Pulang Ke Rumah

Pulang Ke Rumah

Kemarin, seorang ibu muda yang saya kenal di negeri Paman Sam, pamit di sebuah grup, “saya pamit pulang dulu ya.. ibu-ibu. Malam ini insyaAllah akan pulang ke Indonesia.” tentu saja beliau berpamitan di sebuah grup yang mayoritas isinya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, dalam hal ini Amerika.

Satu hal yang menarik dari pamitan beliau adalah ketika beliau menggunakan kata “pulang” ketika merujuk pada aktivitas kembali ke sebuah negeri yang terbentang jauh dari lokasinya saat itu. Pulang ke tanah air, tanah kelahiran, kampuang nan jauh di mato, homeland.

Kenapa bagi saya hal tersebut menarik? Karena bisa jadi, aktivitas kembali ke tanah air tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sebagian (besar?) orang yang sudah menghabiskan sebagian besar usianya, making a living, membesarkan  anak-anaknya (bahkan menikah, kemudian melahirkan anak pertamanya) di sebuah negeri di mana standar hidup seorang manusia menjadi sangat layak. Setidaknya pada standar dasar: udara yang bersih, air yang bersih, makanan yang kesehatannya dijamin dari pemerintah.

Pulang, menjadi suatu hal yang bisa jadi memberatkan bukan hanya karena biaya tiket perjalanan, tapi juga karena “beratnya” membayangkan apa yang akan dihadapi sesampainya di tanah kepulangan. Kemacetan, polusi, banjir, makanan yang dibumbui was-was dalam hati soal kesehatannya (ini gorengan dicampur plastik apa nggak ya? ini baso daging sapi apa daging yang lain?), inflasi yang tak sebanding dengan daya beli, tingkat keamanan yang rendah, de-el-el, de-es-be.

Rencana saya dan suami untuk coba menerapkan rihlah gembira sekaligus playdate alias silaturahim antar keluarga-keluarga kecil di antara teman-teman dan kerabat sepertinya menjadi tantangan yang cukup sulit untuk direalisasikan di Indonesia. Berbeda dengan rihlah gembira yang mudah dilakukan di sana, dua minggu sekali atau sebulan sekali, di tempat-tempat yang indah dan bersih dengan biaya masuk yang murah, membayangkan menempuh perjalanan ke suatu tempat yang berjarak 15 km dari tempat tinggal kami saja sudah pusing karena kemacetannya. -_-a

20160611_165005
Azima menatap kota Depok

Sepuluh hari menjejak kembali di tanah kelahiran, Indonesia, membuat saya berpikir ulang makna “pulang”.

Pulang, artinya menerobos segala kenyamanan yang didapat di negeri kunjungan, dan membawa kenyamanan itu sebagai kenangan untuk mengubahnya menjadi energi perubahan.

Menatap mobil yang berderet-deret menyesaki jalan Raya Bogor, Juanda, Margonda, sambil berulang menatap jam yang terus berputar, saat 15 km jarak ditempuh dalam rentang waktu nyaris 2 jam. Terbersit kenangan ketika suatu ketika diajak Mbak Gilda, ibu kontrakan tempat saya tinggal di US, ke Santa Cruz Beach, dengan jarak tempuh 112 km (sekitar 70 miles) dalam rentang waktu yang sama, sekitar 2 jam sahaja.

Atau ketika saya terheran-heran dengan banyaknya orang di sepanjang jalan selama saya di downtown Tokyo–sebuah kota yang sangat crowded, yang mau menempuh berkilo meter jalan kaki. Bapak dan abang-abang (?) muda dengan setelan jas siap ke kantor, tapi tak segan mengayuh sepeda menuju lokasi di mana mereka bekerja. Ibu-ibu yang membonceng anak balitanya di depan dan di belakang dengan sepeda yang memiliki bangku anak-anak yang aman, tampak sangat damai. Tidak diwarnai asap ibu kota dan stress kemacetan melihat deret mobil yang tak bergerak.

Kapankah tanah kelahiranku, Jakarta, (dan kini tanah kelahiran anakku, Depok) bisa seperti itu?

Pulang, berarti kita menuju sesuatu yang dirindukan. Karena ada sebagian atau seluruhnya hati yang tertinggal, di tanah kelahiran. Rindu adzan yang bersahutan, rindu akan tempat di mana Ramadhan menjadi bulan yang dirayakan, di mana ibu-ibu bisa mengajar anaknya melafaz dzikrullah di tempat umum tanpa harus dilihat aneh dengan tatapan dari-planet-mana-kamu-berasal atau apakah-kamu-teroris?, rindu bakso dan siomay bervetsin,  dan tentu saja rindu dengan keluarga, saudara-saudari, dan sahabat-sahabat yang sedikit banyak membentuk kepribadian kita sampai saat ini.

Meski berat dan payah, serta segudang amanah menanti diselesaikan, pulang menandakan kita masih punya kepedulian, masih punya perhatian. Pulang juga menandakan kita masih punya harapan, masih punya impian, agar tanah kelahiran menjadi tanah yang dapat (semakin) dibanggakan, menjadi ladang kebaikan sebelum kita benar-benar “pulang” .

Advertisements
means (2)

means (2)

“Kemewahan” bisa menjadi sangat relatif bergantung situasi dan seberapa besar kita mensyukurinya.

Setelah hampir 5 bulan di US, akhirnya saya berhasil membeli tempe pesanan dan mengolahnya sendiri. Membelinya pun tidak mudah, karena tidak banyak orang (dalam hal ini WNI) yang mengorbankan waktunya untuk berfokus membuat tempe, dan kemudian menjualnya dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi yang rutin. Kalau di Indonesia bisa dengan mudahnya menemukan sepotong tempe di tukang sayur, di pasar, setiap pagi setiap hari, orang-orang Indonesia di sini harus menunggu ketika ada yang membuatnya dalam jumlah yang massif, atau kalau punya waktu luang membuatnya sendiri dengan kesabaran yang ekstra: mengupas kulit kedelainya satu persatu, menunggu raginya berfungsi dan berubahlah kacang-kacang itu menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Jawa (saya baru tahu kalau ternyata tempe tidak terlalu digemari di dataran Sumatera :D).
Setelah memesannya lewat Mbak Tatin, seorang ibu baik hati yang membeli tempe dari produsen tempe yang berlokasi di San Jose (dari lokasi tempat tinggal saya ke San Jose dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam – 2 jam, lumayan yah), akhirnya tibalah 4 potong tempe tersebut di tangan saya. Mengulang kembali rutinitas masakan paling ringkas yang sering saya olah di Indonesia: tempe kecap. Pertama mencicipi tempe tersebut, rasanya enaaak, masyaAllah. 😅 Padahal resepnya biasa saja, pakai penyedappun tidak. Entah, apa mungkin karena faktor waktu memakannya setelah saya berpuasa seharian. Tapi sepertinya lebih disebabkan karena sulitnya menemukan panganan tersebut, menjadikan makanan sederhana tersebut terasa berbeda di lidah, lebih (me)wah. Harganya pun 10x lipat dari di Indonesia😅 Alhamdulillah ala kulli hal.. 😊

Bang San Thai, adalah nama resto Thailand halal favorit kami yang berlokasi di San Francisco. Pertama kali mencicipi panganan di sana ketika kami baru mendarat di tanah Paman Sam, dan dijemput sekaligus dijamu oleh Mbak Wiwid, seorang ibu baik hati berputra empat yang sudah bertahun-tahun tinggal di US untuk menemani suaminya yang bekerja di sini. Rasa hidangannya yang mengingatkan pada tanah kelahiran membuat kami (saya, suami dan Azima) berulang-ulang (setidaknya 2 minggu sekali) bertandang ke sana. Pun meski tidak mudah menjangkaunya dengan kendaraan umum, kalau sudah ingin sekali mencicipi nasi goreng dan sup tom kha di sana, jalan menanjak dari Islamic Society of San Francisco (tempat kami biasa shalat kalau sedang berperjalanan ke SF) sepanjang 1 KM pun kami tempuh jua. Dalam kondisi dingin, berangin, lelah menanjak dan berjalan, mencicipi masakan kaya rempah itu rasanya nikmaat benar. MasyaAllah..

Akira, adalah nama bocah berusia 11 tahun yang ditinggal pergi ibunya dengan kondisi sangat kekurangan, dan harus menjaga 3 orang adik-adiknya yang masih kecil. Ketika akhirnya kiriman uang dari ibunya tidak kunjung tiba, air dan listrik diputus dari pusat dan membuat mereka harus menjalani hari-hari di sebuah kamar sempit apartemen yang tidak layak untuk ditempati. Kertas pun menjadi penghibur yang dikunyah Shigeru, sang adik, karena tidak kuat menahan lapar. Shigeru yang rajin memeriksa kolong tempat kembalian minuman kaleng, kalau-kalau ada receh yang ditinggal pembeli dan bisa dikumpulkan untuk membeli sepotong nasi. Yuki, adik bungsu berusia 4-5 tahun yang akhirnya wafat karena tidak tertolong setelah jatuh dari kursi, sebab kakak-kakaknya tak punya cukup uang untuk membawanya berobat, pun harus menunggu cukup lama untuk dikuburkan (dan jenasahnya dimasukkan ke koper) di tanah yang jauh dari keramaian. Kisah nyata tentang kakak beradik di Jepang yang diangkat ke dalam sebuah film humanis berjudul “Nobody Knows” itu menyentil kesadaran saya betapa seringkali saya luput memperhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi suatu “kemewahan” untuk orang lain.

Ya, bahkan sebuah “kesyukuran” bisa menjadi suatu hal yang “mewah”.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)

Never Stands Alone

Never Stands Alone

Benak saya tergelitik ketika melihat Mata Najwa pekan kemarin. Episode bertajuk “Menatap yang Menata” itu merupakan salah satu episode yang paling saya tunggu-tunggu. Saya kesampingkan dulu semua teori bahwa media merupakan sarana pencitraan politik sesaat, saya hanya ingin menikmati harapan yang disajikan secara piawai oleh host bergaris wajah Arab itu, Najwa Shihab.

Meski terlambat mengikuti episode berdurasi 90 menit tersebut, saya bersyukur tidak tertinggal di sesi terakhir. Sesinya Bapak Walikota Bandung–yang akhir-akhir menyita banyak kalangan muda, termasuk saya, karena kreativitas dan keunikannya memimpin kota kembang tersebut. Gaya bicara dan jawaban beliau sederhana dan santai, lucu khas Sunda, tapi menukik dan tidak terkesan diplomatis-politis.

Sesi bincang-bincang ringan tapi bernada tajam itu membuat saya senyum-senyum; bandul yang bergerak di antara cemas dan harap, berdoa semoga beliau dikuatkan untuk mengemban amanah teresebut. Tapi ketika sesi itu berakhir dan lagu berlirik Inggris mulai terdengar sebagai soundtrack penutup, kening saya dibuat berkerut ketika melihat resume singkat seluruh pengisi acara di episode itu: Kang Emil dan dua pemimpin daerah yang namanya belum familiar di telinga saya, yakni Pak Suyoto (Bupati Bojonegoro) dan Pak Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng). Bantaeng di mana pula itu? Saya segera menoleh dan bertanya ke Bapak yang tidak jauh dari saya. Oh, Sulawesi Selasatan! Ah, malulah kau Fah, di mana ke-Indonesia-anmu itu? 😀 Syukurlah kau punya Bapak yang sudah menjelajah hampir separuh dunia.

Sepintas, saya membaca profil singkat mereka. Pak Nurdin dan Pak Suyoto adalah incumbent yang menurut versi Najwa mampu membawa banyak perubahan signifikan selama beliau berdua memimpin daerahnya masing-masing, berbeda dengan Kang Emil yang baru sekitar lima-enam bulan memimpin Bandung. Titik kesamaannya yang membuat saya tertarik adalah, latar belakang mereka bertiga yang tidak terlalu kental dengan aroma politik praktis, tapi justru akrab dengan dunia akademis dan profesi. Bertahun-tahun mereka membangun karir di dunia yang secara tidak langsung mendapat imbas dari efek besar politik suatu rezim, tapi tidak terlalu kentara benang keterlibatannya. Lantas, pertanyaan yang menggelitik benak saya saat itu adalah: bagaimana bisa orang-orang dengan tipikal lurus (saya sering menyebut para politisi praktis itu seperti pelaku jalan yang berkelok-kelok, :D) seperti itu mampu muncul ke permukaan dan memiliki kuasa atas wilayah tertentu, mampu bertahan cukup lama, dan membuat terobosan-terobosan baru yang bermanfaat bagi daerah yang dipimpinnya?

Saya merumuskan sebuah sintesa singkat yang menghasilkan kesyukuran tersendiri di otak saya; mereka mampu maju dan kemudian membawa banyak perubahan, pastilah bukan sebagai produk one man show atau titisan ksatria piningit-godotnya masyarakat Indonesia yang banyak mengendap di sebagian khalayak masyarakat. Tapi saya yakin, mereka adalah hasil kerja kolektif dan panjang yang telah dimulai oleh orang-orang terdahulu. Di balik mereka, masih ada, masih banyak bahkan, orang-orang baik yang kuat, yang berusaha keras, memupuk kesabaran untuk menempuh jalan panjang, memelihara bibit-bibit penerus yang diharapkan akan membawa perubahan di masa depan, tidak berhenti berharap semoga Tuhan berkenan membuka pintu-pintu takdir kebaikan. Akumulasi orang-orang baik, berani mengambil resiko, yang bersatu, kemudian bertemu momentum itulah, kemudian kita sebut dengan kemenangan. Kemenangan bersama.

Because, the winner never stands alone. 

Jangan pernah meremehkan sekecil apapun kontribusi kebaikan kita untuk cita-cita kebangkitan negeri ini. Meski hanya dengan terus mendukung orang-orang baik, berani, untuk tetap kuat di pos-pos perbatasan penjagaan negeri ini. Pos perbatasan yang mungkin sekedar membayangkan untuk menempatinya saja kita tidak berani..

keep planting..

keep planting..

Pagi yang masih cerah. Bincang-bincang dua rakyat jelata. 

Sebuah pesan WA masuk dari gadis ‘satu marga’ itu . Link singkat yang merujuk ke sebuah artikel panjang tentang salah seorang kepala daerah.

“Udah baca ini?”

“Beberapa kali lihat kutipannya, tapi belum baca sampai tuntas. Kenapa Fraw?”

“Makin nggak ngerti dengan dunia ini, Fah. Nggak tau diri ini musti jadi apa untuk bisa mengubah kondisi serunyam ini.”

beberapa menit.

“Aku baru selesai baca. Satire, hehe. Dapat perspektif lain, ada benernya mungkin, tapi sebagian terlalu ‘membunuh’ optimisme. Jadi ‘cukup tau aja’, yang nulis sosialis sih :p. Ya kali, revolusi. -_- revolusi yang nggak selesai jadinya kayak di Mesir. Negara dalam negara..” tulisan panjang itu ditulis oleh orang berkebangsaan asing, dari nama dan backgroundnya saya jadi punya gambaran awal kira-kira latar apa yang mendorongnya menulis setajam itu.

“cuma fakta di balik permukaan itu bikin aku nggak habis pikir.. tapi memang ‘sabar itu harusnya nggak ada batas :)’ Kalau mau ada perubahan, memang harus sabar dalam membenahi hal-hal yang prinsipil dulu. Nggak bisa dapat hasil yang cepat. #katatarbiyahbegitu”

“terlalu naif kalau kita menutup mata dari kepentingan bisnis. ****** dan **** terlalu “too good to be true”. Cuma aku jadi kebayang Kang Aher dan Kang Emil aja.”

“yup, sama..”

“Arus yang mereka hadapi deras, tapi apa kemudian kita juga apatis sama mereka?”

——————————————————————————————-

siang yang terik, menyimak bincang ringan seorang kepala daerah yang ditemani istrinya itu dengan presenter berita tivi biru.

“Kenapa anda meminta kekuatan?” presenter tivi dengan nadanya yang khas itu bertanya kepada perempuan berkerudung di hadapannya.

“.. karena kalau sudah terjun itu kan harus berenang. Kalau berenang harus sampai di tempat tujuan, sementara arusnya sangat deras. Itulah kenapa saya mohon (pada Allah) kekuatan (untuk Kang Emil)” Atalia Praratya, istri Walikota Bandung Ridwan Kamil itu menjawab lugas.

adakah yang lebih buruk daripada pencuri harapan dan optimisme? maka menjaga keduanya–harapan dan optimisme adalah salah sumber energi terbesar agar terus bergerak dan memberi, dan terus berharap pada Allah yang tidak akan menyalahi janji-Nya. 

“Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Dari Balkon Atas

Dari Balkon Atas

Malam itu adalah kedua kalinya saya menyaksikan lobby DPR dan ruang sidang penuh, bukan oleh wakil rakyat yang lazim dan seharusnya ada di sana. Setelah riuh rendah di balkon ruang sidang paripurna ketika pengesahan UU APBN-P beberapa waktu yang lalu–yang berimplikasi terhadap kenaikan harga BBM, saya kembali menyaksikan bahwa salah satu cara termudah untuk memobilisasi massa dalam waktu yang relatif singkat, dengan emosi yang terpancing adalah dengan menyinggung hak dasar: pangan.

Ada sekitar seratus sampai dua ratus orang yang menyemut di lobby utama gedung Nusantara I, dengan mayoritas bergaya khas eksekutif dan berpakaian rapih. Cukup membuat saya dapat menyimpulkan perkara apa yang sedang saya coba pelajari malam ini. Bapak-Bapak maupun Ibu-Ibu kisaran 40-50an, lajang maupun gadis dengan kisaran usia 20-30an, sampai anak-anak yang dibawa orang tuanya. Raut muka dari wajah-wajah yang mayoritas bergaris oriental itu menyiratkan emosi yang tengah memuncak: marah bercampur kesal. Sebagian beradu argumen dengan bagian keamanan, bersikeras masuk ke ruang balkon di lantai atas yang juga sudah penuh sesak.

Saya bolak-balik menelpon salah satu rekan di kantor yang sudah stand by di balkon atas. Beberapa kali merapikan blazer, berusaha meyakinkan petugas keamanan bahwa saya punya hak untuk masuk. Begini memang serunya bekerja atas nama kantor, tanpa menggunakan banyak akses khusus (kecuali pintu masuk di lantai basemen :D), saya jadi belajar artinya berjuang meraih sesuatu. Nyaris putus asa karena pamdal tidak juga memberikan izin masuk, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung bersama kerumunan nasabah yang menyemut di depan ruang rapat Komisi XI. Di hadapan mereka ada layar besar yang menampilkan kondisi ruang rapat yang masih riuh, rapat dengar pendapat itu belum juga dimulai. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mungkin kira-kira ini seperti ini pula situasi detik-detik jelang bail out Bank Century–setidaknya seperti itu yang digambarkan oleh Bang Tere dalam novel fiksi politiknya, :D, ratusan nasabah yang datang dan menuntut harta mereka dikembalikan. Sayangnya Thomas hanya tokoh rekaan, sementara chaos sosial ekonomi serombongan orang di depan saya adalah serupa nyata, ilustrasi bahwa negeri ini benar ada di ujung tanduk.

Beberapa menit berdiri di jejeran nasabah, tiba-tiba handphone bergetar, suara rekan kantor di seberang sana mengabarkan bahwa akan ada pamdal yang akan menemani saya untuk memberi jalan masuk. Benar saja, “Mbak Afifah?” seorang pamdal menghampiri saya.

“Benar Pak,”

“Mari Mbak,”

Bergegas saya mengikuti pamdal tersebut. Dalam hitungan menit, tibalah saya di balkon yang memang sudah penuh, suasana riuh. Usai bertegur sapa dengan rekan sekantor yang sudah di sana, segera saya mencari celah untuk sekedar berdiri menyimak dan mencatat hal-hal penting. Tidak lama kemudian terdengar suara tegas sang ketua komisi, pertanda rapat sudah dibuka, dan menyebut satu persatu pihak-pihak yang hadir.

Saya mulai sibuk mencatat, cukup banyak ternyata yang hadir. Ketua Komisi yang didampingi oleh beberapa anggota Komisi XI, OJK, BKPM, Satgas Waspada Investasi, DSN MUI, Kabareskrim Polri, Deputi Gubernur BI, dan dua aktor utama malam itu: direktur dua perusahaan investasi (atau jual beli?) emas yang diduga melakukan penipuan pada nasabahnya.

Rapat dengar pendapat dimulai dengan mendengarkan penuturan direktur perusahaan pertama (sebutlah perusahaan A). Logat Melayu yang kental, penjelasan yang berusaha terang tapi tetap terdengar separuh khawatir, dan sahutan memojokkan dari orang-orang di sebelah saya membuat saya menggeleng-gelengkan kepala.

“Jadi apa yang anda maksud dengan jual beli emas fisik syariah?” seorang anggota Komisi memotong penjelasan direktur berkebangsaan Melayu itu. “Karena yang saya tahu, adalah ijab-kabul di tempat, fisik barang diserahkan, setelah itu selesai. Tidak dikenal apa itu kewajiban menyerahkan “athoya”. Bonus hanya dapat diberi ketika ada untung, tidak ketika rugi.”

“Jadi izin apa yang anda punya untuk membuka usaha di sini Pak?” pertanyaan selanjutnya dari anggota yang lain.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih dijawab dengan jawaban-jawaban yang membuat saya mengernyitkan dahi. Tidak ada izin. Mekanisme yang menyimpang dari prinsip-prinsip syariah..

Belum lagi ketika direktur perusahaan kedua (sebutlah perusahaan B), giliran menjelaskan. Penuturan seorang Bapak tua dengan suaranya yang terpatah-patah: direktur utama sebelumnya melarikan diri dengan membawa sejumlah uang nasabah, ketidaktahuannya bahwa ada transaksi non-fisik emas yang sebetulnya dilarang dalam Islam, diserahkannya jabatan direktur utama padanya oleh presiden komisaris, tanggung jawab yang harus dipikulnya untuk berusaha mengembalikan semua modal awal nasabah dan athaya (bonus) pada semua nasabah. Simpulan singkat di kepala saya saat itu: bapak tua yang awalnya perwakilan Dewan Syariah Nasional MUI untuk mengawasi perusahaan investasi yang mengatasnamakan syariah itu tidak lain adalah tumbal perusahaan.

“Alaah, bilang aja, udah dimakan uangnya sama dia!” seorang ibu muda bergaris wajah oriental yang duduk di sebelah saya menggerutu keras. Wajahnya kesal.

“Ibu nasabah dari **** juga?” saya bertanya pelan sambil mencoba tersenyum maklum. Beberapa menit rapat berlangsung, perlahan saya dapat terus maju ke bagian depan balkon, mendapat posisi yang tepat untuk menggali banyak informasi dari nasabah. Mencoba melihat duduk perkara dari ragam sudut.

“Iya Mbak, saya nasabah **** dan ****.”

“Inves banyak juga ya Bu, di sana? Udah ada bonus yang dibayarkan ke Ibu belum sepanjang masa kontrak?”

“Iya Mbak, udah sebagiannya, tapi sejak bulan Maret sampai sekarang belum dibayar. Janji-janji aja itu direkturnya mau dibayar, bohong tapi! Udah, saya mah nggak ngarepin bonusnya, asal modal awal saya udah balik aja, udah gapapa.” Beruntut ibu itu bercerita. Saya melihat ke ibu muda di sebelahnya, wajah khas Jawa. Belakangan saya tahu, ratusan nasabah yang hadir sekarang bukan hanya dari Jabodetabek, tapi ada yang dari daerah yang jauh di seluruh Indonesia. Mereka yang mengorbankan jarak yang jauh dan waktunya sampai selarut itu untuk menuntut kejelasan harta mereka.

Sementara di bawah, kesempatan memberi penjelasan di antara perwakilan lembaga terkait sudah dipergilirkan. BKPM yang mengaku hanya memberi izin sebatas izin prinsip, bukan izin usaha, dan lantas segera memberi peringatan kepada perusahaan A yang telah melanggar izin yang berlaku, OJK yang lepas tangan karena mengaku bukan merupakan ranah dan kewenangannya, Kabareskrim yang sebatas bertanggung jawab terhadap ranah yang sudah jelas pidana, serta ketidakjelasan sebetulnya perkara ini ada di ranah siapa, menambah kekecewaan para nasabah.

“Kasus ini sebetulnya simpel aja kan, perdagangan komoditi, ada penjual tidak transparan (bahkan ilegal-pen), dibungkus oleh nama syariah, pembeli yang mudah percaya. Sudah, ini penipuan.” seorang anggota dewan menyimpulkan.

“Udah, ditangkap aja Pak!” lelaki berpakaian eksekutif di belakang saya berteriak . Gerutuan dan sahutan bernada keras lainnya bersahutan. Telinga saya panas.

Mendadak, terdengar suara keras dari deretan anggota. “Saya peringatkan ya! Ini lembaga terhormat! Kalau sekali lagi ada yang menjelekkan atau ribut, kita tutup saja rapat dengar pendapat ini! Petugas keamanan, mohon ditertibkan yang ribut-ribut itu!”

Sontak balkon hening. Bisik-bisik terdengar, “sudah, biarkan aja bapak itu. kita jadi tahu kan mana yang bela rakyat mana yang nggak.”

“Fungsi anda sebagai pengawas mana selama bertahun-tahun perusahaan itu menjalankan usahanya?” masih pertanyaan yang memojokkan entitas ulama di Indonesia itu.

“Habis gimana ya Mbak,” Ibu-ibu di sebelah saya kembali bercerita, “kita mah percaya aja kalau sudah pakai asas syariah, ada izin dari MUInya juga. Okelah kita ini bodoh. Tapi kalau bisa ada yang dilakukan pemerintah supaya ke depannya nggak ada lagi yang kayak gini ini. Saya juga pesimis sebenernya uang saya bisa balik, tapi kalau misalnya dipenjara, setidaknya bisa ngasih efek jera buat yang lainnya.”

Saya mengangguk-angguk (lagi-lagi) mencoba tersenyum maklum, plus miris. Penjara?

Miris melihat kata ‘syariah’ dan ‘Islam’ menjadi jatuh martabatnya karena tindakan oknum, mungkin juga didukung ketidaktahuan, mismanejemen.. dan kecenderungan umum masyarakat untuk mendapatkan uang dalam waktu yang relatif cepat tanpa banyak berpeluh. Asumsi awal saya sedikit satire, karena mengetahui bahwa untuk membeli sebatang emas bukanlah dengan jumlah uang yang sedikit, dan orang-orang banyak ini rela ‘mempertaruhkan’ puluhan hingga ratusan juta untuk kembali mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu yang relatif singkat. Tapi ketika melihat wajah-wajah lain dari daerah jauh yang juga harap cemas, saya melebarkan rentang asumsi: mungkin ini bukan sekedar pemenuhan kebutuhan tersier, tapi juga bisa jadi hidup mati mereka, uang yang dikumpulkan sekian lama dan untuk kebutuhan primer/sekunder mereka. Untuk makan, sekolah anak-anak mereka, mungkin, atau untuk membangun rumah yang lebih baik untuk keluarga mereka.

Malam sudah semakin larut, sebagian nasabah sudah ada yang menyerah dan lelah dengan semua perdebatan berputar-putar, tanpa ada kejelasan bagaimana ujung nasib dari uang mereka. Saya melirik jam, sudah saatnya segera pulang. Setelah mengirim pesan kepada rekan sekantor yang masih memungkinkan untuk tinggal lebih lama, saya bergegas pamit pada ibu-ibu di sebelah, dan membalikkan langkah, menuruni tangga keluar.

Terngiang komentar singkat seorang kawan ketika rusuh BBM beberapa bulan lalu menimbulkan pro-kontra  di banyak kalangan. Pencabutan subsidi yang berefek pada melambungnya harga-harga. Saya sedikit kesal atas komentarnya yang cenderung pro terhadap pencabutan subsidi dan lebih memprioritaskan alokasi dana untuk sektor lain.

Kira-kira begini komentarnya, “Yang penting harus ada itu karakter untuk terus berjuang di tengah kesulitan, bukan hanya terus diberi kemudahan dan akhirnya justru melenakan”

Beberapa bulan kemudian saya baru faham, ketika meletakkan komentarnya dalam perspektif kasus investasi emas ini, saya mengakui bahwa ada kalanya kecenderungan untuk mendapat banyak keuntungan/kesenangan dengan sedikit peluh usaha dan dalam waktu yang relatif singkat, akan pelan-pelan berubah jadi bumerang yang memukul kita sendiri.

Kunci kebahagiaan ada pada kesyukuran, kunci kesyukuran ada pada ketundukan pada Maha Pemberi Rezeki, kelapangan yang muncul setelah bekerja keras mengikhtiarkan kebaikan-kebaikan.

Mengingat kejadian malam itu, telinga saya yang panas ketika melihat Islam dan para elit lembaga diolok menjadi teguran dan pembelajaran tersendiri bagi saya, kalau belum bisa banyak memberi kontribusi positif untuk bangsa, mudah-mudahan saya tidak turut serta dalam penghancuran apa-apa yang telah dibangun oleh para penyeru kebaikan, oleh para pejuang kemerdekaan.

yang mengakar

yang mengakar

Momen yang paling saya ingat dari tanggal 17 Juni yang lalu, selain sebagai titik penting dan multiplier effect bagi perjalanan bangsa ini ke depan, adalah saat saya menyaksikan rentetan yang terjadi setelah keputusan akhir pengesahan RAPBNP itu dengan mata kepala langsung, dalam radius sekian meter.

Duduk sebagai salah satu anggota fraksi balkon di deretan tengah, saya menyimak dengan dahi mengernyit perdebatan di bawah, saling riuh interupsi yang terjadi di antara empat ratusan kepala dengan ragam kepentingan dan ideologi itu. Alot. Sesekali saya menengok gadget, berusaha membagi keresahan dan kebingungan dengan beberapa kawan lewat perantara dunia maya, berusaha mencari titik terang dan sisi positif atas kecenderungan keputusan yang ‘sudah-sama-sama-tahu’.

‘Drama semua itu Fah. Haha.’

Saya nyengir prihatin mendapati komentar satir seorang kawan yang setahun lalu jadi salah satu aktor utama dalam scene serupa.

‘Separuhnya mungkin drama, tapi saya yakin masih ada yang benar-benar..’

ya, masih ada yang benar-benar berusaha berjuang. setidaknya saya masih mendapati kelurusan pandangan itu pada tatap jerih wanita paruh baya, yang sosoknya ada di antara empat ratusan kepala di ruang sidang utama.

Waktu mendekati sepuluh malam, rusuh-rusuh interupsi sudah mulai teredam, voting dilakukan, dan saya tahu drama ini akan mencapai klimaksnya. Saya melirik ke arah tribun di sayap kiri, beberapa mahasiswa dengan jaket almamater beragam–kuning, hijau, biru tua mulai terlihat duduk dan merapatkan barisan. sebagiannya adik-adik tingkat yang saya cukup tahu persis tumbuh kembang mereka. Hampir satu bataliyon pamdal berjaga-jaga, diturunkan ekstra dalam jarak sepelemparan batu dari mereka.

tok tok tok, Bapak pimpinan sidang berkacamata dari partai biru itu mengetuk palu,  dan fiks, RAPBNP itu sah sudah menjadi UU baru.

sepersekian detik, serentak reaksi dari sayap kanan dan kiri berhamburan. tapi yang paling cepat, sayap kiri: berdiri, memeluk antarbahu, dan bernyanyi keras,

“kuuulihat Ibu pertiiwiii, seeedang bersusah hatiii” 

druk.. druk.. druk.. pamdal sontak menyerbu, menyeret, berusaha meredam keributan.

“HEY! JANGAN PAKAI KEKERASAN!” satu suara di belakang saya berteriak, “JANGAN PAKAI KEKERASAN!” bergerak dan setengah berlari.

“aaiir matamu berliiinaaangg, maas intanmu terkenaaang,,”

“HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!”

dan sayap kanan mulai bergerak dan berlari, “HIDUP BURUH! HIDUP BURUH!”

saya menahan napas, mematung, kaki bergerak.. dan akhirnya hanya bisa merutuki diri sendiri.

Allah, andai bisa.. 

tidak sampai lima menit, para penghuni tribun sayap kiri langsung lenyap, sementara orang-orang dengan slayer merah masih berteriak-teriak “HIDUP BURUH! HIDUP BURUH!” dan memaki-maki anggota dewan yang sudah mulai menutup persidangan. penjagaan ekstra ketat dan berlapis sebelum memasuki area ini agaknya cukup berhasil, dengan ketiadaan aksi lempar-lempar: air maupun benda tajam. Tapi kemarahan tetap butuh ruang untuk dimuntahkan..

sekian menit, sudah mulai senyap, saya mulai turun, melangkah gontai, kemudian mempercepat langkah, harus segera memastikan anak-anak muda berjamal itu masih baik-baik saja. turun, ke kanan dan ke kiri, bertanya ke sana dan ke sini, dan nihil. Sementara sidang sudah resmi ditutup. Itu artinya waktu kepulangan saya semakin dekat.

Saya melongok ke bawah meja pemeriksaan terakhir, dua kantong kresek berisi bungkusan nasi uduk dan pecel ayam itu masih ada. Amanah Ibu yang belum tuntas saya tunaikan.

“Pak, itu punya BEM UI kan ya?”

“Iya Mbak, belum ada yang ambil lagi dari tadi, ini nomornya masih ada,” pamdal yang saya tanya mengecek keberadaan nomor penitipan.

Allahu ya kariim, bahkan mereka belum sempat makan dari siang..

Terburu-buru saya keluar dan mencari sosok Ibu, menanyakan pendapatnya. Seperti yang saya duga, beliau heran kenapa nasi bungkus-nasi bungkus itu belum tersentuh. Sisa raut lelah dan sedihnya pasca melihat aksi dorong-dorongan di balkon masih ada. “Ibu bayangin anak-anak Ibu sendiri..” Akhirnya, diputuskan nasi itu saya usahakan untuk diambil, entah akan dibagi lagi di jalanan atau bagaimana.

Tergesa berjalan, saya masih berharap nasi-nasi ini benar-benar sampai pada tujuan awalnya.

“Pak, tadi anak-anak mahasiswa yang pada didorong keluar sekarang di mana ya?” satu-satunya yang kemungkinan besar paling tahu ya para pamdal ini.

“wah, tadi sih masih di depan lobby Mbak,” satu orang pamdal menjawab cepat.

“Sebelah mana ya Pak? ini Pak, ini makanan mereka, mau saya antarkan ke mereka,”

“oh, gitu Mbak, saya bawakan sini Mbak, ” belum sempat saya menjawab, pamdal itu sudah bergerak mengambil dua plastik besar itu dan berjalan menuju eskalator ke lantai dasar.

berpapasan beberapa kali dengan pamdal lainnya, mereka bertukar informasi tentang lokasi persis di mana sekumpulan mahasiswa itu berada.

“mereka tadi nggak kenapa-napa kan ya Pak?” saya membuka dialog sambil berjalan di tengah keramaian.

“nggak Mbak, itu tadi cuma tarik-tarikan sedikit aja, wartawan aja suka berlebihan bilangnya,”

“serius Pak, nggak ada yang luka? nggak ada yang kena pukul? nggak ada yang ditangkep polisi?”

“nggak Mbak, bener deh, paling kedorong-dorong aja, abis itu mereka kan langsung pada dipaksa keluar,” wajah pamdal A (sebutlah begitu) itu terlihat sungguh-sungguh.

sudah melewati lobby, dan sampai di depan gedung, “wah, mereka baru aja pada jalan ke depan tuh,” kawan sesama pamdal (pamdal B, sebutlah begitu) yang tengah duduk di atas motor memberi informasi. saya menerawang ke depan, gelap.

“jauh Pak?”

“lumayan Mbak. Udah ya Mbak, ini nasi dianter sama temen saya ini aja,” Pamdal A menunjuk ke Pamdal B, “B, anter nasi ini ya ke mahasiswa yang tadi, udah pada di depan kayaknya”

saya terpengarah. sampai sebegitunyakah mereka ini? orang-orang yang beberapa menit lalu dengan sikap dingin dan tegas tampak melakukan tindakan anarki ke kalangan mahasiswa itu tiba-tiba berubah menjadi perantara rezeki Allah dengan bawaan yang hangat dan tulus.

kemudian saya hanya mengangguk-angguk, mengingat malam yang sudah makin larut dan Ibu yang menunggu di tempat parkir.

setelah memastikan amanah sampai pada yang berhak, dan adik-adik itu baik-baik saja, saya segera berbalik pulang, menyusuri pelataran gedung yang makin sepi dengan tercenung-cenung.

sampai di parkiran dengan menatap pamdal-pamdal yang berjaga dengan tatapan ambivalen yang meredup: pada faktanya mereka benar-benar hanya manusia biasa yang masih punya nurani, dan hey, merekalah yang nantinya (mungkin) akan paling merasakan dampak ketokan palu dari sahnya kebijakan hari itu! ya, tapi toh mereka hanya mengoptimalkan peran kan?

malam itu setidaknya saya kembali belajar hal klasik yang sangat substansial: apa yang tampak di kulit dan hanya sepintas kau tangkap tidak seutuhnya mencerminkan kondisi keseluruhan. karena kadang perseorangan kita harus memainkan multiperan, dan mungkin sistem yang membelitmu akan menjadikan wajahmu tampak tak sungguhan, bisa lebih tampak bersinar atau makin suram, tapi percayalah, nurani yang kau jaga agar terus mengakar akan membawamu pada jalan-jalan kebaikan..

 

 

Because We Want to Go Far!

Because We Want to Go Far!

Saya membayangkan, seandainya ada empat orang sahabat semasa kuliah, sebutlah misalnya Ahmad, Ismail, Yusuf, Andi, di empat bidang keilmuan yang berbeda, dan akhirnya selepas lulus memilih empat lahan kontribusi yang berbeda juga, maka kolaborasi kebaikan di antara mereka berpeluang besar akan menjadi sesuatu yang unik dan terus memberi gelombang perbaikan.

Ahmad yang mendalami kapasitas syari’ah sekaligus keilmuan eksak akhirnya memilih menjadi dosen–penjaga kemurnian ilmu yang meluruskan, kemudian Ismail yang berlatar belakang sosial bergerak di dunia LSM–pembela garis terdepan grass root, Andi yang mendalami dunia bisnis dan perusahaannya–sipil yang mengkonstruksi, dan Yusuf dengan kapasitas hukumnya bergerak di dunia penegakan hukum–tangan yang ‘destruktif’ (menghancurkan keburukan), tercebur dalam sistem, melihat dan terlibat langsung ke sebuah bagian yang paling sering diserang masyarakat sipil.

Suatu waktu mereka berkumpul lagi, atau mungkin dalam satu lintas komunikasi mereka berbincang, tarik menarik dan saling mengkritik dan mengingatkan, pada akhirnya mereka saling memahami: tangan setiap mereka terlalu kecil untuk memperbaiki negeri tercinta sendirian, karenanya mengumbar senyum dan semangat–seberat apapun beban di pundak atau sekesal apapun dengan fenomena di hadap, itu lebih baik daripada menghujat dan berdebat.

Ya, bahwa di luar maupun di dalam sistem ada tantangannya, itulah sebab terus melihat visi besar bersama di depan akan lebih menguatkan dan menjaga langkah tetap beriringan, bukan saling sikut dan menyalahkan..

seperti yang diungkapkan dalam sebuah quote, “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together”