Idealisme Kami

Idealisme Kami

IDEALISME KAMI

*dibacakan di setiap awal protokoler agenda resmi PPSDMS NF. 

Betapa inginnya kami/agar bangsa ini mengetahui/ 
bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri/

Kami berbangga/ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka/
jika memang tebusan itu yang diperlukan/

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan/
kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka/
jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini/
selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami/
menguasai perasaan kami/
memeras habis air mata kami/ (membacanya dengan nada naik pada ‘memeras habis’)
dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati kami/
menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini/
sementara kita hanya menyerah pada kehinaan/
dan pasrah oleh keputusasaan/

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa/
kami membawa misi yang bersih dan suci/
bersih dari ambisi pribadi/bersih dari kepentingan dunia/
dan bersih dari hawa nafsu/

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia/
tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya/
tidak juga popularitas/apalagi sekedar ucapan terima kasih. (membaca baris ini dengan nada menukik turun)

Yang kami harap adalah/
terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
serta kebaikan dari Allah – Pencipta Alam semesta (dua baris terakhir dibaca bersamaan)

——————-

membaca beberapa bait yang serupa ketika usia belasan tahun dulu dari sebuah buku di deretan koleksi Bapak-Ibu, kemudian mengulangnya lagi ketika beberapa bait serupa dijadikan hafalan wajib sebagai mahasiswa baru UI 2008, dan terus diulang lagi ketika mengawal acara-acara resmi PPDSMS, semoga sampai saat ini rasanya masih sama: biru. 

 

Advertisements
Romadiy

Romadiy

Menarik ketika mengikuti diskusi panjang lebar di milis alumni PPSDMS tentang pilgub Jakarta putaran kedua. Thread berjudul “Gajah Berkumis di Tengah Ruangan” itu membuat saya sesekali tersenyum, berkerut, dan sesekali mengangguk-angguk setuju dengan beberapa pendapat abang-abang dan tetua di sana. Yea, I’m a silent reader, indeed. Masih merasa  terlalu kecil untuk ikutan berkomentar di tengah para alumni yang cerdas-kritis itu. 😀

di antara semua komentar-komentar alumni yang wow itu, baik yang pro dan kontra mengomentari sikap P*** mendukung salah satu kandidat, ada salah satu komentar menarik yang diungkapkan oleh salah seorang tetua di sana, hasil refleksinya setelah beberapa kali diskusi dengan ayahanda kami, Ustadz Musholli, “bahwa terkadang langkah-langkah politik tidak harus selalu linier.”

ketika idealisme yang kita miliki keluar dari tempurung menara kampus, ia harus bertemu dengan ruang yang tak hampa lagi, bertemu dengan realita-realita yang sesekali membuat kita terkejut, sehingga hitam putihnya jadi blur, danabu-abu menyergapmu di sana-sini. kalau tidak kuat-kuat kesabaran dan keimanan, mungkin kita sudah memilih berhenti karena sakit hati, habis karena ditelikung kanan-kiri.

kemudian saya teringat diskusi dengan Ibu saya, wanita berhati baja berselimut kapas–kayak apa coba. :D, ketika saya mengungkapkan bingung bercampur kecewa dengan pilihan politik P***, “ya.., politik memang begitu. Ibu mah sekarang datar aja, karena hal-hal seperti itu memang suatu keniscayaan dalam politik..”

#glek.

mungkin ini salah satu faktor yang akhirnya  membuat Bapak bisa bertahan selama dua periode di gedung parlemen sana: rasa sabar dan tahan banting Ibu mendampingi dan mendengarkan setiap keluh kesah Bapak menghadapi ruang yang tak lagi hampa di luar sana..

dan jika dibandingkan dengan dunia yang saya sedang jalani sekarang, perang melawan Jalut-nya kampus plus kroni-kroninya, saya menjadi bersyukur  masih bisa menikmati masa-masa sebagai mahasiswa, saat idealisme dipandang dengan garis lurus: hitam putihnya jelas. meski saya tidak boleh lupa, suatu saat, hanya soal waktu, realita yang kompleks itu akan saya temui juga nantinya.

“Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak. dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.” -Buya Hamka

27 Ramadhan 1423