Mudah Saja

Mudah Saja

Mudah saja bagi Allah SWT membuktikan kekuasaan-Nya.

Seperti ketika Dia menguatkan keyakinan Nabi Ibrahim as,

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kemudian Allah menjawab permintaan abul ‘anbiyaa tersebut dengan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mencari empat ekor burung yang berbeda, disembelih, lalu dipisah-pisahkan daging dan bulu-bulunya lalu dicampuradukkan satu sama lainnya. Kemudian dipisahkan lagi ke beberapa bagian dan setiap bagian diletakkan pada setiap bukit. Allah perintahkan sang Nabi untuk memanggil keempat burung tersebut.

Di sanalah sang Khalilullah menyaksikan keajaiban, bagian dari Kuasa-Nya yang hanya dengan mengatakan “kun”, terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.

Dengan izin Allah, keempat burung yang ketika dipanggil masih dalam berbentuk daging yang tercampur tersebut, hidup kembali secara sempurna. Setiap bulu, setiap anggota tubuh, dan setiap daging keempat burung tersebut berterbangan menuju masing-masing burung sehingga seluruh tubuh keempat burung tersebut bersatu secara sempurna. Sempurna sebagaimana sedia kala.

Keempat burung tersebut berdatangan kepada Ibrahim ‘alaihissalam dengan berlari menggunakan kaki-kakinya, agar Ibrahim dapat melihatnya secara jelas dan lebih nyata dibandingkan ketika burung-burung tersebut berterbangan. Laa ilaaha ‘illallaah…

Mudah saja bagi Allah, ya?

Maka jika nampaknya tanda-tanda matahari cita-citamu belum nampak, atau tembok tiran nampak terlalu kuat untuk dirobohkan, sering-seringlah mengingat kisah-kisah manusia istimewa tersebut. Yang dengan sabarnya, dengan keyakinanya, membuahkan amal-amal yang berkelanjutan, dan membuahkan kebaikan dari Allah yang luarrr biasa istimewanya.

Referensi: Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir. 

yaa haamilal qur’aan

yaa haamilal qur’aan

Interaksi dengan Al-Qur’an mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah kesabaran dan pengingatan bahwa ingatan kita, adalah milik Allah.

Bagi teman-teman yang memiliki hafalan tentunya memiliki tekad agar suatu ketika bisa memiliki hafalan yang mutqin, yang bisa kita “bawa” minimal dalam ingatan dan lisan, agar suatu ketika dapat terejawantahkan dalam amal perbuatan. Tapi nyatanya, mengulang hafalan lebih menantang ujiannya daripada menambah hafalan bukan? 😀

Sebagaimana yang saya alami beberapa waktu terakhir, ketika saya menyadari usia saya sudah mendekati kepala tiga, sementara hafalan yang pernah saya setorkan semakin banyak yang menguap *tears*. Mengulang sendiri tetap tidak selengket ketika kita mengulang dengan menyetorkannya kepada orang lain. Mendengarkan orang lain menyetorkan hafalannya pun tidak cukup membantu saya untuk mengingat kembali hafalan-hafalan yang menguap.

Sayangnya, beberapa pengalaman saya ke lembaga qur’an di sekitar saya agak sulit menerima orang yang langsung memuroja’ah hafalan, rerata mereka mewajib kembali ke tingkat tahsin sebagai standarisasi lembaga. Akhirnya saya putuskan untuk mencari orang yang saya percayakan bisa membantu saya menjaga hafalan dengan kapasitas dan konsistensinya. Syukurnya, Allah pertemukan saya dengan seorang senior akhwat, alumni Syari’ah LIPIA yang sudah memiliki 5 orang putra-putri tapi terus konsisten menjaga hafalan Qur’annya. 10 tahun lalu kami bertemu di suatu masjid di Bandung, dalam suasana i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ah, saya rindu sekali dengan suasana syahdu itu..

Singkat cerita, niat saya yang pada awalnya ingin belajar bahasa Arab Qur’an kepada beliau (saat ini beliau membuka beberapa kelas bahasa Arab Qur’an untuk kelas muslimah), akhirnya berubah untuk mengulang hafalan, menarik dan mengikat kembali ayat-ayat-Nya sebelum terus menguap.

Daan, sungguh itu adalah perjuangan tersendiri!

Seperti samudera yang tak bertepi, interaksi dengan Al-Qur’an selalu menimbulkan kesan yang berbeda jika kita membuka lebar-lebar mata hati kita, meski ayat yang sama bisa  jadi sudah kita ulang berratus dan berribu kali. Interaksi dengan Al-Qur’an seperti melatih jiwa untuk terus bersabar, untuk tidak sombong, untuk terus mengingat bahwa kita ini bukan apa-apa tanpa rahmat-Nya.

Bagaimana tidak? Sedetetik ini bisa yakin sangat  kita sudah mengingat kuat hafalan yang kita punya, detik berikutnya bisa tiba-tiba blank. apa? apa setelah ini? kok bisa lupa? *tears*

Interaksi dengan Al-Qur’an, pada akhirnya adalah ikhtiar sepanjang hayat agar terus menerus Allah berikan hidayah, berikan kekuatan untuk memegang erat hidayah tersebut, agar Dia beri kita kekuatan untuk bisa menebarkan hidayah tersebut..

yaa haamilal qur’aan… 

why do bad things happen?

why do bad things happen?

Di pengajian dwi pekanan east bay beberapa hari yang lalu, ada salah seorang Ibu muda yang bercerita bahwa terdapat sekitar 40 % masyarakat Amerika yang menenggak pil penenang sebagai obat anti depresi. Selain itu, dua profesi yang marak dan menempati profesi papan atas di sini (US) adalah psikiater dan divorce lawyer. 

Saya tercenung mendapati fenomena tersebut. Di sebuah negara yang diagung-agungkan sebagai negara pelindung kebebasan dan hak asasi manusia, nyatanya jiwa masyarakatnya kering. Di sebuah negara yang mewajibkan car seat untuk anak-anak demi keselamatan, sayangnya tidak ada “pengaman jiwa” anak-anak berupa kasih sayang yang meneduhkan dari kedua orang tuanya.

Teringat di benak saya penjelasan salah satu muslim scholar, Ustadz Nouman Ali Khan, tentang hakikat musibah dan bagaimana seharusnya orang beriman menyikapinya. Beliau mencoba mentadabburi salah satu ayat al-Qur’an yang membahas soal musibah, yakni surat Al-Baqarah ayat 155-156.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mushibah, atau jika ditarik ke akar katanya, “ashaba”, bermakna “headed target”. yang berarti setiap peristiwa buruk yang menimpa setiap manusia, sifatnya khusus, spesifik, dan tidak persis sama dengan manusia lainnya. Maka tidak tepat apabila kita dengan mudahnya men-judge sebuah peristiwa buruk yang terjadi di masa sekarang (kecuali di zaman dahulu yang secara jelas sudah Allah terangkan alasan dan hikmahnya dalam al-Qur’an) dan menimpa orang lain, dengan standar penilaian kita. Misalnya, “tuh kan kehilangan mobil, Allah pasti murka sama kamu karena kamu blabla..”

why

Rasa sedih dan takut yang lahir dari lintasan kejadian-kejadian buruk yang menimpa kita, adalah wajar adanya. Tapi jika kita menilik kembali ayat-ayat Allah di atas, kita akan lebih mudah dan lapang hati menerima kenyataan buruk tersebut. Dalam konteks ayat tersebut, Allah menyampaikan “wa basysyirish-shaabiriin”, “dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, atau dengan kata lain, “congratulate the people who have shabr”.

Kapan kita mengucapkan kata, “selamat ya!”? Tentu ketika ada kabar gembira bukan? Misalnya ketika kita berhasil diterima di perguruan tinggi favorit yang kita inginkan, ketika bayi yang kita nanti selama berbulan-bulan akhirnya lahir dengan selamat, atau ketika berhasil mencapai sebuah prestasi tertentu. Lantas mengapa ketika ada musibah, kemudian Allah memerintahkan untuk mengucapkan selamat?

Sebab ternyata ujung dari segala kejadian buruk atau musibah yang menimpa kita, tidak lain bertujuan untuk menjadikan kita orang yang sabar. Ketika kita berhasil menjadi orang yang sabar, maka kita pantas untuk mendapatkan ucapan “selamat”. Dari siapakah? Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan kata “wa basysyir” yang berarti kata perintah untuk satu orang. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa yang diperintahkan untuk mengucapkan selamat pada orang-orang sabar dalam ayat tersebut adalah Rasulullah SAW. :”)

Pernah kita merasa bangga ketika dipanggil oleh atasan di kantor, atau kepala sekolah, dekan atau rektor atas prestasi yang berhasil diraih. Terbayangkah ketika di akhirat kelak, Rasulullah sendiri yang menyampaikan pada kita, “selamat ya, telah menjadi orang yang sabar.” 🙂 MasyaAllah… Hal ini mengingatkan saya pada keindahan janji Allah dalam surat ar-Ra’d ayat 22-24,

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

size-500x500

Lantas, siapakah orang yang sabar itu? Ialah orang ketika ditimpa musibah, secara refleks mengatakan, “innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” Aksi reaksi yang muncul secara spontan, tidak butuh waktu untuk meratapi keadaan terlebih dahulu, tapi secara refleks langsung menyadari bahwa, we have nothing. We own nothing. We are from Allah. All things that we have are from Allah, gift from Him. So why do we complain? 

It’s not easy anyway. But it’s worth it.

Ketika kita sadar bahwa pada hakikatnya kita tidak punya apa-apa, rasa lapang akan lebih mudah menjalari hati kita dan mengimbangi rasa sedih yang wajar muncul akibat rasa kehilangan. Tapi insyaAllah, karena kita tersadar kembali big picture yang Allah SWT ingatkan dalam buku petunjuk-Nya: kita cuma transit, kebahagiaan sejati ada di akhirat nanti, daya lenting kita untuk move on akan muncul lebih cepat, dan lebih kuat.

Angka-angka tentang banyaknya orang yang depresi dan menenggak pil penenang niscaya tidak akan meningkat. Kekurangan, kesalahan dan perbedaan pendapat dengan pasangan akan lebih lapang kita sikapi, dan tidak berujung pada keretakan rumah tangga yang berdampak pada retaknya jiwa sang anak.

Tentu di samping adanya kesadaran penuh bahwa musibah adalah ujian untuk melatih kita menjadi orang yang sabar, kita juga harus mengimbanginya dengna sisi lain bahwa ujian juga adalah untuk membuat kita belajar, bahwa bisa jadi ada kesalahan yang memang kita lakukan, atau ketidaktaatan kita pada aturan main-Nya. Pada akhirnya, Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. He loves people who listen to Him. He loves people who trust in Him. He cares for them. 

Wallahu a’lam. 

*Referensi: Khuthbah Nouman Ali Khan, Why Do Bad Things Happen. 

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

Akhir pekan kemarin (20 – 21 Februari 2016) menjadi salah satu momen berharga bagi saya, sebab Allah beri kesempatan untuk saya dapat belajar lebih luas dan dalam tentang Islam. It’s a blessing, sebab berbeda dengan  di Indonesia (Jakarta dan Depok tepatnya) di mana saya sangat mudah menjumpai kajian keislaman dengan berbagai topik yang diisi dengan ustadz yang berkapasitas di bidangnya (serta gratis), mengisi kembali gelas ilmu yang kosong atau menguap di pikiran saya merupakan hal yang harus diperjuangkan di sini.

Pertimbangan jarak, dana, dan Azima menjadi hal yang membuat saya maju mundur ingin ikut berpartisipasi atau tidak, ketika melihat brosur acara seminar yang diisi oleh Syeikh Yasir Qadhi, bertajuk “No Doubt: God, Religion, & Politics in The Modern World”. Kak Jay yang pada saat yang sama juga ada acara mabit bersama teman-temannya pun menyerahkan pada saya untuk ikut atau tidak. InsyaAllah beliau tidak berkeberatan soal dana yang akan beliau kucurkan untuk kebutuhan ilmu istrinya, asal dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan lebih efisien dalam penggunan dana di hari-hari selanjutnya.

brosur seminar "No Doubt" yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda
brosur seminar “No Doubt” yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda

Syukurnya lokasi mabit Kak Jay tidak terlalu jauh dari lokasi acara, sehingga pertimbangan jarak bisa dicoeret. Setidaknya menempuh perjalanan selama dua jam dengan BART dan bus tidak akan saya lalui seorang diri.  Adalah Anin dan Mbak Arin, dua orang kawan saya yang berhasil meyakinkan saya untuk ikut acara tersebut. Anin, high quality single muslimah yang sedang S2 di UK ini sering jadi tempat saya konsultasi soal hidup di luar negeri, khususnya negara Barat. Sedangkan Mbak Arin, lulusan S1 Teknik Sipil ITB yang kini sudah menjadi ibu muda dengan 3 orang anak, serta sudah menyelesaikan jenjang S2nya di Univeristy of California Davis sudah lebih dulu registrasi ke seminar tersebut dan meniatkan membawa tiga putra-putrinya ke lokasi acara. (Yeah, they’re very inspiring, indeed!) 

Mereka berdua menyarankan saya untuk ikut karena merupakan kesempatan yang langka dapat menimba ilmu dari syaikh sekelas Syaikh Yasir Qadhi, sosok keturunan Pakistan yang lahir dan besar di Amerika, serta memiliki kemampuan untuk memberikan wawasan keislaman yang terkombinasi secara unik: antara Universitas Madinah dan Yale University. Menurut cerita Mbak Arin, ada salah seorang temannya yang jauh-jauh terbang dari Seattle ke San Jose untuk mengikuti seminar tersebut. Saya jadi semakin terpicu untuk mensyukuri keberadaan saya yang tidak terlalu jauh dari San Jose, untuk hadir di seminar tersebut.

Kekhawatiran lain berupa tanggung jawab meng-handle Azima alhamdulillah bisa dihapus dengan ketersediaan childcare di lokasi acara. Meskipun harus menambah biaya lagi, saya bersyukur Azima dan saya bisa sama-sama fokus: sang bunda fokus menyimak seminar, sang anak fokus bermain dengan teman-temannya 😀

From “the Quest for ‘real Islam'” to ”Divine Law and Modern Governance”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam dari tempat saya tinggal, tibalah kami di lokasi acara, MCA (Muslim Community Building), San Jose, California. Auditorium yang lumayan besar tersebut (lebih kurang seukuran AJS FISIP UI ) terisi penuh sampai belakang, dengan audience dari ragam suku bangsa dan terikat agama yang sama.

Materi selama dua hari dengan durasi perharinya sekitar 8 jam tersebut diisi seorang instruktur, tidak lain adalah Sh Yasir Qadhi sendiri, dan dibagi menjadi 5 modul utama.

*disclaimer: ulasan materi di bawah ini dipahami dari seorang perempuan yang bahasa Inggrisnya masih tergolong standar (belum advanced gitu :D), bisa memahami inti konteks dari sebuah speech, tapi agak kesulitan mengurai detilnya dalam bahasa Indonesia. Actually, the genuine speech is much better than this review*

Pembahasan dimulai dari hal yang paling mendasar seputar aqidah Islam, The Quest for Real Islam, yang membahas beragam theologies yang ada di dalam Islam itu sendiri, yakni Khawarij, Mu’tazila, Zaidiyah, Syiah Itsna Asy’ari dan Sunni.

Kemudian berlanjut ke modul kedua, Faith and Reason, yang tak lain merupakan komparasi antara Islam dan beragam kepercayaan yang lahir sebelum dan sesudah (atheism, new atheism dan western theists). Hal yang menarik dari pembahasan beliau di antarnya ketika beliau berusaha mengkomparasi argumentasi dari paham atheist: kalau memang Tuhan itu ada, mengapa terjadi bencana besar, seperti tsunami yang meluluhlantakkan sebuah bangsa dan menelan korban jiwa? mengapa ada anak-anak yang menderita kelaparan di berbagai belahan dunia?

Menjawab pertanyaan tersebut, beliau menuturkan bahwa di antara hikmah  ada musibah atau bencana besar yang melanda manusia, adalah untuk melahirkan sisi kemanusiaan itu sendiri: dari mana akan lahir sifat dermawan, saling berbagi, kalau tidak ada lagi yang kelaparan? Selain itu, peristiwa buruk yang menimpa kita sejatinya adalah untuk menaikkan derajat kita di surga, dan menghapus segala dosa-dosa kita. Ujian juga sesungguhnya merupakan sarana untuk mengkoneksikan kembali jiwa kita pada Allah. Mengutip kekata Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “The divine decree related to the believer is always a bounty, even if it is in the form of withholding (something that is desired), and it is a blessing, even if it appears to be a trial, and an affliction that has befallen him is in reality a cure, even though it appears to be a disease!”

Seringkali pula Tuhan dan agama menjadi ‘kambing hitam’ atas segala pertikaan dan peperangan di dunia ini. Dengan tegas Sh Yasir Qadhi membantah, “human history told us, that the greatest war, greatest harm in the world has nothing to do with religion.” Beliau mengambil contoh peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, adalah buah dari ketamakan manusia-manusia yang well educated, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada masa tersebut).

http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html
http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html

Pola penjajahan atau peperangan besar di dunia memiliki karakteristik dua pihak yang konstan: between (west) civilization and uncivilization. Saya berfikir dan coba mengingat ragam perisitiwa besar yang terjadi dan secara siginifikan mengubah tata dunia, dan ya, akarnya seringkali adalah ego manusia, wajah lain dari megalomaniak yang me-negara.

Di lain pihak,  ada ragam argumentasi lain yang berasal dari ilmuwan Barat, seperti argumentasi soal moralitas, argumentasi soal Consciuousness, Higher Purpose (Transcendence), dan Beauty, yang keseluruhannya mewakili argumentasi bahwa Tuhan itu ada. Seperti argumentasi dari Augustine of Hippo, salah seorang teolog Barat, yang berkata, “Who made these beautiful changeable things, if not one who is beautiful and unchangeable?” 

Argumentasi-argumentasi tersebut secara komprehensif terrangkum dalam ajaran Islam. Secara retoris Allah SWT bertanya dalam QS. Ath-Thur ayat 35, “Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”, dan yang barangkali seringkali kita dengar, “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk: 3-4) 

Keberadaan Nabi dan Rasul yang Allah SWT utus dengan beragam mu’jizat juga menjadi bagian dari argumentasi yang menggenapkan segala kejanggalan yang tidak bisa dijawab oleh argumentasi-argumentasi Barat.

Jauh di atas itu semua, ada senjata rahasia yang menjadi pamungkas dari berbagai argumentasi tersebut, hal paling mendasar yang inheren dalam jiwa kita: setitik fithrah yang sudah Ia titipkan ke setiap manusia. Fithrah yang menuntun setiap manusia menemukan Tuhannya dan mengajarkan bahwa pada dasarnya jauh di dasar lubuk manusia, ia butuh hal mendasar bernama moralitas (bahwa membunuh dan mencuri adalah hal yang dilarang dan disepakati seluruh manusia), ia sadar bahwa ada Dzat yang Maha Esa yang mengatur segalanya.

“Fithrathallahillatii fatharannasa ‘alaiha — This is the fithra that Allah created mankind upon” (QS. Ar-Rum: 30-30)

Sayangnya, fithrah bukanlah sesuatu yang terus menerus konstan seperti OS dalam sebuah gagdet. Ia bisa terus menerus terjaga selama manusia berikhtiar untuk menjaga diri dengan aturan main-Nya, dan bisa juga corrupted jika manusia semena-mena membebaskan nafsu syahwatnya.

“And verily for everything that a slave loses there is a substitute, but the one who loses Allah will never find anything to replace Him.” Ibn al-Qayyim

–bersambung–

A-ba-ta-tsa in Alameda

A-ba-ta-tsa in Alameda

Hari ini genap sebulan saya dan keluarga kecil saya tinggal di US. Refleksi yang cukup lengkap tentang bagaimana kami tinggal di sini alhamdulillah sudah dituliskan oleh bapak komandan, di sini. Tulisan ini sekedar melengkapi satu dari sekian pembelajaran yang saya dapati, dan mudah-mudahan menjadi bekal untuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Salah satu pembelajaran tersebut adalah mendapat challenge berupa mengajar mengaji seorang anak perempuan berusia 5 tahun dengan bahasa Inggris.

Setiap kali ditanya oleh orang, “Jadi Ifah di sana ngapain aja?”, saya tersenyum-senyum sambil berfikir. Iya, apa hal bermanfaat yang bisa saya berikan pada orang lain, di samping memastikan keluarga kecil saya terjaga kesehatannya lahir dan batin, mengurus hal-hal domestik teknis kerumahtanggaan dan mendampingi masa-masa emas si kecil Azima?

Kalau di Indonesia ada banyak pilihan pekerjaan yang bisa saya lakukan di samping sebagai full time mother (membantu mengurus pembinaan di kampus, menjadi pengajar al-Qur’an dan pengurus LTQ yang Ibu saya bangun, ikut les, seminar ini dan itu sembari mempersiapkan S2), kondisi merantau dengan ketiadaan keluarga dan mahalnya daycare membuat pilihan pekerjaan yang sifatnya kontributif jadi tidak terlalu banyak. Sebab ke manapun saya pergi ada tangan kecil yang akan selalu mengikuti, Azima. Di tambah dengan jarak dari satu tempat ke tempat lainnya yang tergolong jauh, mobilitas saya jadi agak terhambat karena ketiadaan transportasi pribadi (dan kemampuan mengendarainya :D).

“..keberadaan kita di suatu tempat adalah pilihan Allah. Oleh karena itu saya begitu yakin, di manapun Allah menempatkan kita, di situlah Allah menginginkan kebaikan bagi kita.” – Mbak Kiki Barkiah

Refleksi Mbak Kiki di atas, seorang ibu beranak lima yang pernah mengalami masa perantauan di California selama beberapa tahun tersebut agaknya memang benar.

Tentunya bukan tanpa maksud Allah mempertemukan saya dengan Ibu kontrakan (pemilik paviliun yang saya tempati sekarang), yaitu seorang Ibu keturunan Padang yang sebaya dengan Bu Lik atau tante saya, bersuamikan orang Mesir yang sudah menjadi WN Amerika serta memiliki dua anak perempuan lucu-lucu dan pintar. Putri pertamanya bernama Noureen (yang berarti Nuur ‘Aini = cahaya mata), berusia lima tahun, dan Janna Rose (Mawar Surga, sang ibu menuturkan bahwa spelling-nya juga bisa menjadi generous = baik hati, dermawan) berusia 3 tahun. Keduanya lahir dan besar di sini, sehingga first language mereka adalah English.

Kesibukan sang ayah bekerja dan sang ibu mengurus setumpuk pekerjaan rumah tangga membuat kedua putri cilik tersebut belum diajari membaca Al-Qur’an. Terpikirlah di benak saya, barangkali inilah ladang pembelajaran dan mudah-mudahan bisa menjadi ladang amal pula semasa saya tinggal di negeri yang tidak meletakkan pengajaran agama dalam kurikulum sekolah negerinya.

Alhamdulillah gayung bersambut setelah saya coba tawarkan kepada sang Ibu, apakah berkenan sekiranya saya bantu mengajar ngaji anak pertamanya.

Mengajar anak-anak tentulah berbeda dengan mengajar orang dewasa. Sepengalaman saya yang masih sedikit dalam mengajar al-Qur’an, saya belum pernah mengajar anak-anak dari nol, kecuali Azima yang saya sudah perkenalkan dengan flashcard hijaiyah dan diakrabkan langsung dengan talaqqi langsung dari saya, bacaan dan lantunan al-Qur’an.

Sesulit apapun mengajar orang dewasa yang baru mengeja huruf hijaiyah, saya masih bisa dengan perlahan menjelaskannya dalam bahasa Indonesia, contohnya untuk huruf ‘dal’, “iya Bu, lidahnya diangkat dan dipertemukan dengan gusi dekat gigi atas bagian dalam ya.” Nah, kira-kira bagaimana menjelaskannya dalam bahasa Inggris? 😀

Tentu harus lebih disederhanakan ya. Setelah bertanya-tanya pada orang-orang yang lebih pengalaman, berdiskusi dengan kak Jay dan mengingat bagaimana Ibu mengajari saya dan saudara-saudari di masa kecil, akhirnya bi idznillah saya memutuskan untuk bereksperimen sendiri berbekal ilmu yang saya tahu.

Dengan waktu yang terbatas (kurang dari empat bulan lagi kami akan berada di sini), frekuensi belajar yang saat ini baru sepekan sekali (selama kurang lebih 45 menit setiap pertemuan), serta sulitnya mencari source modul pembelajaran untuk anak-anak pemula (iqro’, qiroati, metode ummi, dll), saya memilih membeli modul Qur’an Made Easy melalui Amazon.

Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat
Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat

Awalnya agak canggung mengajar dengan bahasa Inggris, tapi seiring waktu berjalan, ide-ide improvisasi itu bermunculan saja ketika momen mengajar berlangsung.

Saya mencari akal bagaimana mencari asosiasi yang mudah dengan huruf-huruf ‘asing’ tersebut, “This is like you call your daddy!”

“Dal!”

“and your mommy?”

“Mim!”

“Like you exhausted after loonngg running,” (saya menirukan nafas terengah-engah dengan makharijul huruf ‘ha’ tipis)

“Ha!

“and this one?” (saya memasang wajah terkejut)

“Waww””

and so on, so on.

Keberadaan papan tulis hitam dan kapur warna-warni juga saya optimalkan sebisa mungkin dengan menulis huruf-huruf hijaiyah dan membuat tebak-tebakan untuk Noureen, serta memintanya untuk menuliskan huruf yang saya sebutkan. Saya juga memanfaatkan lagu-lagu (nasyid) anak-anak yang bertebaran di youtube, yang konten lagunya adalah huruf-huruf  hijaiyah.

Alhamdulillah Allah karuniakan kecerdasan intelektual yang lebih di atas rata-rata bagi Noureen, sehingga di usia 2 tahun sudah pandai membaca dan berbicara dengan artikulasi yang jelas. Begitu pula ketika saya ajarkan huruf-huruf hijaiyah, daya serapnya sangat cepat dan ia dapat mengingat serentetan huruf bisa jadi untuk Noureen tampak sangat asing.

Meskipun pada beberapa huruf yang spelling-nya memang tidak lazim digunakan di sini, seperti ‘kha’, ‘dha’, butuh waktu lebih lama daripada huruf-huruf lainnya, Noureen tampak antusias untuk terus belajar.  Keberadaan flashcard hijaiyah yang saya bawa dari Indonesia untuk bekal belajar Azima pun syukurnya sangat bermanfaat untuk games tebak huruf, sehingga Noureen lebih enjoy menikmati pembelajaran (thanks to Eza yang sudah menawarkannya ke saya :)) . Ketika mengalami kesulitan dan Noureen tampak overwhelmed, saya putar kembali nasyid hijaiyah dan bernyanyi bersama. Begitu seterusnya sehingga tidak terasa waktu belajar sudah habis.

Saat ini saya dan Kak Jay sedang berusaha mengatur waktu agar intensitas pertemuan bisa lebih sering, setidaknya tiga kali sepekan. Jadwal ini dipengaruhi pula oleh jadwal kepulangan Kak Jay dari kantor, sebab selama saya mengajar, Kak Jay-lah yang akan menemani Azima bermain.

Mungkin apa yang saya lakukan terlihat sederhana, dan kadangpula ketika saya tengah stuck atau kehabisan ide kreativitas bagaimana mengajar gadis cilik tersebut, saya membayangkan jika suatu saat, dengan izin Allah, Noureen kelak menjadi cahaya mata tidak hanya bagi orang tuanya, tapi juga bagi masyarakat Amerika yang rindu akan fitrah kemanusiaannya. Aamiin.

Keterarahan

Keterarahan

Sembari memandangi Azima yang tidur di pangkuan (mari biarkan ia tetap di posisi tersebut supaya ibunya bisa lanjut menulis :D), saya mencoba menyelesaikan satu postingan ini. Fyi, meskipun ini hanya salinan tulisan dari salah seorang penulis yang saya kagumi profesi kepenulisannya, ini akan menjadi draft ke-tiga yang tersimpan di dalam wordpress saya kalau gagal terkirim xD. *oke, ini kurang penting dibahas*

Tulisan beliau menjadi menarik untuk saya resapi pesannya karena berkaitan dengan apa orang yang sebut dengan “quarter-life crisis”. Saya terpengarah ketika salah seorang senior diselamati atas ulang tahunnya yang ke-32, padahal saya kira beliau masih berada di rentang 20an. Lalu saya menampar diri sendiri: kamu sendiri sudah 25 tahun. Sudah mendampingi seorang laki-laki yang padanya ketaatanmu dibaktikan, pada ridhonya hidupmu akan terberkahkan. Sudah membangun seorang anak manusia berusia 8,5 bulan yang sejak kehadirannya kau harus semakin bijak memilih pilihan-pilihan hidup. Mendidik seorang anak yang kelak menjadi ibu dari sekian generasi, rahim dari sebuah peradaban.

Deretan tanggung jawab baru tersebut tak ayal membuat saya merasa belakangan agak gamang dalam menentukan cita-cita. Merasa cukup dan terus merasa muda karena banyak berkutat dengan urusan domestik. Namun ketika di suatu waktu saya ke kampus, berjumpa dengan adik-adik kelas, bertukar kabar dengan kawan-kawan seangkatan, kesadaran belum berbuat banyak untuk orang lain itu terus membuntuti. Mengikuti saya ke manapun saya pergi, tapi saya belum mampu menjawabnya dengan tegas bahwa apa yang saya lakukan sekarang pun juga termasuk ke dalam bagian dari cita-cita besar yang kalau saya melakukkannya dengan ikhlas, ihsan dan itqon, akan menimbulkan multiplier effect bagi orang banyak.

Lantas kemudian saya menemukan buku lama dan tipis ini di deretan buku-buku Bapak saya. Buku yang dibeli kakak saya 12 tahun lalu dan sekarang sudah tidak terbit lagi tersebut seingat saya sudah saya baca berulang kali, tapi saat sekarang saya membacanya, pemaknaannya menjadi berbeda karena berbagai lintasan peristiwa yang saya alami.

Penulis yang mengangkat tema soal pernikahan itu menjabarkan di dalam satu bagian bukunya, bahwa empat unsur yang menjadi penyebab kebahagiaan bagi sekelompok manusia, yakni keterarahan, keharmonisan, konsistensi, dan materi. Yang ingin saya angkat di sini adalah adanya perasaan terarah (keterarahan). Setelah membacanya membuat saya merenung dalam-dalam, jangan-jangan memang tanpa sadar saya semakin jauh dari menuju-Nya. 😦 .

Agar kawan-kawan pembaca bisa lebih menangkap maknanya, saya salinkan tulisan beliau berikut ini,

“Pertanyaan tentang arah kehidupan itu merupakan pertanyaan fithri yang melekat di setiap lubuk hati manusia. Selama pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, selama itu pula manusia akan merasakan disorientasi dalam hidupnya. Kehidupan akan berubah menjadi hutan belantara dan dia menjadi orang yang tersesat di dalam hutan itu. 

Perasaan terarah menciptakan keutuhan kepribadian bagi seseorang. Masalahnya, dari manakah perasaan terarah itu terbentuk? Siapa saja yang membuat kita terarah?

Keterarahan dalam hidup hanya mungkin kita rasakan apabila kita secara yakin mampu merumuskan tentang visi kehidupan. Setiap orang harus memiliki statement misi dalam hidupnya. 

Untuk itulah kita bisa memahami mengapa Al-Qur’an yang turun 13 tahun pertama di Makkah hanya memfokuskan pembahasannya pada tiga hal, yaitu iman kepada Allah, iman kepada hari akhir serta iman kepada Rasul dan Islam. 

Iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, menciptakan unsur yang sangat kuat tentang misi kehidupan. Maka, jabaran pribadi kemudian selalu mengikuti alur bahwa untuk menyadarkan manusia tentang misi hidupnya, manusia harus dimasuki dari arah unsur-unsur kematian.

Berkali-kali Al-Qur’an berbicara tentang kematian, supaya orang menemukan suasana bahwa mereka sedang menuju ke sana. Kehidupan hakiki adalah kehidupan yang ada di akhirat. Akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya. 

Jika  kita merumuskan, maka inilah awal di mana kita akan merasa mampu mengutuhkan seluruh sektor dan bagian yang membentuk kepribadian kita, karena kita mengarah ke situ. 

Untuk bisa mengarah ke akhirat, Allah menjelaskan misi hidup kita selanjutnya, dengan mengatakan, “wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’ buduun..” (QS. Adz-Dzariyat: 61), artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Semua sikap yang bertentangan dengan hakikat kehidupan kemudian disebut sebagai penyimpangan kebenaran. Orang yang meyimpang dari kebenaran adalah orang yang mengalami disorientasi dalam hidupnya. 

Allah SWT berbicara tentang orang musyrik itu seperti orang yang kehilangan arah dalam hidup. Allah mengatakan, “Dan siapa yang mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia terlempar dari langit, lalu disambar burung, atau dia dibawa oleh angin kencang ke suatu tempat yang teramat jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Kalimat “terlempar dari langit” berarti orang itu kehilangan pegangan dan arah. Karena itu, angin dapat meniupnya dari segala arah dan membawanya menuju ke suatu tempat yang sangat jauh. 

Orang-orang yang keluar dari jalur ini adalah orang-orang yang terdisorientasi, kehilangan arah. Orang yang kehilangan arah, dengan sendirinya akan merasakan kepribadiannya menjadi terbelah. Selamanya ia akan mengalami berbagai goncangan hidup. Ia tidak akan pernah merasakan bahwa suatu saat, seluruh unsur dalam diri, emosi dan sikap-sikapnya akan menyatu dalam satu titik yang membentuk kesinambungan, membuat rasa harmonis dengan dirinya, dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan. “

(Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu, Anis Matta)

Dari tulisan beliau juga saya semakin memahami, bahwa sungguh, di setiap hela nafas kita, kita butuh bimbingan-Nya. Seperti kata salah seorang ulama, Ibnu Taimiyah, “Doa teragung, terkuat dan paling manfaat adalah doa surah Al-Fatihah. Karena Al-Fatihah itu awalnya tahmid, tengahnya tauhid (iyaka na’budu) & akhirnya doa (ihdina).”

“Karena setiap rahmat Allah di dunia ini harus ada jalannya, maka yang harus selalu kita pinta ya petunjuk jalan itu!” – Ustadz A. Mudzoffar Jufri

Bismillahirrahmanirrahiim.. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.. Arrahmaanirrahiim.. Maa liki yaumiddiin.. Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.. Ihdinash-shiraathal mustaqiim..

Always Be There..

Always Be There..

di sebuah ruang tunggu rumah sakit, setelah menjenguk seorang kakek tua yang baik hati

“Mas, tuh Mas, masa Yusuf nggak mau diminta ngisi mentoring”, laporan bernada setengah mem-bully itu keluar dari mulut saya, yang sembari menyengir lebar. Di hadapan saya berdiri dua sosok jangkung berbeda usia. Enaknya jadi anak tengah begini memang, punya kewenangan melapor pada yang tua sekaligus mem-bully yang muda, hehe..

“Eh, jangan salah Mbak, Walaupun belum mau ngisi di kampus, Yusup kemarin waktu Ramadhan ngisi  anak-anak SMP di Cilangkap lho!” mahasiswa tingkat dua itu mengelak. Raut wajah jenakanya protes.

“Oh ya? Serius?”

“Iya, materinya ma’rifatullah,” nadanya mantap,  tapi entah kenapa terdengar semakin lucu.

“Ciyeee..” saya dan sosok lelaki berkacamata di hadapan saya mulai semakin semangat menggoda adik yang satu ini.

“Iya, tapi  ngambil materinya nggak dari buku-buku modul yang biasanya, hahaha. Bahkan pas udah selesai Yusup kasih PR ke anak-anaknya, ‘coba jawab pertanyaan: di manakah Allah?'”

“Oh ya? emang jawabannya apa Sup?” tidak seperti saya yang membesarkan mata–antara salut, penasaran, dan ingin mem-bully, Mas Faris balik bertanya dengan tenang sekaligus menantang.

Fis samaa (di langit)…” yang ditanya mengarahkan tangannya ke atas seraya menjawab mantap. Wajah kalemnya justru membuat kami semakin tertawa geli.

“bagus!” Mas Faris mengacung jempol sembari balik bertanya, “Jadi kalau ada yang bilang, “Allah itu ada di mana-mana?””

“itu yang dimaksud adalah kebersamaan Allah dan sifat-Nya yang mengetahui segala sesuatu,” adik berhidung mancung itu melanjutkan jawabannya. Saya tersenyum-senyum kagum dengan didikan Ustadz Yusuf Mansur yang satu itu. Dia belajar dengan caranya yang unik.

“wa huwa ma’akum ayna maa kuntum..”

Sepersekian detik, “hoo, iya ya,”mendadak saya merasa bodoh, “terus berarti ayat yang “wa nahnu aqrabu min hablil wariid” (QS. Qaf: 16) itu gimana Mas?” paling seru itu merasa bodoh di depan orang yang benar-benar tahu ilmunya. Selama ini saya tidak terlalu mempertanyakan hal-hal yang bersinggungan dengan filsafat ketuhanan, maka berdiskusi dengan dua sosok yang pernah mengenyam pendidikan dengan latar nahdliyyin ini menjadi jalan pembuka pikiran saya dengan cara sederhana.

“iya, yang dimaksud di dalam ayat itu adalah bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.” Jawaban Mas Faris menutup diskusi singkat kami sore itu.

diskusi singkat yang kalau diingat-ingat, jadi penguat yang cukup hebat ketika kaki mulai goyah menapak.

wa huwa ma’akum ainamaa kuntum.. (QS. al-Hadid: 4)

So when the time gets hard
And there’s no way to turn
As He promised
He will always be there

To bless us with His love
And His mercy ’cause
As He promised
He will always be there
He’s always watching us, guiding us
And He knows what’s deep in our hearts

So when you lose your way
To Allah you should turn
‘Cause as He promised
He will always be there

He brings us out from the darkness into the light, Subhanallah
Capable of everything
We should never feel afraid of anything
As long as we follow His guidance all the way
Through our short time we have in this life
Soon it’ll all be over and well be
In His heaven and we’ll all be fine

[He Will Always Be Ther – Maher Zain]

yeah, soon it’ll all be over and well be, in His heaven and we’ll all be fine..

yang harus benar-benar kita usahakan adalah terus berjuang melangkahkan kaki ke syurga.