Jembatan

Jembatan

Banyak kisah hidup orang lain yang lebih drama daripada drama paling drama yang pernah kita lihat. Real, nyata di sekitar kita menanti untuk dipetik sekian ribu pelajaran. Menegur kita dengan halus untuk lebih banyak bersyukur, menggali ilmu lebih dalam, dan menempuh jalan panjang kehidupan dengan lebih tangguh.
Tangisan yang mengiringi pertanyaan-pertanyaan tentang “kenapa harus aku?”, seperti berubah kalimat yang menohok saya, “lihatlah ia yang begitu kuat.” Sekian problematika yang selama ini membuntuti saya, tak ubahnya seperti butiran debu ketika disandingkan dengan cerita-cerita kelabu dari saudari-saudari kuat itu.

Kita, yang kadang hanya berperantara sebagai pendengar, tak ubahnya seperti jembatan yang berusaha memberikan exit door, escape road, berusaha mengajak kekawan yang sedang dirundung awan mendung menuju kisah yang lebih cerah. Kita yang berperan sebagai jembatan, harus sering-sering menguatkan diri, membuka lebar-lebar mata hati kita agar tak keliru memberikan arahan, berfikir jernih dan tak emosional, mengiringinya dalam proses perbaikan.

Tak hanya mental dan ruhiyah, fisikpun harus kuat. Jembatan  yang terlalu banyak dilewati orang butuh bahan baku yang kokoh sehingga tak rapuh dan seharusnya menyelamatkan. Dan tentu, aspek pengetahuan dan wawasan menjadikan sang jembatan lebih menjanjikan dan meyakinkan untuk dilewati. Namun ada batas emosi yang harus dijaga, hingga kita bisa menyimpan kisah-kisah itu di kotak-kotak tertentu di benak kita, dan fokus kita untuk melaksanakan peran yang sudah inheren di dalam hidup bisa terus terjaga.

Menjadi jembatan, pada akhirnya, adalah pengajaran dari-Nya. Dengannya  kita terdorong untuk terus melaju memperbaiki diri, mensyukuri apa yang diberi, dan belajar untuk terus memberi.

*di tengah pening kepala karena flu berat, nyeri perut dan gigi yang linu-linu, saya jadi yakin: “jiwa yang sehat  dan fisik yang kuat punya hubungan yang erat.”

Advertisements
Backpacked to Lake Tahoe (1)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Di antara beberapa destinasi wisata di California yang selama beberapa waktu terakhir saya kunjungi, Lake Tahoe adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena bentangan alam yang indah sepanjang perjalanan ke sana, terpenuhinya rasa penasaran melihat dan merasakan salju seperti apa, tapi proses perjalanan panjang ke sana sebagai backpacking family ternyata meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

 Terletak di antara state California dan Nevada, Lake Tahoe terbagi menjadi dua bagian besar yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri, yaitu North Lake Tahoe dan South Lake Tahoe. Berdasarkan informasi dan rekomendasi dari beberapa ibu-ibu di sini, North Lake Tahoe menjadi pilihan karena di sana masih terdapat salju dikarenakan kondisi geografisnya. Di samping pertimbangan waktu (dan dana tentunya :D) yang terbatas, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan sulit ditemui di daerah lain, khususnya tidak bisa dijumpai di negeri asal kami. Tentu saja salju adalah poin lebih yang kami incar selaku manusia-manusia khatulistiwa 😀

Berikut adalah jejak dokumentasi yang saya tuliskan sebagai bentuk sharing bagi ayah-ibu dengan balita yang berkesempatan pergi jauh ke sana tanpa kendaraan pribadi dan tanpa rombongan tour. Terasa benar travellingnya! 🙂

Setelah tertunda-tunda selama beberapa weekend, akhirnya berangkatlah kami Sabtu pagi pekan kemarin. Pukul 5 pagi sudah berjalan keluar rumah menuju ke pool Amtrak (kereta antar kota dan state di Amerika) di San Francisco, dengan kondisi Azima diangkat dalam kondisi tertidur. Tiket sudah kami pesan langsung ke loketnya satu hari sebelumnya.

Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak
Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak

Ohya, kalau ada credit card, tiket Amtrak bisa dibeli melalui online di situsnya langsung, dan ternyata memang lebih murah dan eksak tujuannya daripada kita membeli di loketnya. Kenapa eksak? Karena  meminimalisir bias pelafalan dan pendengaran dari dua komunikan seperti yang terjadi pada kami: suami saya menyampaikan “Truckee, Lake Tahoe” (lokasinya di North Tahoe) kepada petugas loket, sedangkan petugas hanya mendengar, “Lake Tahoe”, (which is lokasinya di South Tahoe). Kesalahan pemesanan ini baru kami sadari ketika sudah tiba di rumah, alhamdulillah bisa diatasi via telepon dan membayar langsung keesokan harinya.

Salah satu kekurangan dari perjalanan dengan kendaraan umum adalah harus bersedia menyediakan waktu lebih banyak untuk antisipasi keterlambatan dan bersedia untuk sambung menyambung beragam kendaraan dan agak sedikit berputar jaraknya daripada langsung dengan kendaraan pribadi.

Tapi syukurnya, berperjalanan jauh dengan Amtrak menimbulkan kesan tersendiri karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah, bentangan savana, bukit, gunung serta laut ala Amerika. Layanan serta fasilitas di Amtrak pun tergolong memuaskan untuk ukuran perjalanan antar kota jarak jauh.

penampakan Amtrak dari luar
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak, yey, kami sudah nyaris sampai!

Dalam cerita kami, ada spare waktu sktr 5 jam “sekedar” untuk hal-hal di atas tadi: kami keluar rumah jam 5 shubuh, naik bus dari Alameda ke SF, tiba di SF jam 6 pagi. Kemudian menaiki bus thruway (semacam penghubung) dari SF ke stasiun Amtrak di Emeryville jam 8, dari Emeryville berangkat jam 9.30, tiba di  stasiun Amtrak Truckee jam 14.38 disambut oleh hawa segar tapi dingin yang menusuk kulit. Sayangnya, 14.38, adalah 8 menit setelah bus lokal (TART, Tahoe Area Local Transportation) berangkat meninggalkan kami, sebuah bus yang baru datang sejam sekali :D.

Alameda-Tahoe
Alameda-Tahoe

Setelah menunggu bus sejam kemudian, berangkatlah kami dari Truckee, sebuah kota di wilayah utara Lake Tahoe, dan tiba di Tahoe City Inn, tempat penginapan yang kami pesan melalui booking.com jam 17.00.  Harapan kami untuk segera mendapatkan kehangatan setelah berjalan kedinginan nyaris buyar ketika kami ditolak oleh resepsionis karena tidak punya credit card sebagai bentuk jaminan. Meskipun pembayaran bisa melalui cash, tetapi tampaknya di sini (Amerika), alas dasar kepercayaan bagi sesama stranger adalah uang :(, dalam hal ini credit card. 

Setelah berfikir beberapa saat dan mencari penginapan lain di internet yang ternyata juga penuh, akhirnya Kak Jay mencoba menghubungi kawannya, Mas Jimo, sesama tim dari iGrow yang syukurnya bisa dipinjam sementara akun CC-nya. (Big thanks to Mas Jim0-Mbak Ayun! 🙂 ). Setelah coba diproses, alhamdulillah, akhirnya kami tidak jadi terlunta-lunta kedinginan mencari penginapan sepanjang jalan yang mau menerima kami, :D.

Suasana Lake Tahoe di senja hari sangat indah, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Indonesia. Meski dengan suasana dan hawa yang berbeda, serta penjagaan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih tertib daripada di Indonesia. Terlintas di fikiran saya, bahwa bentangan alam dan daratan yang Allah berikan untuk Indonesia dan Amerika adalah sama-sama blessing. Tapi bukan tanpa hikmah juga tentunya ketika Allah memilih ras, agama, dan sejarah manusia-manusia yang hidup di atasnya (begitu) berbeda. And yeah, I’m still loking for that hikmaaat.. 

di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi
di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi

-to be continued-

 

twenty-some

twenty-some

Harijadi ke 26 beberapa waktu lalu bagi saya menjadi salah satu bagian dari turning point di mana saya semakin menyadari bahwa: semakin bertambah bilangan usia, semakin independen manusia menentukan pilihan hidupnya, serta seharusnya semakin besar pula tanggung jawab yang diembannya.

Bertambahnya usia, somehow, juga mengajari saya bahwa koneksi kita dengan banyak orang menjadi tidak terlalu dalam. Yes, maybe we have many Whatsapp group, we have many contacts in our phone, but, it’s not mean that we are fully connected with them. People who have same ages with me have their own problem, in their own world.

Hence, family comes first.

sweet surprise from my sweetheart :)
sweet surprise from my sweetheart 🙂

After that, people who see you  directly more often, talk active with you, share the same problem in the same area, have a stronger bond than other. 

12250_10153375226900496_4145829736996087734_n
dua orang di sebelah saya (keduanya milad juga di bulan Maret), mengajak saya berbagi syukur dengan berbagi tumpeng di pengajian ibu-ibu 🙂

And, there are people who always be in your prayer: even they are not in your sight, you connected to them. I can’t explain more about it. But i’m sure you can feel it. 🙂

Pergi jauh dari tanah kelahiran pun bagi saya menjadi momen di mana saya bisa merenungkan kembali posisi keberadaan saya di dunia ini. Di mana variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan saya jauh berkurang, dan lebih berfokus pada what’s next? get some challenges to prove that you actually twenty-some-year-old woman! 

Waktu kita terbatas, memilih yang benar-benar prioritas menjadi keterdasakan yang niscaya. Ah, saya jadi ingat sebuah puisi yang digubah oleh Robert Frost, seorang penyair Amerika,

THE ROAD NOT TAKEN
by: Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
being trusted

being trusted

Dalam dua puluh empat jam terakhir, ada semacam gempa kecil yang menjalar di hati saya dan ibu-ibu sejawatan di kampus (sealmamater tepatnya). Kami cukup terguncang dengan berita duka yang muncul dari salah seorang senior di kampus. Saya cukup mengenalnya secara personal, kalau tidak bisa dibilang terlalu dekat karena selisih satu angkatan. Beberapa tahun yang lalu, ketika kami diamanahkan pada wadah organisasi yang sama dan jabatan yang serupa, saya mengibaratkannya seperti.. bidadari dari syurga yang didaratkan sejenak di bumi. Di samping wajahnya yang bening dan sangat Sundanese, sikap dan tuturnya lembut, sangaat lembut, representasi fakultasnya yang memang banyak akhwat-akhwat lelembutnya. Satu sikapnya yang membuat saya selalu terkesan dan seperti memiliki kedekatan yang personal adalah kebiasaannya yang suka mencium kepala saya dengan lembut setiap kali kami bertemu. Seperti meneduhkan dan memadamkan semua keluh kesah bawaan dari fakultas saya yang (dulu) memang terkenal merah membaranya.

Lama sekali saya tidak bersua, dan tiba-tiba sekitar dua tahun lalu dikagetkan dengan berita meninggalnya anak pertamanya yang baru berusia enam bulan, karena masalah pernapasan. Mendadak. Serba cepat prosesnya. Tersedak ketika menyusui,  sesak, dan dalam hitungan beberapa hari sudah Allah takdirkan untuk diambil nyawanya. Menjadi tabungan di syurga. Rasanya berita duka itu belum benar-benar menguap dari ingatan, dan sekali lagi, saya dibuat kaget ketika dini hari tadi berita kritisnya anak keduanya mampir di telinga (bahkan saya baru tahu bahwa beliau sudah punya anak kedua!). Dengan penyebab yang serupa, usia yang tidak berbeda dan.. waktu yang tergolong cepat. Belakangan, info yang beredar menyatakan bahwa mereka berdua didiagnosa kuat mengidap Falcony Syndrome. 

Saya memutar baik-baik rekaman senyum manis sang kakak, kelembutannya, dan meski saya tidak bisa bertemu langsung dan melihat bagaimana reaksinya ketika Allah uji berturut-turut dengan diambilnya dua anaknya, saya bisa membayangkan, betapa tabahnya ia. Sikap yang justru membuat saya semakin pecah belah.

“Terima kasih atas doa dan support semuanya. Tenang saja, kami dalam kondisi baik menanti perjumpaan dengan dua bayi surga kami..” 

Ada siratan kepedihan yang saya tangkap dari kata-kata yang ia sampaikan langsung via pesan elektronik tersebut, tapi usaha untuk meng-covernya dengan pikiran dan prasangka terbaik pada Allah membuat ketegaran itu lebih nampak.

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

(Mother- Seamo)

Saya masih mengingat dengan cukup jelas ketika delapan tahun lalu bungsu (yang benar-benar bungsu) di keluarga kami pergi meninggalkan kami. Setelah senyumnya yang lucu dan tingkahnya yang cerdas berganti dengan ringisan nyeri karena tumor yang menggerogoti oraknya. Setelah usaha yang keras dengan dua kali operasi, jerih dan pedih ibu melihat putri kecilnya diuji.. Sampai pada satu dinihari  itu kami berkumpul di sekitarnya, diminta mengikhlashkan.. agar diringankan.. It’s hard. Very-very hard. Saya saja yang kakaknya tidak sanggup membuka lemari pakaiannya sampai beberapa waktu. Apalagi ibu, manusia yang melahirkannya? Oleh sebab itu, tentu bukan perkara mudah (dalam kacamata awam saya) ketika dihadapkan pada dua kehilangan berturut-turut dalam waktu yang tergolong dekat seperti yang kakak tersebut alami.

Tapi kemudian saya tercenung.. ujian berat pastilah untuk orang-orang yang istimewa pula, orang-orang yang sudah Allah percayai bahwa ia akan sanggup untuk mengemban ujian itu. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha, Fah.

Ya,, diberi masalah dan ujian berarti adalah bentuk kepercayaan Allah pada kita, hamba-Nya.

Saya merenungi persoalan dan relasi pemberian masalah–being trusted ini dalam beberapa hari terakhir. Ketika saya diamanahi oleh ibu saya untuk mengatur urusan rumah tangga. Dengan kondisi fisik yang terbatas, saya berfikir untuk mendelegasikannya kepada sebagian adik-adik yang tinggal di rumah. Ketika beberapa kali mencoba, saya kemudian tahu bahwa si adik A belum  bisa diberi tugas B karena saya belum bisa mempercayainya, disebabkan oleh beragam faktor. Begitu pula,  sebaliknya, tugas C, D, E bisa dipercayakan kepada seorang adik F karena saya percaya dia bisa menyelesaikannya. Tentu kesadaran itu tidak membuat saya kemudian terkesan bersikap tidak adil kepada adik-adik saya, dengan terus menerus membebani banyak tugas pada satu orang. Rotasi tugas tetap saya lakukan untuk melatih kepekaan dan kepedulian, tapi ada satu nilai plus yang sudah saya sematkan pada adik F karena kesiapannya dan kemampuannya untuk bisa diandalkan dalam menjalani tugas. Baginya mungkin ada kebosanan karena lebih sering diberi tugas dan beban dibanding yang lain, tapi dari perspektif saya, itu artinya saya sudah meletakkan kepercayaan yang tinggi padanya. He/she is being trusted…

Dan, seperti kata salah seorang novelis asal daratan Eropa, George MacDonald, “To be trusted is a greater compliment than being loved”

Pikiran dan mental yang terbentuk dari perasaan dipercaya itu akan menimbulkan energi yang lebih besar daripada sebelumnya, dan bisa jadi, inilah yang membuat banyak orang-orang hebat di masa lampau dan yang sekarang tampak irrasional dengan tanggungan ujian, beban dan kesulitannya, justru  menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu.

Fragmen ini membuat saya mengalir ke poin lain tentang bagaimana saya seharusnya memandang diri sendiri dan orang lain,

“mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang,
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka.

berbagi senyum kecil dan pujian sederhana
mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa
atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik”

(Salim A Fillah)

Semoga Allah menguatkan setiap bahu yang tengah menangungg beban berat, dan percayalah, seberat apapun itu, pasti ada masanya ia akan berlalu, terangkat dari bahu kita, meninggalkan bahu kita yang (semoga) semakin kuat.Beban di dunia adalah fana, yang abadi adalah opsi akhirat sebagai buah dari sikap yang kita pilih atas beban-beban itu.

“This worldly life has an end
And it’s then real life begins
A world where we will live forever
This beautiful worldly life has an end
It’s a just bridge that must be crossed
To a life that will go on forever”
(This Worldly Life – Maher Zain)

 

 

Greeny

Greeny

di tingkahan hari-hari yang kadang membuatmu gamang, ada masanya kau membiarkan semesta berkonspirasi melajukan langkahmu untuk menentukan pilihan. Dengan sedikit kecenderungan hati yang abstrak, namun mampu membuatmu kembali berputar balik hanya dalam hitungan menit: kembali ke haluan asal.

membiarkan kaki berjalan walau payah, jauh jarak yang harus ditempuh, bayang di depan yang masih samar, tapi dorongan yang entah dari mana itu terus memberi energi: teruslah berjalan, insyaAllah kau tak akan menyesal. dan begitulah, hanya ada lega setelahnya, ketika akhirnya kau tahu ada kekuatan baru yang menyembuhkan dalam binar kekanakan mereka: orang-orang tersayang yang karenanya kau memahami makna perjuangan. 

sedikit goresan ini untukmu, Thurs(wati). 

darimu aku belajar, tugasku hanya terus merawat tunas kerinduan pada kebaikan, pada kejujuran yang utuh. selebihnya adalah karunia Allah yang terus menerus, lagi dan lagi, mempertemukan kita pada ruang-ruang keberkahan. hingga senyummu adalah peneguhan, adalah penyembuhan..

dari titik kita berdiri

dari titik kita berdiri

Suatu ketika Ibu saya pernah menganalogikan, bahwa setiap pribadi kita seperti sebuah kumpulan dari potongan-potongan puzzle yang didapat dari pribadi-pribadi banyak orang yang kita temui, dari sejak dulu kita kecil sampai sekarang berusia sekian dan sekian, hingga menjadilah kita pribadi yang unik seperti sekarang ini. Analogi itu setidaknya mengajari saya dua hal: tidak pernah ada sosok yang persis sama antara satu dengan yang lainnya, tapi juga di satu sisi saya jadi sadar bahwa ‘kita ada karena kita bersama’: tidak ada seorang Ifah yang begini dan begitu misalnya, tanpa ada didikan dari dua orang dengan karakter yang saling melengkapi seperti Bapak dan Ibu, tanpa ada seorang Maya (*numpang mention lagi ya May :p) yang menjadi kawan dekat sejak 9 tahun lalu sampai sekarang (wow, ternyata hampir sedasawarsa kita berkawan May! :D), atau tanpa ada puluhan hingga ratusan orang-orang di sekitar saya yang secara intens bertemu dan memberi warna tersendiri, hingga yang hanya sekelebatan bertemu tapi memberi bekas yang banyak. Semuanya secara sadar dan tidak sadar terrekam baik-baik dalam bingkai memori saya dan memberi saya pelajaran bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak.

Dari semua keberlangsungan interaksi saling pengaruhi itu, mungkin ada momen di mana kita merasa kurang beruntung dengan semua capaian dan pemberian yang ada: rasanya rumput tetangga masih terlaluuu hijau dan mempesona dibandingkan rumput di halaman kita. Padahal kalau dibuat portofolio grafik hidup kita, dengan membandingkan dari kita dulu yang benar-benar nol dan tidak bisa apa-apa dan sekarang, kita jadi sadar bahwa ada jauuuh lebih banyak yang patut kita syukuri dibandingkan rutuki. Yap, itulah poinnya: bandingkan dengan hari lalu yang telah kita lewati. bukan apa yang telah orang lain capai dengan trayek juang mereka. Itu pula mungkin hikmah dari pesan Rasulullah, bahwa beruntunglah ia yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Kita dengan hari-hari kita. Namun tentu, berkaca pada perilaku para Nabi dan salafusshalih akan menjadikan hari-hari depan kita jadi lebih bernilai, karena kemudian kita jadi tahu standar manusia terbaik ada padanya, sang Nabi yang mulia, kemudian orang-orang pada zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya.

Dengan begitu, keseimbangan jiwa kita jadi lebih terjaga: bersyukur atas pencapaian diri yang telah lalu, atas penjagaan dan bimbingan Allah walau dengan kejatuhbangunan kita, namun tidak juga cepat berpuas diri karena tentu, tentu, capaian kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia-manusia terbaik yang telah dijamin surga itu. kita jadi terus menyegerakan dan bersiap diri untuk hari esok yang lebih pasti: hidup setelah hidup.

Maka, tidak layaklah sombong jika dengan satu dua perbuatan kita sudah merasa cukup bekal, toh Allah juga yang menuntun dan memberi jalan-jalan kebaikan itu pada kita bukan? Memberi kita orang-orang baik, saudara-saudari baik di sekitar yang dengan bercermin pada mereka kita jadi terlalu malu untuk sekedar numpang berzombie di dunia ini.

Maka pula, saya tercenung-cenung mendapati diskusi di grup angkatan dengan saudara-saudari baik itu,

6/23/2013 21:27: Luqman MIPA 08: Betapa banyak bintang yang yang gemerlap menanjak naik ke langit peradaban, sesaat kemudian mereka turun dan menghilang dari peredaran, mengapa? karena mereka hadir bukan untuk memberi, melainkan untuk mengambil.~M. Anis Matta~ #serialCinta

6/23/2013 21:30: Lu’lu FIB 08: Manzai, aye ga mudeng, jelasin,
6/23/2013 21:32: Luqman MIPA 08: Intinya, keep shining
6/23/2013 21:45: Scientia Afifah: Semua bintang sifatnya memancarkan cahaya sendiri = memberi, 😀
6/23/2013 21:46: Akbar FT 08: RT Iffatuddin
6/23/2013 21:47: Luqman MIPA 08: RT Akhbaruddin
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Seperti bintang & ‘bintang’ jatuh ya? (Komet) hanya numpang lewat cahayanya… itupun hanya karena semburan gas2 yg memancar dari ‘ekor’nya..
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Beda dengan bintang.. yg bahkan dgn energinya dapat memberikan sinar ke tata planet yg mengikutinya (seperti matahari contohnya.. 🙂 )
6/23/2013 22:11: Ikhsan FK 08: Jadilah Bintang sebenarnya.. jangan hanya jadi ‘bintang’ jatuh..
6/23/2013 22:12: Luqman MIPA 08: Bisa bisa, Can 
6/23/2013 22:13: Fikri FT 08: Super sekali..
6/23/2013 22:14: +62 813-1710-0387: Super sekali.. (FAR,2013)
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: Bintang jatuh cuma sesekali
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: 🙂
6/23/2013 22:15: Faldo MIPA08: Komet pun tak sering terlihat, ia hadir periodik bersembunyi..

Jangan2 kita sedang dlm keadaan komet? Walau seringkali merasa bak bintang? 
6/23/2013 22:15: Ikhsan FK 08: Tapi bintang itu mengerikan ya.. manakala kehilangan sinarnya..
6/23/2013 22:16: Faldo MIPA08: Ya amal yg menjawab. Semoga selalu lantjar djaja 🙂
6/23/2013 22:17: Denty FIB: ~ ~ ~(/´▽`)/.
6/23/2013 22:18: Alvin FIB: Dalem,do. Sudut pandang baru ttg bintang. 🙂
6/23/2013 22:20: Ikhsan FK 08: ..Ketika energi yg dititipkan ke bintang..itu dicabut oleh Sang Pemiliknya… bintang kan jadi gelap gulita..
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: ‘Memakan’ segala yg di sekitarnya.. menghantarkan dlm kegelapan & pekat hitamnya…
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *akankah hati kita senantiasa bersinar & menyinari sekitar bagai bintang?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *atau mati, kelam, (layakanya lubang hitam) dan menebarkan kemungkaran.. karena maksiat yg dilakukan?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: #lifeisachoice yes.. your faith has been already written up there.. but still you choose the path.. a path that lead you to the hell.. and a path that lead you to Him.. So.. which path would you choose?
6/23/2013 22:22: Luqman MIPA 08: #seriusmalam
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: Ya, walau terangnya bintang memang menjadi hak prerogatif Sang Pencipta, tapi bukan berarti itu alasan baginya u/ tidak berjuang menjadi terang selama waktu masih ada..

Pun seandainya sempat gelap, selama waktu masih ada, bukan mustahil u/ kembali menjadi terang..

Walau lagi, itu hak prerogatif Sang Pemberi Cahaya
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: 🙂 
6/23/2013 22:25: Faldo MIPA08: *kebawa serius. Jd pengen komen krn Ican. Hehe.
Lanjut Gan!
Selamat makan malam 
6/23/2013 22:25: Rashid MIPA 08: @lukman , maksudnya gini kah ?

Mereka yg hadir untuk memberi akan bertahan jauh lebih lama, dari mereka yg hadir untuk mengambil
6/23/2013 22:44: Luqman MIPA 08: Mau sambung menanggapi Ican:
Pernah baca di web nationalgeographic, “some stars behave as it’s better to burn out than to fade away. These stars end their revolutions in massive cosmic explosions known as supernovae.”

Ternyata sebuah bintang punya dua opsi menghadapi kematiannya: burn out (ini yg disebut supernova), atau fade away (meredup cahayanya). Banyak bintang yg lebih ‘memilih’ utk men-supernova daripada harus meredup cahayanya. Padahal utk men-supernova jelas2 butuh energi luar biasa.

Dan seperti ini pula pilihan menghadapi kematian para mukmin sejati; ‘Umar bin Khaththab, Thalhah bin Ubaidillah, ‘Umar bin Abdul Aziz. Di penghujung hidup, mereka justru memilih ‘meledakkan’ dirinya dengan amal dahsyat yang pernah dipersaksikan sejarah.”

dan semakin tercenung malu mendapati tulisan Pak Dwi Budiyanto di bawah ini,

“Ada banyak orang-orang yang susah dihapus dari ingatan. Bukan karena wajahnya yang rupawan. Bukan pula karena hartanya yang melimpah. Bukan karena karir akademiknya yang menjadikan kebanggaan. Ada banyak orang-orang yang sulit dilupakan, karena mereka melakukan suatu kebaikan tidak agar mereka diingat, tapi karena memang ingin berbuat. Insya Allah, mereka masih dapat kita temukan. Jumlahnya pun sangat banyak. Tapi kita tidak pernah mengenali karena mereka berbuat dalam diam, dalam kesunyian.

Layaknya perempuan tua yang biasa membersihkan masjid dari kisah di atas, yang perlu kita lakukan hanyalah melipatgandakan peran, menjernihkan motif setiap pengorbanan, dan terus berbuat sebesar yang bisa dilakukan. Terlibat di tengah masyarakat dan secara tulus mendampingi mereka. Dengan jalan ini hidup kita menjadi nyata dan jauh lebih bermakna. Orang bisa saja mencela, tetapi kepercayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa intens kita ada di tengah-tengah mereka; tulus melayani, bermula karena peduli.

Semoga hidup ini, betapapun sederhananya, mampu memberikan inspirasi bagi sesama. Sebab kematian yang indah selalu menyisakan ‘keterangan kerja’ di belakang nama kita, seberapapun kecil kerja-kerja kebaikan yang telah dilakukan.”

– @dwiboediyanto | http://matahati01.wordpress.com/2013/06/20/mereka-yang-susah-dihapus-dari-ingatan-2/

dari titik saat ini kita berdiri, tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dari diri sendiri, bersyukur dengan apa yang sudah diberi, terus melakukan amal shalih berkelanjutan–sekecil apapun itu, serta bersinergilah. sebab kita ada karena kita bersama. 

Ruh

Ruh

BBM salah seorang murid pra tahsin pasca ujian hari ini,

ScreenShot1371379047489ed ScreenShot1371379065249ed

membayangkan kembali beliau beserta tiga ibu-ibu lainnya yang selalu bersemangat hadir setiap pekan, datang on time, selalu tekun menyimak dan tidak patah semangat walau berkali-kali salah (dan mengulang di level yang sama), menjadi peserta ujian yang datang awal, serta cerita-cerita hidup mereka yang membuat saya sesekali tersedak dan malu karena kurang bersyukur.. maka membaca pesan di atas benar-benar membuat pecah-belah-banjir: terharu. :”) adakah yang lebih membahagiakan daripada mampu merasakan nikmatnya Islam bersama-sama? :”)

ScreenShot1371379090343ed ScreenShot1371379098787ed

ya, mengingat sosok-sosok itu seringkali memberi energi sendiri untuk kembali menata dan memperbaiki diri lagi. sebagaimana semangat baru dan “aksi menampar diri sendiri” setiap kali menjawab pertanyaan-pertanyaan simpel adikpenuhsemangatitu soal cita-cita Qur’ani-nya,

ScreenShot1369563520722 ScreenShot1369715879500 ScreenShot1369715911522 ScreenShot1369563742103

ya, sebab Qur’an selalu memberi ruh yang berbeda atas setiap langkah kita, atas setiap cita rasa hidup kita..

“Setiap jiwa itu ada karatnya. Dan kenikmatan membaca Al-Qur’an sangat bergantung dari seberapa tebal karat di jiwa kita.” – Ust Abdul Aziz

semoga Allah selalu merahmatimu Bu, dek, dan kita semua, dengan Qur’an..