SS #2: Bintang dan Kereta

SS #2: Bintang dan Kereta

Langit Bulaksumur, Yogya, selepas Isya.

Malam ketiga setelah Lebaran.

 
“Shalaaah, Shalaah..”. Langkah Ibu terdengar berderap mencari. Ke mana gerangan anak itu? Sudah terlalu larut jika ia bermain di rumah pakdenya.
“Ah, rupanya kau di sini, nak..” Menghela nafas lega, Ibu mendapati buah hatinya tengah duduk di pendopo mungil favoritnya. Kepalanya tengadah, matanya menatap langit. Hanya sekilas ia menoleh saat ia dapati kedatangan ibunya.
“Sedang apa Shalah? Tidur yuk, besok pagi-pagi kita harus segera berangkat kembali ke Jakarta.” Perlahan Ibu menghampiri Shalah, duduk di sebelahnya.
Shalah bergeming. Matanya masih khusyuk menatap langit.
“Ibu, ada berapa banyak bintang di langit sana?”
Ibu tersenyum. Matanya ikut khusyuk menatap langit. Bulaksumur malam ini cerah. Tidak hanya berteman lengkung sabit sang rembulan, tapi juga gemintang.
“Dua puluh Bu?”
“Hmm..” berfikir, mencari jawaban terbaik.
“Seratus ya?” seperti biasa, tidak sabar.
“Lebih..” kali ini cepat jawabnya.
“Banyak ya Bu?”
“Iya..”
“Tapi kenapa cuma lima Bu, yang sinarnya sangat terang?”
Ibu menggali memori ingatan masa SMAnya tentang benda-benda astronomi. Gawat, terkubur dalam sekali rupanya.
“Karena jarak bintang yang lainnya terlalu jauh dari bumi, nak” ya, ya, sepertinya salah satu jawabannya seperti itu.
 
“Hmm, terus kenapa di rumah kita jarang sekali terlihat ada bintang, Ibu?”
“karena terlalu banyak asap dan polusi Shalah, sehingga bintang-bintang itu terlihat redup..”
“yaah, kasihan ya mereka..”
Ibu tertawa kecil, “Nah, sekarang Ibu mau tanya, Shalah udah siapin pakaiannya belum, untuk kita pulang besok pagi?”
Shalah mengalihkan perhatiannya dari langit, ganti menatap wajah ibunya. Ada sorot memelas di pancaran matanya. “Shalah nggak mau balik ke rumah Bu. Mau di sini aja..”
“Lho, kenapa? hari Senin kamu kan sudah masuk sekolah lho..”
“Shalah mau seperti bintang-bintang di sini saja Bu. Bisa terlihat terang. Menyenangkan siapa saja yang melihatnya.” Shalah kembali khusyuk menatap langit.
Ibu mengerutkan kening, ada apa dengan sulungnya ini?
 
“Bu, apa bintang-bintang yang jaraknya jauh itu pernah kesal dengan bintang-bintang yang jaraknya dekat? apa bintang-bintang yang di atas rumah kita pernah iri dengan bintang-bintang yang di atas rumah nenek? “
“hmm, Ibu rasa tidak..” hmm, baiklah nak, ibu turuti keinginanmu. “mereka telah menjalankan tugas mereka dengan maksimal; menerangi semesta dengan kadar yang mereka bisa. soal jarak dan ada tidaknya polusi, bukan urusan mereka..”
Shalah terdiam.
“bahkan, kamu tahu nak, banyak dari bintang itu yang sudah mati. tapi karena jaraknya yang saaaangat jauh dari bumi, cahayanya baru sampai ke kita. dan masih akan ada hingga beberapa lama.. hingga ratusan tahun cahaya..”
Kini Shalah mulai menoleh ke wajah bijak di sebelahnya. Ada separuh jawaban yang melahirkan separuh keheranan..
Ibu masih menatap langit, lirih lisannya bertutur, “kau bilang tadi ingin seperti mereka nak?” sekarang matanya beradu dengan mata Shalah, “jadilah anak yang baik, cintai Dia yang telah menciptakan kita, seedalam-dalamnya.. nurut apa yang Ayah dan Ibu bilang, belajar yang rajin, nggak boleh lagi iri-irian sama temen-temen di sekolah.. daan.. ayo sekarang kita siap-siap untuk kepulangan kita besoook..” Ibu berusaha menutup bincang malam itu seceria mungkin.
Shalah mulai tersenyum-senyum cerah, “Shalah juga bisa bersinar dengan sangat terang Bu, seperti mereka?”
“Iya, tapi nggak boleh sombong, kalau punya makanan di sekolah harus bagi-bagi yaa.. Ibu nggak mau denger kamu berantem lagi sama Wildan gara-gara rebutan roti.”
“Abisan Wildannya juga sombong Bu, mentang-mentang dapet nilai sembilan, padahal Shalah yang ngajarin..” wajah Shalah kembali merengut.
“Eh, hayo, inget kata-kata Ibu tadi? bintang aja nggak pake iri-irian. selain itu nak, ingat syair ini ya, merendah hatilah, maka kau akan menjadi bintang gemintang, berkilau dipandang orang di atas geliat air, dan sang bintang pun jauh tinggi..” lamat-lamat Ibu menyenandungkan syair favoritnya, sembari menatap Shalah tepat di bola matanya.
“jangan seperti asap, yang mengangkat diri tinggi di langit, padahal dirinya rendah-hina..*
Kau ingat Shalah, asaplah yang membuat bintang jadi tak terlihat di langit rumah kita.. tentu kita tidak mau menjadi asap yang menyebalkan seperti itu kan?”
sekarang mereka berdua tersenyum.
“Ayo Bu, kita masuk ke dalam, siap-siap!” Melompat dari pendopo, Shalah tersenyum senang. Ia selalu suka saat Ibunya mulai bersyair. Aktivitas favorit keduanya Shalah setelah senandung Qur’an tiap Shubuh yang lazim mereka lakukan bersama.
Ibu tertawa lebar mendapati lonjakan emosi anaknya. “Ayo, kita siapkan buku bacaan juga buat di kereta kita besok ya..”
Beriringan mereka masuk ke dalam rumah, bergandengan tangan.
“Wah, asiik, naik kereta lagi ya Bu? Pokoknya Shalah di pinggir jendela lagi ya Buu,, Aaah, Shalah sayaaaang sama Ibu..”
Melonjak-lonjak kegirangan, Shalah seperti lupa pada kegalauannya beberapa menit yang lalu. Meninggalkan Ibunya yang ganti termangu-mangu. Membawa sang Ibu pada cakap-cakap mereka sepekan yang lalu, saat keberangkatannya ke kampung halaman ibunya dimulai, dengan ular raksasa berlistrik itu.
“Bu, ada nggak di dunia ini kereta yang nggaaak ada habisnya? maksud Shalah, dia nggak berhenti-berhenti?” Bersisian mereka duduk, tentu dengan Shalah di dekat jendela. Sang Ayah tersenyum-senyum mendengar pertanyaan Shalah. Tapi sama seperti Shalah, ia lebih suka mendengar jawaban istrinya ketimbang jawabannya sendiri.
Ibu terdiam, memejamkan mata. Ia mengingat-ingat sesuatu.. Kemudian tersenyum. “Ada..” Seyumnya dalam, sembari bola matanya bergilir menatap tiga titik: luar jendela, mata Shalah, dan terakhir mata suaminya.
“Ada Bu?” mata Shalah membesar.
“Iya, ada, bahkan kereta ini bisa membawa kita ke syurga..”
“Waah, keren banget ya Bu.. Itu ada di mana Bu?”
Sekarang gantian sang ayah tersenyum-senyum. Ia ingat betul kata-kata ini.
“Ada di hati Ayah, Ibu, dan Shalah.” suara khas Ayah terdengar. Ia melipat koran paginya. Menatap mata istrinya dalam-dalam. Meninggalkan ketermanguan pada wajah Shalah.
“Karena, Shalah anakku yang shalih,” sekarang suara Ibu terdengar perlahan, seperti menjadi corong dari kata-kata yang menggema di hati Ayah, “Cinta adalah kereta; ia hanya bisa berjalan di atas rel kebaikan. Begitu kebaikan kita habis, kereta cinta juga berhenti berjalan.**”
 
Shalah menatap ayah ibunya bergantian. Entah apa, ada semacam kehangatan luar biasa yang menelusup di dalam dada Shalah, membuatnya riang menempuh keberangkatan. Perjalanan ini akan sangat menyenangkan. Pupus sudah semua kekhawatiran akan mudiknya yang pertama kalinya ini dengan kereta.
 
“Nah, sekarang, ayo kita berdoa, bismillahi majreeha wa mursaahaa inna rabbii laghafuurarrahiim..” Ayah memimpin doa, seiring bergeraknya perlahan laju kereta.
———————
—————————————————————————————————————-
*Ustadz Rahmat Abdullah
**Anis Matta
 
~merefleksikan kembali; tanpa kasih sayang Allah, sungguh kau bukan siapa-siapa
Depok, 2 September 2011
——————————————-
sebuah repost pengingatan: benar Fah, tanpa kasih sayang Allah, sungguh kau bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Maka bersyukurlah.
Advertisements