Menjadi Wanita, Menjadi Mulia

Menjadi Wanita, Menjadi Mulia

Apa yang tergambar di benakmu ketika disebut kata ‘wanita’? Penderitaan? Keterjajahan? Kerendahan? Dan segala jenis definisi lain yang menyiratkan bahwa kata ‘wanita’ identik dengan ketidakberdayaan dan kekalahan dibandingkan lawan gendernya, lelaki. Bahkan bagi kita yang belajar di ranah hukum, asosiasi kekalahan tersebut erat terlihat di benak kita. Sebagai contoh, ketika disebut KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), yang terlintas adalah soal penganiayaan yang dilakukan oleh seorang suami atas istrinya, bukan sebaliknya.

Sebelum bergerak lebih lanjut mengenai setuju atau tidaknya kita terhadap stigma di atas, ada baiknya kita menyepakati beberapa hal yang mendasar. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa ketika Allah menciptakan Hawa, ada sifat-sifat dasar (fitrah) yang terlekat dalam diri seorang wanita dan tidak terdapat pada lelaki. Sisi rasa yang lebih kuat ketimbang rasio akan dengan mudah kita temukan pada diri seorang wanita. Tentu, bukan sekedar asal saja Allah menciptakan wanita dengan karakter seperti itu. Kelak, ketika ia  menjadi ibu dari anak-anaknya, afeksi yang kuat akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang sang anak sehingga kelak anaknya matang dan dewasa. Tidak jarang kita temui banyaknya anak-anak pemberontak, karena kurangnya ia mendapat kasih sayang orang tua, terutama dari seorang ibu.

Kuatnya rasa dan emosi tersebut kemudian berkait erat dengan tingkah dan karakter wanita lainnya, yakni kelemahlembutan. Sayangnya, orang-bahkan dari kalangan wanita sendiripun, seringkalil memenggal satu frase itu, dan hanya melihat kata pertamanya, yakni ‘kelemahan’. Padahal ketika disandingkan dengan ‘kelembutan’, akan kita temukan satu definisi yang berbeda jauh: karena dalam kelemahlembutan terdapat satu kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang menjadikan wanita mulia. Kekuatan yang hanya dapat dilihat jika kita memandang dengan kacamata diin yang mulia ini, al-Islam.

Tanpa frame yang tepat, akan terdapat salah kaprah stigma terhadap wanita. Cara memandang yang sebelah mata itulah yang menurut analisa penulis menjadikan wanita memiliki catatan kelam dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia. Dahulu, lebih berpuluh-puluh abad yang lalu, wanita sekedar menjadi budak bagi nafsu kesewenang-wenangan para lelaki. Kelahirannya dicaci, bahkan liang lahat sudah menanti. Nyawanya dipersembahkan untuk sesajen para dewa-dewa, dijadikan tumbal agar dewa-dewa tersebut ridha. Seperti itulah sedikit banyak gambaran diskriminasi terhadap wanita di masa lalu, yang masih dapat kita temui sifat-sifatnya pada masa kini.

Lantas, empat belas abad silam, seorang manusia biasa dengan akhlak luar biasa memikul sebuah risalah istimewa, yang dengan risalah tersebutlah terbebaskan belenggu jahiliah yang selama ini memenjarakan kaum wanita. Ya, risalah tersebut adalah Islam dengan Nabi Muhammad saw sebagai pembawanya. Sebagaimana yang disebutkan Shalah Qazan (2001) dalam bukunya, Membangun Gerakan Menuju Pembebasan Perempuan, “Agama baru ini telah menanamkan dalam jiwa para pengikutnya pemahaman, nilai, dan aturan-aturan baru yang didasarkan pada keadilan, kesetaraan, dan pemeliharaan firah suci yang ada pada manusia; baik laki-laki maupun perempuan, sehingga khalifah, orang awam, dan seluruh individu masyarakat, siapapun orangnya, wajib berhukum dan berinteraksi dengan syariat baru tersebut serta menerapkannya pada pribadi dan masyarakat, bukan membuat syariat sendiri sesuai dengan kepentingan dan keinginan masing-masing.”

Maka terbantah sudah semua anggapan bahwa aturan-aturan dalam Islam mengekang kebebasan wanita seperti yang selama ini digadang-gadang oleh kaum feminis. Justru dengan syari’at yang Allah swt tetapkan, terjagalah semua fitrah wanita yang selama ini melekat pada dirinya. Sebagai contoh, tuduhan bahwa jilbab memperketat gerak lingkup wanita dapat terbantahkan karena justru dengan jilbab, wanita dapat menjadi dirinya sendiri sesuai potensi keilmuannya, tanpa memperhitungkan aspek fisik yang bersifat semu dan tampak luar saja.

Dengan jilbab, bukan hanya aspek fitrah wanita yang terlindungi, tetapi juga fitrah lelaki yang dapat dengan mudah tergoda nafsunya walau hanya dengan melihat sekelebatan fisik wanita. Kita tentu tidak dapat menuduh salah satu fihak, dalam hal ini lelaki, ketika terjadi pemerkosaan terhadap wanita yang memang sengaja membuka dan mempertontonkan auratnya. Karena tidak akan ada asap tanpa ada api, tidak akan ada reaksi tanpa aksi. Maka dapat dengan mudah kita ambil hikmah, betapa Islam menjaga wanita muslimah dengan mewajibkannya mengulurkan kain ke dadanya dan tidak menampakkan auratnya (QS. An-Nur: 31). Hikmah dari jilbab juga dapat kita temui dari kisah seorang wartawati Helsinski non-muslim yang mencoba mengenakan jilbab dan cadar dengan maksud merasakan sendiri dampak jilbab yang dikenakannya. Ia mengaku mendapat kedamaian dan kenyamanan tersendiri dengan jilbabnya. Meskipun ada sebagian yang memandangnya sinis, namun penghormatan sebagian kalangan dan banyaknya ucapan salam dari sesama muslim yang diterimanya membuatnya merasa semakin dihargai.

Pengangkatan derajat seorang wanita hingga menjadi tak kalah istimewa dibanding lelaki juga dapat kita temukan di dalam al-Qur’an maupun hadits. Kita akan dapati betapa Allah memberi perhatian khusus terhadap wanita dengan memberi nama salah satu surat dalam al-Qur’an dengan ‘an-Nisa’, yang artinya adalah wanita. Dalam salah satu hadits diriwayatkan pula bahwa Rasulullah menyebutkan ‘ibu’ sebanyak tiga kali baru kemudian ‘bapak’ ketika beliau ditanya oleh seorang shahabat, kepada siapa lagi ia harus berbakti dan taat setelah kepada Allah dan rasul-Nya. Secara gamblang pula, Allah menjelaskan betapa setaranya kedudukan lelaki dan perempuan dalam Islam,

”Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(Q.S. Al Ahzab : 35)

Pun jika terdapat perbedaan fisik, karakter, fungsi dan peran di antara keduanya, semata ingin menunjukkan adanya kesetaraan, keseimbangan dan keserasian semesta raya. Ibarat sepasang sandal, tentu tidak akan dapat dipakai secara nyaman jika hanya menggunakan sebelah kanan saja atau sebelah kiri saja. Kehidupan lelaki atau pria tidak akan sempurna tanpa perempuan atau wanita, begitu pula sebaliknya.
Catatan sejarah empat belas abad lalu membuat kita, kaum wanita, patut berbangga. Karena orang yang pertama kali masuk Islam adalah perempuan-Khadijah binti Khuwalid, istri Nabi, yang juga merupakan orang yang pertama kali berinfak di jalan Allah. Orang yang pertama kali mati syahid adalah perempuan-Sumayyah binti Khayyath, dan beruntunglah Fatimah binti Khathtab, seorang wanita yang mampu membuat hati keras sang kakak, Umar bin Khaththab tersentuh dengan bacaan Qur’annya.

Kini pun, ada Dr. Naida EL-Awady yang mampu memimpin jurnal sains dunia. Prestasi yang dipicu dengan pemahaman yang tepat, bahwa wanita pun berhak mengenyam pendidikan yang sama dengan lelaki. Ada pula Rashida Tlaib (32 tahun), wanita keturunan Palestina yang kini resmi menjadi Muslimah pertama yang duduk di kursi parlemen negara bagian Michigan, Amerika Serikat (AS). Munculnya ia ke ranah publik tentu tidak terlepas dari pemahamannya yang mendalam mengenai posisi wanita dalam Islam.

Berbahagialah dirimu, wanita. Karena Islam telah menjadikanmu mulia.

Scientia Afifah T
Fakultas Hukum 2008
–dimuat di buletin Season Serambi FH UI

Depok, 16 April 2010