The Last Sprint..

The Last Sprint..

Kiriman dari Abu Productive. 🙂

Assalamu’alaikum, Scientia

If you’re finding it hard to keep up with the last 10 nights so far, especially with the increase of worship and trying to balance other priorities such as work/school, or preparation for Eid, here are a small set of reminders which might help motivate you:

1. It’s only a few days…soon Ramadan will be over and you’ll back to “normal” life.

2. You don’t know which of these nights might save you on the Day of Judgement..

3. You don’t know if your previous nights and days have been accepted or not.

4. You’ve so much to be thankful for, don’t all your blessings deserve a bit of extra effort?

5. Can you guarantee to live till next Ramadan?

You’ll be fine :). Remember you’re dealing with Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) Al-Shakoor (the One who Thanks), he won’t forsake your extra effort and hard work for Him if you’re sincere.

You can find more tips to keep yourself motivated here: http://www.productivemuslim.com/the-last-sprint-ways-to-keep-yourself-motivated/

Just one last stretch of efforts and may Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) accept it from you and reward you for it, ameen.

Hope this helps.

Sincerely,
Abu Productive

P.S: Don’t forget to leave me a comment here

May Allah bless you, Abu.

Advertisements
Ramadhan, Keikhlasan, dan Titik Balik Kita.

Ramadhan, Keikhlasan, dan Titik Balik Kita.

Ramadhan bagi masa kanak-kanak kita mungkin adalah banyak tanya, kenapa harus menahan lapar dan haus selama sepanjang hari. Sebulan lamanya pula. Ayah atau ibu kita pun acap menekankan, “tidak boleh marah-marah, tidak boleh meledek temannya,” bahkan sampai, “tidak boleh menangis, nanti puasanya batal.” Dan kita masa kanak-kanak bisa menjadi sosok yang penurut, rajin membuka Qur’an dan melafazkannya cepat-cepat, atau mungkin bisa juga satu waktu berjalan sembunyi-sembunyi menuju kolong meja, untuk seteguk dua teguk penghilang dahaga di siang yang terik.

Kemudian kita bertumbuh, dan perlahan kita menyadari bahwa berpuasa adalah kewajiban. Dengannya Islam kita menjadi sempurna, karena posisinya sebagai salah satu rukun dalam agama kita. Tapi usia remaja bagi sebagian kita masih juga kegalauan, bukan hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga tentang bagaimana menahan emosi, penglihatan, pendengaran, dan pembicaraan kita. Terus menerus hari-hari Ramadhan tiap tahunnya kita lewati, tetapi ia seperti tamu selintasan yang acap kita abaikan.

Padahal sejatinya, sebagaimana yang dituturkan Syaikh Umar at-Tilmisani, sebelum kita memutuskan untuk berpuasa setelah melihat bulan, pastikan terlebih dahulu kita mampu menyadari siapa pencipta dari bulan tersebut. Sungguh, berpuasa karena melihat bulan memang benar secara ibadah. Tetapi berpuasa dengan hati yang bersinar, ruh yang tenang, dan nurani yang cerlang adalah puncak kekuatan ibadah kita. Memang menyenangkan hati saat pada akhirnya kita berbuka, terobati sudah haus dan lapar, tetapi akan jauh lebih menggembirakan ketika akhirnya kita dapat bertemu dengan Allah di yaumil hisab nanti. Hingga pada akhirnya kita akan tiba pada kesadaran, kita berpuasa benar-benar semata karena Allah menghendaki kita berpuasa. Tidak ada lagi tanya kenapa begini dan begitu.

Kuatnya niat tersebutlah yang nantinya akan menjadi titik tolak perjalanan hidup kita selama ini. Ketika kesadaran akal kita tunduk pada kuasa Allah yang telah sangat digdaya menciptakan jagad semesta, maka total kita akan memurnikan keta’atan kepada-Nya, mukhlishiina lahuddiin..

Pemurnian ketaatan  tersebut tentu tidak hanya berlaku pada ibadah mahdhah, atau ritual khusus yang menjadi bentuk hablumminallah kita pada-Nya, tetapi juga tercermin pada tindak tanduk kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebab orang yang ikhlash akan terlihat kesungguhannya (mujahadah) dan kesinambungannya (istiqomah) dalam melakukan amal-amal shalih, hingga ia tidak akan mundur karena kritikan atau semakin melambung karena pujian. Baginya riuh pujian atau hujan kritikan sama saja, adalah bentuk ujian untuknya apakah ia akan tetap kokoh berdiri dengan bersandar pada Allah atau tidak..

Maka pada akhirnya, seperti yang disampaikan oleh Taufik Yusuf al-Wa’iy, seorang ulama besar dari Mesir, bahwasannya keikhlasan adalah benih dari iman. Pohonnya adalah ilmu dan buahnya adalah amal. Itulah yang disebut dengan buah keimanan yang diberkati..

Kita sudah tiba pada lap terakhir olimpiade Ramadhan, sepuluh hari istimewa di mana ampunan dan pahala dari-Nya menghujani langit kita. Namun, sudahkah kita benar-benar bersegera berlari dan terus menerus memurnikan ketaatan kita pada-Nya?

@scientiafifah, 080812.