matang

matang

Kematangan tarbiyah hanya bisa didapat setelah kau jatuh bangun, setelah kau luka sembuh luka sembuh, setelah tertawa menangis, setelah semua sisi emosi terbentur, setelah pertanyaan kenapa dan bagaimana terjawab atau menguap, setelah sabar syukur sabar syukur, setelah waktu mendidikmu untuk matang!

Proses perjalanan hidup adalah semata ujian untuk memperlihatkan, seberapa tangguh kau meyakini Allah sebagai satu-satunya Dzat Yang Maha Segala: Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, Maha Lembut, Maha Pengampun..

Bercermin saja pada sejarah yang tak pernah usang. Bercermin tentang perjuangan, pengorbanan dan konsistensi pada ketidaknyamanan. Memang, sungguh kemudahan akan datang tepat setelah satu kesulitan.

——-

Kita cuma punya sedikit ilmu, sedikit ruhiyah, sedikit bekal..
Kecintaan pada Allah yang naik turun, kerinduan akan Rasul yang tarik ulur, tapi masih berani-beraninya punya mimpi segunung: meninggikan Islam setingginya.

Ah, tapi percaya. Per-ca-ya kita bisa.

Ya, sebab ini bukan (sekedar) soal menang kalah atau benar salah, tapi bagaimana kita belajar dan berkembang,

saat buntu lalu tercerahkan, di mana kita jatuh lalu bangkit..

terus meneruslah ikrarkan dalam diri: kita cinta Allah sampai kita mati.

kita dapat melakukan apapun yang kita inginkan. kita hanya perlu menginginkannya dengan ‘sangat’.

Allah, benar-benar hanya Kau yang Maha Sempurna.

(menuliskan ini suatu hari di tahun 2011, dan nyatanya proses pematangan itu seumur hidup.. proses mencintai-Nya itu sampai kita mati..)

 

Advertisements
kecewa-persimpangan

kecewa-persimpangan

Kita belajar banyak dari kehidupan, salah satunya dari mengecewakan dan dikecewakan orang.
Dari dikecewakan orang, kita belajar kembali bahwa penyandaran harapan penuh hanyalah pada Allah.
Dan salah satu cara paling mujarab untuk menghapus kekecewaan adalah dengan menyadari bahwa suatu saat bisa jadi kitalah yang mengecewakan orang lain.

Kita belajar banyak dari kehidupan, salah satunya dengan dipertemukannya kita dengan beragam persimpangan.
Dari persimpangan yang kadang membuat kita terjebak, kita belajar membuat keputusan, dan siap menanggung resiko apapun yang menyertainya: dipuja atau dihina, tertawa ataupun berduka.
Dari persimpangan itu pula kita belajar mengidentifikasi kembali siapa kita dan mau ke mana.
Dari persimpangan itu pula kita belajar bahwa kadangkala kesoktahuan kita membuat kita lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Tahu yang menggenggam erat hati kita, yadillahu kullu qalb.. Dia yang menuntun langkah-langkah kita pada apa yang mungkin hakikatnya kita tidak benar-benar tahu..

percaya

percaya

“aku percaya,” matahari masih malu-malu untuk tenggelam, seperti memberi kekuatan untuk Sil, meski hanya dalam bentuk pemberian bayangan. “aku percaya setiap orang di dunia ini pada dasarnya baik..”

Sal menghela nafas, “naif kau.” hanya dua kata. datar. ribuan argumentasi di kepalanya rontok seketika.

hening sejenak.

“lantas, kau sebut apa itu luka yang membuatmu pincang berjalan? itu contoh kebaikan mereka padamu?” intonasinya sedikit naik. ini kesekian kalinya ia kelelahan sendiri menghadapi Sil.

Sil menggerakkan sedikit kepalanya ke arah Sal. Ia merasa terganggu dengan sentakan yang menghujam dalam kata-kata Sal. Tapi hanya sekejap, lantas senyum lurusnya kembali.

“kalaupun memang ada orang yang jahat, aku percaya suatu saat nanti dia bisa jadi orang baik..” senyum lurus Sil menyimpul, tatap jenakanya tengadah ke arah cakrawala.

Sal menggeleng-gelengkan kepalanya, “aku tidak paham lagi, terserah kau sajalah”. lagi-lagi, ia menyerah. langkahnya mulai bersiap meninggalkan Sil.

“semua yang terjadi di dunia ini kan atas izin Allah, Sal. itu yang kau sering ajarkan pada anak-anak itu kan? biar semua pengkhianatan, cibiran dan setiap perilaku buruk yang orang lain timpakan pada kita, semuanya biar Allah yang membalasnya. aku hanya ingin percaya bahwa ada kebajikan yang mengintip dari setiap orang, bahkan penjahat sekalipun.. bagiku itu cukup sebagai balasan.”

Sal terdiam. skak mat.

Aside

Jika Pemuda

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang semangatnya membara, maka baiknya kau lihat saja bapak tua penarik becak di pelosok desa. Nyala semangat kerjanya jauh melampaui manusia-manusia berseragam SMA yang sehari-harinya menghabiskan waktu di pinggir-pinggir jalan raya, sekedar menghabiskan jatah uang saku dari papa mama.

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang nuraninya menjangkau sekitarnya, maka baiknya kau lihat saja ibu guru pengajar SD negeri. Nuraninya jauh melampaui manusia-manusia berseragam SMP yang asyik bermain di dunia maya, berselancar tak jelas dan tak peduli dengan sekitarnya.

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang cerdasnya menjadi harapan bangsa, maka baiknya kau lihat saja gadis cilik berkepang dua, yang menyeberang sungai dengan satu tali, untuk berjalan menuju sekolah dasarnya. Visi dan impian besarnya jauh melampaui manusia-manusia muda berkerah mahal dan bermobil yang tiap harinya belajar di ruang-ruang ber-AC, sekedar menaikkan gengsi dan nama baik keluarga.

Pada harapan jagat raya, setitik dua titik noktah menutupi kertas putih hati nurani milik pemuda. Tentang ego, tentang gengsi, tentang materi semata.

Tapi, hey semesta, jangan kau sesedih dan semerunduk itu!

sebab harapan itu masih ada..

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang semangatnya membara, silakan sentuh jaket-jaket almamater yang tak lagi harum dan tak lagi licin terasa. Bercampur keringat dan debu jalanan, atau mungkin wangi gedung-gedung wakil rakyat punya. Ia menjadi saksi atas terbakarnya semangat karena hak rakyat yang teraniaya.

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang nuraninya menjangkau sekitarnya, silakan lihat grafik pendaftar Indonesia Mengajar milik bapak muda pemilik jiwa muda. Tak pernah surut walau pelosok dan kesendirian adalah konsekuensi mutlak dari tersalurnya kepedulian untuk cikal bakal anak bangsa.

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang cerdasnya menjadi harapan bangsa, silakan tengok wajah-wajah serius bermata cekung, yang kadar tidur dan beban fikirannya membuat ia jauh lebih dewasa. Satu dua hingga sepuluh kali menjadi jawara, bukan untuk ketenaran dan popularitas dirinya. Rakyat, bangsa, bahkan dunia adalah kata-kata yang menjejali benaknya.

Pemuda ia, yang tahu persis untuk apa yang ia dicipta. Bukan soal usia biologis semata, tapi tentang semangat, nurani dan kecerdasan yang tak habis dilekang masa. Maka kau, aku, dia, kita semua, adalah pemuda. Pada bingkai perlombaan menuju akhirat dengan sebaik-baik dan sebanyak-banyak bekal yang bisa kita bawa.

SA, 031111

sebagaimana dimuat di sini. 🙂

Lady Gaga(l), FPI, dan Potret Religi Kita

Lady Gaga(l), FPI, dan Potret Religi Kita

Setelah menuai kontraversi yang cukup lama, kedatangan penyanyi perempuan yang dijuluki “mother monster” tersebut akhirnya berujung pada pembatalan. Sebagian pihak bersorak bahagia, sebagian lagi—dan rerata adalah mereka yang merasa rugi secara materil, berteriak protes. Salah satu bagian yang unik dari pemberitaan media belakangan ini adalah penekanan yang cukup kuat bahwa yang bersorak gembira hanya FPI saja. Hal tersebut mungkin disebabkan karena stigma yang kuat bahwa FPI-lah yang paling keras menolak kedatangan Lady Gaga, tapi apa benar seperti itu nyatanya?

Ada benang merah yang bisa kita tarik dari runtutan peristiwa penolakan terhadap orang-orang asing yang hendak bertamu di rumah kita, Indonesia. Ya, Lady Gaga bukan yang pertama kalinya, sebab sebelumnya ada Irshad Mandji, orang asing yang harus segera angkat kaki belum lama sejak kedatangannya di Salihara, Pasar Minggu sana. Meski FPI tidak mendatangi tokoh feminis tersebut sendiri sebagai suatu organ penegur, tapi lagi-lagi nama yang mencuat ke permukaan adalah FPI.  Pun ketika akhirnya Lady Gaga batal datang ke Indonesia dengan alasan keamanan, yang dianggap paling bahagia adalah FPI.

Menarik adalah ketika membincang tentang FPI, bukan hanya keberadaannya sebagai simbol garis keras pembela Islam yang masih ada dan diakui, melainkan ketika penulis mendapati bahwa masih ada sebentuk wajah di dalam masyarakat kita yang meyakini bahwa Islam masih layak dijadikan pondasi bangsa. Terlepas dari caranya yang bagi sebagian kalangan kurang ahsan, penulis berpendapat jika keberadaan organ tersebut masih terus eksis, maka yang patut dipertanyakan justru apakah para punggawa bangsa ini sudah memahami betul potret sesungguhnya Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar?

Di sini penulis mencoba mengaitkan dengan konsepsi dasar yang diangkat oleh Kuntowijoyo, cendekiawan muslim yang menuangkan gagasannya tentang perkembangan budaya, ditinjau dari pendekatan ilmu dan pendekatan agama. Dalam bukunya Paradigma Islam, Kuntowijoyo mengungkapkan bahwa, “konsep normatif agama mengenai budaya tidak saja mencoba memahami, melukiskannya, dan mengakui keunikan-keunikannya, tetapi agama mempunyai konsep tentang ‘amr (perintah), dan tanggung jawab. Sementara ilmu menjadikan budaya sebagai sasaran pemahaman, agama memandang budaya sebagai sasaran pembinaan. Masalah budaya bukanlah bagaimana kita memahami, tetapi bagaimana kita mengubah..”

Jika berangkat dari titik pemahaman Pak Kunto di atas, maka menjadi “lucu” ketika segelintir orang membolehkan budaya asing masuk, membiarkannya bertamu atas nama kebebasan dan hak asasi manusia, tanpa menilik kembali budaya asasi bangsa ini yang didasari nilai-nilai ketuhanan—kecuali ia lupa pada sila pertama Pancasila.  Problemnya bukan hanya sekedar bertamu, tapi karena ketiadaan salam dan sopan santun a la Indonesia yang menyertainya. Globalisasi tidak lantas menghilangkan sekat budaya khas masing-masing negara bukan?

Berharap agar ia  menggunakan kebaya dan mengubah lirik lagunya? Bolehlah, kita berdoa saja agar suatu saat nanti dapat terjadi. Hidayah-Nya siapa yang benar-benar tahu? Tapi selama hal tersebut belum terjadi, maka menjaga budaya bernuansa religi di atas bumi pertiwi adalah harga mati.. Allahu a’lam..

 

30 May 2012

Media, Citra, dan Kita

Media, Citra, dan Kita

Wajahnya asik menatap layar laptop. Sesekali senyum terbit di wajahnya. Aisyah, sebut saja namanya begitu. Akhwat yang baru saja duduk di tingkat dua di kampusnya itu belum lagi selesai merapikan perkakas aktivitasnya: tasnya, sepatunya, dan seperangkat pakaian “tempur” yang menemaninya seharian penuh. Namun, sudah lebih dari setengah jam ia tak beranjak dari depan layar laptopnya. Bukan, bukan portal berita yang ia telusuri. Bukan pula portal keislaman yang bisa menambah wawasannya agar tak terbentur-bentuk ketika bergerak di lapangan. Dua tab di Mozilla Firefoxnya tak berpindah dari dua  jejaring sosial ternama: Facebook dan Twitter.

Aisyah hanya satu dari sekian banyak fenomena aktivis da’wah kampus yang tengah tergila-gila pada jejaring sosial. Entah dengan alasan terkuat apa, jelas jejaring sosial memiliki daya pengaruh yang sangat hebat pada pergerakan ‘Aisyah’ dan teman-temannya, yang menisbatkan dirinya pada sebuah gerakan bernama da’wah kampus. Awalnya mungkin sebagai bentuk sosialisasi, meniatkan fasilitas jejaring sosial sebagai media da’wah, mengikuti ritme genre postmo yang kini serba menuhankan info. Tapi ketika fungsi berbalik kendali, lupa sudah manusia-manusia berlabel aktivis itu pada kodrat pribadinya: du’at qabla kulli syay’i. Jejaring sosial menjadi ajang pamer ‘kegalau-kelabilan’, menipiskan batas tipis tonggak gerakan bernama ‘izzah. Semestinya kodrat itu tidak terlupa, dengan menggunakan media sebagai senjata utama perang semesta.

Alvin Toffler, futurolog terkemuka mengungkapkan bahwa perubahan besar di abad 21 sangat dipengaruhi oleh kekuatan media. Dunia telah menyaksikan bahwa kejatuhan sebuah tiran sangat bisa dipengaruhi oleh media. Dalam skala berbangsa, image seorang presiden bisa saja berbalik seratus delapan puluh derajat karena rongrongan yang dahsyat dari satu hingga seribu rakyatnya. Dalam skala kampus, mahasiswa tidak lagi mudah terpesona pada pencitraan seorang calon yang dilakukan melalui satu dua baliho, tapi dari seratus empat puluh karakter yang berulang-ulang diceletukkan oleh sekelompok orang melalui jejaring sosial bernama twitter. Bahkan hingga skala rumah tangga, seorang istri bisa bercerai dari suaminya karena bermula dari keasikan sang istri bersama twitterlandnya. Dari titik ini kita bisa belajar, bahwa media, lebih tepatnya media sosial, dapat menjadi alat utama bagi rekayasa sosial di level manapun ia digunakan.

Berangkat dari kesadaran penuh bahwa proses pembentukan pribadi muslim tak hanya dapat bermula dari hati, tetapi juga dari akal, maka pengoptimalan panca indera menjadi mutlak adanya. Setiap siasat dan strategi da’wah difokuskan pada bagaimana agar setiap panca indera menjadi pintu bagi masuknya hidayah. Dalam konteks pembentuk opini di benak, dua alat indera yang menjadi pintu utama adalah mata dan telinga. Apa yang dilihat dan didengar kemudian diproses oleh otak, sehingga terbentuklah opini yang mengendap di benak. Opini tersebut yang selanjutnya akan menentukan apakah seseorang bersedia menjadi afiliator terhadap diin ini atau tidak. Maka di titik ini, menjadi sebuah keharusan bagi sebuah entitas da’wah untuk selalu berperan sebagai pembentuk opini bagi konstituen kampus.

Langkah konkret untuk mewujudkan cita-cita tersebut setidaknya penulis bagi ke dalam dua bagian besar: perbaikan manusia dan sistem. Perbaikan manusia tak lain adalah penguatan dalam aspek tarbawi, penjagaan dan pengentalan kembali value-value dasar yang telah menjadi warna khas kita. Di sini sangat perlu diperhatikan kemampuan berdiri di antara dua titik: ta’shil  (upaya kembali kepada ashalah atau keorisinilan) dan tathwir (upaya pengembangan). Bergaul dan bersosialisasi dengan orang banyak di dunia maya bisa jadi sangat dianjurkan hukumnya, bagian dari pengembangan cara da’wah yang selalu bisa berubah dari waktu ke waktu. Tapi persoalan muatan dan gaya kita berbicara, sudah semestinya tak mengalami deviasi yang terlalu jauh. Karena bahasa adalah soal rasa, soal cita rasa tepatnya. Maka di sini kita berbicara soal kapasitas ruhiyah sang da’I, sejauh mana satu hingga seratus empat puluh karakter mampu menyublim menjadi qaulan sadiida (QS. An-Nisa: 9), qaulan kariima (QS. Al-Israa’: 17), qaulan ma’ruufaa (QS. An-Nisa: 5), qaulan layyinan (QS. Thaha: 44), ataupun qaulan balighan (QS. an-Nisaa: 63) serta qaulan maysuran (QS al-Israa: 28). Kata-kata yang kuat adalah cermin dari pribadi yang kuat. Dan untuk menjadi kuat, maka teruslah mendekat pada Yang Maha Kuat.

Bagian kedua yang tak kalah penting adalah reformasi sistem. Di sini kita berbincang soal ranah da’wah yang terbagi ke dalam beberapa bagian, dari syi’ar hingga sosial politik. Dua bagian yang penulis ingin soroti lebih jauh adalah syi’ar dan sosial politik, karena adalah mereka tampak muka da’wah ini tercermin. Syi’ar memiliki kebebasan yang sangat luas, meraup sekian banyak peluang untuk mengumandangkan keindahan Islam kepada seantero jagat kampus, bahkan nasional, hatta internasional. Siapa yang paling punya jangkauan luas mengungkap kepedulian dari Jakarta, Ambon hingga Palestina, kalau bukan LD sebagai perwujudan ranah Syi’ar? Reformasi sistem dalam ranah ini berarti memangkas habis semua kekhawatiran dan ketidakmampuan bermain dalam media, komunikasi dan informasi. Publikasi setiap LD adalah cermin kreativitas dan kecerdasan mumpuni para du’atnya, bukan sekedar tempel dan ‘for your information’ saja. Ketika Koran Kampus, Selembar Madani, dan Nafas menjadi media-media yang dinanti, direbut, dan diperbincangkan para civa kampus, saat itulah LD dapat dikatakan berhasil membangun opini para konstituen da’wahnya. Karena mereka, konstituen itu, sudah percaya.

Kemudian pada sisi rumah da’wah bagian luar: sosial politik. Membincang tentang rektor, tentang BOPB, tentang kesejahteran mahasiswa, menjadikan para manusia yang berkecimpung di ranah ini menjadi manusia yang mampu lebih diterima oleh pihak-pihak yang masih terlalu asing dengan aroma ‘langitan’ para penghuni Syi’ar. Isu universal yang dibawanya membuka celah yang lebih lebar lagi para pengembannya, yang dengan caranya, lagi-lagi meniupkan kesejukan berislam. Lewat canda yang santun, cerdas, tetap bermakna, atau keriangan-keriangan khas sanguin yang meletup-letup tapi membawa pendengarnya berfikir, “eh, ternyata seterhormat itu gw sebagai perempuan dalam Islam?”. Tentu, sekali lagi, satu dari jenis qaulan itu tidak akan lahir kecuali dari kedekatan yang kuat dengan Yang Maha Kuat. Maka seharusnya excuse tidak boleh lagi dan lagi muncul; tilawahnya kurang, qiyamnya terlewatkan tiap malam..

Pemegangan isu terdepan dalam ranah ini juga bergantung pada seberapa sigap para aktivisnya membaca dunia. Penulis mempersilakan jika kekuatan berfikir konspiratif sangat kuat dalam benak para muda-mudi sosial politik, selama kerangka penjagaan rumah da’wah selalu jadi landasan asasinya. Bukan sekedar tikung menikung yang hanya membuat kita tak berbeda jauh dengan saudara yang berseberangan di sana. Membaca dunia; membaca ke mana gerak perlawanan seharusnya diarahkan, membaca kepentingan rakyat yang mana, yang seperti apa yang harus diperjuangkan. Kesigapan dan kecerdasan membaca dunia itu mempengaruhi sejauh mana kita dapat memimpin gerbong pergerakan, dan di titik mana kita dapat bekerja sama dengan pihak-pihak yang selama ini dianggap berseberangan. Tentu lagi-lagi, kekuatan media di sini tak dapat ditawar-tawar lagi. Orasi seorang ketua BEM, seheroik apapun, tak akan menggema sampai sudut kampus kalau tidak ada satu simpatisannya yang meng-livetwit, “memang singa podium kakak ini!” atau mungkin 49.000 mahasiswa tidak akan tahu bahwa aspirasi mereka tengah diperjuangkan oleh salah satu wakilnya, jika rapat ini dan itu yang dihadiri oleh seorang unsur mahasiswa MWA tak diretweet oleh para followernya. Ya, sekian ‘like this’ atau ‘retweet’ menjadi multiplier yang ampuh untuh menebar citra kebaikan, yang padat manfaat tentu, bukan kopong sekedar tebar pesona.

Tuntutan mencitrakan hal terbaik bagi da’wah bukan saja terbatas pada peran-peran Syi’ar atau sosial politik an sich¸tetapi teremban bagi seluruh aktivis da’wah kampus, lintas bidang dan gender. Media sosial pun hanya satu dari sedikit cara utama pembentukan opini, tetapi selanjutnya ketokohan kebaikan dari setiap aktivis da’wah sudah cukup mampu mempengaruhi akan seperti apa opini yang terbentuk di publik tentang da’wah kita.

Al-Islaamu ya’luu wa laa yu’laa ‘alaih,, Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Ya, adalah Islam, rahmat bagi semesta. Janji Allah itu pasti. Tinggal bagaimana kita meyakininya dan menjadi bagian dari terwujudnya janji tersebut. Allahu a’lam.

seorang prajurit yang tengah belajar,
Scientia Afifah T

19 September 2011

Pergerakan Mahasiswa, Kampus, dan Demokrasi.

Pergerakan Mahasiswa, Kampus, dan Demokrasi.

Adalah hal yang terdengar sedikit klise ketika berbicara perihal peran mahasiswa: iron stock, agent of change, dan moral force. Klise, bahkan kadang utopis, namun tetap enak untuk didengar, dilihat, dan seringkali dijadikan bintang yang menggantung di langit, sebagai harapan ideal seorang mahasiswa.

Berkutat dengan teori-teori normatif di buku-buku, berdiskusi untuk mengembangkan gagasan dan wacana, seringkali menjadikan mahasiswa akrab dengan sebutan idealis. Namun idealis tak cukup menjadikannya berintegritas manakala hanya sebatas lisan berucap tanpa tindakan kokret. Ia akan dianggap mendekati limit perfecto membawa perubahan manakala keutuhannya teruji di lapangan kemasyarakatan, berfikir sinergis antara intelektual dan logika perut rakyat.

Resi mahasiswa yang reaktif ala Soe Hok Gie sudah berlalu, klimaksnya pada 1998 yang menggulirkan rezim Soeharto. Memasuki satu dekade lebih pasca Reformasi, pola gerakan mahasiswa begerak dari elit ke alit, dari extra parliamentary strategy menuju optimalisasi semua bentuk kerja advokasi. Mengutip kata-kata salah seorang senior di kampus, secara sederhana, kita tidak sekedar “menyelamatkan bayi yang setiap hari dibuang di sungai, tetapi mencari dan mencegah adanya pembuangan bayi dengan tindakan yang terprogram dan terarah.” Sehingga jelaslah karakter gerakan mahasiswa kini: paradigmatik yang pro-aktif. Di sini, adagium “ilmu mendahului ucapan dan tindakan” menjadi aksiomatik, menjadikan segala gerak harus berdasarkan kajian mendalam dan berbasiskan pengetahuan dan data empirik.

Turunan nyata dari tataran das sollen yang saya sampaikan di atas adalah keterlibatan elemen mahasiswa dalam setiap penghasilan kebijakan yang pada akhirnya berdampak pada eksistensi mahasiswa sebagai unsur istimewa dari masyarakat itu sendiri. Tidak hanya berbicara pada tataran bangsa, namun juga skup yang lebih dekat dan lekat: kampus. Ya, kampus yang ibarat miniatur negara ini tentu tak bisa menanggalkan mahasiswa sebagai elemen terbesar, dan implikasi logisnya bukan hanya menjadikannya sebagai obyek hasil kebijakan, melainkan sebagai subjek yang berperan aktif menentukan nasibnya sendiri. Maka di sinilah alam demokrasi menemukan titik temunya dengan takdir seorang mahasiswa.

Sekarang kita tidak lagi berbicara panjang lebar perihal bebas atau tidaknya benak mahasiswa dari intervensi pihak luar. Merupakan sebuah keniscayaan ketika ia bergelut dengan teori-teori yang normatif, kemudian melihat relitas sosial yang ada, lantas ia merumuskan kecenderungan pribadinya untuk berpihak pada ideologi yang mana. Ideologi tersebut tentu, secara langsung tidak langsung, bersentuhan dengan dunia luar yang kemudian kita sebut dengan pihak eksternal kampus, baik dalam bentuk lembaga advokasi, organisasi kemasyarakatan, atau bahkan partai politik. Namun, tetap ada garis pembeda antara ideologi yang dimiliki mahasiswa dengan yang dimiliki pihak-pihak luar tersebut, yakni dalam hal aplikasi. Pribadi seorang mahasiswa cenderung untuk bergerak lurus sesuai dengan ideologi yang diyakininya, karena realita yang lebih sering dihadapinya adalah dunia kampus yang menuntutnya untuk berfikir ilmiah dan obyektif, berbeda dengan realita yang dihadapi oleh pihak luar yang cenderung menerjemahkan ideologi mereka sesuai alur kepentingan segolongan orang.

Menyatukan antara pikiran-pikiran idealis seorang mahasiswa dengan perkembangan realita kemasyarakatan adalah sebuah tantangan. Namun baginya, tetap ada prioritas untuk mendahulukan dunia yang sangat akrab dengan kehidupannya, yaitu pendidikan. Topik ini selamanya akan tetap menjadi fokus kajian kemahasiswaan walau sebesar apapun intervensi pihak luar ingin menggugurkannya. Adapun isu yang lebih spesifik lagi adalah pengawalan terhadap RUU Perguruan Tinggi serta kebijakan-kebijakan internal kampus yang berdampak besar bagi kehidupan mahasiswa.

14 April 2011