Jembatan

Jembatan

Banyak kisah hidup orang lain yang lebih drama daripada drama paling drama yang pernah kita lihat. Real, nyata di sekitar kita menanti untuk dipetik sekian ribu pelajaran. Menegur kita dengan halus untuk lebih banyak bersyukur, menggali ilmu lebih dalam, dan menempuh jalan panjang kehidupan dengan lebih tangguh.
Tangisan yang mengiringi pertanyaan-pertanyaan tentang “kenapa harus aku?”, seperti berubah kalimat yang menohok saya, “lihatlah ia yang begitu kuat.” Sekian problematika yang selama ini membuntuti saya, tak ubahnya seperti butiran debu ketika disandingkan dengan cerita-cerita kelabu dari saudari-saudari kuat itu.

Kita, yang kadang hanya berperantara sebagai pendengar, tak ubahnya seperti jembatan yang berusaha memberikan exit door, escape road, berusaha mengajak kekawan yang sedang dirundung awan mendung menuju kisah yang lebih cerah. Kita yang berperan sebagai jembatan, harus sering-sering menguatkan diri, membuka lebar-lebar mata hati kita agar tak keliru memberikan arahan, berfikir jernih dan tak emosional, mengiringinya dalam proses perbaikan.

Tak hanya mental dan ruhiyah, fisikpun harus kuat. Jembatan  yang terlalu banyak dilewati orang butuh bahan baku yang kokoh sehingga tak rapuh dan seharusnya menyelamatkan. Dan tentu, aspek pengetahuan dan wawasan menjadikan sang jembatan lebih menjanjikan dan meyakinkan untuk dilewati. Namun ada batas emosi yang harus dijaga, hingga kita bisa menyimpan kisah-kisah itu di kotak-kotak tertentu di benak kita, dan fokus kita untuk melaksanakan peran yang sudah inheren di dalam hidup bisa terus terjaga.

Menjadi jembatan, pada akhirnya, adalah pengajaran dari-Nya. Dengannya  kita terdorong untuk terus melaju memperbaiki diri, mensyukuri apa yang diberi, dan belajar untuk terus memberi.

*di tengah pening kepala karena flu berat, nyeri perut dan gigi yang linu-linu, saya jadi yakin: “jiwa yang sehat  dan fisik yang kuat punya hubungan yang erat.”

Pulang Ke Rumah

Pulang Ke Rumah

Kemarin, seorang ibu muda yang saya kenal di negeri Paman Sam, pamit di sebuah grup, “saya pamit pulang dulu ya.. ibu-ibu. Malam ini insyaAllah akan pulang ke Indonesia.” tentu saja beliau berpamitan di sebuah grup yang mayoritas isinya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, dalam hal ini Amerika.

Satu hal yang menarik dari pamitan beliau adalah ketika beliau menggunakan kata “pulang” ketika merujuk pada aktivitas kembali ke sebuah negeri yang terbentang jauh dari lokasinya saat itu. Pulang ke tanah air, tanah kelahiran, kampuang nan jauh di mato, homeland.

Kenapa bagi saya hal tersebut menarik? Karena bisa jadi, aktivitas kembali ke tanah air tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sebagian (besar?) orang yang sudah menghabiskan sebagian besar usianya, making a living, membesarkan  anak-anaknya (bahkan menikah, kemudian melahirkan anak pertamanya) di sebuah negeri di mana standar hidup seorang manusia menjadi sangat layak. Setidaknya pada standar dasar: udara yang bersih, air yang bersih, makanan yang kesehatannya dijamin dari pemerintah.

Pulang, menjadi suatu hal yang bisa jadi memberatkan bukan hanya karena biaya tiket perjalanan, tapi juga karena “beratnya” membayangkan apa yang akan dihadapi sesampainya di tanah kepulangan. Kemacetan, polusi, banjir, makanan yang dibumbui was-was dalam hati soal kesehatannya (ini gorengan dicampur plastik apa nggak ya? ini baso daging sapi apa daging yang lain?), inflasi yang tak sebanding dengan daya beli, tingkat keamanan yang rendah, de-el-el, de-es-be.

Rencana saya dan suami untuk coba menerapkan rihlah gembira sekaligus playdate alias silaturahim antar keluarga-keluarga kecil di antara teman-teman dan kerabat sepertinya menjadi tantangan yang cukup sulit untuk direalisasikan di Indonesia. Berbeda dengan rihlah gembira yang mudah dilakukan di sana, dua minggu sekali atau sebulan sekali, di tempat-tempat yang indah dan bersih dengan biaya masuk yang murah, membayangkan menempuh perjalanan ke suatu tempat yang berjarak 15 km dari tempat tinggal kami saja sudah pusing karena kemacetannya. -_-a

20160611_165005
Azima menatap kota Depok

Sepuluh hari menjejak kembali di tanah kelahiran, Indonesia, membuat saya berpikir ulang makna “pulang”.

Pulang, artinya menerobos segala kenyamanan yang didapat di negeri kunjungan, dan membawa kenyamanan itu sebagai kenangan untuk mengubahnya menjadi energi perubahan.

Menatap mobil yang berderet-deret menyesaki jalan Raya Bogor, Juanda, Margonda, sambil berulang menatap jam yang terus berputar, saat 15 km jarak ditempuh dalam rentang waktu nyaris 2 jam. Terbersit kenangan ketika suatu ketika diajak Mbak Gilda, ibu kontrakan tempat saya tinggal di US, ke Santa Cruz Beach, dengan jarak tempuh 112 km (sekitar 70 miles) dalam rentang waktu yang sama, sekitar 2 jam sahaja.

Atau ketika saya terheran-heran dengan banyaknya orang di sepanjang jalan selama saya di downtown Tokyo–sebuah kota yang sangat crowded, yang mau menempuh berkilo meter jalan kaki. Bapak dan abang-abang (?) muda dengan setelan jas siap ke kantor, tapi tak segan mengayuh sepeda menuju lokasi di mana mereka bekerja. Ibu-ibu yang membonceng anak balitanya di depan dan di belakang dengan sepeda yang memiliki bangku anak-anak yang aman, tampak sangat damai. Tidak diwarnai asap ibu kota dan stress kemacetan melihat deret mobil yang tak bergerak.

Kapankah tanah kelahiranku, Jakarta, (dan kini tanah kelahiran anakku, Depok) bisa seperti itu?

Pulang, berarti kita menuju sesuatu yang dirindukan. Karena ada sebagian atau seluruhnya hati yang tertinggal, di tanah kelahiran. Rindu adzan yang bersahutan, rindu akan tempat di mana Ramadhan menjadi bulan yang dirayakan, di mana ibu-ibu bisa mengajar anaknya melafaz dzikrullah di tempat umum tanpa harus dilihat aneh dengan tatapan dari-planet-mana-kamu-berasal atau apakah-kamu-teroris?, rindu bakso dan siomay bervetsin,  dan tentu saja rindu dengan keluarga, saudara-saudari, dan sahabat-sahabat yang sedikit banyak membentuk kepribadian kita sampai saat ini.

Meski berat dan payah, serta segudang amanah menanti diselesaikan, pulang menandakan kita masih punya kepedulian, masih punya perhatian. Pulang juga menandakan kita masih punya harapan, masih punya impian, agar tanah kelahiran menjadi tanah yang dapat (semakin) dibanggakan, menjadi ladang kebaikan sebelum kita benar-benar “pulang” .

Inspirasi Dari Google

Inspirasi Dari Google

Ada beberapa inspirasi yang saya dapat dari mengunjungi kantor Google kemarin, meskipun hanya bagian luarnya saja yang saya dapat lihat, tapi cukup mengesankan.

di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View
di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View, bersama Android Marshmallow

Di balik sebuah hal “sederhana” yang seringkali kita jumpai setiap hari, kita ambil manfaatnya tak terhitung lagi dan bahkan menjadi istilah yang populer dalam dialog sehari-hari (“googling” aja!), ada sebuah kompleksitas sistem yang raksasa. Saya takjub ketika melihat komplek perkantoran Google yang ternyata luass sekali, dan memiliki banyak gedung (yang saya juga tak sepenuhnya faham fungsi tiap gedungnya, haha).

Tapi dari sana saya belajar: tampilan boleh sederhana dan sangat user friendly, tapi jangan lupa bahwa untuk menjadi satu hal yang bermanfaat dan berimplikasi besar, butuh kerja keras dan kerja banyak tangan yang saling berpilin bersama-sama, mencapai tujuan yang sama.

di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollypop
di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollipop

sdr

Sampai sekarang saya belum tahu mengapa Google memberi nama atau sebutan makanan untuk berbagai macam versi Androidnya, tapi kalau saya ambil hikmahnya: salah satu hal yang membuat orang menjadi lebih akrab dengan barang yang awalnya asing adalah ketika barang asing tersebut diperkenalkan dengan nama yang sehari-hari dijumpai, disukai dan bahkan dibutuhkan. Dalam hal ini, Google menggunakan nama-nama makanan yang sering dijumpai oleh masyarakat pada umumnya.

Google menciptakan Android yang kini sangat common digunakan oleh para pengguna handphonetanpa melihat strata sosial atau secanggih apa handphonenya. Ketika kita berfokus pada fungsi dan tujuan, maka tools akan mengikuti dan sangat fleksibel serta mampu diterapkan siapa saja.

Dalam skup menciptakan hidup yang tak sekedar hidup, saya yakin seorang muslim punya hal yang lebih berharga untuk diperjuangkan dengan cara-cara ala Google yang “basyiran wa nadzira, yassir wa laa tu’assir.”

a friend of her

a friend of her

Salah satu hal yang saya semakin sadari ketika merantau jauh di tanah asing adalah karakter dasar Azima yang ternyata memang sangat suka bersosialisasi. Kondisi di tempat tinggal kami (paviliun) yang cukup terbatas untuk Azima bermain bebas akhirnya membuat saya dalam sehari selalu mengajaknya ke luar, minimal sekali ke park, yang sudah disertai juga playground untuk anak usia balita sampai jelang remaja. Ada banyak permainan di sana dan lingkungannya juga sangat bersih. Setiap kali Azima ke park, baik di waktu siang ataupun sore (karena kalau pagi masih sangat dingin untuk ukuran manusia-manusia tropis seperti kami), ada balita sampai remaja yang sedang bermain di playground. Subhanallah, mereka luar biasa lincahnya berlarian memanjat dan melompat. Azima terlihat paling mungil dan tampak perlahan sekali mencoba mengejar mereka, entah karena faktor genetika (keturunan/ras) atau asupan kuantitas dan kualitas makanan, :”D. Pastinya memang di sini porsi makan satu orang setara dengan dua porsi makan saya dan suami sebagai orang Indonesia. Ikan salmon pun bisa habis satu ekor sendirian untuk satu porsi lelaki dewasa.

Selain faktor fisik, rupanya faktor bahasa menjadi salah satu kendala yang membuat sosialisasi Azima dengan kawan-kawan sebayanya menjadi kurang optimal. Azima yang sangat mudah teralihkan fokusnya dari mainan kesukaannya di playground–ayunan dan perosotan, ketika melihat ada anak sebayanya sedang berjalan-berlari di sekitarnya: Azima yang awalnya beraut cerah dan berteriak-teriak memanggil untuk mengajak main, kemudian menjadi (tampak) kecewa ketika ternyata sang teman yang diharap dapat bermain bersama menganggapnya sebagai stranger (duh, bunda jadi ikut sedih nak 😦 ). Stranger dari sisi perbedaan fisik dan kemampuan berbahasa (aksen, logat) yang Azima belum bisa fahami. Akhirnya teman main terbaiknya selama di playground adalah ibunya :””D. Alhamdulillah, ada satu anak ummahat WNI di sini, perempuan yang usianya sekitar 8 tahun, terlihat sangat sayaang sekali dengan Azima. Tapi sayangnya, rumahnya lumayan jauh dari lokasi tempat tinggal kami. Pertemuan dengan Fatimah, nama anak perempuan tersebut, setidaknya dua kali sebulan, dalam acara pengajian bulanan atau taklim rutin dwimingguan WNI di bay area.

Akhirnya tantangan saya selanjutnya di sini adalah, menciptakan lingkungan tempat tinggal yang homy  dan indoor games yang membuat Azima betah berlama-lama di dalam kamar. Saya kadang ikut gembira melihat sumringahnya wajah Azima ketika saya mulai bersiap-siap mengajaknya keluar, dengan mengenakan pakaian hangat dan kaus kaki. Gadis cilik itu ikutan mengambil sepatu dan segera beranjak ke tangga menuju pintu keluar. Padahal pakaian tempurnya (jaket, kupluk, kaus kaki) dan stoller belum juga disiapkan. Ck, ck, ck.. Kadang pula saya tidak tega melihatnya menangis ketika saya paksa duduk di stoller untuk pulang dari park, karena hari sudah sore dan semakin dingin, perut kami sudah minta diisi, dan teman bermainnya (yaitu saya) sudah mulai kecapekan :”|

Setiap tantangan insyaAllah akan membuat kita jadi semakin cerdas kan? satu hikmah lain yang saya dapatkan dengan menjadi orang asing di tanah asing adalah peluanga  semakin kuatnya ikatan kami sebagai sebuah keluarga. Azima yang selalu terbangun ketika ayahnya pulang dari kantor (selarut apapun) dan keinginan saya untuk terus berusaha ada di sisinya, menjadi teman belajar dan bermain yang seru untuk Azima, di saat teman bermainnya belum banyak di sini. yo, semangat bunds dan azima! #talktomyself.

Bagi sidang pembaca yang mungkin pernah mengalami pengalaman serupa, monggoo, silakan berbagi di sini yaa 🙂

Kantung

Kantung

Miniarta M04, Depok, 19.30 WIB.

“Kau adalah jantungku… kau adalah hidupku, lengkapi diriku..”

Suara pas-pasan bocah berusia delapan tahun di pintu angkot itu membuat Sal tersenyum-senyum, antara lucu dan prihatin.  Ia menggeleng-gelengkan kepala. Baru beberapa menit yang lalu duduk di sebelahnya balita perempuan manis yang keras-keras menyanyikan lagu orang dewasa, sementara ibu yang memangkunya hanya bisa mendengarkan. Sesekali Ibunya memeluk erat sambil berujar, “diam ya sayang..”.

Serupa dengan yang ia alami ketika melihat bocah pengamen di pintu angkot itu, Sal tidak bisa menahan senyum gemas ketika berkali-kali suara mungil itu berdendang riang di sampingnya. Ingin menyapa seperti pada kebanyakan anak-anak kecil yang ia jumpai di angkot, “siapa namanya dek? mau pulang yaa?“, tapi urung ketika dilihatnya wajah ber-make up tebal Ibu dari balita itu tampak sembap.

Ia coba alihkan perhatiannya ke buku bahan ajar kerjanya: “Tanya Jawab Hukum Perkawinan dan Perceraian”, tapi fokusnya masih terpecah ingin melihat, menyapa, mengusap kepala balita itu.. serta bertanya pada ibunya, “ada yang bisa saya bantu Bu?” 

Sesekali melihat buku, sedikit mencuri pandang ke wanita di sebelahnya, kebingungan memulai pembicaraan. Sekian menit, akhirnya hanya senyum terlebar dan tertulus yang bisa ia lempar ke pasangan Ibu dan anak itu. Menatap mata sembap ibunya sambil berdoa kuat-kuat dalam hati, “Semoga Tuhan kuatkan dirimu Bu, apapun masalahnya..”. Eh, sebentar. Semenit sebelum akhirnya Ibu tersebut mengetuk atap angkot yang menandakan permintaan berhenti, sontak Sal teringat suatu benda penting di tasnya. Terburu-buru ia mencari, yak, dapat! Maju mundur tangannya bergerak hendak menyorongkan benda penting itu, pada sang anak.. sepersekian detik.. dan terlambat. Mereka terlanjur turun.

Ah, kau Sal, kenapa jadi teramat pengecut begitu? Sal memarahi dirinya sendiri. Rasanya ini yang kesekian kalinya pada hari ini ia merasakan pendar kepengecutan itu bersemayam dalam dirinya.

Satu adegan ujian keberanian itu sudah ia lewati dengan gagal  pagi tadi.

———————————————————————————————————————

Commuter Line Bogor-Jakarta, 07.30 WIB. 

Berdiri di area yang aman dari desakan penumpang, Sal yang melompat dari pinggir peron dengan keriangan membuncah kebingungan ingin membagi senyum pada siapa. Pagi tadi, entah kenapa cerah sekali cuaca lahir dan batinnya. Dalam keadaan normal, pada situasi di mana orang-orang yang ia temui adalah yang ia kenal, dengan energi full seperti itu Sal bisa berubah menjadi kelinci yang melompat ke sana ke mari. Sekedar menularkan kebahagiaan yang ruah di jiwanya. Tapi melihat wajah-wajah datar dan tampak-menyambut-depresi yang berada di sekitarnya saat ini, mendorongnya untuk mengambil bukunya, membacanya dengan wajah riang, sendirian. Batinnya bertanya, bagaimana bisa setiap harinya orang-orang ini menjalani pagi sendirian saja? Dengan wajah tanpa semangat seperti itu?

Sampai tiba-tiba, “Bu, Ibu, ada bakpaonya nggak?” setengah berbisik pelan, perempuan berusia empat puluh tahunan persisi di sebelah kirinya memanggil sosok lain yang berjarak setengah meter dari tempat mereka.

Lho, mereka kenal? Apa tadi? Bakpao?

Sosok yang jadi sasaran pertanyaan adalah perempuan berusia empat puluh tahunan pula, berjilbab, dan yang unik dan membuat Sal faham kemudian adalah melihat jinjingan besarnya yang ia bawa dengan hati-hati. Sal berhasil melihat penuh wajahnya yang menoleh riang, “ada Bu..”

“Ya Allah, udah lama banget ya Bu, nggak jualan…”

Sambil bergeser dan bergerak pelan, transaksi itu akhirnya dilangsungkan. Bukan cuma bakpao, tapi juga risol, kue cokelat, dan penganan kecil yang biasa dilahap untuk mengganjal perut para commuter hawa ini, yang mungkin berangkat dari rumahnya saja masih dalam keadaan gelap, dan hanya sempat berberes sejenak tanpa sempat menyiapkan sarapan pagi. Dan, Oo! Rupanya ibu ini sudah dikenal akrab oleh para penghuni gerbong: satu, dua, lima, sepuluh, sayap kiri dan sayap kanan, yang duduk dan berdiri.. satu persatu isi jinjingan sang ibu penjual bakpao berkurang, diiringi bincang akrab dan pendek antara beliau dan penghuni kereta lainnya. Sesekali mata mereka melirik ke kanan dan ke kiri, khawatir ada petugas yang mendapati kegiatan ilegal itu, tapi di mata Sal, pemandangan itu mengesankan.

Gadis berwajah tirus itu tersenyum lebar, ternyata penghuni gerbong ini tidak se-zombie yang ia bayangkan sebelumnya. Ia melirik isi dompetnya, kemudian perang batin. Ah, sayangnya hanya tersisa selembar uang berwarna merah, yang kemungkinan besar hanya akan menyulitkan ibu-ibu ini kalau aku transaksikan. Tapi  bukankah itu cara terbaik untuk mengajaknya berkenalan? Menggali sisi lain dari perekat manusia-manusia berwajah datar dan tanpa semangat yang ia temui setiap pagi ini. Sal mencari wajah Ibu penjual bakpao, ingin melempar senyum lebar dan bertanya, “sudah lama Bu berjualannya? Wah, kreatif sekali ya Bu. Nanti Ibu berhenti di mana? Hati-hati  ya Bu.. ” 

Sudahlah, cepat beli, mumpung masih ada waktu dan kesempatan, besok belum tentu ada lagi.. tapi bagaimana kalau ketahuan petugas? Di mana integritasmu sebagai anak hukum?

Sekian menit dalam keraguan, akhirnya Sal ter-skak-mat oleh pintu kereta yang terbuka, dan pampangan nama di depannya: Cikini. Ia sudah tiba, dan harus turun. Fiuhh. Semoga masih ada kesempatan kedua.

Langkahnya pagi itu tetap riang dan cepat, masih ada energi positif yang harus ia bagikan pagi ini, sebelum segalanya menguap sia-sia terendam keegoan pribadi yang terasa makin hingar saja.

Ting. Lantai lift terbuka, pintu bernomor 301 itu berayun, dan rentetan narasi itu mengalir, “Assalamu’alaikum Mbak Liliii, gimana kabarnya pagi ini Mbak? Mbak, tadi aku.. ”

Terasa ada yang lepas dan melegakan dalam jiwa Sal. Bahkan hanya dengan sekedar melihat Lili, satu-satunya rekan sekantornya itu tersenyum senang dan mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Ia tidak bisa mendefinisikan itu apa, hanya perasaan lebih hidup ketika ia masih mendapati kemampuannya berbagi dengan sesama. Mengobati kekesalannya pada diri atas kepengecutan dan keraguan di scene sebelumnya.

_________________________________________________________

Miniarta M04, Depok, 19.35 WIB.

“Oh sayangku kau begitu.. sempurna..”

Bocah ini pintar sekali mencari lagu dan interval nada yang sesuai dengan berhentinya angkot di ujung trayek. Lihatlah, sebentar lagi topi yang digunakan olehnya akan dibuka menghadap ke atas, siap menerima recehan dari penumpang yang hendak turun. Sal yang masih tak habis pikir dengan deret lagu-lagu di atas umur milik pengamen cilik itu hanya bisa mengerutkan kening berpikir keras, bagaimana bisa berharap banyak pada generasi mendatang kalau perusakan mental itu dilakukan sejak, bahkan, sebelum anak-anak ini mengenal baik makna dari kata ‘sempurna’?

Sal menyiapkan amunisinya. Kali ini harus berhasil. Ia melirik beberapa logam receh yang tersisa di tas, dan.. benda penting yang urung ia berikan pada balita manis beberapa menit yang lalu.

“Makasih Mbak, Bu..”, bocah berpipi gembil itu menyerahkan topi terbukanya, pluk. Amunisi usai ditembakkan.

Sal mengulum senyum. Posisinya yang berada persis di dekat pintu membuat ia bisa lebih bebas menilik reaksi si bocah pengamen yang masih bertengger di pintu angkot. Senyumnya semakin lebar ketika ia mendegar pembungkus amunisi spesial itu dibuka: Beng-beng terakhir hasil kompetisi bersama kawan-kawan sekantornya. Karena bersisa banyak, mereka bersepakat membagikan semuanya ke kalangan tidak mampu yang sering mereka temui di jalanan, dan Sal memutuskan membaginya ke manusia-manusia muda yang sering jadi korban eksploitasi manusia tua yang tak bertanggung jawab. Bingkisan kecil memang, tapi bisa jadi spesial ketika penerimanya juga adalah kelas terberat penggemar cokelat: anak-anak.

Kepala Sal mendekat ke arah belakang telinga bocah pengamen itu, hatinya sudah menyiapkan kata-kata terbaik untuk sedikit mengejutkan bocah yang seharusnya ada di rumah, mengerjakan PR dan menyiapkan persiapan untuk sekolahnya besok. Ah, yakinkah kau bahwa dia bersekolah?

Satu, dua.. ayo, Sal, katakan, katakan sesederhana itu saja, “jangan lupa baca doanya dek, dan buang sampah di tempatnya ya,” dan setelah itu tersenyum lebar setengah jahil yang sering kau lempar untuk adik-adikmu. apa susahnya sih?

pada akhirnya,–sekali lagi, Sal hanya melepasnya dengan senyuman terbaik ketika mata polos bocah itu menengok sejenak ke belakang, mencari sosok yang telah menyelamatkan perut laparnya yang belum diisi nasi dari siang, menghapus kerinduannya akan cokelat–yang ia lupa kapan terakhir kali melahapnya, serta mengurangi sedikit beban pikiran dari hantu target harian yang harus ia kejar.. 

Sal masih mendengungkan kuat-kuat dalam hati, semoga kelak kau jadi anak baik-baik dek, ah, tidak hanya baik-baik, tapi juga harus kuat. ya, baik dan kuat.. 

Terlintas di benaknya kata-kata Dina, kawan dekatnya semasa kuliah dulu yang mendalami ilmu psikologi. “Pada dasarnya setiap manusia itu punya kantung kasih sayang, Sal, sehingga merupakan fitrahnya untuk dapat berbagi agar kantung itu berfungsi sesuai asalnya. mencari isi dan menuangkan kembali isi kantung itulah, yang membuat manusia bisa benar-benar ‘hidup’.. ” 

Kalau begitu, ia benar-benar harus pandai mencari jeda yang menghidupkan sebelum rutinitas yang ia temui membunuh kepekaan sosialnya secara perlahan..

Danau Sal

Danau Sal

malam awal bulan yang cerah.
denting sendok beradu dengan piring memecah kesunyian rumah mungil di sudut Jakarta itu.
sudah hampir lima belas menit sang empunya makan malam sudah duduk di meja, tapi porsi nasi anak-anak berusia sepuluh tahun itu belum juga berkurang secara signifikan.

“Sal, kerupuknya udah melempem tuh. Sopnya juga udah dingin. Segera dihabiskan sebelum selera makanmu hilang lagi.” Bunda,
perempuan berusia separuh abad itu menghentikan langkah bebenahnya. Dahinya mengernyit, keheranan mendapati putri
sulungnya itu kehilangan nafsu makan sampai tiga hari. Sangat tidak Sal, putrinya yang rajin sarapan dan makan malam selarut
apapun. Malam ini sebuah kemajuan sendiri Sal mulai mau bergerak menyentuh makan malamnya. Di hari sebelumnya, Sal yang pulang
jelang Isya hanya mencium tangannya sekilas, beberes sekejap, dan langsung masuk dan menutup pintu kamarnya. Tidak ada kelontang
piring dan bincang-bincang makan malam antara Sal dan ibunya, atau kakaknya.

Membolak-balik campuran nasi di piringnya, yang diajak bicara hanya terpekur diam. Ini sop ayam favoritnya, plus ayam goreng
kalasan dan kentang pedas. Komplit memanggil-manggil sisi lain naluri Sal yang memang belum makan nasi sejak siang. Dalam
keadaan normal, ia bisa menambah sampai dua-tiga porsi. Tapi sekarang? dua suap dalam lima belas menit saja sudah sebuah prestasi.

Alih-alih menyuapkan kembali makanan ke mulutnya, Sal meletakkan sendok, menutup wajahnya dengan kedua tangan. dengan telapak
tangannya, ia bisa merasakan dahinya menghangat. Sepuluh menit lagi, asam lambung akan meningkat, dan ya, itu artinya ia akan
menyeret kembali langkah kakinya ke peraduan, mengistirahatkan pikiran dan jiwanya yang letih. Lagi-lagi, tanpa ada asupan
makanan yang berhasil mengisi tubuhnya.

Pluk. Sebuah topi mendarat di kepala Sal.
“Woi, bengong aja neng. Hati-hati sopnya kemasukan nyamuk.” Fauzi dengan ranselnya masuk ke dalam rumah, menyampirkan
topi khas aksinya ke kepala Sal. Mencium tangan Bunda dengan takzim, dan duduk persis di depan Sal. Mulai mengambil porsi
makan malamnya.

“pedagang-pedagang di stasiun tadi udah kehilangan tempat tinggal dan nggak tau mau makan apa besok, kamu masih mikir-mikir
sekarang makan apa nggak.” masih dengan wajah letih berbaur jahil plus menasihati, Fauzi melanjutkan. Matanya mencari wajah Sal
yang sudah setengah terbuka. Wajah pucat yang merengut sebal.

“Tau Bang, tadi Sal juga abis dari sana. Liat kondisi kawan-kawan dan para pedagang yang digusur.”

“terus kenapa? Masih soal yang kemarin itu?” Fauzi bertanya pelan, menjaga nada suaranya agar tidak terdengar Bunda.

Sal mengangkat alis, “yang kemarin? emang Sal udah cerita apa ke abang?”

“Ah, kamu ini. Kurang paham apa abang sama adik abang yang satu ini? Dari kamu masih cengeng dan susah makan waktu masih setahun
sampe sekarang, juga masih cengeng sih, aduh!” Fauzi menghindari lemparan kerupuk adiknya sambil tertawa.

Sal makin mengerucutkan mulutnya. Ia menyimpan rapat-rapat alasan kekesalannya kali ini dari siapapun, termasuk dari keluarga
maupun dari kawan-kawan dekatnya. Menurutnya, alasan kesalnya ini sangat tidak terhormat dan tidak layak diceritakan ke siapapun.
Kecuali ke Dia, tentu saja.

“Abang beritahu satu hal ya Sal, kunci sederhana menikmati hidup ini adalah kemampuan kita menerima setiap takdir Tuhan, sesulit
apapun itu. Se-enggan apapun mata kita mau melihatnya, atau sebenci apapun telinga kita mendengarnya. Apalagi ini soal..”
Fauzi berhenti sejenak, menunggu reaksi adiknya sambil tersenyum jahil.

“Soal apa?” Sal mendelik sebal, ia mengangkat wajahnya. Kata-kata abangnya barusan tepat sekali meluncur ke gendang telinganya.
Sedikit lagi kalimat kakak satu-satunya itu dituntaskan, bisa skak mat ia, terbongkar rahasianya.

“Soal penggusuran, haha!” Fauzi tertawa berhasil membuat dan kembali memasang muka serius. “ya, soal penggusuran dan soal kamu
Sal. dari penggusuran itu, keberterimaan para pedagang itu bukan lantas membuat mereka menyerah atau bahkan marah terhadap takdir.
Ada hal menarik yang Abang pelajari dari Pak Ahmad, salah satu pedagang yang kiosnya diruntuhkan petugas tadi siang. Dia punya
tiga anak dan satu istri yang harus dihidupi. Kesal dan marah? Wajar. Tapi tidak seperti pedagang lain yang meraung-raung, Pak
Ahmad justru berkata begini ke anak pertamanya yang sekarang duduk di kelas 3 SD, “nak, kios kita mungkin hancur hari ini.
tapi semangat kamu untuk tetap sekolah besok nggak boleh hancur. Bapak dan Ibu akan mulai cari usaha baru supaya kamu bisa tetap sekolah. Pokoknya, tetap sekolah. Bapak bersyukur masih punya kamu, adik-adik, dan ibu kamu. Kalau kamu nanti sudah besar, mau
jadi apapun, ingatlah hari ini, yang dengan begitu kamu jadi punya semangat untuk terus peduli dan berbagi dengan orang-orang
kecil..”

Sal tertegun. Tersebab sumber kekesalannya hari ini juga ada di stasiun, ia bersegera pergi dan tidak memperhatikan detil seperti
itu. Pemandangan rusuh di hadapannya antara petugas dan mayoritas pedagang dan pemandangan lain yang membuat rusuh di hatinya
membuat ia luput terhadap pelajaran berharga seperti yang kakaknya dapatkan hari ini.

Ah, andai ia bisa meminjam sebongkah es dari kutub utara, ingin rasanya ia masukkan ke sudut hatinya yang satu ini. Agar tidak
ada lagi banyak pelajaran hidup yang ia lewatkan.

“Keberterimaan yang baik akan setiap takdir-Nya akan membuat semangat untuk bangkit itu nggak akan pernah habis Sal. Seperti danau mata air yang jernih, ia tidak pernah kehabisan air walaupun sekian polusi mencemarinya, atau ada orang yang menusuk-nusuknya supaya keruh. Karena
toh, semua peristiwa yang hadir di depan kita, baik maupun buruk, semua jenis perasaan yang hadir di hati kita, senang maupun
sedih, itu semua tergantung perspektif kita melihatnya kan? Change your mind, so does your feeling will be. Lagi pula, masih ada abang
yang masih bisa jagain kamu kok, aduh!”

Fauzi menghindar lebih jauh lagi dari lemparan Sal. Kali ini bukan cuma kerupuk, tapi topi aksi yang dilempar Sal dengan
kekuatan ekstra. Kemudian berlanjut sendok, garpu yang mulai mengincar wajah jahil Fauzi.

“ampuuun, bundaa.. tolong!”

Berlarian, Sal mengejar Fauzi yang berlari dan bersembunyi di balik Bunda. Bunda yang hanya bisa tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya, “sejak dulu kalian nggak berubah, Zi, Sal.. makan mbok ya dihabiskan dulu tho..”

Wajah pucat Sal mulai kembali normal. yah, just change your mind,
positively. Allah pasti punya rencana lebih baik, punya skenario
yang lebih cantik. Tinggal bagaimana ia menggali kedalaman jiwanya agar danau mata airnya tidak pernah habis.

terngiang lagu lawas anak-anak ketika masa kecilnya dulu,

setiap manusia di dunia,
pasti punya kesalahan,
tapi hanya yang pemberani
yang mau mengakui

setiap manusia di dunia
pasti pernah sakit hati
hanya yang berjiwa satria
yang mau memaafkan..

mensyukuri, karunia-Nya..

[Persahabatan – Sherina]

————————————————-

Bila kita dapat memahami
matahari menemani
kedalam kehangatan
hingga sang rembulan bersenandung
menina bobokan seisi dunia
dalam lelap setia tanpa terpaksa

bila engkau dapat mengerti
sahabat adalah setia
dalam suka dan duka
kau kan dapat berbagi rasa untuknya

begitulah seharusnya
jalani kehidupan setia…setia
dan tanpa terpaksa

“Mengapa bintang bersinar?
mengapa air mengalir?
mengapa dunia berputar?
lihat segalanya lebih dekat
dan kau akan mengerti”

[Petualangan Sherina Theme Song – Sherina]

——————-

 

SS #2: Bintang dan Kereta

SS #2: Bintang dan Kereta

Langit Bulaksumur, Yogya, selepas Isya.

Malam ketiga setelah Lebaran.

 
“Shalaaah, Shalaah..”. Langkah Ibu terdengar berderap mencari. Ke mana gerangan anak itu? Sudah terlalu larut jika ia bermain di rumah pakdenya.
“Ah, rupanya kau di sini, nak..” Menghela nafas lega, Ibu mendapati buah hatinya tengah duduk di pendopo mungil favoritnya. Kepalanya tengadah, matanya menatap langit. Hanya sekilas ia menoleh saat ia dapati kedatangan ibunya.
“Sedang apa Shalah? Tidur yuk, besok pagi-pagi kita harus segera berangkat kembali ke Jakarta.” Perlahan Ibu menghampiri Shalah, duduk di sebelahnya.
Shalah bergeming. Matanya masih khusyuk menatap langit.
“Ibu, ada berapa banyak bintang di langit sana?”
Ibu tersenyum. Matanya ikut khusyuk menatap langit. Bulaksumur malam ini cerah. Tidak hanya berteman lengkung sabit sang rembulan, tapi juga gemintang.
“Dua puluh Bu?”
“Hmm..” berfikir, mencari jawaban terbaik.
“Seratus ya?” seperti biasa, tidak sabar.
“Lebih..” kali ini cepat jawabnya.
“Banyak ya Bu?”
“Iya..”
“Tapi kenapa cuma lima Bu, yang sinarnya sangat terang?”
Ibu menggali memori ingatan masa SMAnya tentang benda-benda astronomi. Gawat, terkubur dalam sekali rupanya.
“Karena jarak bintang yang lainnya terlalu jauh dari bumi, nak” ya, ya, sepertinya salah satu jawabannya seperti itu.
 
“Hmm, terus kenapa di rumah kita jarang sekali terlihat ada bintang, Ibu?”
“karena terlalu banyak asap dan polusi Shalah, sehingga bintang-bintang itu terlihat redup..”
“yaah, kasihan ya mereka..”
Ibu tertawa kecil, “Nah, sekarang Ibu mau tanya, Shalah udah siapin pakaiannya belum, untuk kita pulang besok pagi?”
Shalah mengalihkan perhatiannya dari langit, ganti menatap wajah ibunya. Ada sorot memelas di pancaran matanya. “Shalah nggak mau balik ke rumah Bu. Mau di sini aja..”
“Lho, kenapa? hari Senin kamu kan sudah masuk sekolah lho..”
“Shalah mau seperti bintang-bintang di sini saja Bu. Bisa terlihat terang. Menyenangkan siapa saja yang melihatnya.” Shalah kembali khusyuk menatap langit.
Ibu mengerutkan kening, ada apa dengan sulungnya ini?
 
“Bu, apa bintang-bintang yang jaraknya jauh itu pernah kesal dengan bintang-bintang yang jaraknya dekat? apa bintang-bintang yang di atas rumah kita pernah iri dengan bintang-bintang yang di atas rumah nenek? “
“hmm, Ibu rasa tidak..” hmm, baiklah nak, ibu turuti keinginanmu. “mereka telah menjalankan tugas mereka dengan maksimal; menerangi semesta dengan kadar yang mereka bisa. soal jarak dan ada tidaknya polusi, bukan urusan mereka..”
Shalah terdiam.
“bahkan, kamu tahu nak, banyak dari bintang itu yang sudah mati. tapi karena jaraknya yang saaaangat jauh dari bumi, cahayanya baru sampai ke kita. dan masih akan ada hingga beberapa lama.. hingga ratusan tahun cahaya..”
Kini Shalah mulai menoleh ke wajah bijak di sebelahnya. Ada separuh jawaban yang melahirkan separuh keheranan..
Ibu masih menatap langit, lirih lisannya bertutur, “kau bilang tadi ingin seperti mereka nak?” sekarang matanya beradu dengan mata Shalah, “jadilah anak yang baik, cintai Dia yang telah menciptakan kita, seedalam-dalamnya.. nurut apa yang Ayah dan Ibu bilang, belajar yang rajin, nggak boleh lagi iri-irian sama temen-temen di sekolah.. daan.. ayo sekarang kita siap-siap untuk kepulangan kita besoook..” Ibu berusaha menutup bincang malam itu seceria mungkin.
Shalah mulai tersenyum-senyum cerah, “Shalah juga bisa bersinar dengan sangat terang Bu, seperti mereka?”
“Iya, tapi nggak boleh sombong, kalau punya makanan di sekolah harus bagi-bagi yaa.. Ibu nggak mau denger kamu berantem lagi sama Wildan gara-gara rebutan roti.”
“Abisan Wildannya juga sombong Bu, mentang-mentang dapet nilai sembilan, padahal Shalah yang ngajarin..” wajah Shalah kembali merengut.
“Eh, hayo, inget kata-kata Ibu tadi? bintang aja nggak pake iri-irian. selain itu nak, ingat syair ini ya, merendah hatilah, maka kau akan menjadi bintang gemintang, berkilau dipandang orang di atas geliat air, dan sang bintang pun jauh tinggi..” lamat-lamat Ibu menyenandungkan syair favoritnya, sembari menatap Shalah tepat di bola matanya.
“jangan seperti asap, yang mengangkat diri tinggi di langit, padahal dirinya rendah-hina..*
Kau ingat Shalah, asaplah yang membuat bintang jadi tak terlihat di langit rumah kita.. tentu kita tidak mau menjadi asap yang menyebalkan seperti itu kan?”
sekarang mereka berdua tersenyum.
“Ayo Bu, kita masuk ke dalam, siap-siap!” Melompat dari pendopo, Shalah tersenyum senang. Ia selalu suka saat Ibunya mulai bersyair. Aktivitas favorit keduanya Shalah setelah senandung Qur’an tiap Shubuh yang lazim mereka lakukan bersama.
Ibu tertawa lebar mendapati lonjakan emosi anaknya. “Ayo, kita siapkan buku bacaan juga buat di kereta kita besok ya..”
Beriringan mereka masuk ke dalam rumah, bergandengan tangan.
“Wah, asiik, naik kereta lagi ya Bu? Pokoknya Shalah di pinggir jendela lagi ya Buu,, Aaah, Shalah sayaaaang sama Ibu..”
Melonjak-lonjak kegirangan, Shalah seperti lupa pada kegalauannya beberapa menit yang lalu. Meninggalkan Ibunya yang ganti termangu-mangu. Membawa sang Ibu pada cakap-cakap mereka sepekan yang lalu, saat keberangkatannya ke kampung halaman ibunya dimulai, dengan ular raksasa berlistrik itu.
“Bu, ada nggak di dunia ini kereta yang nggaaak ada habisnya? maksud Shalah, dia nggak berhenti-berhenti?” Bersisian mereka duduk, tentu dengan Shalah di dekat jendela. Sang Ayah tersenyum-senyum mendengar pertanyaan Shalah. Tapi sama seperti Shalah, ia lebih suka mendengar jawaban istrinya ketimbang jawabannya sendiri.
Ibu terdiam, memejamkan mata. Ia mengingat-ingat sesuatu.. Kemudian tersenyum. “Ada..” Seyumnya dalam, sembari bola matanya bergilir menatap tiga titik: luar jendela, mata Shalah, dan terakhir mata suaminya.
“Ada Bu?” mata Shalah membesar.
“Iya, ada, bahkan kereta ini bisa membawa kita ke syurga..”
“Waah, keren banget ya Bu.. Itu ada di mana Bu?”
Sekarang gantian sang ayah tersenyum-senyum. Ia ingat betul kata-kata ini.
“Ada di hati Ayah, Ibu, dan Shalah.” suara khas Ayah terdengar. Ia melipat koran paginya. Menatap mata istrinya dalam-dalam. Meninggalkan ketermanguan pada wajah Shalah.
“Karena, Shalah anakku yang shalih,” sekarang suara Ibu terdengar perlahan, seperti menjadi corong dari kata-kata yang menggema di hati Ayah, “Cinta adalah kereta; ia hanya bisa berjalan di atas rel kebaikan. Begitu kebaikan kita habis, kereta cinta juga berhenti berjalan.**”
 
Shalah menatap ayah ibunya bergantian. Entah apa, ada semacam kehangatan luar biasa yang menelusup di dalam dada Shalah, membuatnya riang menempuh keberangkatan. Perjalanan ini akan sangat menyenangkan. Pupus sudah semua kekhawatiran akan mudiknya yang pertama kalinya ini dengan kereta.
 
“Nah, sekarang, ayo kita berdoa, bismillahi majreeha wa mursaahaa inna rabbii laghafuurarrahiim..” Ayah memimpin doa, seiring bergeraknya perlahan laju kereta.
———————
—————————————————————————————————————-
*Ustadz Rahmat Abdullah
**Anis Matta
 
~merefleksikan kembali; tanpa kasih sayang Allah, sungguh kau bukan siapa-siapa
Depok, 2 September 2011
——————————————-
sebuah repost pengingatan: benar Fah, tanpa kasih sayang Allah, sungguh kau bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Maka bersyukurlah.