Keterarahan

Keterarahan

Sembari memandangi Azima yang tidur di pangkuan (mari biarkan ia tetap di posisi tersebut supaya ibunya bisa lanjut menulis :D), saya mencoba menyelesaikan satu postingan ini. Fyi, meskipun ini hanya salinan tulisan dari salah seorang penulis yang saya kagumi profesi kepenulisannya, ini akan menjadi draft ke-tiga yang tersimpan di dalam wordpress saya kalau gagal terkirim xD. *oke, ini kurang penting dibahas*

Tulisan beliau menjadi menarik untuk saya resapi pesannya karena berkaitan dengan apa orang yang sebut dengan “quarter-life crisis”. Saya terpengarah ketika salah seorang senior diselamati atas ulang tahunnya yang ke-32, padahal saya kira beliau masih berada di rentang 20an. Lalu saya menampar diri sendiri: kamu sendiri sudah 25 tahun. Sudah mendampingi seorang laki-laki yang padanya ketaatanmu dibaktikan, pada ridhonya hidupmu akan terberkahkan. Sudah membangun seorang anak manusia berusia 8,5 bulan yang sejak kehadirannya kau harus semakin bijak memilih pilihan-pilihan hidup. Mendidik seorang anak yang kelak menjadi ibu dari sekian generasi, rahim dari sebuah peradaban.

Deretan tanggung jawab baru tersebut tak ayal membuat saya merasa belakangan agak gamang dalam menentukan cita-cita. Merasa cukup dan terus merasa muda karena banyak berkutat dengan urusan domestik. Namun ketika di suatu waktu saya ke kampus, berjumpa dengan adik-adik kelas, bertukar kabar dengan kawan-kawan seangkatan, kesadaran belum berbuat banyak untuk orang lain itu terus membuntuti. Mengikuti saya ke manapun saya pergi, tapi saya belum mampu menjawabnya dengan tegas bahwa apa yang saya lakukan sekarang pun juga termasuk ke dalam bagian dari cita-cita besar yang kalau saya melakukkannya dengan ikhlas, ihsan dan itqon, akan menimbulkan multiplier effect bagi orang banyak.

Lantas kemudian saya menemukan buku lama dan tipis ini di deretan buku-buku Bapak saya. Buku yang dibeli kakak saya 12 tahun lalu dan sekarang sudah tidak terbit lagi tersebut seingat saya sudah saya baca berulang kali, tapi saat sekarang saya membacanya, pemaknaannya menjadi berbeda karena berbagai lintasan peristiwa yang saya alami.

Penulis yang mengangkat tema soal pernikahan itu menjabarkan di dalam satu bagian bukunya, bahwa empat unsur yang menjadi penyebab kebahagiaan bagi sekelompok manusia, yakni keterarahan, keharmonisan, konsistensi, dan materi. Yang ingin saya angkat di sini adalah adanya perasaan terarah (keterarahan). Setelah membacanya membuat saya merenung dalam-dalam, jangan-jangan memang tanpa sadar saya semakin jauh dari menuju-Nya. 😦 .

Agar kawan-kawan pembaca bisa lebih menangkap maknanya, saya salinkan tulisan beliau berikut ini,

“Pertanyaan tentang arah kehidupan itu merupakan pertanyaan fithri yang melekat di setiap lubuk hati manusia. Selama pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, selama itu pula manusia akan merasakan disorientasi dalam hidupnya. Kehidupan akan berubah menjadi hutan belantara dan dia menjadi orang yang tersesat di dalam hutan itu. 

Perasaan terarah menciptakan keutuhan kepribadian bagi seseorang. Masalahnya, dari manakah perasaan terarah itu terbentuk? Siapa saja yang membuat kita terarah?

Keterarahan dalam hidup hanya mungkin kita rasakan apabila kita secara yakin mampu merumuskan tentang visi kehidupan. Setiap orang harus memiliki statement misi dalam hidupnya. 

Untuk itulah kita bisa memahami mengapa Al-Qur’an yang turun 13 tahun pertama di Makkah hanya memfokuskan pembahasannya pada tiga hal, yaitu iman kepada Allah, iman kepada hari akhir serta iman kepada Rasul dan Islam. 

Iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, menciptakan unsur yang sangat kuat tentang misi kehidupan. Maka, jabaran pribadi kemudian selalu mengikuti alur bahwa untuk menyadarkan manusia tentang misi hidupnya, manusia harus dimasuki dari arah unsur-unsur kematian.

Berkali-kali Al-Qur’an berbicara tentang kematian, supaya orang menemukan suasana bahwa mereka sedang menuju ke sana. Kehidupan hakiki adalah kehidupan yang ada di akhirat. Akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya. 

Jika  kita merumuskan, maka inilah awal di mana kita akan merasa mampu mengutuhkan seluruh sektor dan bagian yang membentuk kepribadian kita, karena kita mengarah ke situ. 

Untuk bisa mengarah ke akhirat, Allah menjelaskan misi hidup kita selanjutnya, dengan mengatakan, “wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’ buduun..” (QS. Adz-Dzariyat: 61), artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Semua sikap yang bertentangan dengan hakikat kehidupan kemudian disebut sebagai penyimpangan kebenaran. Orang yang meyimpang dari kebenaran adalah orang yang mengalami disorientasi dalam hidupnya. 

Allah SWT berbicara tentang orang musyrik itu seperti orang yang kehilangan arah dalam hidup. Allah mengatakan, “Dan siapa yang mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia terlempar dari langit, lalu disambar burung, atau dia dibawa oleh angin kencang ke suatu tempat yang teramat jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Kalimat “terlempar dari langit” berarti orang itu kehilangan pegangan dan arah. Karena itu, angin dapat meniupnya dari segala arah dan membawanya menuju ke suatu tempat yang sangat jauh. 

Orang-orang yang keluar dari jalur ini adalah orang-orang yang terdisorientasi, kehilangan arah. Orang yang kehilangan arah, dengan sendirinya akan merasakan kepribadiannya menjadi terbelah. Selamanya ia akan mengalami berbagai goncangan hidup. Ia tidak akan pernah merasakan bahwa suatu saat, seluruh unsur dalam diri, emosi dan sikap-sikapnya akan menyatu dalam satu titik yang membentuk kesinambungan, membuat rasa harmonis dengan dirinya, dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan. “

(Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu, Anis Matta)

Dari tulisan beliau juga saya semakin memahami, bahwa sungguh, di setiap hela nafas kita, kita butuh bimbingan-Nya. Seperti kata salah seorang ulama, Ibnu Taimiyah, “Doa teragung, terkuat dan paling manfaat adalah doa surah Al-Fatihah. Karena Al-Fatihah itu awalnya tahmid, tengahnya tauhid (iyaka na’budu) & akhirnya doa (ihdina).”

“Karena setiap rahmat Allah di dunia ini harus ada jalannya, maka yang harus selalu kita pinta ya petunjuk jalan itu!” – Ustadz A. Mudzoffar Jufri

Bismillahirrahmanirrahiim.. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.. Arrahmaanirrahiim.. Maa liki yaumiddiin.. Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.. Ihdinash-shiraathal mustaqiim..

Advertisements
yang mana?

yang mana?

di perlintasan lomba lari, beberapa pelari terjatuh. ada yang meringis kesakitan, kemudian menyerah. Ada yang meringis kesakitan, kemudian berusaha bangkit dan melanjutkan perlombaan.

di bangsal rumah sakit, beberapa ibu sedang berjuang untuk melahirkan. ada yang mengeskpresikan kesakitannya dengan berteriak-teriak, ada yang memilih untuk menarik-hela napas sambil berdoa.

di pelosok desa, dua anak lelaki belajar dengan lampu petromaks. ada yang setengah jam sudah berangkat tidur karena berfikir akan sia-sia saja semua ilmunya, ada yang berjam-jam bertahan membaca karena berfikir ilmulah yang akan membantu mengubah nasibnya.

di pengadilan, dua lelaki dipidana karena melakukan kejahatan. ada yang menerima hukuman dengan dendam, dan melanjutkan kejahatan setelah pembebasan. ada yang menerima hukuman dengan lapang dan bertekad menjadi orang baik-baik setelah pembebasan.

di sebuah kelas, dua orang siswa dicaci teman-temannya karena alasan kekurangan fisik dan harta. ada yang menyimpan dendam dan berbalik menjadi pembunuh setelah dewasa, ada yang memaafkan dan tumbuh menjadi dermawan yang berkelimpahan.

kita sering dihadapkan pada tawaran-tawaran hidup yang sebetulnya tidak berbeda antara satu dengan lainnya. tapi tindakan kita memilih tawaran yang mana itulah yang akan membedakan kita: menjadi pemenang atau pecundang.

Dari Balkon Atas

Dari Balkon Atas

Malam itu adalah kedua kalinya saya menyaksikan lobby DPR dan ruang sidang penuh, bukan oleh wakil rakyat yang lazim dan seharusnya ada di sana. Setelah riuh rendah di balkon ruang sidang paripurna ketika pengesahan UU APBN-P beberapa waktu yang lalu–yang berimplikasi terhadap kenaikan harga BBM, saya kembali menyaksikan bahwa salah satu cara termudah untuk memobilisasi massa dalam waktu yang relatif singkat, dengan emosi yang terpancing adalah dengan menyinggung hak dasar: pangan.

Ada sekitar seratus sampai dua ratus orang yang menyemut di lobby utama gedung Nusantara I, dengan mayoritas bergaya khas eksekutif dan berpakaian rapih. Cukup membuat saya dapat menyimpulkan perkara apa yang sedang saya coba pelajari malam ini. Bapak-Bapak maupun Ibu-Ibu kisaran 40-50an, lajang maupun gadis dengan kisaran usia 20-30an, sampai anak-anak yang dibawa orang tuanya. Raut muka dari wajah-wajah yang mayoritas bergaris oriental itu menyiratkan emosi yang tengah memuncak: marah bercampur kesal. Sebagian beradu argumen dengan bagian keamanan, bersikeras masuk ke ruang balkon di lantai atas yang juga sudah penuh sesak.

Saya bolak-balik menelpon salah satu rekan di kantor yang sudah stand by di balkon atas. Beberapa kali merapikan blazer, berusaha meyakinkan petugas keamanan bahwa saya punya hak untuk masuk. Begini memang serunya bekerja atas nama kantor, tanpa menggunakan banyak akses khusus (kecuali pintu masuk di lantai basemen :D), saya jadi belajar artinya berjuang meraih sesuatu. Nyaris putus asa karena pamdal tidak juga memberikan izin masuk, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung bersama kerumunan nasabah yang menyemut di depan ruang rapat Komisi XI. Di hadapan mereka ada layar besar yang menampilkan kondisi ruang rapat yang masih riuh, rapat dengar pendapat itu belum juga dimulai. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mungkin kira-kira ini seperti ini pula situasi detik-detik jelang bail out Bank Century–setidaknya seperti itu yang digambarkan oleh Bang Tere dalam novel fiksi politiknya, :D, ratusan nasabah yang datang dan menuntut harta mereka dikembalikan. Sayangnya Thomas hanya tokoh rekaan, sementara chaos sosial ekonomi serombongan orang di depan saya adalah serupa nyata, ilustrasi bahwa negeri ini benar ada di ujung tanduk.

Beberapa menit berdiri di jejeran nasabah, tiba-tiba handphone bergetar, suara rekan kantor di seberang sana mengabarkan bahwa akan ada pamdal yang akan menemani saya untuk memberi jalan masuk. Benar saja, “Mbak Afifah?” seorang pamdal menghampiri saya.

“Benar Pak,”

“Mari Mbak,”

Bergegas saya mengikuti pamdal tersebut. Dalam hitungan menit, tibalah saya di balkon yang memang sudah penuh, suasana riuh. Usai bertegur sapa dengan rekan sekantor yang sudah di sana, segera saya mencari celah untuk sekedar berdiri menyimak dan mencatat hal-hal penting. Tidak lama kemudian terdengar suara tegas sang ketua komisi, pertanda rapat sudah dibuka, dan menyebut satu persatu pihak-pihak yang hadir.

Saya mulai sibuk mencatat, cukup banyak ternyata yang hadir. Ketua Komisi yang didampingi oleh beberapa anggota Komisi XI, OJK, BKPM, Satgas Waspada Investasi, DSN MUI, Kabareskrim Polri, Deputi Gubernur BI, dan dua aktor utama malam itu: direktur dua perusahaan investasi (atau jual beli?) emas yang diduga melakukan penipuan pada nasabahnya.

Rapat dengar pendapat dimulai dengan mendengarkan penuturan direktur perusahaan pertama (sebutlah perusahaan A). Logat Melayu yang kental, penjelasan yang berusaha terang tapi tetap terdengar separuh khawatir, dan sahutan memojokkan dari orang-orang di sebelah saya membuat saya menggeleng-gelengkan kepala.

“Jadi apa yang anda maksud dengan jual beli emas fisik syariah?” seorang anggota Komisi memotong penjelasan direktur berkebangsaan Melayu itu. “Karena yang saya tahu, adalah ijab-kabul di tempat, fisik barang diserahkan, setelah itu selesai. Tidak dikenal apa itu kewajiban menyerahkan “athoya”. Bonus hanya dapat diberi ketika ada untung, tidak ketika rugi.”

“Jadi izin apa yang anda punya untuk membuka usaha di sini Pak?” pertanyaan selanjutnya dari anggota yang lain.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih dijawab dengan jawaban-jawaban yang membuat saya mengernyitkan dahi. Tidak ada izin. Mekanisme yang menyimpang dari prinsip-prinsip syariah..

Belum lagi ketika direktur perusahaan kedua (sebutlah perusahaan B), giliran menjelaskan. Penuturan seorang Bapak tua dengan suaranya yang terpatah-patah: direktur utama sebelumnya melarikan diri dengan membawa sejumlah uang nasabah, ketidaktahuannya bahwa ada transaksi non-fisik emas yang sebetulnya dilarang dalam Islam, diserahkannya jabatan direktur utama padanya oleh presiden komisaris, tanggung jawab yang harus dipikulnya untuk berusaha mengembalikan semua modal awal nasabah dan athaya (bonus) pada semua nasabah. Simpulan singkat di kepala saya saat itu: bapak tua yang awalnya perwakilan Dewan Syariah Nasional MUI untuk mengawasi perusahaan investasi yang mengatasnamakan syariah itu tidak lain adalah tumbal perusahaan.

“Alaah, bilang aja, udah dimakan uangnya sama dia!” seorang ibu muda bergaris wajah oriental yang duduk di sebelah saya menggerutu keras. Wajahnya kesal.

“Ibu nasabah dari **** juga?” saya bertanya pelan sambil mencoba tersenyum maklum. Beberapa menit rapat berlangsung, perlahan saya dapat terus maju ke bagian depan balkon, mendapat posisi yang tepat untuk menggali banyak informasi dari nasabah. Mencoba melihat duduk perkara dari ragam sudut.

“Iya Mbak, saya nasabah **** dan ****.”

“Inves banyak juga ya Bu, di sana? Udah ada bonus yang dibayarkan ke Ibu belum sepanjang masa kontrak?”

“Iya Mbak, udah sebagiannya, tapi sejak bulan Maret sampai sekarang belum dibayar. Janji-janji aja itu direkturnya mau dibayar, bohong tapi! Udah, saya mah nggak ngarepin bonusnya, asal modal awal saya udah balik aja, udah gapapa.” Beruntut ibu itu bercerita. Saya melihat ke ibu muda di sebelahnya, wajah khas Jawa. Belakangan saya tahu, ratusan nasabah yang hadir sekarang bukan hanya dari Jabodetabek, tapi ada yang dari daerah yang jauh di seluruh Indonesia. Mereka yang mengorbankan jarak yang jauh dan waktunya sampai selarut itu untuk menuntut kejelasan harta mereka.

Sementara di bawah, kesempatan memberi penjelasan di antara perwakilan lembaga terkait sudah dipergilirkan. BKPM yang mengaku hanya memberi izin sebatas izin prinsip, bukan izin usaha, dan lantas segera memberi peringatan kepada perusahaan A yang telah melanggar izin yang berlaku, OJK yang lepas tangan karena mengaku bukan merupakan ranah dan kewenangannya, Kabareskrim yang sebatas bertanggung jawab terhadap ranah yang sudah jelas pidana, serta ketidakjelasan sebetulnya perkara ini ada di ranah siapa, menambah kekecewaan para nasabah.

“Kasus ini sebetulnya simpel aja kan, perdagangan komoditi, ada penjual tidak transparan (bahkan ilegal-pen), dibungkus oleh nama syariah, pembeli yang mudah percaya. Sudah, ini penipuan.” seorang anggota dewan menyimpulkan.

“Udah, ditangkap aja Pak!” lelaki berpakaian eksekutif di belakang saya berteriak . Gerutuan dan sahutan bernada keras lainnya bersahutan. Telinga saya panas.

Mendadak, terdengar suara keras dari deretan anggota. “Saya peringatkan ya! Ini lembaga terhormat! Kalau sekali lagi ada yang menjelekkan atau ribut, kita tutup saja rapat dengar pendapat ini! Petugas keamanan, mohon ditertibkan yang ribut-ribut itu!”

Sontak balkon hening. Bisik-bisik terdengar, “sudah, biarkan aja bapak itu. kita jadi tahu kan mana yang bela rakyat mana yang nggak.”

“Fungsi anda sebagai pengawas mana selama bertahun-tahun perusahaan itu menjalankan usahanya?” masih pertanyaan yang memojokkan entitas ulama di Indonesia itu.

“Habis gimana ya Mbak,” Ibu-ibu di sebelah saya kembali bercerita, “kita mah percaya aja kalau sudah pakai asas syariah, ada izin dari MUInya juga. Okelah kita ini bodoh. Tapi kalau bisa ada yang dilakukan pemerintah supaya ke depannya nggak ada lagi yang kayak gini ini. Saya juga pesimis sebenernya uang saya bisa balik, tapi kalau misalnya dipenjara, setidaknya bisa ngasih efek jera buat yang lainnya.”

Saya mengangguk-angguk (lagi-lagi) mencoba tersenyum maklum, plus miris. Penjara?

Miris melihat kata ‘syariah’ dan ‘Islam’ menjadi jatuh martabatnya karena tindakan oknum, mungkin juga didukung ketidaktahuan, mismanejemen.. dan kecenderungan umum masyarakat untuk mendapatkan uang dalam waktu yang relatif cepat tanpa banyak berpeluh. Asumsi awal saya sedikit satire, karena mengetahui bahwa untuk membeli sebatang emas bukanlah dengan jumlah uang yang sedikit, dan orang-orang banyak ini rela ‘mempertaruhkan’ puluhan hingga ratusan juta untuk kembali mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu yang relatif singkat. Tapi ketika melihat wajah-wajah lain dari daerah jauh yang juga harap cemas, saya melebarkan rentang asumsi: mungkin ini bukan sekedar pemenuhan kebutuhan tersier, tapi juga bisa jadi hidup mati mereka, uang yang dikumpulkan sekian lama dan untuk kebutuhan primer/sekunder mereka. Untuk makan, sekolah anak-anak mereka, mungkin, atau untuk membangun rumah yang lebih baik untuk keluarga mereka.

Malam sudah semakin larut, sebagian nasabah sudah ada yang menyerah dan lelah dengan semua perdebatan berputar-putar, tanpa ada kejelasan bagaimana ujung nasib dari uang mereka. Saya melirik jam, sudah saatnya segera pulang. Setelah mengirim pesan kepada rekan sekantor yang masih memungkinkan untuk tinggal lebih lama, saya bergegas pamit pada ibu-ibu di sebelah, dan membalikkan langkah, menuruni tangga keluar.

Terngiang komentar singkat seorang kawan ketika rusuh BBM beberapa bulan lalu menimbulkan pro-kontra  di banyak kalangan. Pencabutan subsidi yang berefek pada melambungnya harga-harga. Saya sedikit kesal atas komentarnya yang cenderung pro terhadap pencabutan subsidi dan lebih memprioritaskan alokasi dana untuk sektor lain.

Kira-kira begini komentarnya, “Yang penting harus ada itu karakter untuk terus berjuang di tengah kesulitan, bukan hanya terus diberi kemudahan dan akhirnya justru melenakan”

Beberapa bulan kemudian saya baru faham, ketika meletakkan komentarnya dalam perspektif kasus investasi emas ini, saya mengakui bahwa ada kalanya kecenderungan untuk mendapat banyak keuntungan/kesenangan dengan sedikit peluh usaha dan dalam waktu yang relatif singkat, akan pelan-pelan berubah jadi bumerang yang memukul kita sendiri.

Kunci kebahagiaan ada pada kesyukuran, kunci kesyukuran ada pada ketundukan pada Maha Pemberi Rezeki, kelapangan yang muncul setelah bekerja keras mengikhtiarkan kebaikan-kebaikan.

Mengingat kejadian malam itu, telinga saya yang panas ketika melihat Islam dan para elit lembaga diolok menjadi teguran dan pembelajaran tersendiri bagi saya, kalau belum bisa banyak memberi kontribusi positif untuk bangsa, mudah-mudahan saya tidak turut serta dalam penghancuran apa-apa yang telah dibangun oleh para penyeru kebaikan, oleh para pejuang kemerdekaan.

pada mulanya

pada mulanya

“Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bukanpun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ilmu mengambil peran pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur.

“..amal tanpa niat jadinya anaa (kelelahan), niat tanpa ikhlas jadinya habaa (debu, kesia-siaan) dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) jadinya ghutsaa (buih)”

– Ustadz Rahmat Abdullah

pada mulanya adalah kata, selanjutnya adalah makna. 

– aku, yang tengah memperbaiki komitmenku.

pekerjaan orang kuat

pekerjaan orang kuat

16 Mei ’13

Waktu saya kecil dan ikut menemani Ibu keliling kota Jakarta mengisi pengajian di kantor-kantor, saya acap bertanya-tanya setiap kali melihat gedung-gedung bertingkat tinggi: apa isi dari gedung-gedung itu? Ada banyak orang di gedung itu kan? Apa saja yang mereka lakukan? Apa bedanya perusahaan ini dan itu? Karena kosakata pekerjaan di kepala saya saat itu sebatas dokter, guru, pilot, maka saya keheranan ada berbondong-bondong orang yang setiap harinya rela berangkat pagi, terjebak kemacetan, kemudian pulang sorenya, terjebak kemacetan pula. Tapi mereka terus saja begitu, sampai bertahun-tahun, sampai mencapai titik yang mereka anggap sebagai puncak karier mereka.

Ah, karier? Kata apa pula itu? Saya tidak menemukan kata ‘karier’ dalam status pekerjaan bapak maupun ibu saya. Okelah, Ibu adalah orang yang sibuk dengan jam terbang yang tinggi, tapi sampai saat ini, status pekerjaan di KTP Ibu saya tetap sama: Ibu Rumah Tangga. Wanita yang sampai saat ini masih sempatnya menyiapkan bekal makan siang saya ke kantor itu sejak dulu selalu jadi sosok yang paling gesit menyiapkan sarapan pagi, memastikan semua anaknya shalat Shubuh dan mengaji, memastikan TV sudah mati ketika Maghrib, dan menemani anak-anaknya mengaji (lagi) selepas Maghrib, menjadi orang yang selalu hadir untuk menyelesaikan permasalahan anak-anaknya di sekolah. Bapak? Sampai duduk di bangku tingkat pertama kuliah, sejujurnya saya kebingungan kenapa tugas Bapak sebagai anggota dewan begitu berat. Ritme pekerjaannya tidak berbeda jauh dengan pekerjaan sebelumnya sebagai dosen dan aktivis, sama-sama sibuk, sama-sama sering pulang dengan wajah letih, sama-sama sering pergi ke luar kota maupun negeri dalam jangka waktu yang tidak sebentar, dan sama-sama tidak lupa menelpon tiap sore atau malam untuk bertanya: udah shalat? Jangan lupa ngaji, matikan Tvnya. Bedanya yang cukup terasa adalah pandangan teman-teman setiap kali saya menjawab pertanyaan: bapaknya kerja apa? Baru lima tahun belakangan saya makin faham bahwa status beliau sebagai wakil rakyat ketika itu benar-benar bukan perkara sepele. Selebihnya tetap sama, dan kesibukan mereka pada akhirnya mengajari saya bahwa mereka bukan sebatas ‘milik’ kami–anak-anaknya, tapi milik ummat.

Pun ketika duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswi hukum saya lebih banyak mengernyitnya ketika membaca KUHPer, KUHP, KUHAP, apa maksud dari UU ini dan itu, tidak merasakan feel apa pentingnya mempelajari semua pasal-pasal itu, dan mengapa sampai ada orang yang berdebat berjam-jam demi membahas satu pasal saja. menghafal nyaris sebagian pelajarannya sebatas hafalan an sich. 
Beberapa bulan belakangan—sebagai seorang fresh graduate, saya jadi makin faham apa isi dari gedung-gedung tinggi yang letaknya makin berhimpitan belakangan ini, yang ada di kepala banyak orang tiap kali berjalan cepat tiap pagi dan sore, terburu-buru dan rela berdesak-desakan di kereta, kemudian menjalani semua rutinitas itu bertahun-tahun, sekian lama.. apa pentingnya semua undang-undang itu dibuat..

: Menyambung hidup. Menjemput masa depan yang lebih baik, untuk diri sendiri maupun orang-orang yang dicintai: anak, istri. 

—————————————————————————————————————————————

24 Mei ’13

Jika sudah lelah bersabar, maka bersyukurlah..

Ternyata ada yang lebih membuat saya termangu sedih daripada kemarin, ketika mendapati rumah masih kosong ketika saya pulang, tanpa mendapati sesosok wanita paruh baya yang siap saya cium tangannya itu bertanya, “udah makan Fah?”. termangu sedih ketika saya harus membenahi semua perlengkapan makan malam rumah sendirian karena wanita itu, fixed, sekali lagi, menjadi milik ummat. something missed in my soul, indeed. 

“tidak ada yang berubah Mad. Dari dulu Ibu juga tidur 3-4 jam sehari. baru setelah Himmah–adik kesepuluh–besar, Ibu bisa tidur agak panjang, 5 jam sehari. selebihnya sama saja. Ibu tetap di hati Ahmad. :’)” 

–Ibu ketika menjawab kekhawatiran Ahmad (dan kami sekeluarganya), “Ibu akan tambah sibuk..”

ada yang lebih membuat termangu ternyata: ketika hari ini mendapati beliau yang setelah lelah seharian berkutat di gedung kura-kura hijau itu, masih sempatnya turun ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk Bapak.

ada perasaan haru sekaligus sedih karena ternyata saya hanya bisa menyimpan kekhawatiran tanpa  bisa berbuat banyak, sekaligus malu karena masih sering saja merasa kelelahan karena perjuangan yang belum ada apa-apanya. sekedar menjadi anker (anak kereta) newbie dengan durasi 4 jam PP dan berdiri berdesakan, disertai tumpukan perkara yang menanti di kantor, kecewa melihat fenomena ini dan itu, tentu tidak apa-apanya dengan kemacetan lalu lintas yang beliau temui, tumpukan RUU yang minta dibahas, tuntutan dan ekspektasi masyarakat yang menanti dipenuhi, perseteruan sembunyi maupun terang-terangan yang harus beliau hadapi.. dan jelas, perannya sebagai istri dan ibu yang melekat erat, serta pertanggungjawaban di akhirat kelak.. maka  banjir sudah genangan hati saya ketika membaca pesan sederhana beliau di bincang maya keluarga kami, 

“Kalau saja Rasulullah tidak pernah mengingatkan umatnya agar selalu bersandar dengan sandaran paling tinggi kepada Allah.. tidak akan pernah ada orang mu’min, suami istri mu’min, jama’ah yang terdiri dari orang-orang mu’min (yang) akan mengembalikan masalah mereka kepada Allah. Allah itu sumber ketenangan.. meski sangat  berat masalah yang dihadapi, sangat berat beban yang dipikul.. jika selalu menyandarkan dengan sepenuhnya pada Allah.. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya kehilangan solusi..”

–Ibu

—————————————————————————————————————————————

ada yang makin saya fahami setelah beberapa waktu terakhir mempelajari ragam perkara di kantor, mengangguk-angguk paham kenapa dulu Hukum Agraria begitu sangat ditekankan untuk dipelajari, mengapa Hukum Perdata dan Hukum Bisnis begitu menarik hati hampir tiga perempat mahasiswa hukum di setiap angkatannya, mengapa setiap tanggal 1 Mei menjadi hari yang sangat ‘sakral’ untuk para buruh..

karena kepentingan dan keinginan manusia yang memang asasi harus dipenuhi, untuk anak dan istri, tapi seringnya dituruti sehingga tak habis-habis, bertarung dan saling menelikung, kadang juga untuk saling berlindung.. atau singkatnya, untuk menyambung hidup atau menjemput masa depan yang lebih baik. tapi tidak sedikit pula yang lambat laun semakin pragmatis: mengejar kesenangan dunia yang semu dan tak habis-habis.. 

itulah kenapa untuk sepetak tanah di sudut Jawa Barat sana, seorang kakek tua rela datang jauh-jauh ke Jakarta karena tak rela atas ganti rugi penggusuran yang harus diterimanya. itulah kenapa ada kedatangan buruh yang berulang ke kantor untuk meminta bantuan advokasi hukum, agar tak jadi ‘korban’ pengunduran diri hasil fait a compli atasannya, dan minimal kalau tidak bisa bertahan di perusahaan tersebut, ia bisa keluar dengan setingkat lebih terhormat: PHK. itulah kenapa untuk pengurusan sebidang tanah agar diberi status hak milik, seorang notaris bisa dibayar puluhan juta.. itulah kenapa, setiap pasal di AD/ART perusahaan bisa menjadi sangat krusial untuk dipertahankan. itulah kenapa..

ah, bicara apa pula saya yang masih pekerja muda seperti ini?

sekali lagi: jika sudah kelelahan bersabar, maka bersyukurlah..

jika sudah kelelahan melihat ragam dunia yang bisa mendekonstruksi jiwamu, bersyukurlah masih diberi kesempatan melihat dan belajar dari sosok-sosok pejuang itu. yang rela berpeluh dan berkeringat untuk tak sekedar menyambung hidupnya sendiri, tapi menyambung hidup orang lain, memberi seluas-luas kemanfaatan bagi orang lain. berpikir keras bagaimana menghasilkan uang sekian digit dalam sebulan, menjemput masa depan yang lebih baik bukan  bagi dirinya sendiri dan deret keluarga terdekatnya, tapi juga masa depan yang lebih cerah bagi orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya sekalipun. jiwa mereka luas, dalam, kokoh, bukan karena merasa sudah memiliki banyak, tapi karena bercita-cita agar terus dapat memberi banyak.. 

ya, dari mereka saya belajar makna: mencintai adalah pekerjaan orang-orang kuat.

Akal Hati dan Pikiran

Akal Hati dan Pikiran

– nasihat pembuka hari dari Bang Arsjalsjah di grup Muhajirin Anshar. betul-betul menancap sekali di tengah banyaknya bias dan debu-debu yang mengaburkan pandanganya, bagaimanapun, ada sisi hati yang tidak bisa ditipu. dan kepekaannya bergantung serajin apa kita mengusahakan diri berdekat-dekat dengan-Nya. 

Tidak ada yang dapat memberikan alasan yang tepat buat kita tentang kenapa kita harus begini dan begitu.
Alasan itu hanya kita yang bisa menemukannya, dan hati inilah penemu sejati.
Apapun pilihan kita, yakinkan bahwa itu pilihan kejujuran.

Jangan biarkan hati ini gersang, dan jangan biarkan topeng-topeng menguasai kita.
Hanya ada satu topeng yang cocok untuk kita, dan itu adalah…wajah kita sendiri

Seperti apa wajah ini ingin kita jadikan, itu tergantung pada pilihan-pilihan kita.
Pilihan hidup, pilihan jalan, pilihan kelompok dan pilihan-pilihan lainnya.
Itu sebuah keniscayaan yang harus kita lakukan, karena hidup adalah pilihan.

Idealisme dalam logika tidak terpisah dari rasa di hati.
Karena hati pun punya logika yang terhubung dengan logika kepala.
Akal ada di kepala dan di hati, tinggal mana yang kita jadikan jendralnya.
Dan itu pilihan yang sangat jelas, sejelas malam dan siang
Kepala punya akal dan hati pun punya akalnya sendiri.
Walaupun memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi kalau fitrah dan nurani yang diikuti, insya Allah ketemu.
Tapi sekali lagi, tetap semuanya perlu bimbingan, dan bimbingan itu dari Allah SWT, Si empunya hati dan pikiran

Kalau kita dekat denganNya dan kedekatan itu dengan tuntunanNya, insya Allah, Dia akan bimbing akal hati & akal pikiran kita.

Yuk dekati Dia..

Q: apa maksudnya akal hati Bang?

A: Akal itu tidak hanya ada di kepala, tapi akal pun ada di hati. Tapi ukurannya berbeda. Jadi bukan hanya kepala yang bisa berpikir, tapi hati pun bisa berpikir. Kalau bahasa qurannya afala tatafakkarun dan afala ta’qilun.
Hasil berpikir kepala adalah informasi dan ide, sementara hasil berpikir hati adalah keyakinan.

*tiba-tiba rindu, sangat rindu dengan Qur’an..

tentang teman #5

tentang teman #5

riuhan malam ini mengakumulasi kesimpulan itu, kesimpulan yang sebetulnya sudah pernah saya simpulkan beberapa waktu lalu, namun saat ini ingin saya simpulkan kembali,,

sosok yang kau kagumi dari jauh, selama bertahun-tahun dan melahirkan inspirasi-inspirasi, bisa jadi orang yang di satu titik menjadi sumber kekecewaanmu.

Namun di sisi lain, ia-nya yang biasa saja, lurus saja, yang seringkali lalu lalang di depanmu tanpa (awalnya) kau sadari keberadaannya, bisa jadi orang yang di satu titik menjadi sumber kebangkitanmu. Menjadi sumber inspirasi tak berkesudahan ketika satu hingga sejuta kali kau melihatnya berlalu lalang.

Image

Ia, teman duduk yang dengannya kau bisa sama-sama membincang tentang bintang, sembari saling melempar kacang dan sama-sama menertawakan kebodohan. teman duduk yang bisa kau guncang-guncang bahunya atau kau genggam erat tangannya setiap kali fenomena di depan matamu begitu memukau atau menyeramkan untuk dinikmati sendirian.

Ia, teman berlarimu yang meledekmu ketika kau jatuh kelelahan, tapi jadi orang yang akan paling setia menantimu di garis kesudahan.

Ia, teman yang mungkin sesekali hilang dari titik pandang, tak melulu ada di persisian saat kau butuh bantuan, tapi doa-doanya senantiasa terlantunkan. Tanpa kau sadari ia mengamatimu dari kejauhan, memastikan kau selalu berada dalam lingkar kebaikan, dan bisa tetiba hadir, menjadi yang paling sigap menarikmu ketika kau terlampau terlalu jauh menyimpang.

Ia yang tak perlu banyak ucapan terima kasih dan tak perlu banyak kata maaf, sebagaimana sebaliknya juga kau–tak perlu terima kasih dan banyak maaf darinya untuk menerimanya: sebab adanya bagimu adalah kelengkapan jiwa, sebagaimana baginya adamu adalah kecocokan rasa.

adalah ia, teman, takdir kebaikan yang Allah titipkan untukmu, yang hadirnya bergantung pada pusara keimanan..