dear..

dear..

dear lil angel

 

mengetiknya sejak dua pekan yang lalu, tapi belum sanggup meneruskannya. sudah ada yang melesak-lesak memenuhi rongga: harapan, cinta, cita, kekhawatiran, sayang? mungkin semuanya. rasanya, ada banyaaak sekali yang ingin disampaikan padanya.

setelah lewat dua pekan, membuka kembali, akhirnya (untuk sementara ini) baru bisa melanjutkan dengan dua baris:

kelak, jadi anak yang shalih, ya nak..

yang meneruskan cita-cita perjuangan kakek-nenekmu, ayah-bundamu.. :’)

Qawiyy :)

Qawiyy :)

Salah satu hal yang membuat morning sickness menjadi lebih mudah dihadapi setiap harinya adalah dengan mengingat cerita-cerita Ibu ketika sedang mengandung anak-anaknya. Pergi ke sana ke mari, meretas membuka jalan kebaikan yang saat itu benar-benar masih sepi, dengan jarangnya Bapak ada di samping beliau—karena tugas yang sama beratnya.

Sampai saat ini, jawaban simpel yang selalu sama setiap kali saya atau kakak perempuan saya terheran dengan apa yang beliau lakukan di masa lampau. “Bu, dulu Ibu kok bisa ya melahirkan sebelas anak dengan normal, nggak ada yang cesar?”
“Apa ya, tawakkal ‘alallah. Jalani saja..”

Setiap beliau melihat wajah saya yang kuyu karena menahan mual dan pusing, beliau akan mengatakan, “biasa itu mah..”, “ayo Fah, dilawan, dipaksa tubuhnya untuk bangkit!” Saya mengangguk-angguk dan nyengir lebar, sembari perlahan mengumpulkan energi, menyusun jadwal seharian.

Dari cerita dan semangat beliau, saya jadi terpicu untuk semakin menguatkan diri: ibu kuat, anak perempuannya juga harus kuat! Dan kalau ingin punya anak yang qawiyy dan tangguh, maka langkah pertama adalah jadi ibu yang qawiyy dan tangguh pula!

*Apalagi dengan kehadiran dan semangat ayahnya yang juga qawiyy, :’D.

Thanks Mom, untuk didikanmu yang masih terus terasa sampai sekarang. Semoga Allah menjaga dan menguatkanmu selalu. :’)

Ayo dedek (dan ayahnya), kita sama-sama berjuang jadi hamba-Nya yang qawiyy, :’)