Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

Pulang Ke Rumah

Pulang Ke Rumah

Kemarin, seorang ibu muda yang saya kenal di negeri Paman Sam, pamit di sebuah grup, “saya pamit pulang dulu ya.. ibu-ibu. Malam ini insyaAllah akan pulang ke Indonesia.” tentu saja beliau berpamitan di sebuah grup yang mayoritas isinya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, dalam hal ini Amerika.

Satu hal yang menarik dari pamitan beliau adalah ketika beliau menggunakan kata “pulang” ketika merujuk pada aktivitas kembali ke sebuah negeri yang terbentang jauh dari lokasinya saat itu. Pulang ke tanah air, tanah kelahiran, kampuang nan jauh di mato, homeland.

Kenapa bagi saya hal tersebut menarik? Karena bisa jadi, aktivitas kembali ke tanah air tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sebagian (besar?) orang yang sudah menghabiskan sebagian besar usianya, making a living, membesarkan  anak-anaknya (bahkan menikah, kemudian melahirkan anak pertamanya) di sebuah negeri di mana standar hidup seorang manusia menjadi sangat layak. Setidaknya pada standar dasar: udara yang bersih, air yang bersih, makanan yang kesehatannya dijamin dari pemerintah.

Pulang, menjadi suatu hal yang bisa jadi memberatkan bukan hanya karena biaya tiket perjalanan, tapi juga karena “beratnya” membayangkan apa yang akan dihadapi sesampainya di tanah kepulangan. Kemacetan, polusi, banjir, makanan yang dibumbui was-was dalam hati soal kesehatannya (ini gorengan dicampur plastik apa nggak ya? ini baso daging sapi apa daging yang lain?), inflasi yang tak sebanding dengan daya beli, tingkat keamanan yang rendah, de-el-el, de-es-be.

Rencana saya dan suami untuk coba menerapkan rihlah gembira sekaligus playdate alias silaturahim antar keluarga-keluarga kecil di antara teman-teman dan kerabat sepertinya menjadi tantangan yang cukup sulit untuk direalisasikan di Indonesia. Berbeda dengan rihlah gembira yang mudah dilakukan di sana, dua minggu sekali atau sebulan sekali, di tempat-tempat yang indah dan bersih dengan biaya masuk yang murah, membayangkan menempuh perjalanan ke suatu tempat yang berjarak 15 km dari tempat tinggal kami saja sudah pusing karena kemacetannya. -_-a

20160611_165005
Azima menatap kota Depok

Sepuluh hari menjejak kembali di tanah kelahiran, Indonesia, membuat saya berpikir ulang makna “pulang”.

Pulang, artinya menerobos segala kenyamanan yang didapat di negeri kunjungan, dan membawa kenyamanan itu sebagai kenangan untuk mengubahnya menjadi energi perubahan.

Menatap mobil yang berderet-deret menyesaki jalan Raya Bogor, Juanda, Margonda, sambil berulang menatap jam yang terus berputar, saat 15 km jarak ditempuh dalam rentang waktu nyaris 2 jam. Terbersit kenangan ketika suatu ketika diajak Mbak Gilda, ibu kontrakan tempat saya tinggal di US, ke Santa Cruz Beach, dengan jarak tempuh 112 km (sekitar 70 miles) dalam rentang waktu yang sama, sekitar 2 jam sahaja.

Atau ketika saya terheran-heran dengan banyaknya orang di sepanjang jalan selama saya di downtown Tokyo–sebuah kota yang sangat crowded, yang mau menempuh berkilo meter jalan kaki. Bapak dan abang-abang (?) muda dengan setelan jas siap ke kantor, tapi tak segan mengayuh sepeda menuju lokasi di mana mereka bekerja. Ibu-ibu yang membonceng anak balitanya di depan dan di belakang dengan sepeda yang memiliki bangku anak-anak yang aman, tampak sangat damai. Tidak diwarnai asap ibu kota dan stress kemacetan melihat deret mobil yang tak bergerak.

Kapankah tanah kelahiranku, Jakarta, (dan kini tanah kelahiran anakku, Depok) bisa seperti itu?

Pulang, berarti kita menuju sesuatu yang dirindukan. Karena ada sebagian atau seluruhnya hati yang tertinggal, di tanah kelahiran. Rindu adzan yang bersahutan, rindu akan tempat di mana Ramadhan menjadi bulan yang dirayakan, di mana ibu-ibu bisa mengajar anaknya melafaz dzikrullah di tempat umum tanpa harus dilihat aneh dengan tatapan dari-planet-mana-kamu-berasal atau apakah-kamu-teroris?, rindu bakso dan siomay bervetsin,  dan tentu saja rindu dengan keluarga, saudara-saudari, dan sahabat-sahabat yang sedikit banyak membentuk kepribadian kita sampai saat ini.

Meski berat dan payah, serta segudang amanah menanti diselesaikan, pulang menandakan kita masih punya kepedulian, masih punya perhatian. Pulang juga menandakan kita masih punya harapan, masih punya impian, agar tanah kelahiran menjadi tanah yang dapat (semakin) dibanggakan, menjadi ladang kebaikan sebelum kita benar-benar “pulang” .

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Di antara beberapa destinasi wisata di California yang selama beberapa waktu terakhir saya kunjungi, Lake Tahoe adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena bentangan alam yang indah sepanjang perjalanan ke sana, terpenuhinya rasa penasaran melihat dan merasakan salju seperti apa, tapi proses perjalanan panjang ke sana sebagai backpacking family ternyata meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

 Terletak di antara state California dan Nevada, Lake Tahoe terbagi menjadi dua bagian besar yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri, yaitu North Lake Tahoe dan South Lake Tahoe. Berdasarkan informasi dan rekomendasi dari beberapa ibu-ibu di sini, North Lake Tahoe menjadi pilihan karena di sana masih terdapat salju dikarenakan kondisi geografisnya. Di samping pertimbangan waktu (dan dana tentunya :D) yang terbatas, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan sulit ditemui di daerah lain, khususnya tidak bisa dijumpai di negeri asal kami. Tentu saja salju adalah poin lebih yang kami incar selaku manusia-manusia khatulistiwa 😀

Berikut adalah jejak dokumentasi yang saya tuliskan sebagai bentuk sharing bagi ayah-ibu dengan balita yang berkesempatan pergi jauh ke sana tanpa kendaraan pribadi dan tanpa rombongan tour. Terasa benar travellingnya! 🙂

Setelah tertunda-tunda selama beberapa weekend, akhirnya berangkatlah kami Sabtu pagi pekan kemarin. Pukul 5 pagi sudah berjalan keluar rumah menuju ke pool Amtrak (kereta antar kota dan state di Amerika) di San Francisco, dengan kondisi Azima diangkat dalam kondisi tertidur. Tiket sudah kami pesan langsung ke loketnya satu hari sebelumnya.

Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak
Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak

Ohya, kalau ada credit card, tiket Amtrak bisa dibeli melalui online di situsnya langsung, dan ternyata memang lebih murah dan eksak tujuannya daripada kita membeli di loketnya. Kenapa eksak? Karena  meminimalisir bias pelafalan dan pendengaran dari dua komunikan seperti yang terjadi pada kami: suami saya menyampaikan “Truckee, Lake Tahoe” (lokasinya di North Tahoe) kepada petugas loket, sedangkan petugas hanya mendengar, “Lake Tahoe”, (which is lokasinya di South Tahoe). Kesalahan pemesanan ini baru kami sadari ketika sudah tiba di rumah, alhamdulillah bisa diatasi via telepon dan membayar langsung keesokan harinya.

Salah satu kekurangan dari perjalanan dengan kendaraan umum adalah harus bersedia menyediakan waktu lebih banyak untuk antisipasi keterlambatan dan bersedia untuk sambung menyambung beragam kendaraan dan agak sedikit berputar jaraknya daripada langsung dengan kendaraan pribadi.

Tapi syukurnya, berperjalanan jauh dengan Amtrak menimbulkan kesan tersendiri karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah, bentangan savana, bukit, gunung serta laut ala Amerika. Layanan serta fasilitas di Amtrak pun tergolong memuaskan untuk ukuran perjalanan antar kota jarak jauh.

penampakan Amtrak dari luar
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak, yey, kami sudah nyaris sampai!

Dalam cerita kami, ada spare waktu sktr 5 jam “sekedar” untuk hal-hal di atas tadi: kami keluar rumah jam 5 shubuh, naik bus dari Alameda ke SF, tiba di SF jam 6 pagi. Kemudian menaiki bus thruway (semacam penghubung) dari SF ke stasiun Amtrak di Emeryville jam 8, dari Emeryville berangkat jam 9.30, tiba di  stasiun Amtrak Truckee jam 14.38 disambut oleh hawa segar tapi dingin yang menusuk kulit. Sayangnya, 14.38, adalah 8 menit setelah bus lokal (TART, Tahoe Area Local Transportation) berangkat meninggalkan kami, sebuah bus yang baru datang sejam sekali :D.

Alameda-Tahoe
Alameda-Tahoe

Setelah menunggu bus sejam kemudian, berangkatlah kami dari Truckee, sebuah kota di wilayah utara Lake Tahoe, dan tiba di Tahoe City Inn, tempat penginapan yang kami pesan melalui booking.com jam 17.00.  Harapan kami untuk segera mendapatkan kehangatan setelah berjalan kedinginan nyaris buyar ketika kami ditolak oleh resepsionis karena tidak punya credit card sebagai bentuk jaminan. Meskipun pembayaran bisa melalui cash, tetapi tampaknya di sini (Amerika), alas dasar kepercayaan bagi sesama stranger adalah uang :(, dalam hal ini credit card. 

Setelah berfikir beberapa saat dan mencari penginapan lain di internet yang ternyata juga penuh, akhirnya Kak Jay mencoba menghubungi kawannya, Mas Jimo, sesama tim dari iGrow yang syukurnya bisa dipinjam sementara akun CC-nya. (Big thanks to Mas Jim0-Mbak Ayun! 🙂 ). Setelah coba diproses, alhamdulillah, akhirnya kami tidak jadi terlunta-lunta kedinginan mencari penginapan sepanjang jalan yang mau menerima kami, :D.

Suasana Lake Tahoe di senja hari sangat indah, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Indonesia. Meski dengan suasana dan hawa yang berbeda, serta penjagaan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih tertib daripada di Indonesia. Terlintas di fikiran saya, bahwa bentangan alam dan daratan yang Allah berikan untuk Indonesia dan Amerika adalah sama-sama blessing. Tapi bukan tanpa hikmah juga tentunya ketika Allah memilih ras, agama, dan sejarah manusia-manusia yang hidup di atasnya (begitu) berbeda. And yeah, I’m still loking for that hikmaaat.. 

di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi
di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi

-to be continued-

 

daddy-daughter

daddy-daughter

azima dan ayah: like father like daughter
azima dan ayah: like father like daughter

percakapan azima dan bundanya siang tadi setelah makan mangga:
bunda: azima, sudah habis ya mangganya,
azima: abi (abis), abi (abis),
bunda: iya, nanti kita makan mangga lagi kalau ada ayah ya
azima: ayah, ayah (nunjuk gambar boneka-boneka hewan di dinding, biasanya jadi panduan ayahnya untuk buat boneka jari dari kain flanel)
bunda: iya, ayah yang buatin azima boneka gajah ya
azima: gadaah (gajah)
bunda: iya, terus apalagi?
azima: ssh.. (sambil pegang bahunya, memperagakan ketika ayahnya gendong azima di bahu)
bunda: hoo, azima seneng ya digendong bahu sm ayah?
azima: (angguk-angguk)
bunda: (senyum-senyum terharu: anak gadisnya sudah mulai semakin kuat perasaannya :”))

:)
🙂

thanks for being there,Azima, and Azima’s daddy 🙂

worth it

worth it

Setelah heboh bolak-balik kamar dan ruang pantry, minta spaghetti berulang-ulang, mengulang ipin-upin di youtube yang sudah serial keberapa–tapi tidak serius juga ia lihat, melempar-lempar mainan, mengobrak-abrik pakaiannya di lemari, mengikuti gerak bundanya ke manapun pergi, akhirnya gadis cilik itu lelah juga dan tertidur. Ada masanya di mana saya hanya bisa terdiam sejenak ketika tangisannya yang minta diperhatikan atau minta sesuatu–yang saya belum paham, meraung di telinga. Dengan kondisi fisik saya yang sedang melemah karena adaptasi cuaca, ada keinginan untuk berjarak sejenak dengan batita yang beberapa bulan lagi genap dua tahun usianya. Tapi saya tahu, terdiam bukanlah solusi akhir atas keriuhan yang tiap harinya ia ciptakan. Tapi saya tahu, masa-masa di mana ia mengikuti saya ke manapun pergi pasti akan berlalu juga, berganti dengan munculnya dunia baru untuk seorang anak perempuan yang beranjak dewasa, dan mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk melepasnya ketika ia berpindah tanggung jawab pada lelaki yang kelak jadi imamnya. Tapi saya tahu, kelucuan-kelucuan dan tawanya yang riang mengajak saya bermain cilukba atau kuda-kudaan akan berlalu juga, berganti keasikan dengan dunia maya atau buku-buku favoritnya. Tapi saya tahu, ciuman-ciumannya untuk mengajak saya bermain ketika saya tak kuat menahan kantuk karena kelelahan seharian, akan berganti dengan izin pulang agak malam karena ada kesibukan sekolah atau kampusnya. Dan ketika masa itu tiba, saya akan sangat merindukan masa-masa di mana 24 jam sehari saya selalu bersama gadis kecil itu.

so, all messiness in motherhood thing is worth it.

bunda sayang azima :)
bunda sayang azima 🙂

So I pray, yes I pray
‘Cause I know the life I want
When it’s hard I keep working
I’ll never give this up
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end

(“Worth It – Harris J)

a friend of her

a friend of her

Salah satu hal yang saya semakin sadari ketika merantau jauh di tanah asing adalah karakter dasar Azima yang ternyata memang sangat suka bersosialisasi. Kondisi di tempat tinggal kami (paviliun) yang cukup terbatas untuk Azima bermain bebas akhirnya membuat saya dalam sehari selalu mengajaknya ke luar, minimal sekali ke park, yang sudah disertai juga playground untuk anak usia balita sampai jelang remaja. Ada banyak permainan di sana dan lingkungannya juga sangat bersih. Setiap kali Azima ke park, baik di waktu siang ataupun sore (karena kalau pagi masih sangat dingin untuk ukuran manusia-manusia tropis seperti kami), ada balita sampai remaja yang sedang bermain di playground. Subhanallah, mereka luar biasa lincahnya berlarian memanjat dan melompat. Azima terlihat paling mungil dan tampak perlahan sekali mencoba mengejar mereka, entah karena faktor genetika (keturunan/ras) atau asupan kuantitas dan kualitas makanan, :”D. Pastinya memang di sini porsi makan satu orang setara dengan dua porsi makan saya dan suami sebagai orang Indonesia. Ikan salmon pun bisa habis satu ekor sendirian untuk satu porsi lelaki dewasa.

Selain faktor fisik, rupanya faktor bahasa menjadi salah satu kendala yang membuat sosialisasi Azima dengan kawan-kawan sebayanya menjadi kurang optimal. Azima yang sangat mudah teralihkan fokusnya dari mainan kesukaannya di playground–ayunan dan perosotan, ketika melihat ada anak sebayanya sedang berjalan-berlari di sekitarnya: Azima yang awalnya beraut cerah dan berteriak-teriak memanggil untuk mengajak main, kemudian menjadi (tampak) kecewa ketika ternyata sang teman yang diharap dapat bermain bersama menganggapnya sebagai stranger (duh, bunda jadi ikut sedih nak 😦 ). Stranger dari sisi perbedaan fisik dan kemampuan berbahasa (aksen, logat) yang Azima belum bisa fahami. Akhirnya teman main terbaiknya selama di playground adalah ibunya :””D. Alhamdulillah, ada satu anak ummahat WNI di sini, perempuan yang usianya sekitar 8 tahun, terlihat sangat sayaang sekali dengan Azima. Tapi sayangnya, rumahnya lumayan jauh dari lokasi tempat tinggal kami. Pertemuan dengan Fatimah, nama anak perempuan tersebut, setidaknya dua kali sebulan, dalam acara pengajian bulanan atau taklim rutin dwimingguan WNI di bay area.

Akhirnya tantangan saya selanjutnya di sini adalah, menciptakan lingkungan tempat tinggal yang homy  dan indoor games yang membuat Azima betah berlama-lama di dalam kamar. Saya kadang ikut gembira melihat sumringahnya wajah Azima ketika saya mulai bersiap-siap mengajaknya keluar, dengan mengenakan pakaian hangat dan kaus kaki. Gadis cilik itu ikutan mengambil sepatu dan segera beranjak ke tangga menuju pintu keluar. Padahal pakaian tempurnya (jaket, kupluk, kaus kaki) dan stoller belum juga disiapkan. Ck, ck, ck.. Kadang pula saya tidak tega melihatnya menangis ketika saya paksa duduk di stoller untuk pulang dari park, karena hari sudah sore dan semakin dingin, perut kami sudah minta diisi, dan teman bermainnya (yaitu saya) sudah mulai kecapekan :”|

Setiap tantangan insyaAllah akan membuat kita jadi semakin cerdas kan? satu hikmah lain yang saya dapatkan dengan menjadi orang asing di tanah asing adalah peluanga  semakin kuatnya ikatan kami sebagai sebuah keluarga. Azima yang selalu terbangun ketika ayahnya pulang dari kantor (selarut apapun) dan keinginan saya untuk terus berusaha ada di sisinya, menjadi teman belajar dan bermain yang seru untuk Azima, di saat teman bermainnya belum banyak di sini. yo, semangat bunds dan azima! #talktomyself.

Bagi sidang pembaca yang mungkin pernah mengalami pengalaman serupa, monggoo, silakan berbagi di sini yaa 🙂

Days in USA

Days in USA

Suatu ketika ibu saya pernah berpesan, bahwa ketika sudah menikah, seorang istri harus taat mengikuti–selama bukan maksiat, ke manapun suami pergi, walau ke lubang semut sekalipun. That’s why she told her daughters to choose the right man, who can bring his wife and family to heaven.

Dua tahun memang bukanlah waktu yang cukup untuk saya terus menata diri menjalani peran baru saya sebagai istri, sebagai ibu. Adaptasi ketika berhadapan dengan jetlag peran lebih sulit menantang ketimbang jetlag melintasi zona waktu yang jauh berbeda. Medio Agustus tahun lalu, setelah berulang kali saya mencatat kembali repelita (rencana pembangunan lintas cita-cita, haha), akhirnya saya menetapkan bahwa sudah saatnya menjalankan satu, dua, sepuluh langkah ke depan, tidak melulu berkutat pada perubahan-perubahan rencana dan wacana. Saya ambil les bahasa Inggris untuk bekal S2 dan beasiswa setiap hari Sabtu, dan bahasa Arab setiap hari Ahad untuk bekal saya semakin memahami pedoman hidup saya.

Selama kurang lebih empat bulan, saya menikmati ritme setiap akhir pekan itu: berangkat jam 7 pagi untuk titip Azima di daycare, kemudian saya les sampai Dzuhur, berlanjut ke Masjid UI untuk mengisi, dan sorenya baru berjumpa kembali dengan Azima. Begitu pula ketika hari Ahad, berangkat pagi-pagi untuk agenda pekanan, kemudian jelang Dzuhur saya ke daycare, dan berlanjut ke Masjid Al-Huda Komplek Timah, di mana lokasi PBAT (Program Bahasa Arab Terpadu) dilangsungkan. Setelah beberapa waktu otak saya kurang terasah untuk berfikir “serius di dalam kelas”, ritme beberapa pekan itu seperti mendorong saya kembali untuk terus belajar. Terima kasih untuk Abu Azima dan mbah uti Azima yang ful support, bersedia mengantar saya dan atau menemani Azima selama memang tidak bentrok dengan agenda kontribusi akhir pekannya. Dan tentu, Mbak Lalita dengan Ocrito Daycare-nya yang bersedia menerima Azima di akhir pekan, di saat seharusnya para pengasuh di sana menikmati istirahat dan bersantainya. (Duh, kok ini kayak ucapan terima kasih skripsi :D).

Yap, seperti apapun manusia berencana, pada akhirnya Dia punya rencana yang lebih baik untuk kita. Persiapan bahasa yang sedianya untuk satu langkah ke depan melanjutkan jenjang pendidikan, ternyata digunakan untuk bercakap-cakap langsung dengan native di negara yang bahasa ibunya adalah Inggris.

Rencana apply beasiswa S2 dan mendaftar SIMAK UI saya di awal tahun ini akhirnya berubah ketika di akhir tahun kemarin Kak Jay mendapat tawaran untuk mengikuti program inkubasi bisnis di San Francisco, California, USA. USA? Selama 5 bulan pulak.

Saya cukup tahu rasa tidak enaknya LDM dengan sang suami, ketika sekitar dua pekan ditinggal ke Istanbul, Turki, untuk mengikuti lomba Start Up tingkat internasional. Ada banyak pertimbangan yang membuat kami maju mundur memutuskan untuk pergi bersama atau tidak dalam hal perjalanan ke US ini. Untuk ongkos pesawatnya saja sepertinya jauhh sekali tak tergapai. Tapi setelah berdiskusi kembali, bertanya sana-sini, meminta pertimbangan pada Ibu, memohon petunjuk pada Allah, akhirnya diputuskan untuk mengikhtiarkan agar bisa ikut. Soal rezeki insyaAllah ada jalannya selama memang Dia menakdirkan kami untuk pergi bersama.

Dan sekali lagi, saya tersentuh dengan kegigihan Ibu mengikhtiarkan yang terbaik untuk anak-menantu-cucu2nya. Now, I know that feeling, Mom: berusaha memberi bekal dan kesempatan terbaik untuk anak-anaknya, seperti apapun caranya walau tampak mustahil. Lewat ikhtiarnya, rezeki Allah sampai untuk ongkos pesawat saya dan Azima, dan sampai hari ini, saya masih merasakan jejak-jejak kebaikan Ibu memberi jalan kemudahan bagi kami untuk hidup di negeri asing ini. Mendapat tempat tinggal yang tergolong murah untuk ukuran standar hidup di US, lingkungan tempat tinggal yang ramah anak (ada playground, ramah stoller dan pejalan kaki), dan dekat dengan toko-toko kebutuhan sehari-hari dan utamanya halal store.

Hari kedua setibanya di US, ketika kami masih kepayahan beradaptasi dengan jetlag dan udara dengan kisaran 8 – 15 derajat celcius, kami diajak bertemu dengan sesama WNI di pengajian WNI muslim daerah San Francisco, dan hari ini (hari keenam) bertemu kembali dengan ibu-ibu WNI di daerah Bay Area untuk ta’lim rutin, maha suci Allah yang memberi banyak kemudahan sehingga saya dan Azima tidak merasa sendirian di tempat ini. Dari pertemuan dengan WNI (dan WNI yang sudah pindah citizen ke US) itu saya juga belajar banyak soal kemandirian (sebagian besar ibu2 yang saya temui selama dua pertemuan kemarin bisa bawa mobil semua), bertahan dan terus berjuang di negeri orang, baik ibu-ibu yang meninggalkan karir gemilangnya untuk fokus mengurus anak dan suaminya, maupun ibu-ibu yang selesai masternya dengan diiringi kelahiran tiga anaknya. Yeah, berada di perantauan membuat rasa keimanan jadi penguat utama ikatan kami, tidak peduli latar belakang keluarga dan latar pendidikannya apa (meskipun rata-rata ibu-ibu yang saya temui di sini adalah alumni UI :D).

Bekal didikan Ibu juga yang membuat saya nekat naik BART (Bay Area Rapid Transportation, semacam kereta cepat bawah tanah/bawah laut/dan beberapa meter di atas tanah) dari Oakland (lokasi BART terdekat dari tempat tinggal) ke Dublin, berdua saja dengan Azima untuk mengikuti ta’lim ibu-ibu hari ini, meskipun kalau dipikir-pikir, agak berbahaya juga dengan kondisi negeri yang ragam kejahatan bisa saja terjadi (na’udzubillah min dzalik). Banyak-banyak dzikir dan minta perlindungan dari Allah saja, pesan Ibu saat itu.

Tapi memang, dari segi kebersihan udara, kecanggihan transportasi dan ketertiban masyarakat, banyak pelajaran yang bisa diambil dan tidak mengherankan jika dari tolak ukur materi, US digolongkan sebagai negara maju. Contoh kecilnya, ketika kami naik bus dari Alameda (lokasi tempat tinggal kami, sekitar 12 km dari SF), menuju SF untuk survey kantor Kak Jay, supir busnya menolak penumpang yang mau naik dengan alasan bus yang sudah penuh, padahal untuk ukuran bus Transjakarta, wah, masih bisa cukup 5-6 orang lagi! :D. Perlindungan terhadap anakpun tergolong cukup ketat di sini, sebagaimana yang diterapkan di negara-negara maju lainnya, tentang kewajiban penggunanaan carseat bagi balita yang menaiki kendaraan, serta rasa toleransi terhadap ibu-ibu yang memiliki balita, bahkan kakek-kakek yang tadinya sudah duduk di bus bersedia memberikan bangkunya untuk Azima dan ibunya.

Alangkah indahnya bila semakin banyak penduduk negeri ini yang beriman pada Allah, dan alangkah indahnya jika negeri yang mayoritas penduduknya beriman pada Allah, juga semakin maju dan tertib, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.

Langkah-langkah kami ke depan mungkin masih menyimpan banyak tanya: akan seperti apa dan bagaimana, tapi selama kami yakin kami sedang berjalan dengan siapa (dengan-Nya tentu), bahkan pertanyaan ‘kenapa’ perlahan akan menemukan jawabnya. Untuk sidang pembaca, mohon doanya. 🙂

Ohya, untuk catatan lebih rapih dan terstrukturnya bisa teman-teman baca di blog ayahnya Azimzim berikut ini:

http://senjaya.net/memulai-perjalanan-penuh-tantangan-ke-san-francisco/

http://senjaya.net/hari-hari-beradaptasi-di-amerika-sebelum-program-accelerator-dimulai/