means (2)

means (2)

“Kemewahan” bisa menjadi sangat relatif bergantung situasi dan seberapa besar kita mensyukurinya.

Setelah hampir 5 bulan di US, akhirnya saya berhasil membeli tempe pesanan dan mengolahnya sendiri. Membelinya pun tidak mudah, karena tidak banyak orang (dalam hal ini WNI) yang mengorbankan waktunya untuk berfokus membuat tempe, dan kemudian menjualnya dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi yang rutin. Kalau di Indonesia bisa dengan mudahnya menemukan sepotong tempe di tukang sayur, di pasar, setiap pagi setiap hari, orang-orang Indonesia di sini harus menunggu ketika ada yang membuatnya dalam jumlah yang massif, atau kalau punya waktu luang membuatnya sendiri dengan kesabaran yang ekstra: mengupas kulit kedelainya satu persatu, menunggu raginya berfungsi dan berubahlah kacang-kacang itu menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Jawa (saya baru tahu kalau ternyata tempe tidak terlalu digemari di dataran Sumatera :D).
Setelah memesannya lewat Mbak Tatin, seorang ibu baik hati yang membeli tempe dari produsen tempe yang berlokasi di San Jose (dari lokasi tempat tinggal saya ke San Jose dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam ‚Äď 2 jam, lumayan yah), akhirnya tibalah 4 potong tempe tersebut di tangan saya. Mengulang kembali rutinitas masakan paling ringkas yang sering saya olah di Indonesia: tempe kecap. Pertama mencicipi tempe tersebut, rasanya enaaak, masyaAllah. ūüėÖ Padahal resepnya biasa saja, pakai penyedappun tidak. Entah, apa mungkin karena faktor waktu memakannya setelah saya berpuasa seharian. Tapi sepertinya lebih disebabkan karena sulitnya menemukan panganan tersebut, menjadikan makanan sederhana tersebut terasa berbeda di lidah, lebih (me)wah. Harganya pun 10x lipat dari di IndonesiaūüėÖ Alhamdulillah ala kulli hal.. ūüėä

Bang San Thai, adalah nama resto Thailand halal favorit kami yang berlokasi di San Francisco. Pertama kali mencicipi panganan di sana ketika kami baru mendarat di tanah Paman Sam, dan dijemput sekaligus dijamu oleh Mbak Wiwid, seorang ibu baik hati berputra empat yang sudah bertahun-tahun tinggal di US untuk menemani suaminya yang bekerja di sini. Rasa hidangannya yang mengingatkan pada tanah kelahiran membuat kami (saya, suami dan Azima) berulang-ulang (setidaknya 2 minggu sekali) bertandang ke sana. Pun meski tidak mudah menjangkaunya dengan kendaraan umum, kalau sudah ingin sekali mencicipi nasi goreng dan sup tom kha di sana, jalan menanjak dari Islamic Society of San Francisco (tempat kami biasa shalat kalau sedang berperjalanan ke SF) sepanjang 1 KM pun kami tempuh jua. Dalam kondisi dingin, berangin, lelah menanjak dan berjalan, mencicipi masakan kaya rempah itu rasanya nikmaat benar. MasyaAllah..

Akira, adalah nama bocah berusia 11 tahun yang ditinggal pergi ibunya dengan kondisi sangat kekurangan, dan harus menjaga 3 orang adik-adiknya yang masih kecil. Ketika akhirnya kiriman uang dari ibunya tidak kunjung tiba, air dan listrik diputus dari pusat dan membuat mereka harus menjalani hari-hari di sebuah kamar sempit apartemen yang tidak layak untuk ditempati. Kertas pun menjadi penghibur yang dikunyah Shigeru, sang adik, karena tidak kuat menahan lapar. Shigeru yang rajin memeriksa kolong tempat kembalian minuman kaleng, kalau-kalau ada receh yang ditinggal pembeli dan bisa dikumpulkan untuk membeli sepotong nasi. Yuki, adik bungsu berusia 4-5 tahun yang akhirnya wafat karena tidak tertolong setelah jatuh dari kursi, sebab kakak-kakaknya tak punya cukup uang untuk membawanya berobat, pun harus menunggu cukup lama untuk dikuburkan (dan jenasahnya dimasukkan ke koper) di tanah yang jauh dari keramaian. Kisah nyata tentang kakak beradik di Jepang yang diangkat ke dalam sebuah film humanis berjudul ‚ÄúNobody Knows‚ÄĚ itu menyentil kesadaran saya betapa seringkali saya luput memperhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi suatu ‚Äúkemewahan‚ÄĚ untuk orang lain.

Ya, bahkan sebuah ‚Äúkesyukuran‚ÄĚ bisa menjadi suatu hal yang ‚Äúmewah‚ÄĚ.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)

why do bad things happen?

why do bad things happen?

Di pengajian dwi pekanan east bay beberapa hari yang lalu, ada salah seorang Ibu muda yang bercerita bahwa terdapat sekitar 40 % masyarakat Amerika yang menenggak pil penenang sebagai obat anti depresi. Selain itu, dua profesi yang marak dan menempati profesi papan atas di sini (US) adalah psikiater dan divorce lawyer. 

Saya tercenung mendapati fenomena tersebut. Di sebuah negara yang diagung-agungkan sebagai negara pelindung kebebasan dan hak asasi manusia, nyatanya jiwa masyarakatnya kering. Di sebuah negara yang mewajibkan¬†car seat¬†untuk anak-anak demi keselamatan, sayangnya tidak ada “pengaman jiwa” anak-anak berupa kasih sayang yang meneduhkan dari kedua orang tuanya.

Teringat di benak saya penjelasan salah satu muslim scholar,¬†Ustadz Nouman Ali Khan, tentang hakikat musibah dan bagaimana¬†seharusnya orang beriman menyikapinya. Beliau mencoba mentadabburi salah satu ayat al-Qur’an yang membahas soal musibah, yakni surat Al-Baqarah ayat 155-156.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mushibah, atau jika ditarik ke akar katanya, “ashaba”, bermakna “headed target”. yang berarti setiap peristiwa buruk yang menimpa setiap manusia, sifatnya khusus, spesifik, dan tidak persis sama dengan manusia lainnya. Maka tidak tepat apabila kita dengan mudahnya men-judge¬†sebuah peristiwa buruk yang terjadi di masa sekarang (kecuali di zaman dahulu yang secara jelas sudah Allah terangkan alasan dan hikmahnya dalam al-Qur’an) dan menimpa orang lain, dengan standar penilaian kita. Misalnya, “tuh kan kehilangan mobil, Allah pasti murka sama kamu karena kamu blabla..”

why

Rasa sedih dan takut yang lahir dari lintasan kejadian-kejadian buruk yang menimpa kita, adalah wajar adanya. Tapi jika kita menilik kembali ayat-ayat Allah di atas, kita akan lebih mudah dan lapang hati menerima kenyataan buruk tersebut. Dalam konteks ayat tersebut, Allah menyampaikan “wa basysyirish-shaabiriin”, “dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, atau dengan kata lain, “congratulate the people who have shabr”.

Kapan kita mengucapkan kata, “selamat ya!”? Tentu ketika ada kabar gembira bukan? Misalnya ketika kita berhasil diterima di perguruan tinggi favorit yang kita inginkan, ketika bayi yang kita nanti selama berbulan-bulan akhirnya lahir dengan selamat, atau ketika berhasil mencapai sebuah prestasi tertentu. Lantas mengapa ketika ada musibah, kemudian Allah memerintahkan untuk mengucapkan selamat?

Sebab ternyata ujung dari segala kejadian buruk atau musibah yang menimpa kita, tidak lain bertujuan untuk menjadikan kita orang yang sabar. Ketika kita berhasil menjadi orang yang sabar, maka kita pantas untuk mendapatkan ucapan “selamat”. Dari siapakah? Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan kata “wa basysyir” yang berarti kata perintah untuk satu orang. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa yang diperintahkan untuk mengucapkan selamat pada orang-orang sabar dalam ayat tersebut adalah Rasulullah SAW. :”)

Pernah kita merasa bangga ketika dipanggil oleh atasan di kantor, atau kepala sekolah, dekan atau rektor atas prestasi yang berhasil diraih. Terbayangkah ketika di akhirat kelak, Rasulullah sendiri yang menyampaikan pada kita, “selamat ya, telah menjadi orang yang sabar.” ūüôā MasyaAllah… Hal ini mengingatkan saya pada keindahan janji Allah dalam surat ar-Ra’d ayat 22-24,

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu‚ÄĚ. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

size-500x500

Lantas, siapakah orang yang sabar itu? Ialah orang ketika ditimpa musibah, secara refleks mengatakan, “innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun,¬†sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” Aksi reaksi yang muncul secara spontan, tidak butuh waktu untuk meratapi keadaan terlebih dahulu, tapi secara refleks langsung menyadari bahwa,¬†we have nothing. We own nothing. We are from Allah. All things that we have are from Allah, gift from Him. So why do we complain?¬†

It’s not easy anyway. But it’s worth it.

Ketika kita sadar bahwa pada hakikatnya kita tidak punya apa-apa, rasa lapang akan lebih mudah menjalari hati kita dan mengimbangi rasa sedih yang wajar muncul akibat rasa kehilangan. Tapi insyaAllah, karena kita tersadar kembali big picture yang Allah SWT ingatkan dalam buku petunjuk-Nya: kita cuma transit, kebahagiaan sejati ada di akhirat nanti, daya lenting kita untuk move on akan muncul lebih cepat, dan lebih kuat.

Angka-angka tentang banyaknya orang yang depresi dan menenggak pil penenang niscaya tidak akan meningkat. Kekurangan, kesalahan dan perbedaan pendapat dengan pasangan akan lebih lapang kita sikapi, dan tidak berujung pada keretakan rumah tangga yang berdampak pada retaknya jiwa sang anak.

Tentu di samping adanya kesadaran penuh bahwa musibah adalah ujian untuk melatih kita menjadi orang yang sabar, kita juga harus mengimbanginya dengna sisi lain bahwa ujian juga adalah untuk membuat kita belajar, bahwa bisa jadi ada kesalahan yang memang kita lakukan, atau ketidaktaatan kita pada aturan main-Nya. Pada akhirnya, Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. He loves people who listen to Him. He loves people who trust in Him. He cares for them. 

Wallahu a’lam.¬†

*Referensi: Khuthbah Nouman Ali Khan, Why Do Bad Things Happen. 

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

Akhir pekan kemarin (20 – 21 Februari 2016) menjadi¬†salah satu momen berharga bagi saya, sebab Allah beri kesempatan untuk saya dapat belajar lebih luas dan dalam tentang Islam. It’s a blessing, sebab berbeda dengan ¬†di Indonesia (Jakarta dan Depok tepatnya) di mana saya sangat mudah menjumpai kajian keislaman dengan berbagai topik yang diisi dengan ustadz yang berkapasitas di bidangnya (serta gratis), mengisi kembali gelas ilmu yang kosong atau menguap di pikiran saya merupakan hal yang harus diperjuangkan di sini.

Pertimbangan jarak, dana, dan Azima menjadi hal yang membuat saya maju mundur ingin ikut berpartisipasi atau tidak, ketika melihat brosur acara seminar yang diisi oleh Syeikh Yasir Qadhi, bertajuk “No Doubt: God, Religion, & Politics in The Modern World”. Kak Jay¬†yang pada saat yang sama juga ada acara mabit bersama teman-temannya pun menyerahkan pada saya untuk ikut atau tidak. InsyaAllah beliau tidak berkeberatan soal dana yang akan beliau kucurkan untuk kebutuhan ilmu istrinya, asal¬†dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan lebih efisien dalam penggunan dana di hari-hari selanjutnya.

brosur seminar "No Doubt" yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda
brosur seminar “No Doubt” yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda

Syukurnya lokasi mabit Kak Jay tidak terlalu jauh dari lokasi acara, sehingga pertimbangan jarak bisa dicoeret. Setidaknya menempuh perjalanan selama dua jam dengan BART dan bus tidak akan saya lalui seorang diri. ¬†Adalah Anin dan Mbak Arin, dua orang kawan saya yang berhasil meyakinkan saya untuk ikut acara tersebut. Anin, high quality single muslimah yang sedang S2 di UK ini sering jadi tempat saya konsultasi soal hidup di luar negeri, khususnya negara Barat. Sedangkan Mbak Arin, lulusan S1 Teknik Sipil ITB yang kini sudah menjadi ibu muda dengan 3 orang anak, serta sudah menyelesaikan jenjang S2nya di Univeristy of California Davis sudah lebih dulu registrasi ke seminar tersebut dan meniatkan membawa tiga putra-putrinya ke lokasi acara. (Yeah, they’re very inspiring, indeed!)¬†

Mereka berdua menyarankan saya untuk ikut karena merupakan kesempatan yang langka dapat menimba ilmu dari syaikh sekelas Syaikh Yasir Qadhi, sosok keturunan Pakistan yang lahir dan besar di Amerika, serta memiliki kemampuan untuk memberikan wawasan keislaman yang terkombinasi secara unik: antara Universitas Madinah dan Yale University. Menurut cerita Mbak Arin, ada salah seorang temannya yang jauh-jauh terbang dari Seattle ke San Jose untuk mengikuti seminar tersebut. Saya jadi semakin terpicu untuk mensyukuri keberadaan saya yang tidak terlalu jauh dari San Jose, untuk hadir di seminar tersebut.

Kekhawatiran lain berupa tanggung jawab meng-handle Azima alhamdulillah bisa dihapus dengan ketersediaan¬†childcare¬†di lokasi acara. Meskipun harus menambah biaya lagi, saya bersyukur Azima dan saya bisa sama-sama fokus: sang bunda fokus menyimak seminar, sang anak fokus bermain dengan teman-temannya ūüėÄ

From “the Quest for ‘real Islam'” to ”Divine Law and Modern Governance”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam dari tempat saya tinggal, tibalah kami di lokasi acara, MCA (Muslim Community Building), San Jose, California. Auditorium yang lumayan besar tersebut (lebih kurang seukuran AJS FISIP UI ) terisi penuh sampai belakang, dengan audience dari ragam suku bangsa dan terikat agama yang sama.

Materi selama dua hari dengan durasi perharinya sekitar 8 jam tersebut diisi seorang instruktur, tidak lain adalah Sh Yasir Qadhi sendiri, dan dibagi menjadi 5 modul utama.

*disclaimer: ulasan materi di bawah ini dipahami dari seorang perempuan yang bahasa Inggrisnya masih tergolong standar (belum advanced gitu :D), bisa memahami inti konteks dari sebuah speech, tapi agak kesulitan mengurai detilnya dalam bahasa Indonesia. Actually, the genuine speech is much better than this review*

Pembahasan dimulai dari hal yang paling mendasar seputar aqidah Islam, The Quest for Real Islam, yang membahas beragam theologies¬†yang ada di dalam Islam itu sendiri, yakni Khawarij, Mu’tazila, Zaidiyah, Syiah Itsna Asy’ari dan Sunni.

Kemudian berlanjut ke modul kedua, Faith and Reason, yang tak lain merupakan komparasi antara Islam dan beragam kepercayaan yang lahir sebelum dan sesudah (atheism, new atheism dan western theists). Hal yang menarik dari pembahasan beliau di antarnya ketika beliau berusaha mengkomparasi argumentasi dari paham atheist: kalau memang Tuhan itu ada, mengapa terjadi bencana besar, seperti tsunami yang meluluhlantakkan sebuah bangsa dan menelan korban jiwa? mengapa ada anak-anak yang menderita kelaparan di berbagai belahan dunia?

Menjawab pertanyaan tersebut, beliau menuturkan bahwa di antara hikmah ¬†ada musibah atau bencana besar yang melanda manusia, adalah untuk melahirkan sisi kemanusiaan itu sendiri: dari mana akan lahir sifat dermawan, saling berbagi, kalau tidak ada lagi yang kelaparan? Selain itu, peristiwa buruk yang menimpa kita sejatinya adalah untuk menaikkan derajat kita di surga, dan menghapus segala dosa-dosa kita. Ujian juga sesungguhnya merupakan sarana untuk mengkoneksikan kembali jiwa kita pada Allah. Mengutip kekata Ibn Qayyim Al-Jauziyyah,¬†‚ÄúThe divine decree related to the believer is always a bounty, even if it is in the form of withholding (something that is desired), and it is a blessing, even if it appears to be a trial, and an affliction that has befallen him is in reality a cure, even though it appears to be a disease!‚ÄĚ

Seringkali pula Tuhan dan agama menjadi ‘kambing hitam’ atas segala pertikaan dan peperangan di dunia ini. Dengan tegas Sh Yasir Qadhi membantah,¬†“human history told us, that the greatest war, greatest harm in the world has nothing to do with religion.”¬†Beliau mengambil contoh peristiwa pengeboman¬†Hiroshima dan¬†Nagasaki,¬†adalah buah dari ketamakan manusia-manusia yang well educated, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada masa tersebut).

http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html
http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html

Pola penjajahan atau peperangan besar di dunia memiliki karakteristik dua pihak yang konstan: between (west) civilization and uncivilization. Saya berfikir dan coba mengingat ragam perisitiwa besar yang terjadi dan secara siginifikan mengubah tata dunia, dan ya, akarnya seringkali adalah ego manusia, wajah lain dari megalomaniak yang me-negara.

Di lain pihak, ¬†ada ragam argumentasi lain yang berasal dari ilmuwan Barat, seperti argumentasi soal moralitas, argumentasi soal¬†Consciuousness, Higher Purpose (Transcendence),¬†dan¬†Beauty,¬†yang keseluruhannya mewakili argumentasi bahwa Tuhan itu ada. Seperti argumentasi dari Augustine of Hippo, salah seorang teolog Barat, yang berkata, “Who made these beautiful changeable things, if not one who is beautiful and unchangeable?”¬†

Argumentasi-argumentasi tersebut secara komprehensif terrangkum dalam ajaran Islam. Secara retoris Allah SWT bertanya dalam QS. Ath-Thur ayat 35, “Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”, dan yang barangkali seringkali kita dengar, “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk: 3-4)¬†

Keberadaan Nabi dan Rasul yang Allah SWT utus dengan beragam mu’jizat juga menjadi bagian dari argumentasi yang menggenapkan segala kejanggalan yang tidak bisa dijawab oleh argumentasi-argumentasi Barat.

Jauh di atas itu semua, ada senjata rahasia yang menjadi pamungkas dari berbagai argumentasi tersebut, hal paling mendasar yang inheren dalam jiwa kita: setitik fithrah yang sudah Ia titipkan ke setiap manusia. Fithrah yang menuntun setiap manusia menemukan Tuhannya dan mengajarkan bahwa pada dasarnya jauh di dasar lubuk manusia, ia butuh hal mendasar bernama moralitas (bahwa membunuh dan mencuri adalah hal yang dilarang dan disepakati seluruh manusia), ia sadar bahwa ada Dzat yang Maha Esa yang mengatur segalanya.

“Fithrathallahillatii fatharannasa ‘alaiha — This is the fithra that Allah created mankind upon” (QS. Ar-Rum: 30-30)

Sayangnya, fithrah bukanlah sesuatu yang terus menerus konstan seperti OS dalam sebuah gagdet. Ia bisa terus menerus terjaga selama manusia berikhtiar untuk menjaga diri dengan aturan main-Nya, dan bisa juga corrupted jika manusia semena-mena membebaskan nafsu syahwatnya.

‚ÄúAnd verily for everything that a slave loses there is a substitute, but the one who loses Allah will never find anything to replace Him.‚ÄĚ Ibn al-Qayyim

–bersambung–

Amanah Itu..

Amanah Itu..

Sejatinya amanah itu,
Bukan karena kamu mampu
Bukan pula karena mereka merasa kamu mampu

Bukan karena kamu tahu kapasitasmu
Bukan pula karena mereka tahu kapasitasmu

Dan jangan sampai pula karena kemauanmu

Amanah itu kehendak Allah, rencana Allah atas kehidupanmu

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berhimpun untuk menjauhkanmu dari amanah itu, jika Allah tahu itu yang terbaik bagimu, maka ia berikan amanah itu kepadamu.

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu bersepakat menyatakan bahwa kamu tak mampu, jika Allah tahu amanah itu jalan terbaik untuk meningkatkan kapasitas dirimu, maka ia berikan amanah itu kepadamu.

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berupaya maksimal agar seseorang yang bukan dirimu yang mengemban amanah itu, jika Allah ingin mendidikmu dengan amanah itu, maka ia berikan amanah itu kepadamu.

Bahkan sekiranya seluruh aibmu seketika memenuhi fikiranmu dan membuatmu berhenti melangkah karena ragu, jika Allah tahu amanah itu akan membuatmu menjadi hamba yang semakin baik dan semakin dekat dengan-Nya, maka amanah itu akan dia berikan kepadamu.

Percayalah, ada rencana terbaik yang sudah Allah persiapkan,
Sikapilah dengan ikhtiar terbaik yang kamu lakukan,
Serta pertanggungjawaban terbaik yang bisa kamu persiapkan.
Sekali lagi, ini bukan tentang kamu dan mereka, ini tentang kamu dan Dia
Dan melangkahlah dengan percaya, bahwa bersama-Nya semuanya akan baik-baik saja.

— anonim, diambil dari bagian belakang mutabaa’ah yaumiyah PPSDMS. ūüėÄ

 

Aside

belajar..

I: besok kita ketemu ya dek..  bla.. bla..

T: Mbak, T ngajinya nggak sebaik teman-teman yang lain nanti gimana? T.T

I: *sambil mengingat2*, Tidak ada kata terlambat untuk belajar, karena sejatinya yang kita harus taklukkan adalah diri kita sendiri dek.. Dan belajar adalah bagaimana kita konsisten memperbaiki diri dari hari ke hari. ūüôā

Semangat!

T: Ocee Mbak, bismillah ya Allah.. Makasih ya Mbak.

I: Yosh, bismillah.. ūüôā