twenty-some

twenty-some

Harijadi ke 26 beberapa waktu lalu bagi saya menjadi salah satu bagian dari turning point di mana saya semakin menyadari bahwa: semakin bertambah bilangan usia, semakin independen manusia menentukan pilihan hidupnya, serta seharusnya semakin besar pula tanggung jawab yang diembannya.

Bertambahnya usia, somehow, juga mengajari saya bahwa koneksi kita dengan banyak orang menjadi tidak terlalu dalam. Yes, maybe we have many Whatsapp group, we have many contacts in our phone, but, it’s not mean that we are fully connected with them. People who have same ages with me have their own problem, in their own world.

Hence, family comes first.

sweet surprise from my sweetheart :)
sweet surprise from my sweetheart 🙂

After that, people who see you  directly more often, talk active with you, share the same problem in the same area, have a stronger bond than other. 

12250_10153375226900496_4145829736996087734_n
dua orang di sebelah saya (keduanya milad juga di bulan Maret), mengajak saya berbagi syukur dengan berbagi tumpeng di pengajian ibu-ibu 🙂

And, there are people who always be in your prayer: even they are not in your sight, you connected to them. I can’t explain more about it. But i’m sure you can feel it. 🙂

Pergi jauh dari tanah kelahiran pun bagi saya menjadi momen di mana saya bisa merenungkan kembali posisi keberadaan saya di dunia ini. Di mana variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan saya jauh berkurang, dan lebih berfokus pada what’s next? get some challenges to prove that you actually twenty-some-year-old woman! 

Waktu kita terbatas, memilih yang benar-benar prioritas menjadi keterdasakan yang niscaya. Ah, saya jadi ingat sebuah puisi yang digubah oleh Robert Frost, seorang penyair Amerika,

THE ROAD NOT TAKEN
by: Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Advertisements
Juni

Juni

“karena Allah,” adalah alasan yang paling sederhana sekaligus rumit atas setiap gerak dan langkah yang kita ambil.

“karena Allah,” kadang menjadi alasan pelindung untuk nafsu yang terselubung, tapi mengingat alasan itu kembali bisa membuat kita terpukul dan terbangun: terburu-buru membereskan apa yang tak sesuai dengan ingin dan aturan main-Nya.

“karena Allah,” juga menjadi jawaban paling menenangkan sekaligus menguatkan atas semua pertanyaan yang menggantung di benak kita.

dua kata itu dapat membuat kita bertahan berdiri meski dalam kebingungan, sekaligus membuat kita ringan melepaskan.  ya, karena Allah Maha Berkehendak, atas setiap penciptaan, atas setiap jalan hidup, atas setiap jalinan cerita yang kadang terlalu rumit untuk dipahami oleh akal dan perasaan kita.

“karena Allah,” (mungkin) yang membuat hujan tetap tabah bergulir di bulan Juni, meski takut-takut, meski ragu-ragu,

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserapkan akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)

 

Shalahudin

Shalahudin

SHALAHUDIN

Kuda kuda memekikkan luka
dataran darah
musim gelisah di matanya
Lelaki menampung semesta airmata

Shalahudin! Shalahudin!

Lihatlah, kegagahan langit
jundi abadi
lebatnya hujan keberanian
rona cahya kasih
dalam perang penghabisan

Waktu pecah
kuda-kuda berdansa
di antara kibaran bendera putih
Shalahudin! Shalahudin!
Di sepanjang jalur kau semai damai
dan kebijakan sebagai cuaca

Sejarah mencatat, aku pun
tak bisa berhenti mencinta

(Helvy Tiana Rosa)