Worshipper, Intellectual, Faithful, Educator

Worshipper, Intellectual, Faithful, Educator

Hari ini, salah seorang dosen muslimah yang saya kenal sebagai sosok penyeru kebaikan di kampus saya dilantik sebagai profesor. Di usianya yang sebaya dengan ibu saya, pengajar di Departemen Farmasi tersebut berhasil menyelesaikan risetnya tentang manggis, di mana ia berhasil menemukan 8 senyawa baru, yang tiap senyawanya dinamakan dengan nama anaknya. Jika diberi kesempatan, suatu waktu saya ingin bertanya padanya bagaimana mengatur waktunya dengan amanah sebagai istri, sebagai ibu dari 8 orang anak, dan tentunya amanahnya sebagai pengajar di UI. Semoga Allah berkahi amanah barunya ya Bu. ūüôā

Di lain kesempatan saya dipertemukan dengan senior muslimah lain yang membuat saya masih merasa jauh di dasar bumi. Namanya sudah melambung ketika saya berstatus sebagai mahasiswi baru di UI, sebagai Mahasiswa Berprestasi FKM UI. Namun baru beberapa tahun kemudian ketika kami sama-sama sudah berstatus sebagai alumni, Allah pertemukan kami sebagai sesama pembicara di salah satu forum kemuslimahan. Bicaranya terstruktur dan tegas, melengkapi sosoknya yang lembut dan intelektualis. Saya yang masih junior di bawahnya merasa bersyukur sekali bisa banyak belajar dari beliau, yang saat itu baru saja menyelesaikan S2nya di Inggris, dengan diamanahkan satu anak perempuan yang bertumbuh lucu dan cerdas. ¬†Ketika di kesempatan itu saya bertanya, apa cita-citanya, dengan mantap ia menjawab, bahwa ia ingin menjadi guru besar termuda di departemennya.¬†Kabar terakhir yang saya tahu, beliau saat ini sudah kembali lagi ke Inggris untuk menyelesaikan S3nya di bidang yang sama. Semoga Allah beri kekuatan untuk mencapai cita-citanya ya Mbak ūüôā

Dari mereka saya belajar, bahwa visi yang kuat dalam hidup akan menuntun akan ke mana kita melangkah. Saya yakin, visi kuat dari kedua perempuan tersebut tidaklah “sekedar” ingin menjadi profesor atau guru besar. Tapi ada “why” yang sudah terjawab dan terus menerus diulang, sehingga ketika ada hambatan, kesulitan, kendala atau apapun yang berpotensi mematahkan semangat mereka, mereka bisa kembali bangkit dan ¬†berjalan. Yes, kalau sudah tahu mau ke mana dan mengapa, caranya bagaimana akan mengikuti. Keyakinan yang selalu diselipkan dengan doa-doa, karena Dia Maha Mendengar setiap keinginan dan kehendak kebaikan, dan akan dikabulkan di waktu yang tepat menurut-Nya.

Seperti pelajaran ekstra yang saya dapat dari perempuan istimewa itu.¬†Ketika saya bertanya padanya di suatu waktu, “Bu, dulu terpikir nggak si Ibu mau kerja kantoran gitu atau ngejar karir?” Jawabnya, “dulu Ibu punya cita-cita untuk jadi ahli hukum tata negara,” ya, perempuan yang mengajari saya secara langsung untuk menjadi¬†tawazun woman¬†itu dulu sempat mengambil sarjana muda hukum di salah satu kampus swasta di Bandung, berbarengan dengan pendidikan sarjana ilmu komunikasinya di kampus negeri di kota yang sama. Menyelesaikan kedua pendidikan itu dengan jalan yang tidak mudah, karena sudah diamanahi dua orang prajurit kecil. “Tapi, begitu punya anak, yang ada di pikiran Ibu itu gimana cara ngedidik anak-anak supaya jadi anak-anak yang baik”

Begitulah, waktu terus¬†berjalan, dan Ibu, perempuan yang melahirkan saya dan saudara-saudari saya itu akhirnya diberi kesempatan “menjalani” peran yang bersentuhan dengan hukum tata negara puluhan tahun kemudian. Semoga Allah merahmatimu, Bu.

Kalau kata Arai, “bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Sekarang pertanyaannya, kau sudah punya mimpi belum? Kalau sudah, sudah seberapa jauh memantaskan diri untuk mimpi itu? Mengusahakannya?

“Hardwork betrays none, dreams betray many,” begitu kata orang (quote yang saya lihat di status WA adik saya, tapi sepertinya itu dari anime ya? :D), tapi ada pesan yang lebih keren lagi didapat dari kitab suci saya selaku muslimah,

“Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa..” (Qs. Al-Ankabut: 69)

*on my way to be a good wife: worshipper, intellectual, faithful, educator.

Never Stands Alone

Never Stands Alone

Benak saya tergelitik ketika melihat Mata Najwa pekan kemarin. Episode bertajuk ‚ÄúMenatap yang Menata‚ÄĚ itu merupakan salah satu episode yang paling saya tunggu-tunggu. Saya kesampingkan dulu semua teori bahwa media merupakan sarana pencitraan politik sesaat, saya hanya ingin menikmati harapan yang disajikan secara piawai oleh host bergaris wajah Arab itu, Najwa Shihab.

Meski terlambat mengikuti episode berdurasi 90 menit tersebut, saya bersyukur tidak tertinggal di sesi terakhir. Sesinya Bapak Walikota Bandung–yang akhir-akhir menyita banyak kalangan muda, termasuk saya, karena kreativitas dan keunikannya memimpin kota kembang tersebut. Gaya bicara dan jawaban beliau sederhana dan santai, lucu khas Sunda, tapi menukik dan tidak terkesan diplomatis-politis.

Sesi bincang-bincang ringan tapi bernada tajam itu membuat saya senyum-senyum; bandul yang bergerak di antara cemas dan harap, berdoa semoga beliau dikuatkan untuk mengemban amanah teresebut. Tapi ketika sesi itu berakhir dan lagu berlirik Inggris¬†mulai terdengar sebagai soundtrack penutup, kening saya dibuat berkerut ketika melihat resume singkat seluruh pengisi acara di episode itu: Kang Emil dan dua pemimpin daerah yang namanya belum familiar di telinga saya, yakni Pak Suyoto (Bupati Bojonegoro) dan Pak Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng). Bantaeng di mana pula itu? Saya segera menoleh dan bertanya ke Bapak yang tidak jauh dari saya. Oh, Sulawesi Selasatan! Ah, malulah kau Fah, di mana ke-Indonesia-anmu itu? ūüėÄ Syukurlah kau punya Bapak yang sudah menjelajah hampir separuh dunia.

Sepintas, saya membaca profil singkat mereka. Pak Nurdin dan Pak Suyoto adalah incumbent yang menurut versi Najwa mampu membawa banyak perubahan signifikan selama beliau berdua memimpin daerahnya masing-masing, berbeda dengan Kang Emil yang baru sekitar lima-enam bulan memimpin Bandung. Titik kesamaannya yang membuat saya tertarik adalah, latar belakang mereka bertiga yang tidak terlalu kental dengan aroma politik praktis, tapi justru akrab dengan dunia akademis dan profesi. Bertahun-tahun mereka membangun karir di dunia yang secara tidak langsung mendapat imbas dari efek besar politik suatu rezim, tapi tidak terlalu kentara benang keterlibatannya. Lantas, pertanyaan yang menggelitik benak saya saat itu adalah: bagaimana bisa orang-orang dengan tipikal lurus (saya sering menyebut para politisi praktis itu seperti pelaku jalan yang berkelok-kelok, :D) seperti itu mampu muncul ke permukaan dan memiliki kuasa atas wilayah tertentu, mampu bertahan cukup lama, dan membuat terobosan-terobosan baru yang bermanfaat bagi daerah yang dipimpinnya?

Saya merumuskan sebuah sintesa singkat yang menghasilkan kesyukuran tersendiri di otak saya; mereka mampu maju dan kemudian membawa banyak perubahan, pastilah bukan sebagai produk one man show atau titisan ksatria piningit-godotnya masyarakat Indonesia yang banyak mengendap di sebagian khalayak masyarakat. Tapi saya yakin, mereka adalah hasil kerja kolektif dan panjang yang telah dimulai oleh orang-orang terdahulu. Di balik mereka, masih ada, masih banyak bahkan, orang-orang baik yang kuat, yang berusaha keras, memupuk kesabaran untuk menempuh jalan panjang, memelihara bibit-bibit penerus yang diharapkan akan membawa perubahan di masa depan, tidak berhenti berharap semoga Tuhan berkenan membuka pintu-pintu takdir kebaikan. Akumulasi orang-orang baik, berani mengambil resiko, yang bersatu, kemudian bertemu momentum itulah, kemudian kita sebut dengan kemenangan. Kemenangan bersama.

Because, the winner never stands alone. 

Jangan pernah meremehkan sekecil apapun kontribusi kebaikan kita untuk cita-cita kebangkitan negeri ini. Meski hanya dengan terus mendukung orang-orang baik, berani, untuk tetap kuat di pos-pos perbatasan penjagaan negeri ini. Pos perbatasan yang mungkin sekedar membayangkan untuk menempatinya saja kita tidak berani..

Best Timing

Best Timing

Beberapa waktu terakhir, ada rindu yang tertumpuk pada sosok lelaki yang kurang dua pekan lagi akan genap 26 tahun itu: Mas Faris. Riuhnya realita dunia yang beberapa kali membuat saya stuck dan lelah membuat saya amat ingin mendengar jawaban-jawabnnya yang kadang ringkas, lugas, dan di lain kesempatan bisa sangat panjang lebar, mendalam, dan mencerahkan.

meski jika sudah bertemu lebih banyak diam, cuek menyebalkan :D, atau ribut-ribut kecil yang tak penting, tapi sampai saat ini saya belum menemukan sosok ustadz yang enak diajak berdiskusi daripada beliau, belum menemukan sosok abang yang humornya seunik beliau–dan semakin melengkapi kehadiran Mas Af–yah, sesuatu baru akan terasa semakin berharga ketika ia sedang tidak ada kan?
begitulah, hitungan hari menanti kepulangannya di bulan ini menjadi terasa sangat lambat, terutama ketika momen stuck itu hadir, yang membuat saya ingin, *cling*, tiba-tiba melihat ia dengan wajah datarnya sedang duduk membaca di sofa rumah.

Tapi kemudian saya mencoba untuk berfikir lebih legowo dan positif lagi: kalau Allah belum berkehendak membuat ia pulang lebih cepat, itu artinya Allah ingin melatih saya untuk menjadi penggantinya, setidaknya di momen-momen seperti ini, menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada. Mendorong saya untuk belajar mandiri, sebagaimana yang selalu beliau ajarkan ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan¬†sepele¬†saya: “coba cari di kitab ini dan itu, coba cari jawaban sendiri lebih dulu akan membuat belajar jadi lebih nikmat”.

yap, seperti hikmah-hikmah yang datang kemudian saat yang saya inginkan tidak langsung menjadi kenyataan, saya belajar bahwa Allah selalu memberi apa yang hamba-Nya butuhkan di kondisi dan momen terbaik. Seperti momen 14 Januari¬†awal tahun ini yang sangat berkesan dalam ingatan saya, saya belajar bahwa titik terdekat seorang hamba pada Tuhannya salah satunya justru di tengah kegentingan dan keterjepitan situasi. saat sudah pada titik maksimal ¬†berikhtiar, sudah tidak tahu lagi harus bagaimana dan ke mana, dengan lirih berujar kita merunduk, “apapun ya Allah, apapun..” ¬†sembari kaki terus berusaha melangkah dan tangan menyelesaikan apa-apa yang masih bisa diselesaikan, serta hati yang coba terus (di)lapang(kan)..

maka ketika akhirnya kehendak Allah itu tiba, adalah saat di mana kita sudah pada titik yang lebih siap mengemban tanggung jawab yang lebih berat lagi. siap membagi dan memberi dengan lebih banyak lagi..

percayalah bahwa rencana Allah selalu lebih indah. kita hanya butuh terus bersabar, bersyukur, dan ikhlas..

jangan lelah, jangan menyerah

jangan lelah, jangan menyerah

pernah beberapa kali kita berucap, “ya sudah, terserah Allah saja..” sembari merebahkan kepala yang sudah terlalu lelah berfikir, hati yang terlalu lelah was-was dan berharap, kaki yang sudah terlalu lelah berlari, dan mata yang sudah tak sanggup lagi menangis.

saat-saat seperti itu, kita menjadi sudah terlampau pasrah dengan segala usaha termaksimal yang bisa dilakukan, “apapun ya Allah, apapun..”.

dan momen seperti itu dapat menjadi titik terdekat kita dengan-Nya.

seperti pagi tadi..

————-

setengah berlari terhuyung saya memasuki ruang PK 2 (Program Kekhususan Pidana). syukurlah masih ada¬†beliau.¬†sosok kunci yang sering disebut dalam doa-doa saya akhir-akhir ini, “Ya Allah, Tuhannya Mbak X, mohon bukakan hatinya. mohon bukakan hatinya.. ”

demam sejak pagi dan sakit kepala yang terlalu membuat saya tampaknya terlalu mengenaskan untuk dilihat perempuan muda itu.

“waduuh, gejala mau ujian nih, pasti flu berat.. nggak apa-apa, hidup adalah perjuangan!” ujarnya sembari tertawa setengah meledek ketika menyambut saya. di hadapannya ada seorang mahasiswi lain yang juga tengah bernasib sama dengan saya: berdebar menanti keputusan acc dari beliau. hari ini menentukan banyak hal.. lebih menegangkan daripada menunggu giliran sidang. ini menunggu kepastian apakah akan sidang semester ini atau tidak. apakah akan membuat bapak dan ibu kecewa atau tidak..

saya membalas dengan¬†cengiran¬†yang lebih mirip¬†ringisan¬†menyedihkan. “hehe, iya Mbak, sedang flu berat ini.” eh, apa tadi katanya? “ujian”? jadi..?

saya seksama mendengarkan ketika beliau memberikan wejangan terkait persiapan sidang kepada mahasiswi di sebelah saya., apa-apa yang harus dipelajari, bagaimana cara menjawab, sambil sesekali menoleh kepada saya yang masih setengah berharap tapi lebih banyak was-was, ” nanti begitu ini saya acc, segera hubungi Bu T untuk mengurus pendaftaran.. ya, Ifah, kamu juga nanti persiapkan begitu juga ya.”¬†

“oh, baik ¬†Mbak, apa perlu saya..” ha,¬†akhirnya..

“eh, memang kamu sudah fiks selesai dan pasti sidang?” masih dengan tertawa setengah meledek ia memotong. Ezz.,¬†Ya Tuhan, sepertinya memang, kadangkala orang yang sering membuat kita kesulitan itu orang yang paling berharga buat kita. -__-

tak lama keluarlah mahasiswi tersebut. masih dengan gayanya yang kocak, ia memanggil saya untuk berpindah posisi tepat di hadapannya, “yak, pasien selanjutnya, Scientia Afifah”

tap. saya duduk. berdebar.

tiba-tiba rautnya berubah serius, nadanya lugas. “kamu, saya akui skripsimu lebih bagus daripada mahasiswi yang tadi. ” eh, apa ini? tidak salah dengar? sejak kemarin saya hanya benar-benar berharap agar setidaknya memenuhi standar minimal untuk lulus, tidak usah terlalu muluk. “karena bedanya, berkali-kali saya kasih saran ke beliau, beliau sudah mentok tidak bisa optimalkan saran saya. saya¬†hands up.¬†tapi kamu, saya berani menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap kamu, karena kamu masih bisa kreatif dan menjalankan apa-apa yang saya dan Mbak Y sarankan. kamu tentu tahu bahwa di sini, di PK ini, kami benar-benar melihat kualitas. standar yang berbeda mungkin dengan di PK lain yang mudah memberi nilai A. Kalau seseorang nilainya C, kami berani bilang C, kalau memang A, kami akan bilang A ”

jeda sebentar. sekarang tatapnya benar-benar menatap wajah saya yang tengah kepayahan menahan sakit kepala dan demam, serta bergumam tak mengerti, terus gimana Mbak? jadi skripsi saya ini lolos apa nggak Mbak?

“walaupun saya tahu kamu harus jungkir balik, jatuh, pingsan, kemudian bangun lagi, tapi tapi saya yakin kamu bisa memenuhi ekspektasi saya.¬†karena itu,¬†jangan pernah lelah dan jangan pernah menyerah. kamu pasti bisa.”

saya tertegun. sejenak flu saya seperti hilang ditelan udara.

“ini (sembari menunjuk skripsi), ini baru awalan dari rangkaian kehidupan kamu yang masih panjang. nanti kamu akan kerja, akan ambil S2, atau S3, itu akan jauh lebih sulit daripada ini. ini baru awalan. karena itu, jangan.pernah.lelah.dan.jangan.pernah.menyerah.”

saya masih terdiam. meresapi kata-katanya dengan sangat dalam.

saya baru mengerti apa maksudnya ketika kemudian beliau membuka halaman per halaman jilidan setebal seratusan halaman itu.

“ini, saya beri catatan-catatan penting yang harus kamu siapkan dan perbaiki.. agar ketika nanti kamu sidang..” kemudian lamat-lamat dan cermat saya mendengar, mengangguk-angguk, dan menikmati petuah-petuah terakhirnya. dari sisi substansinya, teknisnya, sampai cara menyampaikan ketika presentasi..

anugerah sekali saya mendapat pembimbing seperti beliau..

baik Mbak, saya ingat baik-baik pesan Mbak, meski secara harfiyah melampaui kemanusiaan dan kenyataan.. sebisa mungkin,¬†“jangan.pernah.lelah.dan.jangan.pernah.menyerah.” dan jadilah menyejarah, setidaknya pada catatan hidupmu yang akan dikenang oleh anak-cucumu nanti.

alhamdulillaaah. satu langkah lagi..

bekerja saja

bekerja saja

belajar selama dua tahun berturut-turut, 2011 dan 2012, saya jadi semakin paham bahwa kunci untuk membuktikan gerakan ini adalah rahmatan lil ‘alamin berpusar pada dua hal: kerja keras dan kemampuan menampung semesta konstituen rakyat kampus.

meskipun masih ada sebagian kawan yang secara jujur mengakui, “memang bagus sih, tapi secara kebijakan kampus maupun nasional itu nggak banyak yang dilakuin”, saya tetap angkat topi karena di tengah krisis dan apatisme terhadap gerakan, dua lembaga ini mampu mengakarkan gerakan mahasiswa sampai ke akar rumput.

ya, kerja keras. tidur lebih sedikit, mendengar lebih banyak, paling awal tahu tentang permasalahan yang ada, paling cepat sampai di lokasi kejadian, dan mau bekerja keras mengupgrade diri untuk hal-hal yang bahkan awalnya di luar kapasitas dirinya.

kemudian kedua, kemampuan menampung semesta. ini juga ditentukan oleh sikap open minded dan mau bekerja sama dengan pihak-pihak yang berseberangan secara ideologis dengan dirinya. bahwa yang ingin berkontribusi untuk kampus dan bangsa ini bukan hanya Tarbiyah, tapi juga ada HMI, GMNI, PMII, dll. maka fokus pada apa yang bisa diberikan secara bersama akan memperpendek jurang yang ada. ajaran paman guru, “bekerja sama terhadap hal-hal yang disepakati dan bertoleransi terhadap hal-hal yang berbeda” dipahami dan diterapkan sebisa mungkin. bersikap santun dan mengakui secara jujur bahwa berjalan sendirian menuju gerbang bukan pilihan yang baik. memang agak riskan karena akan timbul beberapa sifat permisif yang tidak sejalan dengan value gerakan ini, tapi selama sang pemimpin mampu bersikap profesional dan terdepan dalam pelayanan, orang lain akan respect terhadap hal-hal prinsip yang secara berbeda memang ada.

dan, ah ya, ‘ala kulli hal, agaknya ruh at-Taubah: 105 memang mengakar kuat. “bekerja saja, jangan banyak bicara”, “inspirasi dan berkarya itu bisa dilakukan siapa aja Fah, kayak apa itu ayatnya, “bekerjalah kamu..”

yap, indeed.

dan kembali, saya bersyukur¬† menjadi bagian dari barisan-gerakan ini, mampu melihat langsung proses pembelajaran yang saudara-saudara tersebut beri, untuk kemudian saya kembali bagi di sini. ūüôā

anyway, thanks to Ustadz Musholi dan PPSDMS yang mengajari kami nilai-nilai ini: tetaplah objektif dan open minded. *kemudian ditimpuk pembaca karena mendadak chauvinis* ūüėÄ

merdeka

merdeka

alangkah bahagianya orang yang merdeka,

ketika ia membebaskan semua keinginan, cita-cita dan emosinya di bawah kehendak Tuhannya, saja. proyeksi dirinya tidak pernah berhenti mengacu pada Rasul yang ia junjung mulia, saja. meletakkan turunan kecintaan pada Rasulnya pada sahabat-sahabat, pada pahlawan-pahlawan terdahulu yang namanya tak habis dilekang masa.

alangkah bahagianya orang yang merdeka,

terus bergerak dan berlari walau kritikan dan protes di sana-sini, walau tak diangggap pernah ada.

nada-nada kecewanya adalah pada dirinya sendiri, saat sedikit saja ia lalai dan mengecewakan Tuhannya..

ya, alangkah bahagianya orang yang merdeka..

5, 14, 9..

5, 14, 9..

saya seperti baru benar-benar sadar kalau 5¬† Januari dan 14 Januari itu sudah dekat sekali. kalau bukan karena ada adik kelas yang mengundang menjadi pembicara untuk tanggal 4, sembari mengatakan, “pekan depan ya Kak”, mungkin tensi saya masih pada level 7-8. ūüėÄ nah, bagaimana mau naik sampai tingkat 9-10, dua dospem-nan baik hati itu sedang liburan dan sangat sulit dikontak, padahal dua bab krusial saya masih menunggu acc dan feedback dari beliau..

akhirnya saya mencoba benar-benar terbangun dan menaikkan ‘kepanikan’, coba melompat lebih tinggi, sembari mencoba berbagai saluran komunikasi–yang tetap masih no respons, hingga akhirnya saya mencoba merevisi dan memfeedback tulisan saya sendiri. namun ternyata efek positifnya minim sidang pembaca sekalian, ūüėÄ , sesuatu yang berat dan dilakukan dalam kondisi terdesak (atau ini hanya berlaku bagi saya?), cuma akan menghabiskan energi dan menghasilkan keletihan yang sia-sia, asam lambung yang meningkat dan vertigo yang kambuh, ūüėÄ ,¬† saya coba tengok sejenak hasilnya, memang cukup produktif analisa dan tulisan yang dihasilkan, tapi setelah itu butuh waktu lama untuk recovery energi kembali.

maka tetap mencoba tenang, rileks, dan berfikir jernih adalah salah satu kunci supaya mampu bertahan sampai akhir, sampai garis finish.. setelah berhasil merekonstruk diri dengan tilawah, mengingat harapan orang tua, dan mengingat kata-kata mereka, kawan-kawan baik itu, energi itu bisa kembali.

“skripsi itu bukan perkara pintar atau tidaknya, tetapi tentang endurance kita..” – Mbak Asri

“..mimpi sih Fah, kamu harus punya mimpi.” – Bang Sakti (senior di FH yang mengerjakan 4 bab dalam waktu dua minggu)

“kerjakan untuk yang kita sayang Fah. Aku tunggu ya, aku ingin bisa melihatmu dengan toga kebesaran kita. Be tough, dear.” – Devi

“ini skripsi gw. awas lo kalau nggak lulus,” -Faiza

“Allah lebih dekat daripada deadlinemu, Fah! air mata bukan jawaban untuk segera selesai skripsiii.. keringat, Tuan, dan daraah.. #eeaa” -Kak Uti Nilam S

“Bisa mbak, insyaAllah. Tanamin dalam diri Mbak bisa! insyaAllah semesta mendukung” -Lita

“Ishbir ya Fah.. doa terus sembari tetap usaha jaga kontak. Allah yang akan membolak-balikkan hati dosenmu” -Afra

*sengaja saya abadikan proses perjuangan skripsi ini, karena saya percaya, satu sesi ini menentukan banyak hal kelak.. yeah, semangat menuju 9 Februari!