Greeting from Turkey

Greeting from Turkey

Turki,

sebuah mimpi lama

terpendam menjadi sebuah cita-cita

Ia adalah sejarah kemenangan, penaklukan, 

dan proses yang terjadi di antara keduanya: pertarungan.

 

Beberapa hari di sini membuatku tercenung,

bagaimana rasanya megah dalam cahaya Islam? 

 

Ayasophia, Sultan Ahmet, Topkapi

legasi yang dipertahankan,

simbol digdaya

bahwa Islam, pernah begitu berkuasa

hangat, menentramkan dengan sinarnya.

 

Hai, assalamu’alaikum!

Kembali menjumpai pembaca blog ini, kali ini dari sebuah sudut ruangan di Ankara, Turki.

Banyak yang bertanya, “Ifah ngapain ke Turki?” biasanya saya hanya senyum-senyum. Konferens? bukan, lomba? juga bukan. ikut suami? bukan juga.

iya, setelah dipikir-pikir mungkin ini bagian dari berkah menjadi ibu rumah tangga haha. Jadi, jangan sepelekan “profesi” ini, barangkali dari profesi tersebut, bisa membawamu ke negeri-negeri yang tidak kau duga.

anyway, tapi jauh daripada itu, Turki merupakan sebuah destinasi idaman yang sudah saya pancangkan sekitar 10 tahun lalu. ya, sejak saya duduk di bangku SMA, berbalut seragam putih abu-abu. Keinginan ke Turki muncul dengan menggeloranya ghirah keislaman saya yang dipupuk di Rohis dahulu. Namun perlahan ia mengendap, menjadi negara yang jauh, impian yang sepertinya sulit untuk direalisasikan.

Singkat cerita, qadarullah Dia mengizinkan saya ke Turki karena suatu sebab. Dalam waktu yang terbatas, dengan mendelegasikan beberapa tugas, dan menitipkan ayah Azima pada sebaik-baik penjaga, saya terbang melintasi beberapa negara dengan gadis cilik dan salah seorang adik saya.

 

 

welcome to Constantinople aka Istanbul!

Tiba di Istanbul, kota dengan riwayat pertarungan yang panjang, saya merasakan atmosfir yang sebagiannya mirip dengan atmosfir di San Francisco, California, USA. Kota pantai di mana angin banyak berhembus, jalan yang rapi, fasilitas umum yang tersedia dengan baik, transportasi yang memadai, dan yang membedakannya dengan di SF sana, adalah bertebaran makanan halal dan karunia garis wajah-wajah yang unik paduan Eropa dan Asia. Kalau waitress di Istanbul jalan-jalan ke Indonesia, bisa langsung berubah profesi jadi artis dan aktris! 😀

Ahya, satu hal lagi, nasionalisme bangsa Turki sangaaattt kuat. Mereka sangat bangga dengan bahasanya. Tidak peduli orang asing tersebut bisa bahasa Turki atau tidak, kalau berjual beli dengan pedagang di sana, mereka akan bercakap dengan bahasa Turki dan tidak peduli kalau kita balas dengan bahasa Inggris (sorry, i don’t understand) xD

Lafaznya sangat asing di telinga karena campuran bahasa Arab dan Persia yang sudah mengalami perubahan. Syukurnya selama beberapa hari di sini, ada saudara-saudara yang siap menjadi guide dengan kefasihannya berbahasa Turki. Kalaupun darurat, jadilah bahasa simbol dengan jari jemari jadi perantara bagi saya dan penduduk setempat. 😀

Masjid Sultan Ahmet, disebut jg dengan Blue Mosque, Istanbul, Turki

 

suasana di pelataran Masjid Sultan Ahmet (Masjid Biru)

Awal-awal menapaki kota Istanbul, saya banyak tercengang karena imaji “jejak khilafah” seperti tak nampak pada wajah masyarakatnya. Shalat fardhu yang ditinggalkan adalah hal biasa. Berbagai situs sejarah, masjid-masjid indah dengan minaretnya yang khas seperti ‘sekedar’ background cantik yang menghiasi kota dua benua tersebut.

Jarang menemui wanita berjilbab di sepanjang jalan, justru sebaliknya, pakaian kaum wanitanya yang relatif lebih terbuka. Azima beberapa kali membuat nenek-nenek sampai remaja putri terpesona karena jilbab yang dikenakannya. Ada yang mengajak foto bersama, memberi permen, memberi uang, sampai terbengong-bengong ketika berjalan, karena ada balita yang berjilbab. Terbayang kan, betapa sekulernya negeri tersebut selama sekian puluh tahun hingga melihat balita berjilbab saja sampai seperti itu.

 

 

di depan Aya Sofya, simbol pergulatan dua keyakinan

Menelisik siapa nenek moyang yang lahir terlebih dahulu di Turki juga membuat warna “kebebasan” lebih terasa pada arsitektur bangunan dan pada corak masyarakatnya. Sebelum keturunan Utsman bin Ertughrul, pendiri daulah Utsmani yang menyejarah tersebut menghuni daratan Asia sebelah Barat ini, Kekaisaran Byzantium sudah bertahun-tahun hidup dan meninggalkan jejak budaya yang kuat. Membuat Konstantinopel yang saat itu adalah salah satu jantung pergerakan Romawi, menjadi sebuah wilayah yang sangat menarik untuk diperebutkan.

Terlepas dari kontraversi mengenai sosok pemimpin Turki saat ini, Erdogan, saya semakin faham bahwa bukan perkara mudah mengembalikan sinar Islam ke daratan ini. Ada pergulatan panjang yang membutuhkan proses, dan membuat saya semakin bersyukur lahir di sebuah negeri di mana aroma Islam dan kebebasan beragama dihirup sejak lama.

well, saya berharap bahwa suatu saat, dari para keturunan Sultan Muhammad II yang bergelar al-Fatih ini, kelak cahaya Islam kembali benderang.

“Turkey is a European country, an Asian country, a middle eastern country, balkan country, caucasian country, neighbor to africa, black sea country, Caspian sea, all these.”

– Ahmet Davutoglu.

Advertisements
Inspirasi Dari Google

Inspirasi Dari Google

Ada beberapa inspirasi yang saya dapat dari mengunjungi kantor Google kemarin, meskipun hanya bagian luarnya saja yang saya dapat lihat, tapi cukup mengesankan.

di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View
di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View, bersama Android Marshmallow

Di balik sebuah hal “sederhana” yang seringkali kita jumpai setiap hari, kita ambil manfaatnya tak terhitung lagi dan bahkan menjadi istilah yang populer dalam dialog sehari-hari (“googling” aja!), ada sebuah kompleksitas sistem yang raksasa. Saya takjub ketika melihat komplek perkantoran Google yang ternyata luass sekali, dan memiliki banyak gedung (yang saya juga tak sepenuhnya faham fungsi tiap gedungnya, haha).

Tapi dari sana saya belajar: tampilan boleh sederhana dan sangat user friendly, tapi jangan lupa bahwa untuk menjadi satu hal yang bermanfaat dan berimplikasi besar, butuh kerja keras dan kerja banyak tangan yang saling berpilin bersama-sama, mencapai tujuan yang sama.

di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollypop
di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollipop

sdr

Sampai sekarang saya belum tahu mengapa Google memberi nama atau sebutan makanan untuk berbagai macam versi Androidnya, tapi kalau saya ambil hikmahnya: salah satu hal yang membuat orang menjadi lebih akrab dengan barang yang awalnya asing adalah ketika barang asing tersebut diperkenalkan dengan nama yang sehari-hari dijumpai, disukai dan bahkan dibutuhkan. Dalam hal ini, Google menggunakan nama-nama makanan yang sering dijumpai oleh masyarakat pada umumnya.

Google menciptakan Android yang kini sangat common digunakan oleh para pengguna handphonetanpa melihat strata sosial atau secanggih apa handphonenya. Ketika kita berfokus pada fungsi dan tujuan, maka tools akan mengikuti dan sangat fleksibel serta mampu diterapkan siapa saja.

Dalam skup menciptakan hidup yang tak sekedar hidup, saya yakin seorang muslim punya hal yang lebih berharga untuk diperjuangkan dengan cara-cara ala Google yang “basyiran wa nadzira, yassir wa laa tu’assir.”

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

Akhir pekan kemarin (20 – 21 Februari 2016) menjadi salah satu momen berharga bagi saya, sebab Allah beri kesempatan untuk saya dapat belajar lebih luas dan dalam tentang Islam. It’s a blessing, sebab berbeda dengan  di Indonesia (Jakarta dan Depok tepatnya) di mana saya sangat mudah menjumpai kajian keislaman dengan berbagai topik yang diisi dengan ustadz yang berkapasitas di bidangnya (serta gratis), mengisi kembali gelas ilmu yang kosong atau menguap di pikiran saya merupakan hal yang harus diperjuangkan di sini.

Pertimbangan jarak, dana, dan Azima menjadi hal yang membuat saya maju mundur ingin ikut berpartisipasi atau tidak, ketika melihat brosur acara seminar yang diisi oleh Syeikh Yasir Qadhi, bertajuk “No Doubt: God, Religion, & Politics in The Modern World”. Kak Jay yang pada saat yang sama juga ada acara mabit bersama teman-temannya pun menyerahkan pada saya untuk ikut atau tidak. InsyaAllah beliau tidak berkeberatan soal dana yang akan beliau kucurkan untuk kebutuhan ilmu istrinya, asal dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan lebih efisien dalam penggunan dana di hari-hari selanjutnya.

brosur seminar "No Doubt" yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda
brosur seminar “No Doubt” yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda

Syukurnya lokasi mabit Kak Jay tidak terlalu jauh dari lokasi acara, sehingga pertimbangan jarak bisa dicoeret. Setidaknya menempuh perjalanan selama dua jam dengan BART dan bus tidak akan saya lalui seorang diri.  Adalah Anin dan Mbak Arin, dua orang kawan saya yang berhasil meyakinkan saya untuk ikut acara tersebut. Anin, high quality single muslimah yang sedang S2 di UK ini sering jadi tempat saya konsultasi soal hidup di luar negeri, khususnya negara Barat. Sedangkan Mbak Arin, lulusan S1 Teknik Sipil ITB yang kini sudah menjadi ibu muda dengan 3 orang anak, serta sudah menyelesaikan jenjang S2nya di Univeristy of California Davis sudah lebih dulu registrasi ke seminar tersebut dan meniatkan membawa tiga putra-putrinya ke lokasi acara. (Yeah, they’re very inspiring, indeed!) 

Mereka berdua menyarankan saya untuk ikut karena merupakan kesempatan yang langka dapat menimba ilmu dari syaikh sekelas Syaikh Yasir Qadhi, sosok keturunan Pakistan yang lahir dan besar di Amerika, serta memiliki kemampuan untuk memberikan wawasan keislaman yang terkombinasi secara unik: antara Universitas Madinah dan Yale University. Menurut cerita Mbak Arin, ada salah seorang temannya yang jauh-jauh terbang dari Seattle ke San Jose untuk mengikuti seminar tersebut. Saya jadi semakin terpicu untuk mensyukuri keberadaan saya yang tidak terlalu jauh dari San Jose, untuk hadir di seminar tersebut.

Kekhawatiran lain berupa tanggung jawab meng-handle Azima alhamdulillah bisa dihapus dengan ketersediaan childcare di lokasi acara. Meskipun harus menambah biaya lagi, saya bersyukur Azima dan saya bisa sama-sama fokus: sang bunda fokus menyimak seminar, sang anak fokus bermain dengan teman-temannya 😀

From “the Quest for ‘real Islam'” to ”Divine Law and Modern Governance”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam dari tempat saya tinggal, tibalah kami di lokasi acara, MCA (Muslim Community Building), San Jose, California. Auditorium yang lumayan besar tersebut (lebih kurang seukuran AJS FISIP UI ) terisi penuh sampai belakang, dengan audience dari ragam suku bangsa dan terikat agama yang sama.

Materi selama dua hari dengan durasi perharinya sekitar 8 jam tersebut diisi seorang instruktur, tidak lain adalah Sh Yasir Qadhi sendiri, dan dibagi menjadi 5 modul utama.

*disclaimer: ulasan materi di bawah ini dipahami dari seorang perempuan yang bahasa Inggrisnya masih tergolong standar (belum advanced gitu :D), bisa memahami inti konteks dari sebuah speech, tapi agak kesulitan mengurai detilnya dalam bahasa Indonesia. Actually, the genuine speech is much better than this review*

Pembahasan dimulai dari hal yang paling mendasar seputar aqidah Islam, The Quest for Real Islam, yang membahas beragam theologies yang ada di dalam Islam itu sendiri, yakni Khawarij, Mu’tazila, Zaidiyah, Syiah Itsna Asy’ari dan Sunni.

Kemudian berlanjut ke modul kedua, Faith and Reason, yang tak lain merupakan komparasi antara Islam dan beragam kepercayaan yang lahir sebelum dan sesudah (atheism, new atheism dan western theists). Hal yang menarik dari pembahasan beliau di antarnya ketika beliau berusaha mengkomparasi argumentasi dari paham atheist: kalau memang Tuhan itu ada, mengapa terjadi bencana besar, seperti tsunami yang meluluhlantakkan sebuah bangsa dan menelan korban jiwa? mengapa ada anak-anak yang menderita kelaparan di berbagai belahan dunia?

Menjawab pertanyaan tersebut, beliau menuturkan bahwa di antara hikmah  ada musibah atau bencana besar yang melanda manusia, adalah untuk melahirkan sisi kemanusiaan itu sendiri: dari mana akan lahir sifat dermawan, saling berbagi, kalau tidak ada lagi yang kelaparan? Selain itu, peristiwa buruk yang menimpa kita sejatinya adalah untuk menaikkan derajat kita di surga, dan menghapus segala dosa-dosa kita. Ujian juga sesungguhnya merupakan sarana untuk mengkoneksikan kembali jiwa kita pada Allah. Mengutip kekata Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “The divine decree related to the believer is always a bounty, even if it is in the form of withholding (something that is desired), and it is a blessing, even if it appears to be a trial, and an affliction that has befallen him is in reality a cure, even though it appears to be a disease!”

Seringkali pula Tuhan dan agama menjadi ‘kambing hitam’ atas segala pertikaan dan peperangan di dunia ini. Dengan tegas Sh Yasir Qadhi membantah, “human history told us, that the greatest war, greatest harm in the world has nothing to do with religion.” Beliau mengambil contoh peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, adalah buah dari ketamakan manusia-manusia yang well educated, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada masa tersebut).

http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html
http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html

Pola penjajahan atau peperangan besar di dunia memiliki karakteristik dua pihak yang konstan: between (west) civilization and uncivilization. Saya berfikir dan coba mengingat ragam perisitiwa besar yang terjadi dan secara siginifikan mengubah tata dunia, dan ya, akarnya seringkali adalah ego manusia, wajah lain dari megalomaniak yang me-negara.

Di lain pihak,  ada ragam argumentasi lain yang berasal dari ilmuwan Barat, seperti argumentasi soal moralitas, argumentasi soal Consciuousness, Higher Purpose (Transcendence), dan Beauty, yang keseluruhannya mewakili argumentasi bahwa Tuhan itu ada. Seperti argumentasi dari Augustine of Hippo, salah seorang teolog Barat, yang berkata, “Who made these beautiful changeable things, if not one who is beautiful and unchangeable?” 

Argumentasi-argumentasi tersebut secara komprehensif terrangkum dalam ajaran Islam. Secara retoris Allah SWT bertanya dalam QS. Ath-Thur ayat 35, “Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”, dan yang barangkali seringkali kita dengar, “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk: 3-4) 

Keberadaan Nabi dan Rasul yang Allah SWT utus dengan beragam mu’jizat juga menjadi bagian dari argumentasi yang menggenapkan segala kejanggalan yang tidak bisa dijawab oleh argumentasi-argumentasi Barat.

Jauh di atas itu semua, ada senjata rahasia yang menjadi pamungkas dari berbagai argumentasi tersebut, hal paling mendasar yang inheren dalam jiwa kita: setitik fithrah yang sudah Ia titipkan ke setiap manusia. Fithrah yang menuntun setiap manusia menemukan Tuhannya dan mengajarkan bahwa pada dasarnya jauh di dasar lubuk manusia, ia butuh hal mendasar bernama moralitas (bahwa membunuh dan mencuri adalah hal yang dilarang dan disepakati seluruh manusia), ia sadar bahwa ada Dzat yang Maha Esa yang mengatur segalanya.

“Fithrathallahillatii fatharannasa ‘alaiha — This is the fithra that Allah created mankind upon” (QS. Ar-Rum: 30-30)

Sayangnya, fithrah bukanlah sesuatu yang terus menerus konstan seperti OS dalam sebuah gagdet. Ia bisa terus menerus terjaga selama manusia berikhtiar untuk menjaga diri dengan aturan main-Nya, dan bisa juga corrupted jika manusia semena-mena membebaskan nafsu syahwatnya.

“And verily for everything that a slave loses there is a substitute, but the one who loses Allah will never find anything to replace Him.” Ibn al-Qayyim

–bersambung–

‘Uluwwul Himmah

‘Uluwwul Himmah

Setiap harinya bagi kita adalah tantangan, tapi bentuk dan kadar tantangannya seperti apa sangat ditentukan sejauh dan sebesar apa cita-cita kita. Bagi yang pergi kuliah ke kampus untuk sekedar mengisi waktu atau terlihat keren misalnya, tentunya akan menganggap kendala berupa jarak yang jauh atau ketiadaan transportasi adalah kendala yang sangat berarti. Tapi bagi yang berniat kuliah ke kampus untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, yang dengan begitu bisa mendapat bekal untuk berbagi pada masyarakat, ia akan menjadikan kendala jarak, ketiadaan transportasi, atau bahkan ketiadaan finansial sebagai challenge untuk membuktikan bahwa cita-citanya cukup mulia untuk diperjuangkan. Ia akan mencari solusi dan tidak stuck pada satu hambatan, meyakini bahwa akan ada jalan untuk mereka yang memang punya kesungguhan.

Hari-hari ini saya diingatkan kembali soal himmah, yang secara bahasa memiliki arti semangat atau cita-cita, tetapi secara maknawi setidaknya punya tiga makna: pertama adalah niyyah (niat), kedua adalah iradah (kehendak), dan ketiga adalah ‘azimah (tekad). Sebagai contoh, saya berniat untuk pergi ke seminar di Islamic Society of  San Francisco besok pagi, ia baru sebatas niat jika hanya sebatas lintasan pikiran, berubah menjadi kehendak ketika mulai direncanakan, dan berubah menjadi tekad ketika saya dengan kesungguhan mulai melakukan perjalanan naik bus dan BART menuju San Francisco.

karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut :) semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya
karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut 🙂 semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya.

Orang yang memiliki ‘uluwwul himmah atau semangat yang tinggi tidak akan mudah goyah ketika ada satu dua atau seribu kendala yang menghalangi cita-citanya. Ia tidak akan mengambil banyak keringanan-keringanan yang dengan begitu justru memperbesar peluang kemalasan atau berkurangnya rasa kesungguhan dalam dirinya. Bukankah manisnya perjuangan baru terasa ketika sudah lelah berjuang?  Di samping itu, ia akan memperbaiki kesalahannya yang lalu jika memang ia sadari itu sebagai penghambat bagi cita-citanya.

‘Uluwwul himmah tidak terbatas pada ‘kekerenan’ cita-cita yang tampak ‘wow’ dari segi materi, tapi ia disandarkan pada visi ukhrowi yang mungkin kadangkala jauh dari gemerlap dan tepuk tangan dunia. Adakalanya ia merajut impiannya di sudut yang sepi, kasat mata mungkin tak tampak, tapi manfaatnya bisa dirasa sejagat, jika tidak sekarang mungkin nanti. Pun jika harus berhadapan dengan tepuk tangan dunia, orang yang memiliki ‘uluwwul himmah juga harus bertarung dengan dirinya, dengan bisikan untuk riya’, ‘ujub atau sum’ah,  manakala ekspektasi orang membuatnya kehilangan arah karena tidak ingin membuat khalayak kecewa.

‘Uluwwul himmah akan membuat orang mampu memikul beban yang berat, terus mengulang-ulang dalam jiwanya untuk tidak sebatas berfikir tentang dirinya, tapi juga untuk orang lain. Hari-hari ini, ketika semakin banyak fenomena sosial yang membuat kening berkerut, mungkin sudah saatnya tidak lagi berfikir mendekap anak erat-erat saja di dalam rumah, mengurungnya agar steril dari ‘ragam kejahatan dan penyimpangan sosial’, mungkin sekarang saatnya saya, anda, kita semua berfikir ulang: apakah yang saya lakukan saat ini bagian dari perwujudan cita-cita yang mulia? Adakah ‘uluwwul himmah itu bersemi di dada kita?

keep planting..

keep planting..

Pagi yang masih cerah. Bincang-bincang dua rakyat jelata. 

Sebuah pesan WA masuk dari gadis ‘satu marga’ itu . Link singkat yang merujuk ke sebuah artikel panjang tentang salah seorang kepala daerah.

“Udah baca ini?”

“Beberapa kali lihat kutipannya, tapi belum baca sampai tuntas. Kenapa Fraw?”

“Makin nggak ngerti dengan dunia ini, Fah. Nggak tau diri ini musti jadi apa untuk bisa mengubah kondisi serunyam ini.”

beberapa menit.

“Aku baru selesai baca. Satire, hehe. Dapat perspektif lain, ada benernya mungkin, tapi sebagian terlalu ‘membunuh’ optimisme. Jadi ‘cukup tau aja’, yang nulis sosialis sih :p. Ya kali, revolusi. -_- revolusi yang nggak selesai jadinya kayak di Mesir. Negara dalam negara..” tulisan panjang itu ditulis oleh orang berkebangsaan asing, dari nama dan backgroundnya saya jadi punya gambaran awal kira-kira latar apa yang mendorongnya menulis setajam itu.

“cuma fakta di balik permukaan itu bikin aku nggak habis pikir.. tapi memang ‘sabar itu harusnya nggak ada batas :)’ Kalau mau ada perubahan, memang harus sabar dalam membenahi hal-hal yang prinsipil dulu. Nggak bisa dapat hasil yang cepat. #katatarbiyahbegitu”

“terlalu naif kalau kita menutup mata dari kepentingan bisnis. ****** dan **** terlalu “too good to be true”. Cuma aku jadi kebayang Kang Aher dan Kang Emil aja.”

“yup, sama..”

“Arus yang mereka hadapi deras, tapi apa kemudian kita juga apatis sama mereka?”

——————————————————————————————-

siang yang terik, menyimak bincang ringan seorang kepala daerah yang ditemani istrinya itu dengan presenter berita tivi biru.

“Kenapa anda meminta kekuatan?” presenter tivi dengan nadanya yang khas itu bertanya kepada perempuan berkerudung di hadapannya.

“.. karena kalau sudah terjun itu kan harus berenang. Kalau berenang harus sampai di tempat tujuan, sementara arusnya sangat deras. Itulah kenapa saya mohon (pada Allah) kekuatan (untuk Kang Emil)” Atalia Praratya, istri Walikota Bandung Ridwan Kamil itu menjawab lugas.

adakah yang lebih buruk daripada pencuri harapan dan optimisme? maka menjaga keduanya–harapan dan optimisme adalah salah sumber energi terbesar agar terus bergerak dan memberi, dan terus berharap pada Allah yang tidak akan menyalahi janji-Nya. 

“Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Dari Balkon Atas

Dari Balkon Atas

Malam itu adalah kedua kalinya saya menyaksikan lobby DPR dan ruang sidang penuh, bukan oleh wakil rakyat yang lazim dan seharusnya ada di sana. Setelah riuh rendah di balkon ruang sidang paripurna ketika pengesahan UU APBN-P beberapa waktu yang lalu–yang berimplikasi terhadap kenaikan harga BBM, saya kembali menyaksikan bahwa salah satu cara termudah untuk memobilisasi massa dalam waktu yang relatif singkat, dengan emosi yang terpancing adalah dengan menyinggung hak dasar: pangan.

Ada sekitar seratus sampai dua ratus orang yang menyemut di lobby utama gedung Nusantara I, dengan mayoritas bergaya khas eksekutif dan berpakaian rapih. Cukup membuat saya dapat menyimpulkan perkara apa yang sedang saya coba pelajari malam ini. Bapak-Bapak maupun Ibu-Ibu kisaran 40-50an, lajang maupun gadis dengan kisaran usia 20-30an, sampai anak-anak yang dibawa orang tuanya. Raut muka dari wajah-wajah yang mayoritas bergaris oriental itu menyiratkan emosi yang tengah memuncak: marah bercampur kesal. Sebagian beradu argumen dengan bagian keamanan, bersikeras masuk ke ruang balkon di lantai atas yang juga sudah penuh sesak.

Saya bolak-balik menelpon salah satu rekan di kantor yang sudah stand by di balkon atas. Beberapa kali merapikan blazer, berusaha meyakinkan petugas keamanan bahwa saya punya hak untuk masuk. Begini memang serunya bekerja atas nama kantor, tanpa menggunakan banyak akses khusus (kecuali pintu masuk di lantai basemen :D), saya jadi belajar artinya berjuang meraih sesuatu. Nyaris putus asa karena pamdal tidak juga memberikan izin masuk, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung bersama kerumunan nasabah yang menyemut di depan ruang rapat Komisi XI. Di hadapan mereka ada layar besar yang menampilkan kondisi ruang rapat yang masih riuh, rapat dengar pendapat itu belum juga dimulai. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mungkin kira-kira ini seperti ini pula situasi detik-detik jelang bail out Bank Century–setidaknya seperti itu yang digambarkan oleh Bang Tere dalam novel fiksi politiknya, :D, ratusan nasabah yang datang dan menuntut harta mereka dikembalikan. Sayangnya Thomas hanya tokoh rekaan, sementara chaos sosial ekonomi serombongan orang di depan saya adalah serupa nyata, ilustrasi bahwa negeri ini benar ada di ujung tanduk.

Beberapa menit berdiri di jejeran nasabah, tiba-tiba handphone bergetar, suara rekan kantor di seberang sana mengabarkan bahwa akan ada pamdal yang akan menemani saya untuk memberi jalan masuk. Benar saja, “Mbak Afifah?” seorang pamdal menghampiri saya.

“Benar Pak,”

“Mari Mbak,”

Bergegas saya mengikuti pamdal tersebut. Dalam hitungan menit, tibalah saya di balkon yang memang sudah penuh, suasana riuh. Usai bertegur sapa dengan rekan sekantor yang sudah di sana, segera saya mencari celah untuk sekedar berdiri menyimak dan mencatat hal-hal penting. Tidak lama kemudian terdengar suara tegas sang ketua komisi, pertanda rapat sudah dibuka, dan menyebut satu persatu pihak-pihak yang hadir.

Saya mulai sibuk mencatat, cukup banyak ternyata yang hadir. Ketua Komisi yang didampingi oleh beberapa anggota Komisi XI, OJK, BKPM, Satgas Waspada Investasi, DSN MUI, Kabareskrim Polri, Deputi Gubernur BI, dan dua aktor utama malam itu: direktur dua perusahaan investasi (atau jual beli?) emas yang diduga melakukan penipuan pada nasabahnya.

Rapat dengar pendapat dimulai dengan mendengarkan penuturan direktur perusahaan pertama (sebutlah perusahaan A). Logat Melayu yang kental, penjelasan yang berusaha terang tapi tetap terdengar separuh khawatir, dan sahutan memojokkan dari orang-orang di sebelah saya membuat saya menggeleng-gelengkan kepala.

“Jadi apa yang anda maksud dengan jual beli emas fisik syariah?” seorang anggota Komisi memotong penjelasan direktur berkebangsaan Melayu itu. “Karena yang saya tahu, adalah ijab-kabul di tempat, fisik barang diserahkan, setelah itu selesai. Tidak dikenal apa itu kewajiban menyerahkan “athoya”. Bonus hanya dapat diberi ketika ada untung, tidak ketika rugi.”

“Jadi izin apa yang anda punya untuk membuka usaha di sini Pak?” pertanyaan selanjutnya dari anggota yang lain.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih dijawab dengan jawaban-jawaban yang membuat saya mengernyitkan dahi. Tidak ada izin. Mekanisme yang menyimpang dari prinsip-prinsip syariah..

Belum lagi ketika direktur perusahaan kedua (sebutlah perusahaan B), giliran menjelaskan. Penuturan seorang Bapak tua dengan suaranya yang terpatah-patah: direktur utama sebelumnya melarikan diri dengan membawa sejumlah uang nasabah, ketidaktahuannya bahwa ada transaksi non-fisik emas yang sebetulnya dilarang dalam Islam, diserahkannya jabatan direktur utama padanya oleh presiden komisaris, tanggung jawab yang harus dipikulnya untuk berusaha mengembalikan semua modal awal nasabah dan athaya (bonus) pada semua nasabah. Simpulan singkat di kepala saya saat itu: bapak tua yang awalnya perwakilan Dewan Syariah Nasional MUI untuk mengawasi perusahaan investasi yang mengatasnamakan syariah itu tidak lain adalah tumbal perusahaan.

“Alaah, bilang aja, udah dimakan uangnya sama dia!” seorang ibu muda bergaris wajah oriental yang duduk di sebelah saya menggerutu keras. Wajahnya kesal.

“Ibu nasabah dari **** juga?” saya bertanya pelan sambil mencoba tersenyum maklum. Beberapa menit rapat berlangsung, perlahan saya dapat terus maju ke bagian depan balkon, mendapat posisi yang tepat untuk menggali banyak informasi dari nasabah. Mencoba melihat duduk perkara dari ragam sudut.

“Iya Mbak, saya nasabah **** dan ****.”

“Inves banyak juga ya Bu, di sana? Udah ada bonus yang dibayarkan ke Ibu belum sepanjang masa kontrak?”

“Iya Mbak, udah sebagiannya, tapi sejak bulan Maret sampai sekarang belum dibayar. Janji-janji aja itu direkturnya mau dibayar, bohong tapi! Udah, saya mah nggak ngarepin bonusnya, asal modal awal saya udah balik aja, udah gapapa.” Beruntut ibu itu bercerita. Saya melihat ke ibu muda di sebelahnya, wajah khas Jawa. Belakangan saya tahu, ratusan nasabah yang hadir sekarang bukan hanya dari Jabodetabek, tapi ada yang dari daerah yang jauh di seluruh Indonesia. Mereka yang mengorbankan jarak yang jauh dan waktunya sampai selarut itu untuk menuntut kejelasan harta mereka.

Sementara di bawah, kesempatan memberi penjelasan di antara perwakilan lembaga terkait sudah dipergilirkan. BKPM yang mengaku hanya memberi izin sebatas izin prinsip, bukan izin usaha, dan lantas segera memberi peringatan kepada perusahaan A yang telah melanggar izin yang berlaku, OJK yang lepas tangan karena mengaku bukan merupakan ranah dan kewenangannya, Kabareskrim yang sebatas bertanggung jawab terhadap ranah yang sudah jelas pidana, serta ketidakjelasan sebetulnya perkara ini ada di ranah siapa, menambah kekecewaan para nasabah.

“Kasus ini sebetulnya simpel aja kan, perdagangan komoditi, ada penjual tidak transparan (bahkan ilegal-pen), dibungkus oleh nama syariah, pembeli yang mudah percaya. Sudah, ini penipuan.” seorang anggota dewan menyimpulkan.

“Udah, ditangkap aja Pak!” lelaki berpakaian eksekutif di belakang saya berteriak . Gerutuan dan sahutan bernada keras lainnya bersahutan. Telinga saya panas.

Mendadak, terdengar suara keras dari deretan anggota. “Saya peringatkan ya! Ini lembaga terhormat! Kalau sekali lagi ada yang menjelekkan atau ribut, kita tutup saja rapat dengar pendapat ini! Petugas keamanan, mohon ditertibkan yang ribut-ribut itu!”

Sontak balkon hening. Bisik-bisik terdengar, “sudah, biarkan aja bapak itu. kita jadi tahu kan mana yang bela rakyat mana yang nggak.”

“Fungsi anda sebagai pengawas mana selama bertahun-tahun perusahaan itu menjalankan usahanya?” masih pertanyaan yang memojokkan entitas ulama di Indonesia itu.

“Habis gimana ya Mbak,” Ibu-ibu di sebelah saya kembali bercerita, “kita mah percaya aja kalau sudah pakai asas syariah, ada izin dari MUInya juga. Okelah kita ini bodoh. Tapi kalau bisa ada yang dilakukan pemerintah supaya ke depannya nggak ada lagi yang kayak gini ini. Saya juga pesimis sebenernya uang saya bisa balik, tapi kalau misalnya dipenjara, setidaknya bisa ngasih efek jera buat yang lainnya.”

Saya mengangguk-angguk (lagi-lagi) mencoba tersenyum maklum, plus miris. Penjara?

Miris melihat kata ‘syariah’ dan ‘Islam’ menjadi jatuh martabatnya karena tindakan oknum, mungkin juga didukung ketidaktahuan, mismanejemen.. dan kecenderungan umum masyarakat untuk mendapatkan uang dalam waktu yang relatif cepat tanpa banyak berpeluh. Asumsi awal saya sedikit satire, karena mengetahui bahwa untuk membeli sebatang emas bukanlah dengan jumlah uang yang sedikit, dan orang-orang banyak ini rela ‘mempertaruhkan’ puluhan hingga ratusan juta untuk kembali mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu yang relatif singkat. Tapi ketika melihat wajah-wajah lain dari daerah jauh yang juga harap cemas, saya melebarkan rentang asumsi: mungkin ini bukan sekedar pemenuhan kebutuhan tersier, tapi juga bisa jadi hidup mati mereka, uang yang dikumpulkan sekian lama dan untuk kebutuhan primer/sekunder mereka. Untuk makan, sekolah anak-anak mereka, mungkin, atau untuk membangun rumah yang lebih baik untuk keluarga mereka.

Malam sudah semakin larut, sebagian nasabah sudah ada yang menyerah dan lelah dengan semua perdebatan berputar-putar, tanpa ada kejelasan bagaimana ujung nasib dari uang mereka. Saya melirik jam, sudah saatnya segera pulang. Setelah mengirim pesan kepada rekan sekantor yang masih memungkinkan untuk tinggal lebih lama, saya bergegas pamit pada ibu-ibu di sebelah, dan membalikkan langkah, menuruni tangga keluar.

Terngiang komentar singkat seorang kawan ketika rusuh BBM beberapa bulan lalu menimbulkan pro-kontra  di banyak kalangan. Pencabutan subsidi yang berefek pada melambungnya harga-harga. Saya sedikit kesal atas komentarnya yang cenderung pro terhadap pencabutan subsidi dan lebih memprioritaskan alokasi dana untuk sektor lain.

Kira-kira begini komentarnya, “Yang penting harus ada itu karakter untuk terus berjuang di tengah kesulitan, bukan hanya terus diberi kemudahan dan akhirnya justru melenakan”

Beberapa bulan kemudian saya baru faham, ketika meletakkan komentarnya dalam perspektif kasus investasi emas ini, saya mengakui bahwa ada kalanya kecenderungan untuk mendapat banyak keuntungan/kesenangan dengan sedikit peluh usaha dan dalam waktu yang relatif singkat, akan pelan-pelan berubah jadi bumerang yang memukul kita sendiri.

Kunci kebahagiaan ada pada kesyukuran, kunci kesyukuran ada pada ketundukan pada Maha Pemberi Rezeki, kelapangan yang muncul setelah bekerja keras mengikhtiarkan kebaikan-kebaikan.

Mengingat kejadian malam itu, telinga saya yang panas ketika melihat Islam dan para elit lembaga diolok menjadi teguran dan pembelajaran tersendiri bagi saya, kalau belum bisa banyak memberi kontribusi positif untuk bangsa, mudah-mudahan saya tidak turut serta dalam penghancuran apa-apa yang telah dibangun oleh para penyeru kebaikan, oleh para pejuang kemerdekaan.

dari titik kita berdiri

dari titik kita berdiri

Suatu ketika Ibu saya pernah menganalogikan, bahwa setiap pribadi kita seperti sebuah kumpulan dari potongan-potongan puzzle yang didapat dari pribadi-pribadi banyak orang yang kita temui, dari sejak dulu kita kecil sampai sekarang berusia sekian dan sekian, hingga menjadilah kita pribadi yang unik seperti sekarang ini. Analogi itu setidaknya mengajari saya dua hal: tidak pernah ada sosok yang persis sama antara satu dengan yang lainnya, tapi juga di satu sisi saya jadi sadar bahwa ‘kita ada karena kita bersama’: tidak ada seorang Ifah yang begini dan begitu misalnya, tanpa ada didikan dari dua orang dengan karakter yang saling melengkapi seperti Bapak dan Ibu, tanpa ada seorang Maya (*numpang mention lagi ya May :p) yang menjadi kawan dekat sejak 9 tahun lalu sampai sekarang (wow, ternyata hampir sedasawarsa kita berkawan May! :D), atau tanpa ada puluhan hingga ratusan orang-orang di sekitar saya yang secara intens bertemu dan memberi warna tersendiri, hingga yang hanya sekelebatan bertemu tapi memberi bekas yang banyak. Semuanya secara sadar dan tidak sadar terrekam baik-baik dalam bingkai memori saya dan memberi saya pelajaran bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak.

Dari semua keberlangsungan interaksi saling pengaruhi itu, mungkin ada momen di mana kita merasa kurang beruntung dengan semua capaian dan pemberian yang ada: rasanya rumput tetangga masih terlaluuu hijau dan mempesona dibandingkan rumput di halaman kita. Padahal kalau dibuat portofolio grafik hidup kita, dengan membandingkan dari kita dulu yang benar-benar nol dan tidak bisa apa-apa dan sekarang, kita jadi sadar bahwa ada jauuuh lebih banyak yang patut kita syukuri dibandingkan rutuki. Yap, itulah poinnya: bandingkan dengan hari lalu yang telah kita lewati. bukan apa yang telah orang lain capai dengan trayek juang mereka. Itu pula mungkin hikmah dari pesan Rasulullah, bahwa beruntunglah ia yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Kita dengan hari-hari kita. Namun tentu, berkaca pada perilaku para Nabi dan salafusshalih akan menjadikan hari-hari depan kita jadi lebih bernilai, karena kemudian kita jadi tahu standar manusia terbaik ada padanya, sang Nabi yang mulia, kemudian orang-orang pada zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya.

Dengan begitu, keseimbangan jiwa kita jadi lebih terjaga: bersyukur atas pencapaian diri yang telah lalu, atas penjagaan dan bimbingan Allah walau dengan kejatuhbangunan kita, namun tidak juga cepat berpuas diri karena tentu, tentu, capaian kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia-manusia terbaik yang telah dijamin surga itu. kita jadi terus menyegerakan dan bersiap diri untuk hari esok yang lebih pasti: hidup setelah hidup.

Maka, tidak layaklah sombong jika dengan satu dua perbuatan kita sudah merasa cukup bekal, toh Allah juga yang menuntun dan memberi jalan-jalan kebaikan itu pada kita bukan? Memberi kita orang-orang baik, saudara-saudari baik di sekitar yang dengan bercermin pada mereka kita jadi terlalu malu untuk sekedar numpang berzombie di dunia ini.

Maka pula, saya tercenung-cenung mendapati diskusi di grup angkatan dengan saudara-saudari baik itu,

6/23/2013 21:27: Luqman MIPA 08: Betapa banyak bintang yang yang gemerlap menanjak naik ke langit peradaban, sesaat kemudian mereka turun dan menghilang dari peredaran, mengapa? karena mereka hadir bukan untuk memberi, melainkan untuk mengambil.~M. Anis Matta~ #serialCinta

6/23/2013 21:30: Lu’lu FIB 08: Manzai, aye ga mudeng, jelasin,
6/23/2013 21:32: Luqman MIPA 08: Intinya, keep shining
6/23/2013 21:45: Scientia Afifah: Semua bintang sifatnya memancarkan cahaya sendiri = memberi, 😀
6/23/2013 21:46: Akbar FT 08: RT Iffatuddin
6/23/2013 21:47: Luqman MIPA 08: RT Akhbaruddin
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Seperti bintang & ‘bintang’ jatuh ya? (Komet) hanya numpang lewat cahayanya… itupun hanya karena semburan gas2 yg memancar dari ‘ekor’nya..
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Beda dengan bintang.. yg bahkan dgn energinya dapat memberikan sinar ke tata planet yg mengikutinya (seperti matahari contohnya.. 🙂 )
6/23/2013 22:11: Ikhsan FK 08: Jadilah Bintang sebenarnya.. jangan hanya jadi ‘bintang’ jatuh..
6/23/2013 22:12: Luqman MIPA 08: Bisa bisa, Can 
6/23/2013 22:13: Fikri FT 08: Super sekali..
6/23/2013 22:14: +62 813-1710-0387: Super sekali.. (FAR,2013)
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: Bintang jatuh cuma sesekali
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: 🙂
6/23/2013 22:15: Faldo MIPA08: Komet pun tak sering terlihat, ia hadir periodik bersembunyi..

Jangan2 kita sedang dlm keadaan komet? Walau seringkali merasa bak bintang? 
6/23/2013 22:15: Ikhsan FK 08: Tapi bintang itu mengerikan ya.. manakala kehilangan sinarnya..
6/23/2013 22:16: Faldo MIPA08: Ya amal yg menjawab. Semoga selalu lantjar djaja 🙂
6/23/2013 22:17: Denty FIB: ~ ~ ~(/´▽`)/.
6/23/2013 22:18: Alvin FIB: Dalem,do. Sudut pandang baru ttg bintang. 🙂
6/23/2013 22:20: Ikhsan FK 08: ..Ketika energi yg dititipkan ke bintang..itu dicabut oleh Sang Pemiliknya… bintang kan jadi gelap gulita..
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: ‘Memakan’ segala yg di sekitarnya.. menghantarkan dlm kegelapan & pekat hitamnya…
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *akankah hati kita senantiasa bersinar & menyinari sekitar bagai bintang?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *atau mati, kelam, (layakanya lubang hitam) dan menebarkan kemungkaran.. karena maksiat yg dilakukan?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: #lifeisachoice yes.. your faith has been already written up there.. but still you choose the path.. a path that lead you to the hell.. and a path that lead you to Him.. So.. which path would you choose?
6/23/2013 22:22: Luqman MIPA 08: #seriusmalam
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: Ya, walau terangnya bintang memang menjadi hak prerogatif Sang Pencipta, tapi bukan berarti itu alasan baginya u/ tidak berjuang menjadi terang selama waktu masih ada..

Pun seandainya sempat gelap, selama waktu masih ada, bukan mustahil u/ kembali menjadi terang..

Walau lagi, itu hak prerogatif Sang Pemberi Cahaya
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: 🙂 
6/23/2013 22:25: Faldo MIPA08: *kebawa serius. Jd pengen komen krn Ican. Hehe.
Lanjut Gan!
Selamat makan malam 
6/23/2013 22:25: Rashid MIPA 08: @lukman , maksudnya gini kah ?

Mereka yg hadir untuk memberi akan bertahan jauh lebih lama, dari mereka yg hadir untuk mengambil
6/23/2013 22:44: Luqman MIPA 08: Mau sambung menanggapi Ican:
Pernah baca di web nationalgeographic, “some stars behave as it’s better to burn out than to fade away. These stars end their revolutions in massive cosmic explosions known as supernovae.”

Ternyata sebuah bintang punya dua opsi menghadapi kematiannya: burn out (ini yg disebut supernova), atau fade away (meredup cahayanya). Banyak bintang yg lebih ‘memilih’ utk men-supernova daripada harus meredup cahayanya. Padahal utk men-supernova jelas2 butuh energi luar biasa.

Dan seperti ini pula pilihan menghadapi kematian para mukmin sejati; ‘Umar bin Khaththab, Thalhah bin Ubaidillah, ‘Umar bin Abdul Aziz. Di penghujung hidup, mereka justru memilih ‘meledakkan’ dirinya dengan amal dahsyat yang pernah dipersaksikan sejarah.”

dan semakin tercenung malu mendapati tulisan Pak Dwi Budiyanto di bawah ini,

“Ada banyak orang-orang yang susah dihapus dari ingatan. Bukan karena wajahnya yang rupawan. Bukan pula karena hartanya yang melimpah. Bukan karena karir akademiknya yang menjadikan kebanggaan. Ada banyak orang-orang yang sulit dilupakan, karena mereka melakukan suatu kebaikan tidak agar mereka diingat, tapi karena memang ingin berbuat. Insya Allah, mereka masih dapat kita temukan. Jumlahnya pun sangat banyak. Tapi kita tidak pernah mengenali karena mereka berbuat dalam diam, dalam kesunyian.

Layaknya perempuan tua yang biasa membersihkan masjid dari kisah di atas, yang perlu kita lakukan hanyalah melipatgandakan peran, menjernihkan motif setiap pengorbanan, dan terus berbuat sebesar yang bisa dilakukan. Terlibat di tengah masyarakat dan secara tulus mendampingi mereka. Dengan jalan ini hidup kita menjadi nyata dan jauh lebih bermakna. Orang bisa saja mencela, tetapi kepercayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa intens kita ada di tengah-tengah mereka; tulus melayani, bermula karena peduli.

Semoga hidup ini, betapapun sederhananya, mampu memberikan inspirasi bagi sesama. Sebab kematian yang indah selalu menyisakan ‘keterangan kerja’ di belakang nama kita, seberapapun kecil kerja-kerja kebaikan yang telah dilakukan.”

– @dwiboediyanto | http://matahati01.wordpress.com/2013/06/20/mereka-yang-susah-dihapus-dari-ingatan-2/

dari titik saat ini kita berdiri, tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dari diri sendiri, bersyukur dengan apa yang sudah diberi, terus melakukan amal shalih berkelanjutan–sekecil apapun itu, serta bersinergilah. sebab kita ada karena kita bersama.