Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.

Dari Balkon Atas

Dari Balkon Atas

Malam itu adalah kedua kalinya saya menyaksikan lobby DPR dan ruang sidang penuh, bukan oleh wakil rakyat yang lazim dan seharusnya ada di sana. Setelah riuh rendah di balkon ruang sidang paripurna ketika pengesahan UU APBN-P beberapa waktu yang lalu–yang berimplikasi terhadap kenaikan harga BBM, saya kembali menyaksikan bahwa salah satu cara termudah untuk memobilisasi massa dalam waktu yang relatif singkat, dengan emosi yang terpancing adalah dengan menyinggung hak dasar: pangan.

Ada sekitar seratus sampai dua ratus orang yang menyemut di lobby utama gedung Nusantara I, dengan mayoritas bergaya khas eksekutif dan berpakaian rapih. Cukup membuat saya dapat menyimpulkan perkara apa yang sedang saya coba pelajari malam ini. Bapak-Bapak maupun Ibu-Ibu kisaran 40-50an, lajang maupun gadis dengan kisaran usia 20-30an, sampai anak-anak yang dibawa orang tuanya. Raut muka dari wajah-wajah yang mayoritas bergaris oriental itu menyiratkan emosi yang tengah memuncak: marah bercampur kesal. Sebagian beradu argumen dengan bagian keamanan, bersikeras masuk ke ruang balkon di lantai atas yang juga sudah penuh sesak.

Saya bolak-balik menelpon salah satu rekan di kantor yang sudah stand by di balkon atas. Beberapa kali merapikan blazer, berusaha meyakinkan petugas keamanan bahwa saya punya hak untuk masuk. Begini memang serunya bekerja atas nama kantor, tanpa menggunakan banyak akses khusus (kecuali pintu masuk di lantai basemen :D), saya jadi belajar artinya berjuang meraih sesuatu. Nyaris putus asa karena pamdal tidak juga memberikan izin masuk, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung bersama kerumunan nasabah yang menyemut di depan ruang rapat Komisi XI. Di hadapan mereka ada layar besar yang menampilkan kondisi ruang rapat yang masih riuh, rapat dengar pendapat itu belum juga dimulai. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mungkin kira-kira ini seperti ini pula situasi detik-detik jelang bail out Bank Century–setidaknya seperti itu yang digambarkan oleh Bang Tere dalam novel fiksi politiknya, :D, ratusan nasabah yang datang dan menuntut harta mereka dikembalikan. Sayangnya Thomas hanya tokoh rekaan, sementara chaos sosial ekonomi serombongan orang di depan saya adalah serupa nyata, ilustrasi bahwa negeri ini benar ada di ujung tanduk.

Beberapa menit berdiri di jejeran nasabah, tiba-tiba handphone bergetar, suara rekan kantor di seberang sana mengabarkan bahwa akan ada pamdal yang akan menemani saya untuk memberi jalan masuk. Benar saja, “Mbak Afifah?” seorang pamdal menghampiri saya.

“Benar Pak,”

“Mari Mbak,”

Bergegas saya mengikuti pamdal tersebut. Dalam hitungan menit, tibalah saya di balkon yang memang sudah penuh, suasana riuh. Usai bertegur sapa dengan rekan sekantor yang sudah di sana, segera saya mencari celah untuk sekedar berdiri menyimak dan mencatat hal-hal penting. Tidak lama kemudian terdengar suara tegas sang ketua komisi, pertanda rapat sudah dibuka, dan menyebut satu persatu pihak-pihak yang hadir.

Saya mulai sibuk mencatat, cukup banyak ternyata yang hadir. Ketua Komisi yang didampingi oleh beberapa anggota Komisi XI, OJK, BKPM, Satgas Waspada Investasi, DSN MUI, Kabareskrim Polri, Deputi Gubernur BI, dan dua aktor utama malam itu: direktur dua perusahaan investasi (atau jual beli?) emas yang diduga melakukan penipuan pada nasabahnya.

Rapat dengar pendapat dimulai dengan mendengarkan penuturan direktur perusahaan pertama (sebutlah perusahaan A). Logat Melayu yang kental, penjelasan yang berusaha terang tapi tetap terdengar separuh khawatir, dan sahutan memojokkan dari orang-orang di sebelah saya membuat saya menggeleng-gelengkan kepala.

“Jadi apa yang anda maksud dengan jual beli emas fisik syariah?” seorang anggota Komisi memotong penjelasan direktur berkebangsaan Melayu itu. “Karena yang saya tahu, adalah ijab-kabul di tempat, fisik barang diserahkan, setelah itu selesai. Tidak dikenal apa itu kewajiban menyerahkan “athoya”. Bonus hanya dapat diberi ketika ada untung, tidak ketika rugi.”

“Jadi izin apa yang anda punya untuk membuka usaha di sini Pak?” pertanyaan selanjutnya dari anggota yang lain.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih dijawab dengan jawaban-jawaban yang membuat saya mengernyitkan dahi. Tidak ada izin. Mekanisme yang menyimpang dari prinsip-prinsip syariah..

Belum lagi ketika direktur perusahaan kedua (sebutlah perusahaan B), giliran menjelaskan. Penuturan seorang Bapak tua dengan suaranya yang terpatah-patah: direktur utama sebelumnya melarikan diri dengan membawa sejumlah uang nasabah, ketidaktahuannya bahwa ada transaksi non-fisik emas yang sebetulnya dilarang dalam Islam, diserahkannya jabatan direktur utama padanya oleh presiden komisaris, tanggung jawab yang harus dipikulnya untuk berusaha mengembalikan semua modal awal nasabah dan athaya (bonus) pada semua nasabah. Simpulan singkat di kepala saya saat itu: bapak tua yang awalnya perwakilan Dewan Syariah Nasional MUI untuk mengawasi perusahaan investasi yang mengatasnamakan syariah itu tidak lain adalah tumbal perusahaan.

“Alaah, bilang aja, udah dimakan uangnya sama dia!” seorang ibu muda bergaris wajah oriental yang duduk di sebelah saya menggerutu keras. Wajahnya kesal.

“Ibu nasabah dari **** juga?” saya bertanya pelan sambil mencoba tersenyum maklum. Beberapa menit rapat berlangsung, perlahan saya dapat terus maju ke bagian depan balkon, mendapat posisi yang tepat untuk menggali banyak informasi dari nasabah. Mencoba melihat duduk perkara dari ragam sudut.

“Iya Mbak, saya nasabah **** dan ****.”

“Inves banyak juga ya Bu, di sana? Udah ada bonus yang dibayarkan ke Ibu belum sepanjang masa kontrak?”

“Iya Mbak, udah sebagiannya, tapi sejak bulan Maret sampai sekarang belum dibayar. Janji-janji aja itu direkturnya mau dibayar, bohong tapi! Udah, saya mah nggak ngarepin bonusnya, asal modal awal saya udah balik aja, udah gapapa.” Beruntut ibu itu bercerita. Saya melihat ke ibu muda di sebelahnya, wajah khas Jawa. Belakangan saya tahu, ratusan nasabah yang hadir sekarang bukan hanya dari Jabodetabek, tapi ada yang dari daerah yang jauh di seluruh Indonesia. Mereka yang mengorbankan jarak yang jauh dan waktunya sampai selarut itu untuk menuntut kejelasan harta mereka.

Sementara di bawah, kesempatan memberi penjelasan di antara perwakilan lembaga terkait sudah dipergilirkan. BKPM yang mengaku hanya memberi izin sebatas izin prinsip, bukan izin usaha, dan lantas segera memberi peringatan kepada perusahaan A yang telah melanggar izin yang berlaku, OJK yang lepas tangan karena mengaku bukan merupakan ranah dan kewenangannya, Kabareskrim yang sebatas bertanggung jawab terhadap ranah yang sudah jelas pidana, serta ketidakjelasan sebetulnya perkara ini ada di ranah siapa, menambah kekecewaan para nasabah.

“Kasus ini sebetulnya simpel aja kan, perdagangan komoditi, ada penjual tidak transparan (bahkan ilegal-pen), dibungkus oleh nama syariah, pembeli yang mudah percaya. Sudah, ini penipuan.” seorang anggota dewan menyimpulkan.

“Udah, ditangkap aja Pak!” lelaki berpakaian eksekutif di belakang saya berteriak . Gerutuan dan sahutan bernada keras lainnya bersahutan. Telinga saya panas.

Mendadak, terdengar suara keras dari deretan anggota. “Saya peringatkan ya! Ini lembaga terhormat! Kalau sekali lagi ada yang menjelekkan atau ribut, kita tutup saja rapat dengar pendapat ini! Petugas keamanan, mohon ditertibkan yang ribut-ribut itu!”

Sontak balkon hening. Bisik-bisik terdengar, “sudah, biarkan aja bapak itu. kita jadi tahu kan mana yang bela rakyat mana yang nggak.”

“Fungsi anda sebagai pengawas mana selama bertahun-tahun perusahaan itu menjalankan usahanya?” masih pertanyaan yang memojokkan entitas ulama di Indonesia itu.

“Habis gimana ya Mbak,” Ibu-ibu di sebelah saya kembali bercerita, “kita mah percaya aja kalau sudah pakai asas syariah, ada izin dari MUInya juga. Okelah kita ini bodoh. Tapi kalau bisa ada yang dilakukan pemerintah supaya ke depannya nggak ada lagi yang kayak gini ini. Saya juga pesimis sebenernya uang saya bisa balik, tapi kalau misalnya dipenjara, setidaknya bisa ngasih efek jera buat yang lainnya.”

Saya mengangguk-angguk (lagi-lagi) mencoba tersenyum maklum, plus miris. Penjara?

Miris melihat kata ‘syariah’ dan ‘Islam’ menjadi jatuh martabatnya karena tindakan oknum, mungkin juga didukung ketidaktahuan, mismanejemen.. dan kecenderungan umum masyarakat untuk mendapatkan uang dalam waktu yang relatif cepat tanpa banyak berpeluh. Asumsi awal saya sedikit satire, karena mengetahui bahwa untuk membeli sebatang emas bukanlah dengan jumlah uang yang sedikit, dan orang-orang banyak ini rela ‘mempertaruhkan’ puluhan hingga ratusan juta untuk kembali mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu yang relatif singkat. Tapi ketika melihat wajah-wajah lain dari daerah jauh yang juga harap cemas, saya melebarkan rentang asumsi: mungkin ini bukan sekedar pemenuhan kebutuhan tersier, tapi juga bisa jadi hidup mati mereka, uang yang dikumpulkan sekian lama dan untuk kebutuhan primer/sekunder mereka. Untuk makan, sekolah anak-anak mereka, mungkin, atau untuk membangun rumah yang lebih baik untuk keluarga mereka.

Malam sudah semakin larut, sebagian nasabah sudah ada yang menyerah dan lelah dengan semua perdebatan berputar-putar, tanpa ada kejelasan bagaimana ujung nasib dari uang mereka. Saya melirik jam, sudah saatnya segera pulang. Setelah mengirim pesan kepada rekan sekantor yang masih memungkinkan untuk tinggal lebih lama, saya bergegas pamit pada ibu-ibu di sebelah, dan membalikkan langkah, menuruni tangga keluar.

Terngiang komentar singkat seorang kawan ketika rusuh BBM beberapa bulan lalu menimbulkan pro-kontra  di banyak kalangan. Pencabutan subsidi yang berefek pada melambungnya harga-harga. Saya sedikit kesal atas komentarnya yang cenderung pro terhadap pencabutan subsidi dan lebih memprioritaskan alokasi dana untuk sektor lain.

Kira-kira begini komentarnya, “Yang penting harus ada itu karakter untuk terus berjuang di tengah kesulitan, bukan hanya terus diberi kemudahan dan akhirnya justru melenakan”

Beberapa bulan kemudian saya baru faham, ketika meletakkan komentarnya dalam perspektif kasus investasi emas ini, saya mengakui bahwa ada kalanya kecenderungan untuk mendapat banyak keuntungan/kesenangan dengan sedikit peluh usaha dan dalam waktu yang relatif singkat, akan pelan-pelan berubah jadi bumerang yang memukul kita sendiri.

Kunci kebahagiaan ada pada kesyukuran, kunci kesyukuran ada pada ketundukan pada Maha Pemberi Rezeki, kelapangan yang muncul setelah bekerja keras mengikhtiarkan kebaikan-kebaikan.

Mengingat kejadian malam itu, telinga saya yang panas ketika melihat Islam dan para elit lembaga diolok menjadi teguran dan pembelajaran tersendiri bagi saya, kalau belum bisa banyak memberi kontribusi positif untuk bangsa, mudah-mudahan saya tidak turut serta dalam penghancuran apa-apa yang telah dibangun oleh para penyeru kebaikan, oleh para pejuang kemerdekaan.

pekerjaan orang kuat

pekerjaan orang kuat

16 Mei ’13

Waktu saya kecil dan ikut menemani Ibu keliling kota Jakarta mengisi pengajian di kantor-kantor, saya acap bertanya-tanya setiap kali melihat gedung-gedung bertingkat tinggi: apa isi dari gedung-gedung itu? Ada banyak orang di gedung itu kan? Apa saja yang mereka lakukan? Apa bedanya perusahaan ini dan itu? Karena kosakata pekerjaan di kepala saya saat itu sebatas dokter, guru, pilot, maka saya keheranan ada berbondong-bondong orang yang setiap harinya rela berangkat pagi, terjebak kemacetan, kemudian pulang sorenya, terjebak kemacetan pula. Tapi mereka terus saja begitu, sampai bertahun-tahun, sampai mencapai titik yang mereka anggap sebagai puncak karier mereka.

Ah, karier? Kata apa pula itu? Saya tidak menemukan kata ‘karier’ dalam status pekerjaan bapak maupun ibu saya. Okelah, Ibu adalah orang yang sibuk dengan jam terbang yang tinggi, tapi sampai saat ini, status pekerjaan di KTP Ibu saya tetap sama: Ibu Rumah Tangga. Wanita yang sampai saat ini masih sempatnya menyiapkan bekal makan siang saya ke kantor itu sejak dulu selalu jadi sosok yang paling gesit menyiapkan sarapan pagi, memastikan semua anaknya shalat Shubuh dan mengaji, memastikan TV sudah mati ketika Maghrib, dan menemani anak-anaknya mengaji (lagi) selepas Maghrib, menjadi orang yang selalu hadir untuk menyelesaikan permasalahan anak-anaknya di sekolah. Bapak? Sampai duduk di bangku tingkat pertama kuliah, sejujurnya saya kebingungan kenapa tugas Bapak sebagai anggota dewan begitu berat. Ritme pekerjaannya tidak berbeda jauh dengan pekerjaan sebelumnya sebagai dosen dan aktivis, sama-sama sibuk, sama-sama sering pulang dengan wajah letih, sama-sama sering pergi ke luar kota maupun negeri dalam jangka waktu yang tidak sebentar, dan sama-sama tidak lupa menelpon tiap sore atau malam untuk bertanya: udah shalat? Jangan lupa ngaji, matikan Tvnya. Bedanya yang cukup terasa adalah pandangan teman-teman setiap kali saya menjawab pertanyaan: bapaknya kerja apa? Baru lima tahun belakangan saya makin faham bahwa status beliau sebagai wakil rakyat ketika itu benar-benar bukan perkara sepele. Selebihnya tetap sama, dan kesibukan mereka pada akhirnya mengajari saya bahwa mereka bukan sebatas ‘milik’ kami–anak-anaknya, tapi milik ummat.

Pun ketika duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswi hukum saya lebih banyak mengernyitnya ketika membaca KUHPer, KUHP, KUHAP, apa maksud dari UU ini dan itu, tidak merasakan feel apa pentingnya mempelajari semua pasal-pasal itu, dan mengapa sampai ada orang yang berdebat berjam-jam demi membahas satu pasal saja. menghafal nyaris sebagian pelajarannya sebatas hafalan an sich. 
Beberapa bulan belakangan—sebagai seorang fresh graduate, saya jadi makin faham apa isi dari gedung-gedung tinggi yang letaknya makin berhimpitan belakangan ini, yang ada di kepala banyak orang tiap kali berjalan cepat tiap pagi dan sore, terburu-buru dan rela berdesak-desakan di kereta, kemudian menjalani semua rutinitas itu bertahun-tahun, sekian lama.. apa pentingnya semua undang-undang itu dibuat..

: Menyambung hidup. Menjemput masa depan yang lebih baik, untuk diri sendiri maupun orang-orang yang dicintai: anak, istri. 

—————————————————————————————————————————————

24 Mei ’13

Jika sudah lelah bersabar, maka bersyukurlah..

Ternyata ada yang lebih membuat saya termangu sedih daripada kemarin, ketika mendapati rumah masih kosong ketika saya pulang, tanpa mendapati sesosok wanita paruh baya yang siap saya cium tangannya itu bertanya, “udah makan Fah?”. termangu sedih ketika saya harus membenahi semua perlengkapan makan malam rumah sendirian karena wanita itu, fixed, sekali lagi, menjadi milik ummat. something missed in my soul, indeed. 

“tidak ada yang berubah Mad. Dari dulu Ibu juga tidur 3-4 jam sehari. baru setelah Himmah–adik kesepuluh–besar, Ibu bisa tidur agak panjang, 5 jam sehari. selebihnya sama saja. Ibu tetap di hati Ahmad. :’)” 

–Ibu ketika menjawab kekhawatiran Ahmad (dan kami sekeluarganya), “Ibu akan tambah sibuk..”

ada yang lebih membuat termangu ternyata: ketika hari ini mendapati beliau yang setelah lelah seharian berkutat di gedung kura-kura hijau itu, masih sempatnya turun ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk Bapak.

ada perasaan haru sekaligus sedih karena ternyata saya hanya bisa menyimpan kekhawatiran tanpa  bisa berbuat banyak, sekaligus malu karena masih sering saja merasa kelelahan karena perjuangan yang belum ada apa-apanya. sekedar menjadi anker (anak kereta) newbie dengan durasi 4 jam PP dan berdiri berdesakan, disertai tumpukan perkara yang menanti di kantor, kecewa melihat fenomena ini dan itu, tentu tidak apa-apanya dengan kemacetan lalu lintas yang beliau temui, tumpukan RUU yang minta dibahas, tuntutan dan ekspektasi masyarakat yang menanti dipenuhi, perseteruan sembunyi maupun terang-terangan yang harus beliau hadapi.. dan jelas, perannya sebagai istri dan ibu yang melekat erat, serta pertanggungjawaban di akhirat kelak.. maka  banjir sudah genangan hati saya ketika membaca pesan sederhana beliau di bincang maya keluarga kami, 

“Kalau saja Rasulullah tidak pernah mengingatkan umatnya agar selalu bersandar dengan sandaran paling tinggi kepada Allah.. tidak akan pernah ada orang mu’min, suami istri mu’min, jama’ah yang terdiri dari orang-orang mu’min (yang) akan mengembalikan masalah mereka kepada Allah. Allah itu sumber ketenangan.. meski sangat  berat masalah yang dihadapi, sangat berat beban yang dipikul.. jika selalu menyandarkan dengan sepenuhnya pada Allah.. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya kehilangan solusi..”

–Ibu

—————————————————————————————————————————————

ada yang makin saya fahami setelah beberapa waktu terakhir mempelajari ragam perkara di kantor, mengangguk-angguk paham kenapa dulu Hukum Agraria begitu sangat ditekankan untuk dipelajari, mengapa Hukum Perdata dan Hukum Bisnis begitu menarik hati hampir tiga perempat mahasiswa hukum di setiap angkatannya, mengapa setiap tanggal 1 Mei menjadi hari yang sangat ‘sakral’ untuk para buruh..

karena kepentingan dan keinginan manusia yang memang asasi harus dipenuhi, untuk anak dan istri, tapi seringnya dituruti sehingga tak habis-habis, bertarung dan saling menelikung, kadang juga untuk saling berlindung.. atau singkatnya, untuk menyambung hidup atau menjemput masa depan yang lebih baik. tapi tidak sedikit pula yang lambat laun semakin pragmatis: mengejar kesenangan dunia yang semu dan tak habis-habis.. 

itulah kenapa untuk sepetak tanah di sudut Jawa Barat sana, seorang kakek tua rela datang jauh-jauh ke Jakarta karena tak rela atas ganti rugi penggusuran yang harus diterimanya. itulah kenapa ada kedatangan buruh yang berulang ke kantor untuk meminta bantuan advokasi hukum, agar tak jadi ‘korban’ pengunduran diri hasil fait a compli atasannya, dan minimal kalau tidak bisa bertahan di perusahaan tersebut, ia bisa keluar dengan setingkat lebih terhormat: PHK. itulah kenapa untuk pengurusan sebidang tanah agar diberi status hak milik, seorang notaris bisa dibayar puluhan juta.. itulah kenapa, setiap pasal di AD/ART perusahaan bisa menjadi sangat krusial untuk dipertahankan. itulah kenapa..

ah, bicara apa pula saya yang masih pekerja muda seperti ini?

sekali lagi: jika sudah kelelahan bersabar, maka bersyukurlah..

jika sudah kelelahan melihat ragam dunia yang bisa mendekonstruksi jiwamu, bersyukurlah masih diberi kesempatan melihat dan belajar dari sosok-sosok pejuang itu. yang rela berpeluh dan berkeringat untuk tak sekedar menyambung hidupnya sendiri, tapi menyambung hidup orang lain, memberi seluas-luas kemanfaatan bagi orang lain. berpikir keras bagaimana menghasilkan uang sekian digit dalam sebulan, menjemput masa depan yang lebih baik bukan  bagi dirinya sendiri dan deret keluarga terdekatnya, tapi juga masa depan yang lebih cerah bagi orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya sekalipun. jiwa mereka luas, dalam, kokoh, bukan karena merasa sudah memiliki banyak, tapi karena bercita-cita agar terus dapat memberi banyak.. 

ya, dari mereka saya belajar makna: mencintai adalah pekerjaan orang-orang kuat.

tendency

tendency

keberpihakan adalah akumulasi keping-keping kepercayaan yang disusun dalam waktu yang lama. hasil dari kepandaian kita membaca situasi, belajar dari pengalaman yang telah lewat, dan kemauan kita menanggung resiko sepahit apapun dari keputusan yang kita ambil.

keberpihakan pada akhirnya, adalah percaya, bahwa kebenaran mutlak hanya milik Empunya Jagat Raya dan Segala Isinya, dan segala macam skenario yang terjalin di dalamnya.

Salsa #2

Salsa #2

Ini kali kedua Salsa memasuki gedung itu. Nyaris tidak ada beda dengan kali pertama ia datang, masih dengan kerumunan wartawan di depan pintu masuk, dan pengamanan yang ketat di mana-mana. Bedanya adalah, kali pertama ia datang di tahun lalu, gedung ini beserta penghuninya menciptakan decak kagum yang luar biasa. Binar harapan yang sangat untuk menaruh percaya. Meskipun posisi Salsa masih sama dengan tahun lalu, seorang murid yang menemani gurunya bertandang, ada semacam degradasi kekaguman dan kepercayaan terhadap gedung di depannya sekarang.

ah, kalau begini, ke mana lagi ia harus meletakkan percaya?

“Nggak tahu Sa. Sejak dulu gw nggak pernah sepenuhnya percaya sama siapapun atau apapun dan selalu menyimpan ruang untuk skeptisisme. Yang gw lihat, situasinya udah terlalu keruh sekarang. Adalah masa depan yang insyaAllah masih bisa kita ubah. Harapannya jelas ada kok,” Terngiang-ngiang kata Rio beberapa waktu lalu. Antara merinding sekaligus prihatin ia mendengar ucapan rekan sekerjanya itu.

Melangkahkan kakinya beberapa jauh ke dalam, ia mengikuti kedua gurunya. Masih sama juga dengan tahun lalu, ia serahkan kartu identitas pengenalnya. Tapi berbeda dengan tahun lalu yang langsung ia lanjutkan dengan meneruskan ke lantai empat belas, saat ini ia diminta menyerahkan punggung tangannya untuk dicap. Tamu Rumah Tahanan.

Selesai urusan administrasi, ia kembali mengikuti langkah-langkah kedua gurunya keluar gedung. Bukan tempat ini yang jadi tujuan utamanya.

Setelah berputar-putar sejenak mencari arah, sampai sudah ia di depan bangunan tua itu. Susunan gedung berusia lanjut yang dibangun sejak pemerintahan Belanda itu semakin menimbulkan bersit penasaran di benaknya. Seperti apa sosok yang akan sebentar lagi akan kutemui? 

Timbul sedikit rasa gentar melihat kerumunan sosok berpakaian lengkap polisi militer yang tengah berbincang-bincang. Sebagian merokok, meminum kopi. Tidak ada raut ramah, tapi tidak juga terlalu seram. Ah, mereka juga manusia. Kau ingat novel yang kau baca sepanjang perjalanan tadi, Sa? Ya, kira-kira seperti itulah mungkin gambaran sebagian dari mereka. Jadi kau tidak perlu takut. Ayo, tegakkan langkahmu dan pertajam pandanganmu.

“Sa, ke arah sini Sa.” terdengar salah satu gurunya memanggil, mengembalikan fokus Salsa ke jalan di depannya. Ada banyak ilustrasi-ilustrasi mencengangkan yang Salsa lihat di sepanjang lorong gedung ini.  Grafis tentang kesatuan polisi yang tengah berlatih dengan anjing pemburu, peringatan-peringatan tegas untuk tidak melanggar kedisiplinan. Begini rupanya bentuk salah satu kesatuan penting yang menentukan roda negeri ini berputar..

Tiba di ujung lorong, akhirnya Salsa menemukan sosok yang sejak tadi ia cari-cari. Rupanya Salsa dan kedua gurunya bukan menjadi satu-satunya rombongan pengunjung yang datang pagi itu. Ada sekitar lima sampai delapan orang yang juga tengah mengelilingi aktor utama dalam cerita Salsa kali ini.

Lelaki berusia lima puluh tahunan itu ternyata jauh lebih kurus dari yang selama ini ia  bayangkan, atau ia lihat di ragam media dalam jangka waktu sebulan terakhir. Wajahnya jauh lebih bersahabat. Tenang dan santai. Tidak ada rasa jeri di rautnya. Sesekali humor dan kelakar renyah meluncur dari mulutnya.

“Mbak, itu handphone disimpan saja. Ada CCTV di sebelah situ.” Sembari menunjuk ke arah belakang Salsa, masih dengan nada yang ramah lelaki itu menegur Salsa. Setengah meringis dan tersenyum, Salsa buru-buru mengambil handphone di atas mejanya. Tadi di depan seingatku tidak ada larangan..

“Kemarin, saya dituduh menggunakan alat komunikasi karena ada banyak orang yang datang berkungjung ke sini. Padahal, pegang apapun saya tidak. Sampai akhirnya kunjungan yang datang tiap harinya dibatasi,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Suasana berubah sedikit serius ketika lelaki tersebut mengungkapkan perkembangan terakhir dari kasus yang tengah dihadapinya. Kursi-kursi terdengar berderak ketika didekatkan ke empunya cerita. Setiap pasang telinga mendengar baik-baik tuturan pelan dari lelaki tersebut. Terutama Salsa, ia berusaha penuh memasang indra pendengarannya, berharap tidak ada satupun kata yang terlewat.

Sekian menit.

Seketika, Salsa sadar bahwa kedatangannya kali ini pun tidak berbeda jauh dengan kedatangannya kali pertama ke gedung induk tadi, pada tahun lalu: sama-sama menyentil sisi emosi sekaligus logika rasionalnya.

“untuk kasus ini, political force nya memang besar  Mbak.” kali ini kata-kata Eka, juniornya di kampus dulu yang sempat magang di PPATK terngiang. Kalau melihat runtutan peristiwa yang nihil alat bukti, perkataan Eka semakin meyakinkan. 

“.. wa tarjuuna minallahi maa laa  yarjuun*. Saat ini kita berharap Allah yang turun langsung. Kita hadapi dengan profesional, profesional, dan perbanyak doa.” kata-kata penutup di ujung cerita lelaki tersebut membuat Salsa mengerjapkan matanya. Kelenjar air matanya bereaksi kembali. Kalimat terakhir yang ia dengar yang diiringi senyum tegar itu seperti meredam banyak pertanyaan yang memberontak di kepalanya.

Melangkah lebih tenang menuju kepulangan, ia melempar pandanganya ke langit siang Jakarta yang terik. Benar sekali Salsa, karena kau berharap pada Allah apa-apa yang tidak mereka harapkan..

Duduk di bangku mobil, ia buka kembali novel yang tengah di bacanya. Salah satu penulis favoritnya itu kali ini menghidangkan sebuah sajian istimewa, pas sekali dengan kondisinya saat ini. Entah apa yang akhirnya mengilhami sang penulis yang sebelumnya terkenal apatis terhadap politik itu meluncurkan dua novel bertema politik. Salsa baca berulang kali sebuah penggalan singkat dalam salah satu episodenya. Puisi seorang anak kecil untuk sang aktor utama, berisi pesan sederhana dari seorang ayah–salah satu aktor protagaonis dalam novel tersebut yang ditangkap polisi atas tuduhan korupsi tersebut–terhadap anaknya, adalah satu bagian paling mengharukan sekaligus menyentil Salsa dengan sangat dalam.

Nasihat Papa tentang Om Thomas**

Kata papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, 

jangan pernah berhenti peduli. 

Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit  menembus relung hati,

jangan pernah berhenti berbuat baik.

Anak-anakku, jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, 

membela kebenaran dan keadilan.

Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, 

membantu orang-orang lemah dan dilemahkan.

Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, 

dukung mereka sekuat tenaga. 

Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, 

seluruh beban akan terasa ringan. 

Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang,

yang bahu membahu menolong dalam kebaikan.

Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir, 

yang memilih jalan suci penuh kemuliaan. 

Percayalah, 

Dan jangan pernah berhenti percaya,

meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu

yang tetap percaya. 

*QS. 4: 104

** Negeri di Ujung Tanduk, Tere-liye