Kau Tahu, Gaza?

Kau Tahu, Gaza?

Kau tahu, Gaza?

Mendengar setiap kisahmu itu menyempurnakan kembali separuh nyawaku
Membuatku tersedak dan tertampar: aku belum apa-apa.

Kau tahu, Gaza?

Melihat debu dan darahmu mendorongku semakin mencintai Indonesia, bangsa yang selalu kau nanti dan sebut dalam doa, yang jejak bantuanmu membekas di sana.

Melihat kecintaan rakyatmu terhadap segenggam tanahmu membuatku malu: sudah apa aku untuk bangsaku?

Tahukah kau, Gaza?
melihat senyum dan ringismu memberiku energi untuk kembali berdiri dan terus berlari, bukan hanya untuk menyelesaikan jenjang sarjana secepatnya, tapi juga untuk menunaikan semua tugas yang melekat di diriku, semuanya, semuanya, dengan sebaik-baik cara.

Dan setelah semuanya, setelah kucukup pantas, izinkan kujejakkan tapakku di tanah sucimu.

Maka tahukah kau, Gaza?
Memikirkanmu bisa membuatku lupa dunia, melihatnya kecil saja, karena merinduimu adalah merindui tanah surga..

Kronik Palestina: Mereka Yang Ingin Kembali

Kronik Palestina: Mereka Yang Ingin Kembali

Selalu ada emosi-emosi yang menguat ketika berbicara tentang sebuah daratan di Timur Tengah sana. Tentang anak-anak kecil yang menggenggam batu dan menghadang tank-tank, tentang penduduk kota yang mulai terbiasa dengan dentuman bom dan mesiu. Bagi mereka suara senapan dan buldozer ibarat sarapan pagi yang kerap disantap dan menjadi suatu hal yang biasa. Berbicara perihal Palestina juga berarti berbicara tentang ribuan penduduk yang terusir dari tanah airnya sendiri, dipaksa pergi oleh segelintir orang yang mengklaim sebagai pemilik sejati tanah tersebut, yakni bangsa Zionisme-Yahudi.

Namun pada akhirnya, seringkali hanya sistem limbik kita saja yang bekerja: emosi sesaat, marah karena melihat darah, tapi efeknya hanya berlangsung paling lama tiga hari, karena tidak didukung oleh pemahaman mendalam mengenai sejarah berdirinya negeri itu, dan argumen-argumen ilmiah mengapa ia patut diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.

Sejarah penjajahan dan klaim Yahudi atas Palestina, tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya negara Palestina, yang dihuni oleh pribumi asli yang sama sekali jauh dari apa yang diklaim oleh bangsa Yahudi saat ini. Adapun status pribumi asli tak lain adalah mereka yang hidup di bawah naungan tauhid selama beribu-ribu tahun sejak zaman Bapak para Nabi, Ibrahim as hingga Nabi Isa as. Namun risalah kenabian tersebut tidak selamanya terjaga sesuai dengan keasliannya, melainkan mengalami distorsi di beberapa masa, sehingga muncullah banyak penyimpangan yang dilakukan oleh umat Nabi-nabi terdahulu, yang kemudian melahirkan bangsa yang saat ini dikenal dengan sebutan Yahudi. Bangsa Yahudi, sebagaimana banyak dikisahkan dalam al-Qur’an, adalah bangsa dengan karakter sebagian besar umatnya sebagai pembangkang (QS. Al-Baqarah 2: 61), pembuat keonaran, pendusta (QS. Al-Baqarah: 100), bahkan membunuh para Nabi (QS. Ali Imran 3: 21)

Ketika zaman berkembang beratus-ratus tahun kemudian, bangsa Yahudi yang sebetulnya tidak memiliki tanah asal tersebut terus menerus melakukan berbagai upaya untuk merebut Palestina, dengan alasan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan oleh Tuhan untuk mereka. Percik gagasan mengenai pendirian negara Yahudi di atas tanah Palestina dimulai pada tahun 1896, saat Theodore  Hertz menerbitkan sebuah buku yang berisi seruan agar seluruh bangsa Yahudi bersatu di dalam sebuah negara. Semenjak saat itu, usaha Yahudi semakin gencar  dan menemukan titik tolaknya pada tahun 1917, di mana terjadi Perjanjian Balfour, yang meyatakan kerajaan Inggris akan berusaha keras mewujudkan cita-cita berdirinya negara Yahudi di atas Palestina. Titik tolak kedua terjadi pada tahun 1948, di mana Yahudi memproklamasikan negara Israel Raya, yang menandai berakhirnya mandat Inggris sekaligus tercabiknya bangsa Palestina secara lebih mendalam lagi.

Dalam tulisan kali ini, penulis tidak hendak menggali jauh mengenai sejarah dan asal-usul bangsa Yahudi dan Palestina. Satu hal menarik yang perlu disoroti adalah implikasi dari sejarah keaslian penduduk tanah suci itu, yakni adanya hak untuk kembali (right of return) yang dimiliki oleh bangsa Palestina selaku pribumi. Keyakinan bahwa bangsa Palestina adalah pribumi dan berhak untuk kembali inilah yang kemudian menjadi dasar bagi seluruh manusia yang mengaku adanya HAM, memiliki tanggung jawab untuk ikut membantu pembebasan Palestina.

Hal tersebut disebabkan karena di piagam manapun di muka bumi, hak untuk kembali ke tanah air menjadi hak asasi bagi setiap manusia. Dalam Universal Declaration of Human Rights pada Pasal 13, disebutkan bahwa,
“Everyone has the right to leave any country, including his own, and to return to his country.”

Selain termuat dalam Declaration of Human Rights, hak untuk kembali merupakan salah satu prinsip dalam hukum Internasional yang dimuat dalam International Covenant on Civil and Political Rights, dan disebut juga dengan repatriasi. Dalam hal ini, terdapat perbedaan mengenai definisi “country” yang dimaksudkan dalam pernyataan tersebut, apakah mengacau pada sebuah negara ataukan suatu daerah tertentu di suatu daratan. Di beberapa negara, hak untuk kembali didefinisikan sebagai hak yang diberikan pemerintah terhadap warga negaranya yang pergi ke luar negeri sebagai imigran ataupun sebagai pengungsi.

Sementara itu, yang terjadi di Palestina adalah pengusiran massal terhadap penduduk aslinya yang dilakukan secara paksa oleh bangsa Yahudi. Baik dilakukan secara perlahan dengan membangun perumahan-perumahan, maupun secara frontal dengan melakukan bombardir terhadap penduduk setempat, memaksanya pergi atau membunuhnya jika tidak mau pergi. Berdasarkan data-data dan penelitian setempat, pengungsian besar-besaran yang dilakukan lebih didominasi oleh paksaan yang dilakukan oleh Israel, yakni sebanyak 89% penduduk Palestina memilih pergi dikarenakan serangan militer Israel, 10% dikarenakan tekanan psikologis, dan sisanya 1% atas inisiatif pribadi.

Jika meninjau dari fakta sejarah yang diulas secara singkat di atas, hak untuk kembali jelas dimiliki oleh bangsa Palestina selaku penduduk asli. Hal tersebut secara tegas dikatakan oleh Izet Rasyq, Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas, “Kami tegaskan komitmen kami pada hak kembali pengungsi Palestina ke tanah dan rumah mereka. Kami menolak segala bentuk pemukiman mereka (di luar Palestina). Hak kembali pengungsi Palestina adalah hak individu dan kolektif, milik generasi Palestina. Tindakan sebagian pihak dengan membatalkan atau merundingkannya adalah pengingkaran terhadap hak nasional dan sama saja memaafkan kejahatan paling biadab di dunia yang dilakukan penjajah sejak 70 tahun lalu.”

Penegasan bahwa hak untuk kembali adalah hak mutlak Palestina tidak saja diutarakan oleh bangsa Palestina itu sendiri, melainkan juga didukung oleh bangsa-bangsa Arab lain yang masih peduli terhadap kondisi saudaranya. Hal ini ditunjukkan melalui berkumpulnya ribuan tokoh dari berbagai lembaga partai, organisasi, persatuan-persatuan dan komite-komite yang datang dari berbagai ideologi dan latar belakanga yang berbeda-beda, dan mengadakan “Konferensi Arab Internasional untuk Hak Kembali (Haqul Audah)” pada medio November 2008 lalu. Dari perkumpulan tersebut, lahir sebuah deklarasi yang salah satu pasalnya menegaskan bahwa, “Hak kembali adalah hak legal dan alami, hak setiap individu dan kolektif, yang dijamin oleh semua agama, piagam dan hukum internasional. Dia adalah hak tetap yang tidak bisa digugurkan oleh masa kedaluarsa. Dia juga adalah hak mutlak yang siapapun, baik individu maupun kelompok, rakyat atau pemerintah, tidak memiliki hak untuk mengurangi atau melepaskannya. Juga tidak boleh dilakukan referendum atasnya.”

Sementara itu, menurut Dr. Salman Abu Sitta, salah seorang mantan anggota Palestinian National Council yang kini menjabat sebagai Koordinator umum Al-Awda the Palestinian Right of Return Coalition, mengatakan setidaknya terdapat beberapa hal yang menjadikan right of return menjadi sesuatu yang tidak dapat dielakkan lagi, yakni pertama, keinginan dan kemantapan tekad yang besar dari bangsa Palestina itu sendiri. Bagi mereka, kembali ke tanah airnya adalah suatu  hal yang mulia. Meskipun tertindas dan menjadi pengungsi ke berbagai belahan dunia, bangsa Palestina tetap mempertahankan garis keturunannya sehingga darah Palestinanya tetap terjaga. Kedua, fakta bahwa right of return memiliki dasar hukum yang kuat. Kenyataanya, baik Deklarasi Balfour (1917), the UN Partition Plan (1947), ataupun Armistice Agreements of 1949, tidaklah mengikat penduduk Palestina. Mereka bukanlah bagian dari berbagai perjanjian tersebut. Serta tidak satupun dari perjanjian tersebut yang dapat menjamin akan timbulnya hak-hak baru ataupun menghilangkan hak-hak yang sudah dimiliki.
Terakhir, satu hal yang patut diingat adalah salah satu prinsip dalam hukum internasional, yang menyatakan bahwa suatu pendudukan tidak lantas kemudian menjadikan kedaulatan atas tanah tersebut.

Perjuangan kembalinya bangsa Palestina ke tanah airnya bukanlah perjuangan sekejapan mata yang cukup mengandalkan tenaga dan doa dari penduduk asli Palestina. Hal tersebut dikarenakan atmosfer dan spirit perjuangan di belahan bumi sana sejatinya tidak hanya antara dua negeri, tetapi merupakan representasi pertarungan eksistensi antara al-haq (Islam) dan al-bathil (Yahudi). Berbicara tentang Islam, maka berbicara pula tentang satu kesatuan tubuh yang melewati lintas geografis dan kebangsaan, sehingga menang atau kalahnya bangsa Palestina di sana, tak ayal lagi merupakan jatuh atau bangkitnya Islam secara keseluruhan.

dimuat dalam Buku SALAM UI untuk Palestina: “Palestina di Hati Pemuda”

fiuuh, butuh energi ekstra menyelesaikan tulisan di atas,,

 

12 Januari 2011