Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

Advertisements
daddy-daughter

daddy-daughter

azima dan ayah: like father like daughter
azima dan ayah: like father like daughter

percakapan azima dan bundanya siang tadi setelah makan mangga:
bunda: azima, sudah habis ya mangganya,
azima: abi (abis), abi (abis),
bunda: iya, nanti kita makan mangga lagi kalau ada ayah ya
azima: ayah, ayah (nunjuk gambar boneka-boneka hewan di dinding, biasanya jadi panduan ayahnya untuk buat boneka jari dari kain flanel)
bunda: iya, ayah yang buatin azima boneka gajah ya
azima: gadaah (gajah)
bunda: iya, terus apalagi?
azima: ssh.. (sambil pegang bahunya, memperagakan ketika ayahnya gendong azima di bahu)
bunda: hoo, azima seneng ya digendong bahu sm ayah?
azima: (angguk-angguk)
bunda: (senyum-senyum terharu: anak gadisnya sudah mulai semakin kuat perasaannya :”))

:)
🙂

thanks for being there,Azima, and Azima’s daddy 🙂

Anak-anak dan Bahasa

Anak-anak dan Bahasa

Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan tentang perkembangan sosial–dalam hal ini komunikasi Azima dengan lingkungan barunya. Saya sempat mengkhawatirkan adanya jetlag sosial yang Azima hadapi karena minimnya balita sebaya dengannya yang bisa diajak bermain dan berbahasa yang lazim dia dengar selama 17 bulan tumbuh besar di Indonesia.

Tapi berdasarkan konsultasi dengan para ibu-ibu senior yang pernah mengalami keadaan serupa, saya jadi lebih tenang dan santai menghadapi kenyataan tersebut. Selama bahasa utamanya, bahasa Indonesia, tetap saya (sebagai Ibunya) gunakan untuk percakapan sehari-hari, seorang anak insyaAllah tidak akan mengalami bingung bahasa yang menyebabkan ia terlambat dalam berkomunikasi dengan sesama.

Dari pengamatan saya akhir-akhir ini pula saya terpikir lebih jauh, bagaimana sebenarnya asal muasal kita, dengan ragam bahasa dari benua satu ke benua lainnya dapat berkomunikasi? Bagaimana kita bisa bersepakat bahwa “makan” adalah “makan” dan “kursi” adalah “kursi”? Satu dari salah satu alasannya bisa jadi karena dasar komunikasi manusia adalah bahasa tubuh/bahasa isyarat. Ketika saya mencoba memahami tangisan Azima dengan menanyakan, “Azima mau makan?” sembari menggerakkan tangan saya berulang ke mulut dan bersegera mengambil makanan, serta responnya kemudian positif (terdiam dan makan dengan lahap), saat itu ia belajar bahwa yang sedang ia lakukan adalah makan.

Atau ketika secara spontan saya bereaksi dengan nada agak tinggi dan wajah berkerut ketika melihatnya melakukan hal yang berbahaya, ia otomatis memang berhenti, tapi dengan raut agak takut. Baru kemudian ketika saya mengubah nada bicara dengan lebih lunak, wajah yang sambil tersenyum dan deretan penjelasan kenapa hal tersebut dilarang, rautnya kembali tenang (dan beberapa waktu kemudian mengulang perbuatan yang sama :D). Dari nada, raut wajah dan gesture itu kemudian manusia belajar memahami bahasa sesamanya yang mungkin awalnya terdengar aneh, lama kelamaan jadi saling memahami.

Terkait kemampuan berbahasa ini juga memang ternyata sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan banyak kata-kata yang diucapkan dari orang-orang terdekat di sekitarnya kepada sang anak. Dalam buku Bright From The Start yang ditulis oleh DR Jill Stamm, profesor di Arizona State University, perkembangan intelektual anak sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak kata-kata yang ia dengar sejak lahir sampai ia berusia 3 tahun.

Ia menukil sebuah studi yang dilakukan oleh dua orang peneliti (Betty Hart, Ph.D dan Todd Risley, Ph.D) di pertengahan 1990an, di mana sebuah tim dari University of Kansas mengamati 42 keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam dalam kurun waktu dua setengah tahun, ketika anak-anak dalam setiap keluarga tersebut tumbuh sejak usia 7-9 bulan sampai tiga tahun. Tim peneliti duduk mengamati di setiap rumah dan menghitung berapa banyak kata yang diucapakan dalam rumah tersebut. Mereka juga mencatat nada bicara, apakah kata-kata yang diucapkan terkesan positif atau negatif.

Kemudian, tim peneliti mengevaluasi bagaimana signifikannya jumlah kata-kata yang diucapkan terhadap IQ anak-anak tersebut di kemudian hari. Hasilnya, semakin banyak kata-kata positif yang diucapkan, smakin tinggi pula IQ yang diraih–tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi setiap keluarga. IQ yang lebih tinggi pada anak juga dipengaruhi dengan nada, interaksi dua arah dalam percakapan, dan lebih banyak kata-kata yang bersifat bertanya daripada memerintah.

 

Azima di San Francisco Public Library
Azima di San Francisco Public Library: read and grow, dear!

Stamm juga menuturkan bahwa secara ilmiah, perbedaan bahasa rupanya juga memiliki pengaruh pada kemampuan berbahasa seorang anak. Sejak ia berusia dua bulan, seorang bayi bisa membedakan bahasa dengan dua pola penekanan yang berbeda, contohnya bahasa Inggris dan Jepang. Ketika bayi tersebut semakin familiar dengan bahasa asli (native) mereka, skill mereka semakin terlatih dan mampu membedakan dua bahasa dengan pola penekanan yang sama, contohnya bahasa Inggris dan Jerman.

Ketika usianya menginjak lima bulan, bahkan bayi bisa membedakan dua bahasa yang serupa tapi dengan dialek yang berbeda, contohnya Inggrisnya US dan British! Fatabarakallahu ahsanul khaaliqiin.. Masih cukup panjang penjelasan Stamm soal proses bagaimana kata-kata yang ia dengar dapat tersusun dalam otak, dan menstimulasi proses berbicara sang bayi dan bahkan mempengaruhi kerja otak (mudah-mudahan di lain kesempatan saya dapat mereview terkait hal tersebut).

Setelah mendapat wawasan baru tersebut dan menerapkannya beberapa hari terakhir pada Azima, saya cukup melihat perbedaan yang siginifikan dalam komunikasi antara kami berdua: Azima yang lebih curious dan ekspresif ketika mendengar saya berbicara dan merespon juga dengan “kata-kata”nya, serta emosinya yang lebih terkendali (sebelumnya karena ibunya lama fahamnya dan kurang kreatif bicara dengan Azima, Azima tampak lebih “kesal” ketika mengungkapkan keinginannya).

Saya jadi semakin faham mengapa keponakan pertama saya, Afnan, di usianya yang empat tahun sudah sangat cemerlang bercerita panjang lebar dalam dan tinggi soal kesehariannya dan apa yang dia temui, dengan gaya bahasa yang mature. Ya, di samping mungkin karena faktor genetik ayah bundanya yang memang cemerlang (ihiy mas af dan kak aisyah :D), ia tumbuh sejak lahir di keluarga besar  yang memilki sangat banyak perbendaharaan kata setiap harinya.

Mungkin sekali waktu terbetik di benak kita (atau mungkin saya saja :D), kenapa sih harus menyiapkan anak-anak sejak dini dengan segala stimulasi abcdez? Agar ‘sekedar’ jadi superkids di antara deretan anak-anak generasi Alpha? Tentu saja jauh dari sekedar itu: agar ia siap jadi pewaris estafet kebaikan di masanya kelak, di mana tantangannya akan berbeda bentuk dengan zaman ayah ibunya dahulu. More than one of Generation Alpha to be, but to be Rabbaniy Generation. Aamiin.. 

 

Referensi:

Stamm, Jill. (2007). Bright from The Start: the simple, science-baked way to nurture your child’s developing mind, from birth to age 3. USA: Penguin Group Inc.

worth it

worth it

Setelah heboh bolak-balik kamar dan ruang pantry, minta spaghetti berulang-ulang, mengulang ipin-upin di youtube yang sudah serial keberapa–tapi tidak serius juga ia lihat, melempar-lempar mainan, mengobrak-abrik pakaiannya di lemari, mengikuti gerak bundanya ke manapun pergi, akhirnya gadis cilik itu lelah juga dan tertidur. Ada masanya di mana saya hanya bisa terdiam sejenak ketika tangisannya yang minta diperhatikan atau minta sesuatu–yang saya belum paham, meraung di telinga. Dengan kondisi fisik saya yang sedang melemah karena adaptasi cuaca, ada keinginan untuk berjarak sejenak dengan batita yang beberapa bulan lagi genap dua tahun usianya. Tapi saya tahu, terdiam bukanlah solusi akhir atas keriuhan yang tiap harinya ia ciptakan. Tapi saya tahu, masa-masa di mana ia mengikuti saya ke manapun pergi pasti akan berlalu juga, berganti dengan munculnya dunia baru untuk seorang anak perempuan yang beranjak dewasa, dan mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk melepasnya ketika ia berpindah tanggung jawab pada lelaki yang kelak jadi imamnya. Tapi saya tahu, kelucuan-kelucuan dan tawanya yang riang mengajak saya bermain cilukba atau kuda-kudaan akan berlalu juga, berganti keasikan dengan dunia maya atau buku-buku favoritnya. Tapi saya tahu, ciuman-ciumannya untuk mengajak saya bermain ketika saya tak kuat menahan kantuk karena kelelahan seharian, akan berganti dengan izin pulang agak malam karena ada kesibukan sekolah atau kampusnya. Dan ketika masa itu tiba, saya akan sangat merindukan masa-masa di mana 24 jam sehari saya selalu bersama gadis kecil itu.

so, all messiness in motherhood thing is worth it.

bunda sayang azima :)
bunda sayang azima 🙂

So I pray, yes I pray
‘Cause I know the life I want
When it’s hard I keep working
I’ll never give this up
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end

(“Worth It – Harris J)

Dear Azima..

Dear Azima..

Assalamu’alaikum nak, apa kabar mimpimu siang ini? sepertinya seru sekali ya. lihat, tanganmu sampai terangkat-angkat begitu semangat 😀 Teruskan mimpimu lebih lama lagi ya naak, supaya bunda bisa lebih banyak bercerita dan berbincang denganmu lewat tulisan ini, 😀

Dear Azima shalihah,

Bunda berharap kelak kau menjadi hamba yang senantiasa bersyukur, bersyukur Allah beri kesempatan untuk menghirup udara di dunia, bersyukur hidup di tengah-tengah keluarga yang sangaaat menyayangimu. Ayahmu, Bundamu, Mbah Kakung, Mbak Uti, Pakde Aaf sampai Bulek Himmah, semuanya menyambutmu dengan gembira ketika mengetahui kau akhirnya terlahir ke dunia. Lihatlah Mbah Uti yang sampai membela-bela mengantarmu dan bunda dini hari itu ke RS, padahal beliau baru saja sampai rumah dua jam sebelumnya, mengabdikan diri untuk negara. Ayahmu yang rela dengan begitu sabarnya menggantikanmu popok di tengah malam, meninggalkan amanahnya di kantor selama beberapa hari demi menemani bunda dan engkau di hari-hari pertama kelahiranmu.

Ketahuilah nak, betapa bersyukurnya bunda ketika Allah titipkan amanah berupa kehadiranmu. Rasanya bunda lupa seperti apa rasa nyeri ketika kontraksi berjam-jam, ketika akhirnya harus berjuang mengejan untuk mengantarkanmu menengok dunia yang ramai ini. Pun ketika beberapa malam setelahnya bunda masih harus menahan nyeri pascamelahirkan, kalau ditanya seperti apa rasanya sekarang, bunda lupa. Semua rasa nyeri itu terhapus ketika melihat matamu–yang sangat ayahmu itu, mengerjap-ngerjap bening menatap sekitar, ketika kau tertidur pulas dan sesekali menyunggingkan senyum..

Bunda berkali-kali belajar soal keajaiban dari proses kehamilanmu sampai detik ini kau tertidur pulas di pangkuan bunda. Kau yang dulu mungiiil sekali menggantung di dinding rahim bunda, kau yang menendang dan latihan meninju 😀 di dalam rahim bunda, kau yang akhirnya berhasil keluar dengan selamat di dini hari itu, sehat, dengan wajah yang sangat menyerupai ayahmu..  mengerjapkan mata ke arah bunda. Fatabarakallahu ahsanul khaaliqiin. Sungguh Allah sebaik-baik Pencipta. 

Bunda takjub ketika melihatmu yang menyusu dengan begitu semangat, siapa yang mengajarimu nak? Lebih takjub lagi ketika melihatmu tersenyum lebar dan tertawa ketika kau tertidur.. Lama kelamaan bunda mengenyampingkan pertanyaan, “siapa yang mengajarimu,” karena sudah terjawab sendiri..

Ar-Rahmaan. ‘Allamal Qur’aan. Khalaqal insaan. ‘Allamahul bayaan.. (QS. Ar-Rahman: 1-4)

Ya, kau yang saat ini belum bisa melihat sekitar dengan sempurna, pastilah diajari untuk beraut manis seperti itu oleh-Nya.

Kehadiranmu juga membuat bunda semakin menyayangi ayahmu, lelaki yang miladnya bertepatan sepekan setelah miladmu (Maha Besar Allah yang merancang takdir ya 🙂 ), lelaki yang pada beberapa momen bisa membuat bunda menangis karena terharu dengan kelembutannya, sekaligus pada momen yang lain membuat bunda tertegun karena raut kerasnya ketika melindungi orang-orang tercintanya, dan ketika berkaitan dengan harga dirinya. bunda masih ingat raut dan nadanya yang berbeda ketika berurusan dengan administrasi dan birokrasi RS yang berbelit, ketegasannya memberi ketenangan sendiri..

Itulah sebab bunda senang sekali ketika menyematkan nama ‘Azima’ untukmu, nak. Meski harus melalui proses panjang syuro dengan keluarga besar kita, terutama Pakde dan Paklemu yang canggih-canggih dari sisi bahasa itu. :D.

‘Azima’, artinya yang memiliki kekuatan tekad, agar kelak kau dapat meneladani sosok-sosok luar biasa di masa lampau, dan masa kini (termasuk Ayahmu itu) yang memiliki tekad kuat untuk mewujudkan beragam cita dan kebaikan. Agar kelak setiap kali bunda melihatmu nak, bunda melihat kembali perwujudan cinta yang dalam dari ayahmu. Agar ketika ada hal-hal yang membuat bunda kesal dengan ayahmu (:D), bunda tersadar kembali bahwa ada sejuta kebaikan dari ayahmu yang tercermin pada sebagian sosokmu. Sebagian? Iya, sebagiannya lagi kan cerminan bunda, haha.. Memicu bunda untuk menjadi sebaik-baik orang tua untukmu..

‘Tsurayya’, artinya kumpulan bintang-bintang. Sematan ini juga sebagai cermin ayah-bundamu yang penggemar bintang, hehe. Bunda berharap kelak kau seperti yang Allahyarham Ustadz Rahmat Abdullah tuliskan dalam bait syairnya,

Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina..

Tapi ya, secantik apapun cahaya  bintang-bintang, tetap ia fana. Karena itu, bunda berharap agar kelak kita bisa mengejar keabadian sejati di syurga kelak. 🙂

‘Senjaya’, nama ayah nomor satu di dunia, :’)

IMG-20140903-WA0008

Azima Tsurayya Senjaya, tumbuh dan mekarlah untuk kebangkitan Islam!

Luv youu, my little girl, my little angel, bunda isi bahan bakar dulu yaaa, sebelum mimpimu berakhir karena kelaparanmu 😀

-bunda di hari kesepuluhmu, 6 September 2014.