Greeting from Turkey

Greeting from Turkey

Turki,

sebuah mimpi lama

terpendam menjadi sebuah cita-cita

Ia adalah sejarah kemenangan, penaklukan, 

dan proses yang terjadi di antara keduanya: pertarungan.

 

Beberapa hari di sini membuatku tercenung,

bagaimana rasanya megah dalam cahaya Islam? 

 

Ayasophia, Sultan Ahmet, Topkapi

legasi yang dipertahankan,

simbol digdaya

bahwa Islam, pernah begitu berkuasa

hangat, menentramkan dengan sinarnya.

 

Hai, assalamu’alaikum!

Kembali menjumpai pembaca blog ini, kali ini dari sebuah sudut ruangan di Ankara, Turki.

Banyak yang bertanya, “Ifah ngapain ke Turki?” biasanya saya hanya senyum-senyum. Konferens? bukan, lomba? juga bukan. ikut suami? bukan juga.

iya, setelah dipikir-pikir mungkin ini bagian dari berkah menjadi ibu rumah tangga haha. Jadi, jangan sepelekan “profesi” ini, barangkali dari profesi tersebut, bisa membawamu ke negeri-negeri yang tidak kau duga.

anyway, tapi jauh daripada itu, Turki merupakan sebuah destinasi idaman yang sudah saya pancangkan sekitar 10 tahun lalu. ya, sejak saya duduk di bangku SMA, berbalut seragam putih abu-abu. Keinginan ke Turki muncul dengan menggeloranya ghirah keislaman saya yang dipupuk di Rohis dahulu. Namun perlahan ia mengendap, menjadi negara yang jauh, impian yang sepertinya sulit untuk direalisasikan.

Singkat cerita, qadarullah Dia mengizinkan saya ke Turki karena suatu sebab. Dalam waktu yang terbatas, dengan mendelegasikan beberapa tugas, dan menitipkan ayah Azima pada sebaik-baik penjaga, saya terbang melintasi beberapa negara dengan gadis cilik dan salah seorang adik saya.

 

 

welcome to Constantinople aka Istanbul!

Tiba di Istanbul, kota dengan riwayat pertarungan yang panjang, saya merasakan atmosfir yang sebagiannya mirip dengan atmosfir di San Francisco, California, USA. Kota pantai di mana angin banyak berhembus, jalan yang rapi, fasilitas umum yang tersedia dengan baik, transportasi yang memadai, dan yang membedakannya dengan di SF sana, adalah bertebaran makanan halal dan karunia garis wajah-wajah yang unik paduan Eropa dan Asia. Kalau waitress di Istanbul jalan-jalan ke Indonesia, bisa langsung berubah profesi jadi artis dan aktris! 😀

Ahya, satu hal lagi, nasionalisme bangsa Turki sangaaattt kuat. Mereka sangat bangga dengan bahasanya. Tidak peduli orang asing tersebut bisa bahasa Turki atau tidak, kalau berjual beli dengan pedagang di sana, mereka akan bercakap dengan bahasa Turki dan tidak peduli kalau kita balas dengan bahasa Inggris (sorry, i don’t understand) xD

Lafaznya sangat asing di telinga karena campuran bahasa Arab dan Persia yang sudah mengalami perubahan. Syukurnya selama beberapa hari di sini, ada saudara-saudara yang siap menjadi guide dengan kefasihannya berbahasa Turki. Kalaupun darurat, jadilah bahasa simbol dengan jari jemari jadi perantara bagi saya dan penduduk setempat. 😀

Masjid Sultan Ahmet, disebut jg dengan Blue Mosque, Istanbul, Turki

 

suasana di pelataran Masjid Sultan Ahmet (Masjid Biru)

Awal-awal menapaki kota Istanbul, saya banyak tercengang karena imaji “jejak khilafah” seperti tak nampak pada wajah masyarakatnya. Shalat fardhu yang ditinggalkan adalah hal biasa. Berbagai situs sejarah, masjid-masjid indah dengan minaretnya yang khas seperti ‘sekedar’ background cantik yang menghiasi kota dua benua tersebut.

Jarang menemui wanita berjilbab di sepanjang jalan, justru sebaliknya, pakaian kaum wanitanya yang relatif lebih terbuka. Azima beberapa kali membuat nenek-nenek sampai remaja putri terpesona karena jilbab yang dikenakannya. Ada yang mengajak foto bersama, memberi permen, memberi uang, sampai terbengong-bengong ketika berjalan, karena ada balita yang berjilbab. Terbayang kan, betapa sekulernya negeri tersebut selama sekian puluh tahun hingga melihat balita berjilbab saja sampai seperti itu.

 

 

di depan Aya Sofya, simbol pergulatan dua keyakinan

Menelisik siapa nenek moyang yang lahir terlebih dahulu di Turki juga membuat warna “kebebasan” lebih terasa pada arsitektur bangunan dan pada corak masyarakatnya. Sebelum keturunan Utsman bin Ertughrul, pendiri daulah Utsmani yang menyejarah tersebut menghuni daratan Asia sebelah Barat ini, Kekaisaran Byzantium sudah bertahun-tahun hidup dan meninggalkan jejak budaya yang kuat. Membuat Konstantinopel yang saat itu adalah salah satu jantung pergerakan Romawi, menjadi sebuah wilayah yang sangat menarik untuk diperebutkan.

Terlepas dari kontraversi mengenai sosok pemimpin Turki saat ini, Erdogan, saya semakin faham bahwa bukan perkara mudah mengembalikan sinar Islam ke daratan ini. Ada pergulatan panjang yang membutuhkan proses, dan membuat saya semakin bersyukur lahir di sebuah negeri di mana aroma Islam dan kebebasan beragama dihirup sejak lama.

well, saya berharap bahwa suatu saat, dari para keturunan Sultan Muhammad II yang bergelar al-Fatih ini, kelak cahaya Islam kembali benderang.

“Turkey is a European country, an Asian country, a middle eastern country, balkan country, caucasian country, neighbor to africa, black sea country, Caspian sea, all these.”

– Ahmet Davutoglu.

Advertisements
Perlukah?

Perlukah?

Pertanyaan pertama: perlukah seorang Ibu memiliki kekuatan superwoman? 

Pertanyaan kedua: perlukah bagi seorang Ibu untuk menjaga kebahagiaannya?

Dari dua pertanyaan tersebut, mana yang paling mudah untuk dijawab?

Bagi seorang Lusi–sebutlah namanya demikian, pertanyaan pertama lebih mudah baginya untuk dijawab. Bagaimana tidak? Ia harus bangun sejak jam 2 dini hari untuk mulai memasak air, merendam pakaian, menyiapkan sarapan, dan yang paling mendasar: ia merasa tidak berhak untuk tidur terlalu lama dengan setumpuk pekerjaan yang ia miliki. Dua hatinya yang masih membutuhkan perhatiannya akan mulai menyita perhatiannya tidak lama setelah matahari terbit. Si bungsu yang merengek meminta ASI akan menghentikan segala pekerjaannya. Dengan ketiadaan mesin cuci, dispenser, dan penanak nasi otomatis, pekerjaan rumah menjadi berkali lipat waktunya ia kerjakan dibandingkan dengan mamah muda seusianya, yang mungkin baru akan mulai menggeliat terbangun ketika ia usai mencuci pakaian.

Jadi, apakah perlu bagi seorang Ibu untuk memiliki kekuatan superwoman? Jawabannya bukan perlu, bagi Lusi, jawabannya adalah harus. Ia sudah lupa apa itu arti bahagia. Tepat setelah ia menyelesaikan bangku sarjana dan dipinang oleh lelaki yang kini menjadi suaminya.

Sementara bagi Lisa, pertanyaan kedua lebih mudah untuk dijawab. Baginya, Ibu harus menjaga kebahagiaannya agar tetap waras. Itulah yang membuatnya menitipkan balitanya di daycare selama beberapa jam sekedar untuknya agar bisa singgah di warung kopi–level Star****s tentunya. Setelah itu pergi ke salon untuk hair spa, facial, manicure, pedicure. Setelah itu pergi ke mall terdekat untuk sekedar melihat-lihat tanpa tahu apa sebenarnya yang seharusnya dibeli dan apa yang sepintas dilihat tapi sudah mampu menarik tangannya untuk membeli. Ah ya, tak lupa, ia beli beberapa makanan siap saji untuk dihidangkan sebagai makan malam bersama suami dan anaknya.

Sepulang dari berjalan-jalan, ia jemput kembali buah hatinya dengan perasaan yang sumringah, seakan-akan energinya terisi kembali. Rutinitas ini ia lakukan setidaknya dua pekan sekali.

Lain lagi dengan Sali. Ia merenung sejenak: apa itu bahagia? apa sesungguhnya tugas seorang ibu sehingga perlu baginya memiliki kekuatan superwoman? Tapi, bukankah tugas seorang ayah pun juga banyak sekali, bahkan ia lebih beresiko bertemu kemungkinan penyebab-penyebab hilangnya nyawa setiap harinya? Ia memutar otak agar keluarganya bisa sejahtera, bukan sekedar menyambung nyawa perharinya, tapi sebulan ke depan, lima tahun ke depan, menyiapkan sekolah untuk anak-anaknya, dan masa depan terbaik keluarganya. Ah, bahkan Sali mengingat wajah suaminya yang sering bertambah kerutnya karena tak hanya berfikir tentang keluarganya, tapi juga untuk banyak kemaslahatan masyarakat di luar sana.

Tipe ibu yang manakah anda? Lusi, Lisa, atau Sali?

Mungkin salah satunya, atau bisa jadi anda adalah tipe yang lainnya, yang begitu mudah menemukan bahagia bahkan hanya dengan melihat senyum sumringah buah hati anda, yang sudah bisa berhasil menghabiskan sepiring makannya sendiri tanpa perlu dikejar-kejar, diberi iming-iming video U*** & I***. Sesederhana melihat suami yang berkata, “makanannya enaaak, bun!”.

Di atas itu semua, kita semua berharap kita bukanlah deret ibu yang kelak melahirkan dan mendidik orang-orang yang arogan ketika menjadi pemimpin, kasar bicaranya dan kebingungan memposisikan manusia pada tempatnya. Bukan pula bagian dari orang tua yang membiarkan anak tumbuh dalam keluarga yang mendorongnya kelak membantai suatu etnis, sebagai sasaran pembalasan dendam atas rasa sakitnya disiksa oleh ayahnya. Bukan pula orang tua yang mendidik anaknya lupa pada Tuhannya, pada esensi kenapa ia diberi anugerah besar berupa kehidupan.

Banyak penjahat-penjahat yang lahir kadangkala bukan karena ia ingin, tapi karena ia tak tahu bagaimana menjadi orang baik. Tak pernah diberi teladan bagaimana menjadi orang baik, tak pernah diajarkan bagaimana berbuat baik. Tidak pula kebaikan itu ia dapatkan bahkan dari lingkaran orang terdekatnya sendiri. Dari darah dagingnya sendiri.

Begitu pula banyak pemimpin besar, berbicara santun, bertekad baja, berjiwa kukuh, lahir dan tumbuh bukan semata menurutnya pilihan menjadi sosok seperti itu menyenangkan, tapi karena dari lingkaran terdekatnyalah ia melihat bahwa berbuat baik tak pernah merugikan. Bahwa bertahan dalam kebaikan, walaupun sulit, adalah pilihan yang menjanjikan sebenar-benar kebahagiaan.

Kita berharap kita adalah ibu yang kelak bisa melahirkan sosok-sosok seperti itu, yang menemukan hakikat kebahagiaannya ketika berhasil melipatgandakan kebaikan untuk orang lain, untuk orang banyak.

Yang doa-doa tiap malamnya mengiringi langkah-langkah kecil buah hati, sang pewaris kebaikan. yang tangan-tangannya cekatan dan pikiran mendetilnya mengisi visi besar bapak komandan, sang kepala keluarga.

Kita berharap, melalui harapan-harapan kita sebagai seorang ibulah, sebuah peradaban yang berkeadilan dapat terwujudkan. Tidak hanya mengejar kebahagiaan semu atau menghabiskan energi mengejar titel ibu ideal menurut kebanyakan orang.

Ada banyak jalan untuk mewujudkan harapan itu, salah satunya bergabung bersama komunitas yang dapat mencerahkan, memberi jalan, menjadi perantara bagi sekian ibu-ibu yang memiliki berjuta kebaikan. Institute Ibu Profesional, salah satunya.

Sejak berapa tahun lalu saya sudah banyak terinspirasi dengan gerakan yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani tersebut, namun akhirnya baru  pada kesempatan kali ini berhasil melanjutkan niat yang dulu baru sekedar niat: bergabung dalam sebuah grup pra-matrikulasi (semacam kuliah online yang berkelanjutan). Minimal, ikhtiar sudah saya lakukan untuk mencari ilmu tentang per-ibu-an, agar kelak tak lagi bingung dengan pertanyaan ke mana seharusnya langkah saya diayunkan.

 

yaa haamilal qur’aan

yaa haamilal qur’aan

Interaksi dengan Al-Qur’an mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah kesabaran dan pengingatan bahwa ingatan kita, adalah milik Allah.

Bagi teman-teman yang memiliki hafalan tentunya memiliki tekad agar suatu ketika bisa memiliki hafalan yang mutqin, yang bisa kita “bawa” minimal dalam ingatan dan lisan, agar suatu ketika dapat terejawantahkan dalam amal perbuatan. Tapi nyatanya, mengulang hafalan lebih menantang ujiannya daripada menambah hafalan bukan? 😀

Sebagaimana yang saya alami beberapa waktu terakhir, ketika saya menyadari usia saya sudah mendekati kepala tiga, sementara hafalan yang pernah saya setorkan semakin banyak yang menguap *tears*. Mengulang sendiri tetap tidak selengket ketika kita mengulang dengan menyetorkannya kepada orang lain. Mendengarkan orang lain menyetorkan hafalannya pun tidak cukup membantu saya untuk mengingat kembali hafalan-hafalan yang menguap.

Sayangnya, beberapa pengalaman saya ke lembaga qur’an di sekitar saya agak sulit menerima orang yang langsung memuroja’ah hafalan, rerata mereka mewajib kembali ke tingkat tahsin sebagai standarisasi lembaga. Akhirnya saya putuskan untuk mencari orang yang saya percayakan bisa membantu saya menjaga hafalan dengan kapasitas dan konsistensinya. Syukurnya, Allah pertemukan saya dengan seorang senior akhwat, alumni Syari’ah LIPIA yang sudah memiliki 5 orang putra-putri tapi terus konsisten menjaga hafalan Qur’annya. 10 tahun lalu kami bertemu di suatu masjid di Bandung, dalam suasana i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ah, saya rindu sekali dengan suasana syahdu itu..

Singkat cerita, niat saya yang pada awalnya ingin belajar bahasa Arab Qur’an kepada beliau (saat ini beliau membuka beberapa kelas bahasa Arab Qur’an untuk kelas muslimah), akhirnya berubah untuk mengulang hafalan, menarik dan mengikat kembali ayat-ayat-Nya sebelum terus menguap.

Daan, sungguh itu adalah perjuangan tersendiri!

Seperti samudera yang tak bertepi, interaksi dengan Al-Qur’an selalu menimbulkan kesan yang berbeda jika kita membuka lebar-lebar mata hati kita, meski ayat yang sama bisa  jadi sudah kita ulang berratus dan berribu kali. Interaksi dengan Al-Qur’an seperti melatih jiwa untuk terus bersabar, untuk tidak sombong, untuk terus mengingat bahwa kita ini bukan apa-apa tanpa rahmat-Nya.

Bagaimana tidak? Sedetetik ini bisa yakin sangat  kita sudah mengingat kuat hafalan yang kita punya, detik berikutnya bisa tiba-tiba blank. apa? apa setelah ini? kok bisa lupa? *tears*

Interaksi dengan Al-Qur’an, pada akhirnya adalah ikhtiar sepanjang hayat agar terus menerus Allah berikan hidayah, berikan kekuatan untuk memegang erat hidayah tersebut, agar Dia beri kita kekuatan untuk bisa menebarkan hidayah tersebut..

yaa haamilal qur’aan… 

Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

daddy-daughter

daddy-daughter

azima dan ayah: like father like daughter
azima dan ayah: like father like daughter

percakapan azima dan bundanya siang tadi setelah makan mangga:
bunda: azima, sudah habis ya mangganya,
azima: abi (abis), abi (abis),
bunda: iya, nanti kita makan mangga lagi kalau ada ayah ya
azima: ayah, ayah (nunjuk gambar boneka-boneka hewan di dinding, biasanya jadi panduan ayahnya untuk buat boneka jari dari kain flanel)
bunda: iya, ayah yang buatin azima boneka gajah ya
azima: gadaah (gajah)
bunda: iya, terus apalagi?
azima: ssh.. (sambil pegang bahunya, memperagakan ketika ayahnya gendong azima di bahu)
bunda: hoo, azima seneng ya digendong bahu sm ayah?
azima: (angguk-angguk)
bunda: (senyum-senyum terharu: anak gadisnya sudah mulai semakin kuat perasaannya :”))

:)
🙂

thanks for being there,Azima, and Azima’s daddy 🙂

twenty-some

twenty-some

Harijadi ke 26 beberapa waktu lalu bagi saya menjadi salah satu bagian dari turning point di mana saya semakin menyadari bahwa: semakin bertambah bilangan usia, semakin independen manusia menentukan pilihan hidupnya, serta seharusnya semakin besar pula tanggung jawab yang diembannya.

Bertambahnya usia, somehow, juga mengajari saya bahwa koneksi kita dengan banyak orang menjadi tidak terlalu dalam. Yes, maybe we have many Whatsapp group, we have many contacts in our phone, but, it’s not mean that we are fully connected with them. People who have same ages with me have their own problem, in their own world.

Hence, family comes first.

sweet surprise from my sweetheart :)
sweet surprise from my sweetheart 🙂

After that, people who see you  directly more often, talk active with you, share the same problem in the same area, have a stronger bond than other. 

12250_10153375226900496_4145829736996087734_n
dua orang di sebelah saya (keduanya milad juga di bulan Maret), mengajak saya berbagi syukur dengan berbagi tumpeng di pengajian ibu-ibu 🙂

And, there are people who always be in your prayer: even they are not in your sight, you connected to them. I can’t explain more about it. But i’m sure you can feel it. 🙂

Pergi jauh dari tanah kelahiran pun bagi saya menjadi momen di mana saya bisa merenungkan kembali posisi keberadaan saya di dunia ini. Di mana variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan saya jauh berkurang, dan lebih berfokus pada what’s next? get some challenges to prove that you actually twenty-some-year-old woman! 

Waktu kita terbatas, memilih yang benar-benar prioritas menjadi keterdasakan yang niscaya. Ah, saya jadi ingat sebuah puisi yang digubah oleh Robert Frost, seorang penyair Amerika,

THE ROAD NOT TAKEN
by: Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
worth it

worth it

Setelah heboh bolak-balik kamar dan ruang pantry, minta spaghetti berulang-ulang, mengulang ipin-upin di youtube yang sudah serial keberapa–tapi tidak serius juga ia lihat, melempar-lempar mainan, mengobrak-abrik pakaiannya di lemari, mengikuti gerak bundanya ke manapun pergi, akhirnya gadis cilik itu lelah juga dan tertidur. Ada masanya di mana saya hanya bisa terdiam sejenak ketika tangisannya yang minta diperhatikan atau minta sesuatu–yang saya belum paham, meraung di telinga. Dengan kondisi fisik saya yang sedang melemah karena adaptasi cuaca, ada keinginan untuk berjarak sejenak dengan batita yang beberapa bulan lagi genap dua tahun usianya. Tapi saya tahu, terdiam bukanlah solusi akhir atas keriuhan yang tiap harinya ia ciptakan. Tapi saya tahu, masa-masa di mana ia mengikuti saya ke manapun pergi pasti akan berlalu juga, berganti dengan munculnya dunia baru untuk seorang anak perempuan yang beranjak dewasa, dan mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk melepasnya ketika ia berpindah tanggung jawab pada lelaki yang kelak jadi imamnya. Tapi saya tahu, kelucuan-kelucuan dan tawanya yang riang mengajak saya bermain cilukba atau kuda-kudaan akan berlalu juga, berganti keasikan dengan dunia maya atau buku-buku favoritnya. Tapi saya tahu, ciuman-ciumannya untuk mengajak saya bermain ketika saya tak kuat menahan kantuk karena kelelahan seharian, akan berganti dengan izin pulang agak malam karena ada kesibukan sekolah atau kampusnya. Dan ketika masa itu tiba, saya akan sangat merindukan masa-masa di mana 24 jam sehari saya selalu bersama gadis kecil itu.

so, all messiness in motherhood thing is worth it.

bunda sayang azima :)
bunda sayang azima 🙂

So I pray, yes I pray
‘Cause I know the life I want
When it’s hard I keep working
I’ll never give this up
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end

(“Worth It – Harris J)