Backpacked to Lake Tahoe (1)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Di antara beberapa destinasi wisata di California yang selama beberapa waktu terakhir saya kunjungi, Lake Tahoe adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena bentangan alam yang indah sepanjang perjalanan ke sana, terpenuhinya rasa penasaran melihat dan merasakan salju seperti apa, tapi proses perjalanan panjang ke sana sebagai backpacking family ternyata meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

 Terletak di antara state California dan Nevada, Lake Tahoe terbagi menjadi dua bagian besar yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri, yaitu North Lake Tahoe dan South Lake Tahoe. Berdasarkan informasi dan rekomendasi dari beberapa ibu-ibu di sini, North Lake Tahoe menjadi pilihan karena di sana masih terdapat salju dikarenakan kondisi geografisnya. Di samping pertimbangan waktu (dan dana tentunya :D) yang terbatas, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan sulit ditemui di daerah lain, khususnya tidak bisa dijumpai di negeri asal kami. Tentu saja salju adalah poin lebih yang kami incar selaku manusia-manusia khatulistiwa 😀

Berikut adalah jejak dokumentasi yang saya tuliskan sebagai bentuk sharing bagi ayah-ibu dengan balita yang berkesempatan pergi jauh ke sana tanpa kendaraan pribadi dan tanpa rombongan tour. Terasa benar travellingnya! 🙂

Setelah tertunda-tunda selama beberapa weekend, akhirnya berangkatlah kami Sabtu pagi pekan kemarin. Pukul 5 pagi sudah berjalan keluar rumah menuju ke pool Amtrak (kereta antar kota dan state di Amerika) di San Francisco, dengan kondisi Azima diangkat dalam kondisi tertidur. Tiket sudah kami pesan langsung ke loketnya satu hari sebelumnya.

Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak
Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak

Ohya, kalau ada credit card, tiket Amtrak bisa dibeli melalui online di situsnya langsung, dan ternyata memang lebih murah dan eksak tujuannya daripada kita membeli di loketnya. Kenapa eksak? Karena  meminimalisir bias pelafalan dan pendengaran dari dua komunikan seperti yang terjadi pada kami: suami saya menyampaikan “Truckee, Lake Tahoe” (lokasinya di North Tahoe) kepada petugas loket, sedangkan petugas hanya mendengar, “Lake Tahoe”, (which is lokasinya di South Tahoe). Kesalahan pemesanan ini baru kami sadari ketika sudah tiba di rumah, alhamdulillah bisa diatasi via telepon dan membayar langsung keesokan harinya.

Salah satu kekurangan dari perjalanan dengan kendaraan umum adalah harus bersedia menyediakan waktu lebih banyak untuk antisipasi keterlambatan dan bersedia untuk sambung menyambung beragam kendaraan dan agak sedikit berputar jaraknya daripada langsung dengan kendaraan pribadi.

Tapi syukurnya, berperjalanan jauh dengan Amtrak menimbulkan kesan tersendiri karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah, bentangan savana, bukit, gunung serta laut ala Amerika. Layanan serta fasilitas di Amtrak pun tergolong memuaskan untuk ukuran perjalanan antar kota jarak jauh.

penampakan Amtrak dari luar
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak, yey, kami sudah nyaris sampai!

Dalam cerita kami, ada spare waktu sktr 5 jam “sekedar” untuk hal-hal di atas tadi: kami keluar rumah jam 5 shubuh, naik bus dari Alameda ke SF, tiba di SF jam 6 pagi. Kemudian menaiki bus thruway (semacam penghubung) dari SF ke stasiun Amtrak di Emeryville jam 8, dari Emeryville berangkat jam 9.30, tiba di  stasiun Amtrak Truckee jam 14.38 disambut oleh hawa segar tapi dingin yang menusuk kulit. Sayangnya, 14.38, adalah 8 menit setelah bus lokal (TART, Tahoe Area Local Transportation) berangkat meninggalkan kami, sebuah bus yang baru datang sejam sekali :D.

Alameda-Tahoe
Alameda-Tahoe

Setelah menunggu bus sejam kemudian, berangkatlah kami dari Truckee, sebuah kota di wilayah utara Lake Tahoe, dan tiba di Tahoe City Inn, tempat penginapan yang kami pesan melalui booking.com jam 17.00.  Harapan kami untuk segera mendapatkan kehangatan setelah berjalan kedinginan nyaris buyar ketika kami ditolak oleh resepsionis karena tidak punya credit card sebagai bentuk jaminan. Meskipun pembayaran bisa melalui cash, tetapi tampaknya di sini (Amerika), alas dasar kepercayaan bagi sesama stranger adalah uang :(, dalam hal ini credit card. 

Setelah berfikir beberapa saat dan mencari penginapan lain di internet yang ternyata juga penuh, akhirnya Kak Jay mencoba menghubungi kawannya, Mas Jimo, sesama tim dari iGrow yang syukurnya bisa dipinjam sementara akun CC-nya. (Big thanks to Mas Jim0-Mbak Ayun! 🙂 ). Setelah coba diproses, alhamdulillah, akhirnya kami tidak jadi terlunta-lunta kedinginan mencari penginapan sepanjang jalan yang mau menerima kami, :D.

Suasana Lake Tahoe di senja hari sangat indah, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Indonesia. Meski dengan suasana dan hawa yang berbeda, serta penjagaan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih tertib daripada di Indonesia. Terlintas di fikiran saya, bahwa bentangan alam dan daratan yang Allah berikan untuk Indonesia dan Amerika adalah sama-sama blessing. Tapi bukan tanpa hikmah juga tentunya ketika Allah memilih ras, agama, dan sejarah manusia-manusia yang hidup di atasnya (begitu) berbeda. And yeah, I’m still loking for that hikmaaat.. 

di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi
di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi

-to be continued-

 

Advertisements
A-ba-ta-tsa in Alameda

A-ba-ta-tsa in Alameda

Hari ini genap sebulan saya dan keluarga kecil saya tinggal di US. Refleksi yang cukup lengkap tentang bagaimana kami tinggal di sini alhamdulillah sudah dituliskan oleh bapak komandan, di sini. Tulisan ini sekedar melengkapi satu dari sekian pembelajaran yang saya dapati, dan mudah-mudahan menjadi bekal untuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Salah satu pembelajaran tersebut adalah mendapat challenge berupa mengajar mengaji seorang anak perempuan berusia 5 tahun dengan bahasa Inggris.

Setiap kali ditanya oleh orang, “Jadi Ifah di sana ngapain aja?”, saya tersenyum-senyum sambil berfikir. Iya, apa hal bermanfaat yang bisa saya berikan pada orang lain, di samping memastikan keluarga kecil saya terjaga kesehatannya lahir dan batin, mengurus hal-hal domestik teknis kerumahtanggaan dan mendampingi masa-masa emas si kecil Azima?

Kalau di Indonesia ada banyak pilihan pekerjaan yang bisa saya lakukan di samping sebagai full time mother (membantu mengurus pembinaan di kampus, menjadi pengajar al-Qur’an dan pengurus LTQ yang Ibu saya bangun, ikut les, seminar ini dan itu sembari mempersiapkan S2), kondisi merantau dengan ketiadaan keluarga dan mahalnya daycare membuat pilihan pekerjaan yang sifatnya kontributif jadi tidak terlalu banyak. Sebab ke manapun saya pergi ada tangan kecil yang akan selalu mengikuti, Azima. Di tambah dengan jarak dari satu tempat ke tempat lainnya yang tergolong jauh, mobilitas saya jadi agak terhambat karena ketiadaan transportasi pribadi (dan kemampuan mengendarainya :D).

“..keberadaan kita di suatu tempat adalah pilihan Allah. Oleh karena itu saya begitu yakin, di manapun Allah menempatkan kita, di situlah Allah menginginkan kebaikan bagi kita.” – Mbak Kiki Barkiah

Refleksi Mbak Kiki di atas, seorang ibu beranak lima yang pernah mengalami masa perantauan di California selama beberapa tahun tersebut agaknya memang benar.

Tentunya bukan tanpa maksud Allah mempertemukan saya dengan Ibu kontrakan (pemilik paviliun yang saya tempati sekarang), yaitu seorang Ibu keturunan Padang yang sebaya dengan Bu Lik atau tante saya, bersuamikan orang Mesir yang sudah menjadi WN Amerika serta memiliki dua anak perempuan lucu-lucu dan pintar. Putri pertamanya bernama Noureen (yang berarti Nuur ‘Aini = cahaya mata), berusia lima tahun, dan Janna Rose (Mawar Surga, sang ibu menuturkan bahwa spelling-nya juga bisa menjadi generous = baik hati, dermawan) berusia 3 tahun. Keduanya lahir dan besar di sini, sehingga first language mereka adalah English.

Kesibukan sang ayah bekerja dan sang ibu mengurus setumpuk pekerjaan rumah tangga membuat kedua putri cilik tersebut belum diajari membaca Al-Qur’an. Terpikirlah di benak saya, barangkali inilah ladang pembelajaran dan mudah-mudahan bisa menjadi ladang amal pula semasa saya tinggal di negeri yang tidak meletakkan pengajaran agama dalam kurikulum sekolah negerinya.

Alhamdulillah gayung bersambut setelah saya coba tawarkan kepada sang Ibu, apakah berkenan sekiranya saya bantu mengajar ngaji anak pertamanya.

Mengajar anak-anak tentulah berbeda dengan mengajar orang dewasa. Sepengalaman saya yang masih sedikit dalam mengajar al-Qur’an, saya belum pernah mengajar anak-anak dari nol, kecuali Azima yang saya sudah perkenalkan dengan flashcard hijaiyah dan diakrabkan langsung dengan talaqqi langsung dari saya, bacaan dan lantunan al-Qur’an.

Sesulit apapun mengajar orang dewasa yang baru mengeja huruf hijaiyah, saya masih bisa dengan perlahan menjelaskannya dalam bahasa Indonesia, contohnya untuk huruf ‘dal’, “iya Bu, lidahnya diangkat dan dipertemukan dengan gusi dekat gigi atas bagian dalam ya.” Nah, kira-kira bagaimana menjelaskannya dalam bahasa Inggris? 😀

Tentu harus lebih disederhanakan ya. Setelah bertanya-tanya pada orang-orang yang lebih pengalaman, berdiskusi dengan kak Jay dan mengingat bagaimana Ibu mengajari saya dan saudara-saudari di masa kecil, akhirnya bi idznillah saya memutuskan untuk bereksperimen sendiri berbekal ilmu yang saya tahu.

Dengan waktu yang terbatas (kurang dari empat bulan lagi kami akan berada di sini), frekuensi belajar yang saat ini baru sepekan sekali (selama kurang lebih 45 menit setiap pertemuan), serta sulitnya mencari source modul pembelajaran untuk anak-anak pemula (iqro’, qiroati, metode ummi, dll), saya memilih membeli modul Qur’an Made Easy melalui Amazon.

Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat
Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat

Awalnya agak canggung mengajar dengan bahasa Inggris, tapi seiring waktu berjalan, ide-ide improvisasi itu bermunculan saja ketika momen mengajar berlangsung.

Saya mencari akal bagaimana mencari asosiasi yang mudah dengan huruf-huruf ‘asing’ tersebut, “This is like you call your daddy!”

“Dal!”

“and your mommy?”

“Mim!”

“Like you exhausted after loonngg running,” (saya menirukan nafas terengah-engah dengan makharijul huruf ‘ha’ tipis)

“Ha!

“and this one?” (saya memasang wajah terkejut)

“Waww””

and so on, so on.

Keberadaan papan tulis hitam dan kapur warna-warni juga saya optimalkan sebisa mungkin dengan menulis huruf-huruf hijaiyah dan membuat tebak-tebakan untuk Noureen, serta memintanya untuk menuliskan huruf yang saya sebutkan. Saya juga memanfaatkan lagu-lagu (nasyid) anak-anak yang bertebaran di youtube, yang konten lagunya adalah huruf-huruf  hijaiyah.

Alhamdulillah Allah karuniakan kecerdasan intelektual yang lebih di atas rata-rata bagi Noureen, sehingga di usia 2 tahun sudah pandai membaca dan berbicara dengan artikulasi yang jelas. Begitu pula ketika saya ajarkan huruf-huruf hijaiyah, daya serapnya sangat cepat dan ia dapat mengingat serentetan huruf bisa jadi untuk Noureen tampak sangat asing.

Meskipun pada beberapa huruf yang spelling-nya memang tidak lazim digunakan di sini, seperti ‘kha’, ‘dha’, butuh waktu lebih lama daripada huruf-huruf lainnya, Noureen tampak antusias untuk terus belajar.  Keberadaan flashcard hijaiyah yang saya bawa dari Indonesia untuk bekal belajar Azima pun syukurnya sangat bermanfaat untuk games tebak huruf, sehingga Noureen lebih enjoy menikmati pembelajaran (thanks to Eza yang sudah menawarkannya ke saya :)) . Ketika mengalami kesulitan dan Noureen tampak overwhelmed, saya putar kembali nasyid hijaiyah dan bernyanyi bersama. Begitu seterusnya sehingga tidak terasa waktu belajar sudah habis.

Saat ini saya dan Kak Jay sedang berusaha mengatur waktu agar intensitas pertemuan bisa lebih sering, setidaknya tiga kali sepekan. Jadwal ini dipengaruhi pula oleh jadwal kepulangan Kak Jay dari kantor, sebab selama saya mengajar, Kak Jay-lah yang akan menemani Azima bermain.

Mungkin apa yang saya lakukan terlihat sederhana, dan kadangpula ketika saya tengah stuck atau kehabisan ide kreativitas bagaimana mengajar gadis cilik tersebut, saya membayangkan jika suatu saat, dengan izin Allah, Noureen kelak menjadi cahaya mata tidak hanya bagi orang tuanya, tapi juga bagi masyarakat Amerika yang rindu akan fitrah kemanusiaannya. Aamiin.

Pra-teacher

Pra-teacher

Selalu ada rencana-rencana-Nya yang indah dari setiap pertemuan. Baik yang sengaja atau tidak sengaja kita bayangkan.

Dan setiap tantangan dan kesulitan adalah peluang besar agar kapasitas diri kita ternaikkan, asalkan prasangka baik mendampingi perjalanan.

Namun jika suatu saat imaji syurga dan neraka begitu jauh dari bayangan, hingga kemalasan,  keletihan atau kemenyerahan mengikutimu di sepanjang jalan, cobalah kau ingat bahwa birrul walidainmu masih jauh dari parameter seorang anak teladan..
Maka semoga, kembali penuh lagi energimu yang mungkin tercecer tak karuan..

~setelah pertemuan perdana, being privat teacher.