Pulang Ke Rumah

Pulang Ke Rumah

Kemarin, seorang ibu muda yang saya kenal di negeri Paman Sam, pamit di sebuah grup, “saya pamit pulang dulu ya.. ibu-ibu. Malam ini insyaAllah akan pulang ke Indonesia.” tentu saja beliau berpamitan di sebuah grup yang mayoritas isinya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, dalam hal ini Amerika.

Satu hal yang menarik dari pamitan beliau adalah ketika beliau menggunakan kata “pulang” ketika merujuk pada aktivitas kembali ke sebuah negeri yang terbentang jauh dari lokasinya saat itu. Pulang ke tanah air, tanah kelahiran, kampuang nan jauh di mato, homeland.

Kenapa bagi saya hal tersebut menarik? Karena bisa jadi, aktivitas kembali ke tanah air tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sebagian (besar?) orang yang sudah menghabiskan sebagian besar usianya, making a living, membesarkan  anak-anaknya (bahkan menikah, kemudian melahirkan anak pertamanya) di sebuah negeri di mana standar hidup seorang manusia menjadi sangat layak. Setidaknya pada standar dasar: udara yang bersih, air yang bersih, makanan yang kesehatannya dijamin dari pemerintah.

Pulang, menjadi suatu hal yang bisa jadi memberatkan bukan hanya karena biaya tiket perjalanan, tapi juga karena “beratnya” membayangkan apa yang akan dihadapi sesampainya di tanah kepulangan. Kemacetan, polusi, banjir, makanan yang dibumbui was-was dalam hati soal kesehatannya (ini gorengan dicampur plastik apa nggak ya? ini baso daging sapi apa daging yang lain?), inflasi yang tak sebanding dengan daya beli, tingkat keamanan yang rendah, de-el-el, de-es-be.

Rencana saya dan suami untuk coba menerapkan rihlah gembira sekaligus playdate alias silaturahim antar keluarga-keluarga kecil di antara teman-teman dan kerabat sepertinya menjadi tantangan yang cukup sulit untuk direalisasikan di Indonesia. Berbeda dengan rihlah gembira yang mudah dilakukan di sana, dua minggu sekali atau sebulan sekali, di tempat-tempat yang indah dan bersih dengan biaya masuk yang murah, membayangkan menempuh perjalanan ke suatu tempat yang berjarak 15 km dari tempat tinggal kami saja sudah pusing karena kemacetannya. -_-a

20160611_165005
Azima menatap kota Depok

Sepuluh hari menjejak kembali di tanah kelahiran, Indonesia, membuat saya berpikir ulang makna “pulang”.

Pulang, artinya menerobos segala kenyamanan yang didapat di negeri kunjungan, dan membawa kenyamanan itu sebagai kenangan untuk mengubahnya menjadi energi perubahan.

Menatap mobil yang berderet-deret menyesaki jalan Raya Bogor, Juanda, Margonda, sambil berulang menatap jam yang terus berputar, saat 15 km jarak ditempuh dalam rentang waktu nyaris 2 jam. Terbersit kenangan ketika suatu ketika diajak Mbak Gilda, ibu kontrakan tempat saya tinggal di US, ke Santa Cruz Beach, dengan jarak tempuh 112 km (sekitar 70 miles) dalam rentang waktu yang sama, sekitar 2 jam sahaja.

Atau ketika saya terheran-heran dengan banyaknya orang di sepanjang jalan selama saya di downtown Tokyo–sebuah kota yang sangat crowded, yang mau menempuh berkilo meter jalan kaki. Bapak dan abang-abang (?) muda dengan setelan jas siap ke kantor, tapi tak segan mengayuh sepeda menuju lokasi di mana mereka bekerja. Ibu-ibu yang membonceng anak balitanya di depan dan di belakang dengan sepeda yang memiliki bangku anak-anak yang aman, tampak sangat damai. Tidak diwarnai asap ibu kota dan stress kemacetan melihat deret mobil yang tak bergerak.

Kapankah tanah kelahiranku, Jakarta, (dan kini tanah kelahiran anakku, Depok) bisa seperti itu?

Pulang, berarti kita menuju sesuatu yang dirindukan. Karena ada sebagian atau seluruhnya hati yang tertinggal, di tanah kelahiran. Rindu adzan yang bersahutan, rindu akan tempat di mana Ramadhan menjadi bulan yang dirayakan, di mana ibu-ibu bisa mengajar anaknya melafaz dzikrullah di tempat umum tanpa harus dilihat aneh dengan tatapan dari-planet-mana-kamu-berasal atau apakah-kamu-teroris?, rindu bakso dan siomay bervetsin,  dan tentu saja rindu dengan keluarga, saudara-saudari, dan sahabat-sahabat yang sedikit banyak membentuk kepribadian kita sampai saat ini.

Meski berat dan payah, serta segudang amanah menanti diselesaikan, pulang menandakan kita masih punya kepedulian, masih punya perhatian. Pulang juga menandakan kita masih punya harapan, masih punya impian, agar tanah kelahiran menjadi tanah yang dapat (semakin) dibanggakan, menjadi ladang kebaikan sebelum kita benar-benar “pulang” .

Days in USA

Days in USA

Suatu ketika ibu saya pernah berpesan, bahwa ketika sudah menikah, seorang istri harus taat mengikuti–selama bukan maksiat, ke manapun suami pergi, walau ke lubang semut sekalipun. That’s why she told her daughters to choose the right man, who can bring his wife and family to heaven.

Dua tahun memang bukanlah waktu yang cukup untuk saya terus menata diri menjalani peran baru saya sebagai istri, sebagai ibu. Adaptasi ketika berhadapan dengan jetlag peran lebih sulit menantang ketimbang jetlag melintasi zona waktu yang jauh berbeda. Medio Agustus tahun lalu, setelah berulang kali saya mencatat kembali repelita (rencana pembangunan lintas cita-cita, haha), akhirnya saya menetapkan bahwa sudah saatnya menjalankan satu, dua, sepuluh langkah ke depan, tidak melulu berkutat pada perubahan-perubahan rencana dan wacana. Saya ambil les bahasa Inggris untuk bekal S2 dan beasiswa setiap hari Sabtu, dan bahasa Arab setiap hari Ahad untuk bekal saya semakin memahami pedoman hidup saya.

Selama kurang lebih empat bulan, saya menikmati ritme setiap akhir pekan itu: berangkat jam 7 pagi untuk titip Azima di daycare, kemudian saya les sampai Dzuhur, berlanjut ke Masjid UI untuk mengisi, dan sorenya baru berjumpa kembali dengan Azima. Begitu pula ketika hari Ahad, berangkat pagi-pagi untuk agenda pekanan, kemudian jelang Dzuhur saya ke daycare, dan berlanjut ke Masjid Al-Huda Komplek Timah, di mana lokasi PBAT (Program Bahasa Arab Terpadu) dilangsungkan. Setelah beberapa waktu otak saya kurang terasah untuk berfikir “serius di dalam kelas”, ritme beberapa pekan itu seperti mendorong saya kembali untuk terus belajar. Terima kasih untuk Abu Azima dan mbah uti Azima yang ful support, bersedia mengantar saya dan atau menemani Azima selama memang tidak bentrok dengan agenda kontribusi akhir pekannya. Dan tentu, Mbak Lalita dengan Ocrito Daycare-nya yang bersedia menerima Azima di akhir pekan, di saat seharusnya para pengasuh di sana menikmati istirahat dan bersantainya. (Duh, kok ini kayak ucapan terima kasih skripsi :D).

Yap, seperti apapun manusia berencana, pada akhirnya Dia punya rencana yang lebih baik untuk kita. Persiapan bahasa yang sedianya untuk satu langkah ke depan melanjutkan jenjang pendidikan, ternyata digunakan untuk bercakap-cakap langsung dengan native di negara yang bahasa ibunya adalah Inggris.

Rencana apply beasiswa S2 dan mendaftar SIMAK UI saya di awal tahun ini akhirnya berubah ketika di akhir tahun kemarin Kak Jay mendapat tawaran untuk mengikuti program inkubasi bisnis di San Francisco, California, USA. USA? Selama 5 bulan pulak.

Saya cukup tahu rasa tidak enaknya LDM dengan sang suami, ketika sekitar dua pekan ditinggal ke Istanbul, Turki, untuk mengikuti lomba Start Up tingkat internasional. Ada banyak pertimbangan yang membuat kami maju mundur memutuskan untuk pergi bersama atau tidak dalam hal perjalanan ke US ini. Untuk ongkos pesawatnya saja sepertinya jauhh sekali tak tergapai. Tapi setelah berdiskusi kembali, bertanya sana-sini, meminta pertimbangan pada Ibu, memohon petunjuk pada Allah, akhirnya diputuskan untuk mengikhtiarkan agar bisa ikut. Soal rezeki insyaAllah ada jalannya selama memang Dia menakdirkan kami untuk pergi bersama.

Dan sekali lagi, saya tersentuh dengan kegigihan Ibu mengikhtiarkan yang terbaik untuk anak-menantu-cucu2nya. Now, I know that feeling, Mom: berusaha memberi bekal dan kesempatan terbaik untuk anak-anaknya, seperti apapun caranya walau tampak mustahil. Lewat ikhtiarnya, rezeki Allah sampai untuk ongkos pesawat saya dan Azima, dan sampai hari ini, saya masih merasakan jejak-jejak kebaikan Ibu memberi jalan kemudahan bagi kami untuk hidup di negeri asing ini. Mendapat tempat tinggal yang tergolong murah untuk ukuran standar hidup di US, lingkungan tempat tinggal yang ramah anak (ada playground, ramah stoller dan pejalan kaki), dan dekat dengan toko-toko kebutuhan sehari-hari dan utamanya halal store.

Hari kedua setibanya di US, ketika kami masih kepayahan beradaptasi dengan jetlag dan udara dengan kisaran 8 – 15 derajat celcius, kami diajak bertemu dengan sesama WNI di pengajian WNI muslim daerah San Francisco, dan hari ini (hari keenam) bertemu kembali dengan ibu-ibu WNI di daerah Bay Area untuk ta’lim rutin, maha suci Allah yang memberi banyak kemudahan sehingga saya dan Azima tidak merasa sendirian di tempat ini. Dari pertemuan dengan WNI (dan WNI yang sudah pindah citizen ke US) itu saya juga belajar banyak soal kemandirian (sebagian besar ibu2 yang saya temui selama dua pertemuan kemarin bisa bawa mobil semua), bertahan dan terus berjuang di negeri orang, baik ibu-ibu yang meninggalkan karir gemilangnya untuk fokus mengurus anak dan suaminya, maupun ibu-ibu yang selesai masternya dengan diiringi kelahiran tiga anaknya. Yeah, berada di perantauan membuat rasa keimanan jadi penguat utama ikatan kami, tidak peduli latar belakang keluarga dan latar pendidikannya apa (meskipun rata-rata ibu-ibu yang saya temui di sini adalah alumni UI :D).

Bekal didikan Ibu juga yang membuat saya nekat naik BART (Bay Area Rapid Transportation, semacam kereta cepat bawah tanah/bawah laut/dan beberapa meter di atas tanah) dari Oakland (lokasi BART terdekat dari tempat tinggal) ke Dublin, berdua saja dengan Azima untuk mengikuti ta’lim ibu-ibu hari ini, meskipun kalau dipikir-pikir, agak berbahaya juga dengan kondisi negeri yang ragam kejahatan bisa saja terjadi (na’udzubillah min dzalik). Banyak-banyak dzikir dan minta perlindungan dari Allah saja, pesan Ibu saat itu.

Tapi memang, dari segi kebersihan udara, kecanggihan transportasi dan ketertiban masyarakat, banyak pelajaran yang bisa diambil dan tidak mengherankan jika dari tolak ukur materi, US digolongkan sebagai negara maju. Contoh kecilnya, ketika kami naik bus dari Alameda (lokasi tempat tinggal kami, sekitar 12 km dari SF), menuju SF untuk survey kantor Kak Jay, supir busnya menolak penumpang yang mau naik dengan alasan bus yang sudah penuh, padahal untuk ukuran bus Transjakarta, wah, masih bisa cukup 5-6 orang lagi! :D. Perlindungan terhadap anakpun tergolong cukup ketat di sini, sebagaimana yang diterapkan di negara-negara maju lainnya, tentang kewajiban penggunanaan carseat bagi balita yang menaiki kendaraan, serta rasa toleransi terhadap ibu-ibu yang memiliki balita, bahkan kakek-kakek yang tadinya sudah duduk di bus bersedia memberikan bangkunya untuk Azima dan ibunya.

Alangkah indahnya bila semakin banyak penduduk negeri ini yang beriman pada Allah, dan alangkah indahnya jika negeri yang mayoritas penduduknya beriman pada Allah, juga semakin maju dan tertib, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.

Langkah-langkah kami ke depan mungkin masih menyimpan banyak tanya: akan seperti apa dan bagaimana, tapi selama kami yakin kami sedang berjalan dengan siapa (dengan-Nya tentu), bahkan pertanyaan ‘kenapa’ perlahan akan menemukan jawabnya. Untuk sidang pembaca, mohon doanya. 🙂

Ohya, untuk catatan lebih rapih dan terstrukturnya bisa teman-teman baca di blog ayahnya Azimzim berikut ini:

http://senjaya.net/memulai-perjalanan-penuh-tantangan-ke-san-francisco/

http://senjaya.net/hari-hari-beradaptasi-di-amerika-sebelum-program-accelerator-dimulai/