

Aku ingin meletakkan cita-citaku jauh, tinggi, di atas bintang di atas samudera yang dalam, agar jika suatu saat aku harus berlayar sendirian di atas samudera untuk meraih cita, aku kembali sadar bahwa Pencipta bintang, langit, dan samudera adalah sebaik-baik sandaran, adalah sebaik-baik tujuan akhir kepulangan.

 

“Semua orang kan kembali pada Allah setelah matinya. Tapi berbahagiah dia yang telah melangkah menuju Allah sepanjang hidupnya.”

— Sayyid Quthb

dari titik kita berdiri

dari titik kita berdiri

Suatu ketika Ibu saya pernah menganalogikan, bahwa setiap pribadi kita seperti sebuah kumpulan dari potongan-potongan puzzle yang didapat dari pribadi-pribadi banyak orang yang kita temui, dari sejak dulu kita kecil sampai sekarang berusia sekian dan sekian, hingga menjadilah kita pribadi yang unik seperti sekarang ini. Analogi itu setidaknya mengajari saya dua hal: tidak pernah ada sosok yang persis sama antara satu dengan yang lainnya, tapi juga di satu sisi saya jadi sadar bahwa ‘kita ada karena kita bersama’: tidak ada seorang Ifah yang begini dan begitu misalnya, tanpa ada didikan dari dua orang dengan karakter yang saling melengkapi seperti Bapak dan Ibu, tanpa ada seorang Maya (*numpang mention lagi ya May :p) yang menjadi kawan dekat sejak 9 tahun lalu sampai sekarang (wow, ternyata hampir sedasawarsa kita berkawan May! :D), atau tanpa ada puluhan hingga ratusan orang-orang di sekitar saya yang secara intens bertemu dan memberi warna tersendiri, hingga yang hanya sekelebatan bertemu tapi memberi bekas yang banyak. Semuanya secara sadar dan tidak sadar terrekam baik-baik dalam bingkai memori saya dan memberi saya pelajaran bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak.

Dari semua keberlangsungan interaksi saling pengaruhi itu, mungkin ada momen di mana kita merasa kurang beruntung dengan semua capaian dan pemberian yang ada: rasanya rumput tetangga masih terlaluuu hijau dan mempesona dibandingkan rumput di halaman kita. Padahal kalau dibuat portofolio grafik hidup kita, dengan membandingkan dari kita dulu yang benar-benar nol dan tidak bisa apa-apa dan sekarang, kita jadi sadar bahwa ada jauuuh lebih banyak yang patut kita syukuri dibandingkan rutuki. Yap, itulah poinnya: bandingkan dengan hari lalu yang telah kita lewati. bukan apa yang telah orang lain capai dengan trayek juang mereka. Itu pula mungkin hikmah dari pesan Rasulullah, bahwa beruntunglah ia yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Kita dengan hari-hari kita. Namun tentu, berkaca pada perilaku para Nabi dan salafusshalih akan menjadikan hari-hari depan kita jadi lebih bernilai, karena kemudian kita jadi tahu standar manusia terbaik ada padanya, sang Nabi yang mulia, kemudian orang-orang pada zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya.

Dengan begitu, keseimbangan jiwa kita jadi lebih terjaga: bersyukur atas pencapaian diri yang telah lalu, atas penjagaan dan bimbingan Allah walau dengan kejatuhbangunan kita, namun tidak juga cepat berpuas diri karena tentu, tentu, capaian kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia-manusia terbaik yang telah dijamin surga itu. kita jadi terus menyegerakan dan bersiap diri untuk hari esok yang lebih pasti: hidup setelah hidup.

Maka, tidak layaklah sombong jika dengan satu dua perbuatan kita sudah merasa cukup bekal, toh Allah juga yang menuntun dan memberi jalan-jalan kebaikan itu pada kita bukan? Memberi kita orang-orang baik, saudara-saudari baik di sekitar yang dengan bercermin pada mereka kita jadi terlalu malu untuk sekedar numpang berzombie di dunia ini.

Maka pula, saya tercenung-cenung mendapati diskusi di grup angkatan dengan saudara-saudari baik itu,

6/23/2013 21:27: Luqman MIPA 08: Betapa banyak bintang yang yang gemerlap menanjak naik ke langit peradaban, sesaat kemudian mereka turun dan menghilang dari peredaran, mengapa? karena mereka hadir bukan untuk memberi, melainkan untuk mengambil.~M. Anis Matta~ #serialCinta

6/23/2013 21:30: Lu’lu FIB 08: Manzai, aye ga mudeng, jelasin,
6/23/2013 21:32: Luqman MIPA 08: Intinya, keep shining
6/23/2013 21:45: Scientia Afifah: Semua bintang sifatnya memancarkan cahaya sendiri = memberi, 😀
6/23/2013 21:46: Akbar FT 08: RT Iffatuddin
6/23/2013 21:47: Luqman MIPA 08: RT Akhbaruddin
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Seperti bintang & ‘bintang’ jatuh ya? (Komet) hanya numpang lewat cahayanya… itupun hanya karena semburan gas2 yg memancar dari ‘ekor’nya..
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Beda dengan bintang.. yg bahkan dgn energinya dapat memberikan sinar ke tata planet yg mengikutinya (seperti matahari contohnya.. 🙂 )
6/23/2013 22:11: Ikhsan FK 08: Jadilah Bintang sebenarnya.. jangan hanya jadi ‘bintang’ jatuh..
6/23/2013 22:12: Luqman MIPA 08: Bisa bisa, Can 
6/23/2013 22:13: Fikri FT 08: Super sekali..
6/23/2013 22:14: +62 813-1710-0387: Super sekali.. (FAR,2013)
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: Bintang jatuh cuma sesekali
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: 🙂
6/23/2013 22:15: Faldo MIPA08: Komet pun tak sering terlihat, ia hadir periodik bersembunyi..

Jangan2 kita sedang dlm keadaan komet? Walau seringkali merasa bak bintang? 
6/23/2013 22:15: Ikhsan FK 08: Tapi bintang itu mengerikan ya.. manakala kehilangan sinarnya..
6/23/2013 22:16: Faldo MIPA08: Ya amal yg menjawab. Semoga selalu lantjar djaja 🙂
6/23/2013 22:17: Denty FIB: ~ ~ ~(/´▽`)/.
6/23/2013 22:18: Alvin FIB: Dalem,do. Sudut pandang baru ttg bintang. 🙂
6/23/2013 22:20: Ikhsan FK 08: ..Ketika energi yg dititipkan ke bintang..itu dicabut oleh Sang Pemiliknya… bintang kan jadi gelap gulita..
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: ‘Memakan’ segala yg di sekitarnya.. menghantarkan dlm kegelapan & pekat hitamnya…
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *akankah hati kita senantiasa bersinar & menyinari sekitar bagai bintang?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *atau mati, kelam, (layakanya lubang hitam) dan menebarkan kemungkaran.. karena maksiat yg dilakukan?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: #lifeisachoice yes.. your faith has been already written up there.. but still you choose the path.. a path that lead you to the hell.. and a path that lead you to Him.. So.. which path would you choose?
6/23/2013 22:22: Luqman MIPA 08: #seriusmalam
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: Ya, walau terangnya bintang memang menjadi hak prerogatif Sang Pencipta, tapi bukan berarti itu alasan baginya u/ tidak berjuang menjadi terang selama waktu masih ada..

Pun seandainya sempat gelap, selama waktu masih ada, bukan mustahil u/ kembali menjadi terang..

Walau lagi, itu hak prerogatif Sang Pemberi Cahaya
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: 🙂 
6/23/2013 22:25: Faldo MIPA08: *kebawa serius. Jd pengen komen krn Ican. Hehe.
Lanjut Gan!
Selamat makan malam 
6/23/2013 22:25: Rashid MIPA 08: @lukman , maksudnya gini kah ?

Mereka yg hadir untuk memberi akan bertahan jauh lebih lama, dari mereka yg hadir untuk mengambil
6/23/2013 22:44: Luqman MIPA 08: Mau sambung menanggapi Ican:
Pernah baca di web nationalgeographic, “some stars behave as it’s better to burn out than to fade away. These stars end their revolutions in massive cosmic explosions known as supernovae.”

Ternyata sebuah bintang punya dua opsi menghadapi kematiannya: burn out (ini yg disebut supernova), atau fade away (meredup cahayanya). Banyak bintang yg lebih ‘memilih’ utk men-supernova daripada harus meredup cahayanya. Padahal utk men-supernova jelas2 butuh energi luar biasa.

Dan seperti ini pula pilihan menghadapi kematian para mukmin sejati; ‘Umar bin Khaththab, Thalhah bin Ubaidillah, ‘Umar bin Abdul Aziz. Di penghujung hidup, mereka justru memilih ‘meledakkan’ dirinya dengan amal dahsyat yang pernah dipersaksikan sejarah.”

dan semakin tercenung malu mendapati tulisan Pak Dwi Budiyanto di bawah ini,

“Ada banyak orang-orang yang susah dihapus dari ingatan. Bukan karena wajahnya yang rupawan. Bukan pula karena hartanya yang melimpah. Bukan karena karir akademiknya yang menjadikan kebanggaan. Ada banyak orang-orang yang sulit dilupakan, karena mereka melakukan suatu kebaikan tidak agar mereka diingat, tapi karena memang ingin berbuat. Insya Allah, mereka masih dapat kita temukan. Jumlahnya pun sangat banyak. Tapi kita tidak pernah mengenali karena mereka berbuat dalam diam, dalam kesunyian.

Layaknya perempuan tua yang biasa membersihkan masjid dari kisah di atas, yang perlu kita lakukan hanyalah melipatgandakan peran, menjernihkan motif setiap pengorbanan, dan terus berbuat sebesar yang bisa dilakukan. Terlibat di tengah masyarakat dan secara tulus mendampingi mereka. Dengan jalan ini hidup kita menjadi nyata dan jauh lebih bermakna. Orang bisa saja mencela, tetapi kepercayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa intens kita ada di tengah-tengah mereka; tulus melayani, bermula karena peduli.

Semoga hidup ini, betapapun sederhananya, mampu memberikan inspirasi bagi sesama. Sebab kematian yang indah selalu menyisakan ‘keterangan kerja’ di belakang nama kita, seberapapun kecil kerja-kerja kebaikan yang telah dilakukan.”

– @dwiboediyanto | http://matahati01.wordpress.com/2013/06/20/mereka-yang-susah-dihapus-dari-ingatan-2/

dari titik saat ini kita berdiri, tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dari diri sendiri, bersyukur dengan apa yang sudah diberi, terus melakukan amal shalih berkelanjutan–sekecil apapun itu, serta bersinergilah. sebab kita ada karena kita bersama. 

Juni

Juni

“karena Allah,” adalah alasan yang paling sederhana sekaligus rumit atas setiap gerak dan langkah yang kita ambil.

“karena Allah,” kadang menjadi alasan pelindung untuk nafsu yang terselubung, tapi mengingat alasan itu kembali bisa membuat kita terpukul dan terbangun: terburu-buru membereskan apa yang tak sesuai dengan ingin dan aturan main-Nya.

“karena Allah,” juga menjadi jawaban paling menenangkan sekaligus menguatkan atas semua pertanyaan yang menggantung di benak kita.

dua kata itu dapat membuat kita bertahan berdiri meski dalam kebingungan, sekaligus membuat kita ringan melepaskan.  ya, karena Allah Maha Berkehendak, atas setiap penciptaan, atas setiap jalan hidup, atas setiap jalinan cerita yang kadang terlalu rumit untuk dipahami oleh akal dan perasaan kita.

“karena Allah,” (mungkin) yang membuat hujan tetap tabah bergulir di bulan Juni, meski takut-takut, meski ragu-ragu,

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserapkan akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)