‘Uluwwul Himmah

‘Uluwwul Himmah

Setiap harinya bagi kita adalah tantangan, tapi bentuk dan kadar tantangannya seperti apa sangat ditentukan sejauh dan sebesar apa cita-cita kita. Bagi yang pergi kuliah ke kampus untuk sekedar mengisi waktu atau terlihat keren misalnya, tentunya akan menganggap kendala berupa jarak yang jauh atau ketiadaan transportasi adalah kendala yang sangat berarti. Tapi bagi yang berniat kuliah ke kampus untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, yang dengan begitu bisa mendapat bekal untuk berbagi pada masyarakat, ia akan menjadikan kendala jarak, ketiadaan transportasi, atau bahkan ketiadaan finansial sebagai challenge untuk membuktikan bahwa cita-citanya cukup mulia untuk diperjuangkan. Ia akan mencari solusi dan tidak stuck pada satu hambatan, meyakini bahwa akan ada jalan untuk mereka yang memang punya kesungguhan.

Hari-hari ini saya diingatkan kembali soal himmah, yang secara bahasa memiliki arti semangat atau cita-cita, tetapi secara maknawi setidaknya punya tiga makna: pertama adalah niyyah (niat), kedua adalah iradah (kehendak), dan ketiga adalah ‘azimah (tekad). Sebagai contoh, saya berniat untuk pergi ke seminar di Islamic Society of  San Francisco besok pagi, ia baru sebatas niat jika hanya sebatas lintasan pikiran, berubah menjadi kehendak ketika mulai direncanakan, dan berubah menjadi tekad ketika saya dengan kesungguhan mulai melakukan perjalanan naik bus dan BART menuju San Francisco.

karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut :) semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya
karena tidak semua bintang letaknya di langit. ada juga bintang laut 🙂 semuanya sama-sama ciptaan Allah, bertasbih pada-Nya.

Orang yang memiliki ‘uluwwul himmah atau semangat yang tinggi tidak akan mudah goyah ketika ada satu dua atau seribu kendala yang menghalangi cita-citanya. Ia tidak akan mengambil banyak keringanan-keringanan yang dengan begitu justru memperbesar peluang kemalasan atau berkurangnya rasa kesungguhan dalam dirinya. Bukankah manisnya perjuangan baru terasa ketika sudah lelah berjuang?  Di samping itu, ia akan memperbaiki kesalahannya yang lalu jika memang ia sadari itu sebagai penghambat bagi cita-citanya.

‘Uluwwul himmah tidak terbatas pada ‘kekerenan’ cita-cita yang tampak ‘wow’ dari segi materi, tapi ia disandarkan pada visi ukhrowi yang mungkin kadangkala jauh dari gemerlap dan tepuk tangan dunia. Adakalanya ia merajut impiannya di sudut yang sepi, kasat mata mungkin tak tampak, tapi manfaatnya bisa dirasa sejagat, jika tidak sekarang mungkin nanti. Pun jika harus berhadapan dengan tepuk tangan dunia, orang yang memiliki ‘uluwwul himmah juga harus bertarung dengan dirinya, dengan bisikan untuk riya’, ‘ujub atau sum’ah,  manakala ekspektasi orang membuatnya kehilangan arah karena tidak ingin membuat khalayak kecewa.

‘Uluwwul himmah akan membuat orang mampu memikul beban yang berat, terus mengulang-ulang dalam jiwanya untuk tidak sebatas berfikir tentang dirinya, tapi juga untuk orang lain. Hari-hari ini, ketika semakin banyak fenomena sosial yang membuat kening berkerut, mungkin sudah saatnya tidak lagi berfikir mendekap anak erat-erat saja di dalam rumah, mengurungnya agar steril dari ‘ragam kejahatan dan penyimpangan sosial’, mungkin sekarang saatnya saya, anda, kita semua berfikir ulang: apakah yang saya lakukan saat ini bagian dari perwujudan cita-cita yang mulia? Adakah ‘uluwwul himmah itu bersemi di dada kita?

Never Stands Alone

Never Stands Alone

Benak saya tergelitik ketika melihat Mata Najwa pekan kemarin. Episode bertajuk “Menatap yang Menata” itu merupakan salah satu episode yang paling saya tunggu-tunggu. Saya kesampingkan dulu semua teori bahwa media merupakan sarana pencitraan politik sesaat, saya hanya ingin menikmati harapan yang disajikan secara piawai oleh host bergaris wajah Arab itu, Najwa Shihab.

Meski terlambat mengikuti episode berdurasi 90 menit tersebut, saya bersyukur tidak tertinggal di sesi terakhir. Sesinya Bapak Walikota Bandung–yang akhir-akhir menyita banyak kalangan muda, termasuk saya, karena kreativitas dan keunikannya memimpin kota kembang tersebut. Gaya bicara dan jawaban beliau sederhana dan santai, lucu khas Sunda, tapi menukik dan tidak terkesan diplomatis-politis.

Sesi bincang-bincang ringan tapi bernada tajam itu membuat saya senyum-senyum; bandul yang bergerak di antara cemas dan harap, berdoa semoga beliau dikuatkan untuk mengemban amanah teresebut. Tapi ketika sesi itu berakhir dan lagu berlirik Inggris mulai terdengar sebagai soundtrack penutup, kening saya dibuat berkerut ketika melihat resume singkat seluruh pengisi acara di episode itu: Kang Emil dan dua pemimpin daerah yang namanya belum familiar di telinga saya, yakni Pak Suyoto (Bupati Bojonegoro) dan Pak Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng). Bantaeng di mana pula itu? Saya segera menoleh dan bertanya ke Bapak yang tidak jauh dari saya. Oh, Sulawesi Selasatan! Ah, malulah kau Fah, di mana ke-Indonesia-anmu itu? 😀 Syukurlah kau punya Bapak yang sudah menjelajah hampir separuh dunia.

Sepintas, saya membaca profil singkat mereka. Pak Nurdin dan Pak Suyoto adalah incumbent yang menurut versi Najwa mampu membawa banyak perubahan signifikan selama beliau berdua memimpin daerahnya masing-masing, berbeda dengan Kang Emil yang baru sekitar lima-enam bulan memimpin Bandung. Titik kesamaannya yang membuat saya tertarik adalah, latar belakang mereka bertiga yang tidak terlalu kental dengan aroma politik praktis, tapi justru akrab dengan dunia akademis dan profesi. Bertahun-tahun mereka membangun karir di dunia yang secara tidak langsung mendapat imbas dari efek besar politik suatu rezim, tapi tidak terlalu kentara benang keterlibatannya. Lantas, pertanyaan yang menggelitik benak saya saat itu adalah: bagaimana bisa orang-orang dengan tipikal lurus (saya sering menyebut para politisi praktis itu seperti pelaku jalan yang berkelok-kelok, :D) seperti itu mampu muncul ke permukaan dan memiliki kuasa atas wilayah tertentu, mampu bertahan cukup lama, dan membuat terobosan-terobosan baru yang bermanfaat bagi daerah yang dipimpinnya?

Saya merumuskan sebuah sintesa singkat yang menghasilkan kesyukuran tersendiri di otak saya; mereka mampu maju dan kemudian membawa banyak perubahan, pastilah bukan sebagai produk one man show atau titisan ksatria piningit-godotnya masyarakat Indonesia yang banyak mengendap di sebagian khalayak masyarakat. Tapi saya yakin, mereka adalah hasil kerja kolektif dan panjang yang telah dimulai oleh orang-orang terdahulu. Di balik mereka, masih ada, masih banyak bahkan, orang-orang baik yang kuat, yang berusaha keras, memupuk kesabaran untuk menempuh jalan panjang, memelihara bibit-bibit penerus yang diharapkan akan membawa perubahan di masa depan, tidak berhenti berharap semoga Tuhan berkenan membuka pintu-pintu takdir kebaikan. Akumulasi orang-orang baik, berani mengambil resiko, yang bersatu, kemudian bertemu momentum itulah, kemudian kita sebut dengan kemenangan. Kemenangan bersama.

Because, the winner never stands alone. 

Jangan pernah meremehkan sekecil apapun kontribusi kebaikan kita untuk cita-cita kebangkitan negeri ini. Meski hanya dengan terus mendukung orang-orang baik, berani, untuk tetap kuat di pos-pos perbatasan penjagaan negeri ini. Pos perbatasan yang mungkin sekedar membayangkan untuk menempatinya saja kita tidak berani..

juru kunci

juru kunci

Sesi terakhir  itu menjadi momen pamungkas dari keseluruhan rangkaian seminar di hari itu. Tensinya cenderung melunak, berbeda dari beberapa topik sebelumnya yang membuat peserta seminar mengurut dada dan menggelengkan kepala. Sesi yang diisi oleh dua bapak-bapak kebapakan itu menjadi topik kunci yang terasa sangat real. Real untuk menjadi solusi atas banyak penyimpangan sosial yang dibahas di sesi sebelumnya.

“Sebagian pecandu narkoba itu bukanlah dari kalangan anak-anak yang tidak pernah shalat dan mengaji. Tapi anak-anak yang pernah shalat dan mengaji, tapi mengalami kebosanan. Orang tua sekedar menjadi timer, nggak bisa jadi partner dan entertainer. Rumah sekedar menjadi terminal. Tahu kan ya terminal? di terminal manapun orang seringnya numpang lewat, pas ada bisnya datang, ya langsung pergi. Nggak ada itu rapat di terminal, kecuali petugas terminalnya kan?” Anggukan audiens diiringi tawa kecil, membenarkan bapak berusia tiga puluhan berkacamata itu. Sejak duduk di tingkat satu kuliah, saya beberapa kali mengikuti acara yang diisi oleh Bapak tersebut. Gayanya belum berubah, masih kocak, satire, tapi substansinya mendalam. Meskipun sudah beberapa kali mengikuti kajian bapak-bapak yang akrab dipanggil Ustadz Bendri ini, baru dua kali saya mengikuti kajian bertema parenting yang beliau bawakan, termasuk momen seminar di sudut Tebet itu.

“Oleh sebab itu, di dalam Islam itu dikenal konsep ‘al-ummu madrasatul ula wal abu mudiiruha. Ibu adalah madrasah/sekolah pertama, dan ayah adalah kepala sekolahnya. Apa saja tugas kepala sekolah? Ada tiga, pertama menyamankan sekolah (membuat Ibu nyaman). Ibunya nggak usah dibuat pusing besok makan apa, biar fokus menjalankan fungsinya sebagai guru. Kedua, menetapkan visi dan misi. Ketiga, menjalankan evaluasi.” paparannya sekali lagi membuat saya dan audiens yang hadir mengangguk-angguk.

Usai giliran Ustadz Bendri dengan segala bawaan khasnya yang kocak, berlanjut ke pembicara kedua, seorang bapak yang saya taksir usianya sudah menginjak kepala empat. Bagi para penonton film Sang Murabbi pastilah akrab dengan wajahnya, sang pemeran alm. Ustadz Rahmat Abdullah. Pak Irwan Rinaldi, lulusan Psikologi UI yang pernah berpindah profesi dari pengajar di UI menjadi pengajar TK Islam itu menuturkan sepak terjang dan ikhtiarnya di dunia’perayahan’.

Ada satu kisahnya yang membuat saya semakin bersyukur telah diberi kesempatan hadir di forum tersebut. Kisah penutup yang membuat saya tercenung beberapa saat: bahwa peran dan tanggung jawab orang tua adalah salah satu peran kunci yang menentukan baik dan buruknya suatu bangsa.

Di medio 1995, saat Perang Bosnia mulai berakhir, Pak Irwan menjadi salah satu relawan yang pergi ke sana. Di tengah musim salju yang membekukan tubuh, datang kepada beliau tiga orang anak kecil, kakak beradik dengan usia kakak tertuanya 6 tahun. Refleks, Pak Irwan menyodokan beberapa coklat untuk menghangatkan tubuh. “Dengan naif saya saat itu memberikan cokelat, karena memang wajarnya begitu kan. Tapi apa jawab anak tertua itu? ‘Terima kasih Pak atas cokelatnya, tapi jauh-jauh kami ke sini bukan untuk cokelat. Kami ingin al-Qur’an. Sudah lama kami tidak membaca al-Qur’an.”

keep planting..

keep planting..

Pagi yang masih cerah. Bincang-bincang dua rakyat jelata. 

Sebuah pesan WA masuk dari gadis ‘satu marga’ itu . Link singkat yang merujuk ke sebuah artikel panjang tentang salah seorang kepala daerah.

“Udah baca ini?”

“Beberapa kali lihat kutipannya, tapi belum baca sampai tuntas. Kenapa Fraw?”

“Makin nggak ngerti dengan dunia ini, Fah. Nggak tau diri ini musti jadi apa untuk bisa mengubah kondisi serunyam ini.”

beberapa menit.

“Aku baru selesai baca. Satire, hehe. Dapat perspektif lain, ada benernya mungkin, tapi sebagian terlalu ‘membunuh’ optimisme. Jadi ‘cukup tau aja’, yang nulis sosialis sih :p. Ya kali, revolusi. -_- revolusi yang nggak selesai jadinya kayak di Mesir. Negara dalam negara..” tulisan panjang itu ditulis oleh orang berkebangsaan asing, dari nama dan backgroundnya saya jadi punya gambaran awal kira-kira latar apa yang mendorongnya menulis setajam itu.

“cuma fakta di balik permukaan itu bikin aku nggak habis pikir.. tapi memang ‘sabar itu harusnya nggak ada batas :)’ Kalau mau ada perubahan, memang harus sabar dalam membenahi hal-hal yang prinsipil dulu. Nggak bisa dapat hasil yang cepat. #katatarbiyahbegitu”

“terlalu naif kalau kita menutup mata dari kepentingan bisnis. ****** dan **** terlalu “too good to be true”. Cuma aku jadi kebayang Kang Aher dan Kang Emil aja.”

“yup, sama..”

“Arus yang mereka hadapi deras, tapi apa kemudian kita juga apatis sama mereka?”

——————————————————————————————-

siang yang terik, menyimak bincang ringan seorang kepala daerah yang ditemani istrinya itu dengan presenter berita tivi biru.

“Kenapa anda meminta kekuatan?” presenter tivi dengan nadanya yang khas itu bertanya kepada perempuan berkerudung di hadapannya.

“.. karena kalau sudah terjun itu kan harus berenang. Kalau berenang harus sampai di tempat tujuan, sementara arusnya sangat deras. Itulah kenapa saya mohon (pada Allah) kekuatan (untuk Kang Emil)” Atalia Praratya, istri Walikota Bandung Ridwan Kamil itu menjawab lugas.

adakah yang lebih buruk daripada pencuri harapan dan optimisme? maka menjaga keduanya–harapan dan optimisme adalah salah sumber energi terbesar agar terus bergerak dan memberi, dan terus berharap pada Allah yang tidak akan menyalahi janji-Nya. 

“Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Dari Balkon Atas

Dari Balkon Atas

Malam itu adalah kedua kalinya saya menyaksikan lobby DPR dan ruang sidang penuh, bukan oleh wakil rakyat yang lazim dan seharusnya ada di sana. Setelah riuh rendah di balkon ruang sidang paripurna ketika pengesahan UU APBN-P beberapa waktu yang lalu–yang berimplikasi terhadap kenaikan harga BBM, saya kembali menyaksikan bahwa salah satu cara termudah untuk memobilisasi massa dalam waktu yang relatif singkat, dengan emosi yang terpancing adalah dengan menyinggung hak dasar: pangan.

Ada sekitar seratus sampai dua ratus orang yang menyemut di lobby utama gedung Nusantara I, dengan mayoritas bergaya khas eksekutif dan berpakaian rapih. Cukup membuat saya dapat menyimpulkan perkara apa yang sedang saya coba pelajari malam ini. Bapak-Bapak maupun Ibu-Ibu kisaran 40-50an, lajang maupun gadis dengan kisaran usia 20-30an, sampai anak-anak yang dibawa orang tuanya. Raut muka dari wajah-wajah yang mayoritas bergaris oriental itu menyiratkan emosi yang tengah memuncak: marah bercampur kesal. Sebagian beradu argumen dengan bagian keamanan, bersikeras masuk ke ruang balkon di lantai atas yang juga sudah penuh sesak.

Saya bolak-balik menelpon salah satu rekan di kantor yang sudah stand by di balkon atas. Beberapa kali merapikan blazer, berusaha meyakinkan petugas keamanan bahwa saya punya hak untuk masuk. Begini memang serunya bekerja atas nama kantor, tanpa menggunakan banyak akses khusus (kecuali pintu masuk di lantai basemen :D), saya jadi belajar artinya berjuang meraih sesuatu. Nyaris putus asa karena pamdal tidak juga memberikan izin masuk, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung bersama kerumunan nasabah yang menyemut di depan ruang rapat Komisi XI. Di hadapan mereka ada layar besar yang menampilkan kondisi ruang rapat yang masih riuh, rapat dengar pendapat itu belum juga dimulai. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mungkin kira-kira ini seperti ini pula situasi detik-detik jelang bail out Bank Century–setidaknya seperti itu yang digambarkan oleh Bang Tere dalam novel fiksi politiknya, :D, ratusan nasabah yang datang dan menuntut harta mereka dikembalikan. Sayangnya Thomas hanya tokoh rekaan, sementara chaos sosial ekonomi serombongan orang di depan saya adalah serupa nyata, ilustrasi bahwa negeri ini benar ada di ujung tanduk.

Beberapa menit berdiri di jejeran nasabah, tiba-tiba handphone bergetar, suara rekan kantor di seberang sana mengabarkan bahwa akan ada pamdal yang akan menemani saya untuk memberi jalan masuk. Benar saja, “Mbak Afifah?” seorang pamdal menghampiri saya.

“Benar Pak,”

“Mari Mbak,”

Bergegas saya mengikuti pamdal tersebut. Dalam hitungan menit, tibalah saya di balkon yang memang sudah penuh, suasana riuh. Usai bertegur sapa dengan rekan sekantor yang sudah di sana, segera saya mencari celah untuk sekedar berdiri menyimak dan mencatat hal-hal penting. Tidak lama kemudian terdengar suara tegas sang ketua komisi, pertanda rapat sudah dibuka, dan menyebut satu persatu pihak-pihak yang hadir.

Saya mulai sibuk mencatat, cukup banyak ternyata yang hadir. Ketua Komisi yang didampingi oleh beberapa anggota Komisi XI, OJK, BKPM, Satgas Waspada Investasi, DSN MUI, Kabareskrim Polri, Deputi Gubernur BI, dan dua aktor utama malam itu: direktur dua perusahaan investasi (atau jual beli?) emas yang diduga melakukan penipuan pada nasabahnya.

Rapat dengar pendapat dimulai dengan mendengarkan penuturan direktur perusahaan pertama (sebutlah perusahaan A). Logat Melayu yang kental, penjelasan yang berusaha terang tapi tetap terdengar separuh khawatir, dan sahutan memojokkan dari orang-orang di sebelah saya membuat saya menggeleng-gelengkan kepala.

“Jadi apa yang anda maksud dengan jual beli emas fisik syariah?” seorang anggota Komisi memotong penjelasan direktur berkebangsaan Melayu itu. “Karena yang saya tahu, adalah ijab-kabul di tempat, fisik barang diserahkan, setelah itu selesai. Tidak dikenal apa itu kewajiban menyerahkan “athoya”. Bonus hanya dapat diberi ketika ada untung, tidak ketika rugi.”

“Jadi izin apa yang anda punya untuk membuka usaha di sini Pak?” pertanyaan selanjutnya dari anggota yang lain.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih dijawab dengan jawaban-jawaban yang membuat saya mengernyitkan dahi. Tidak ada izin. Mekanisme yang menyimpang dari prinsip-prinsip syariah..

Belum lagi ketika direktur perusahaan kedua (sebutlah perusahaan B), giliran menjelaskan. Penuturan seorang Bapak tua dengan suaranya yang terpatah-patah: direktur utama sebelumnya melarikan diri dengan membawa sejumlah uang nasabah, ketidaktahuannya bahwa ada transaksi non-fisik emas yang sebetulnya dilarang dalam Islam, diserahkannya jabatan direktur utama padanya oleh presiden komisaris, tanggung jawab yang harus dipikulnya untuk berusaha mengembalikan semua modal awal nasabah dan athaya (bonus) pada semua nasabah. Simpulan singkat di kepala saya saat itu: bapak tua yang awalnya perwakilan Dewan Syariah Nasional MUI untuk mengawasi perusahaan investasi yang mengatasnamakan syariah itu tidak lain adalah tumbal perusahaan.

“Alaah, bilang aja, udah dimakan uangnya sama dia!” seorang ibu muda bergaris wajah oriental yang duduk di sebelah saya menggerutu keras. Wajahnya kesal.

“Ibu nasabah dari **** juga?” saya bertanya pelan sambil mencoba tersenyum maklum. Beberapa menit rapat berlangsung, perlahan saya dapat terus maju ke bagian depan balkon, mendapat posisi yang tepat untuk menggali banyak informasi dari nasabah. Mencoba melihat duduk perkara dari ragam sudut.

“Iya Mbak, saya nasabah **** dan ****.”

“Inves banyak juga ya Bu, di sana? Udah ada bonus yang dibayarkan ke Ibu belum sepanjang masa kontrak?”

“Iya Mbak, udah sebagiannya, tapi sejak bulan Maret sampai sekarang belum dibayar. Janji-janji aja itu direkturnya mau dibayar, bohong tapi! Udah, saya mah nggak ngarepin bonusnya, asal modal awal saya udah balik aja, udah gapapa.” Beruntut ibu itu bercerita. Saya melihat ke ibu muda di sebelahnya, wajah khas Jawa. Belakangan saya tahu, ratusan nasabah yang hadir sekarang bukan hanya dari Jabodetabek, tapi ada yang dari daerah yang jauh di seluruh Indonesia. Mereka yang mengorbankan jarak yang jauh dan waktunya sampai selarut itu untuk menuntut kejelasan harta mereka.

Sementara di bawah, kesempatan memberi penjelasan di antara perwakilan lembaga terkait sudah dipergilirkan. BKPM yang mengaku hanya memberi izin sebatas izin prinsip, bukan izin usaha, dan lantas segera memberi peringatan kepada perusahaan A yang telah melanggar izin yang berlaku, OJK yang lepas tangan karena mengaku bukan merupakan ranah dan kewenangannya, Kabareskrim yang sebatas bertanggung jawab terhadap ranah yang sudah jelas pidana, serta ketidakjelasan sebetulnya perkara ini ada di ranah siapa, menambah kekecewaan para nasabah.

“Kasus ini sebetulnya simpel aja kan, perdagangan komoditi, ada penjual tidak transparan (bahkan ilegal-pen), dibungkus oleh nama syariah, pembeli yang mudah percaya. Sudah, ini penipuan.” seorang anggota dewan menyimpulkan.

“Udah, ditangkap aja Pak!” lelaki berpakaian eksekutif di belakang saya berteriak . Gerutuan dan sahutan bernada keras lainnya bersahutan. Telinga saya panas.

Mendadak, terdengar suara keras dari deretan anggota. “Saya peringatkan ya! Ini lembaga terhormat! Kalau sekali lagi ada yang menjelekkan atau ribut, kita tutup saja rapat dengar pendapat ini! Petugas keamanan, mohon ditertibkan yang ribut-ribut itu!”

Sontak balkon hening. Bisik-bisik terdengar, “sudah, biarkan aja bapak itu. kita jadi tahu kan mana yang bela rakyat mana yang nggak.”

“Fungsi anda sebagai pengawas mana selama bertahun-tahun perusahaan itu menjalankan usahanya?” masih pertanyaan yang memojokkan entitas ulama di Indonesia itu.

“Habis gimana ya Mbak,” Ibu-ibu di sebelah saya kembali bercerita, “kita mah percaya aja kalau sudah pakai asas syariah, ada izin dari MUInya juga. Okelah kita ini bodoh. Tapi kalau bisa ada yang dilakukan pemerintah supaya ke depannya nggak ada lagi yang kayak gini ini. Saya juga pesimis sebenernya uang saya bisa balik, tapi kalau misalnya dipenjara, setidaknya bisa ngasih efek jera buat yang lainnya.”

Saya mengangguk-angguk (lagi-lagi) mencoba tersenyum maklum, plus miris. Penjara?

Miris melihat kata ‘syariah’ dan ‘Islam’ menjadi jatuh martabatnya karena tindakan oknum, mungkin juga didukung ketidaktahuan, mismanejemen.. dan kecenderungan umum masyarakat untuk mendapatkan uang dalam waktu yang relatif cepat tanpa banyak berpeluh. Asumsi awal saya sedikit satire, karena mengetahui bahwa untuk membeli sebatang emas bukanlah dengan jumlah uang yang sedikit, dan orang-orang banyak ini rela ‘mempertaruhkan’ puluhan hingga ratusan juta untuk kembali mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu yang relatif singkat. Tapi ketika melihat wajah-wajah lain dari daerah jauh yang juga harap cemas, saya melebarkan rentang asumsi: mungkin ini bukan sekedar pemenuhan kebutuhan tersier, tapi juga bisa jadi hidup mati mereka, uang yang dikumpulkan sekian lama dan untuk kebutuhan primer/sekunder mereka. Untuk makan, sekolah anak-anak mereka, mungkin, atau untuk membangun rumah yang lebih baik untuk keluarga mereka.

Malam sudah semakin larut, sebagian nasabah sudah ada yang menyerah dan lelah dengan semua perdebatan berputar-putar, tanpa ada kejelasan bagaimana ujung nasib dari uang mereka. Saya melirik jam, sudah saatnya segera pulang. Setelah mengirim pesan kepada rekan sekantor yang masih memungkinkan untuk tinggal lebih lama, saya bergegas pamit pada ibu-ibu di sebelah, dan membalikkan langkah, menuruni tangga keluar.

Terngiang komentar singkat seorang kawan ketika rusuh BBM beberapa bulan lalu menimbulkan pro-kontra  di banyak kalangan. Pencabutan subsidi yang berefek pada melambungnya harga-harga. Saya sedikit kesal atas komentarnya yang cenderung pro terhadap pencabutan subsidi dan lebih memprioritaskan alokasi dana untuk sektor lain.

Kira-kira begini komentarnya, “Yang penting harus ada itu karakter untuk terus berjuang di tengah kesulitan, bukan hanya terus diberi kemudahan dan akhirnya justru melenakan”

Beberapa bulan kemudian saya baru faham, ketika meletakkan komentarnya dalam perspektif kasus investasi emas ini, saya mengakui bahwa ada kalanya kecenderungan untuk mendapat banyak keuntungan/kesenangan dengan sedikit peluh usaha dan dalam waktu yang relatif singkat, akan pelan-pelan berubah jadi bumerang yang memukul kita sendiri.

Kunci kebahagiaan ada pada kesyukuran, kunci kesyukuran ada pada ketundukan pada Maha Pemberi Rezeki, kelapangan yang muncul setelah bekerja keras mengikhtiarkan kebaikan-kebaikan.

Mengingat kejadian malam itu, telinga saya yang panas ketika melihat Islam dan para elit lembaga diolok menjadi teguran dan pembelajaran tersendiri bagi saya, kalau belum bisa banyak memberi kontribusi positif untuk bangsa, mudah-mudahan saya tidak turut serta dalam penghancuran apa-apa yang telah dibangun oleh para penyeru kebaikan, oleh para pejuang kemerdekaan.

Because We Want to Go Far!

Because We Want to Go Far!

Saya membayangkan, seandainya ada empat orang sahabat semasa kuliah, sebutlah misalnya Ahmad, Ismail, Yusuf, Andi, di empat bidang keilmuan yang berbeda, dan akhirnya selepas lulus memilih empat lahan kontribusi yang berbeda juga, maka kolaborasi kebaikan di antara mereka berpeluang besar akan menjadi sesuatu yang unik dan terus memberi gelombang perbaikan.

Ahmad yang mendalami kapasitas syari’ah sekaligus keilmuan eksak akhirnya memilih menjadi dosen–penjaga kemurnian ilmu yang meluruskan, kemudian Ismail yang berlatar belakang sosial bergerak di dunia LSM–pembela garis terdepan grass root, Andi yang mendalami dunia bisnis dan perusahaannya–sipil yang mengkonstruksi, dan Yusuf dengan kapasitas hukumnya bergerak di dunia penegakan hukum–tangan yang ‘destruktif’ (menghancurkan keburukan), tercebur dalam sistem, melihat dan terlibat langsung ke sebuah bagian yang paling sering diserang masyarakat sipil.

Suatu waktu mereka berkumpul lagi, atau mungkin dalam satu lintas komunikasi mereka berbincang, tarik menarik dan saling mengkritik dan mengingatkan, pada akhirnya mereka saling memahami: tangan setiap mereka terlalu kecil untuk memperbaiki negeri tercinta sendirian, karenanya mengumbar senyum dan semangat–seberat apapun beban di pundak atau sekesal apapun dengan fenomena di hadap, itu lebih baik daripada menghujat dan berdebat.

Ya, bahwa di luar maupun di dalam sistem ada tantangannya, itulah sebab terus melihat visi besar bersama di depan akan lebih menguatkan dan menjaga langkah tetap beriringan, bukan saling sikut dan menyalahkan..

seperti yang diungkapkan dalam sebuah quote, “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together”

Kantung

Kantung

Miniarta M04, Depok, 19.30 WIB.

“Kau adalah jantungku… kau adalah hidupku, lengkapi diriku..”

Suara pas-pasan bocah berusia delapan tahun di pintu angkot itu membuat Sal tersenyum-senyum, antara lucu dan prihatin.  Ia menggeleng-gelengkan kepala. Baru beberapa menit yang lalu duduk di sebelahnya balita perempuan manis yang keras-keras menyanyikan lagu orang dewasa, sementara ibu yang memangkunya hanya bisa mendengarkan. Sesekali Ibunya memeluk erat sambil berujar, “diam ya sayang..”.

Serupa dengan yang ia alami ketika melihat bocah pengamen di pintu angkot itu, Sal tidak bisa menahan senyum gemas ketika berkali-kali suara mungil itu berdendang riang di sampingnya. Ingin menyapa seperti pada kebanyakan anak-anak kecil yang ia jumpai di angkot, “siapa namanya dek? mau pulang yaa?“, tapi urung ketika dilihatnya wajah ber-make up tebal Ibu dari balita itu tampak sembap.

Ia coba alihkan perhatiannya ke buku bahan ajar kerjanya: “Tanya Jawab Hukum Perkawinan dan Perceraian”, tapi fokusnya masih terpecah ingin melihat, menyapa, mengusap kepala balita itu.. serta bertanya pada ibunya, “ada yang bisa saya bantu Bu?” 

Sesekali melihat buku, sedikit mencuri pandang ke wanita di sebelahnya, kebingungan memulai pembicaraan. Sekian menit, akhirnya hanya senyum terlebar dan tertulus yang bisa ia lempar ke pasangan Ibu dan anak itu. Menatap mata sembap ibunya sambil berdoa kuat-kuat dalam hati, “Semoga Tuhan kuatkan dirimu Bu, apapun masalahnya..”. Eh, sebentar. Semenit sebelum akhirnya Ibu tersebut mengetuk atap angkot yang menandakan permintaan berhenti, sontak Sal teringat suatu benda penting di tasnya. Terburu-buru ia mencari, yak, dapat! Maju mundur tangannya bergerak hendak menyorongkan benda penting itu, pada sang anak.. sepersekian detik.. dan terlambat. Mereka terlanjur turun.

Ah, kau Sal, kenapa jadi teramat pengecut begitu? Sal memarahi dirinya sendiri. Rasanya ini yang kesekian kalinya pada hari ini ia merasakan pendar kepengecutan itu bersemayam dalam dirinya.

Satu adegan ujian keberanian itu sudah ia lewati dengan gagal  pagi tadi.

———————————————————————————————————————

Commuter Line Bogor-Jakarta, 07.30 WIB. 

Berdiri di area yang aman dari desakan penumpang, Sal yang melompat dari pinggir peron dengan keriangan membuncah kebingungan ingin membagi senyum pada siapa. Pagi tadi, entah kenapa cerah sekali cuaca lahir dan batinnya. Dalam keadaan normal, pada situasi di mana orang-orang yang ia temui adalah yang ia kenal, dengan energi full seperti itu Sal bisa berubah menjadi kelinci yang melompat ke sana ke mari. Sekedar menularkan kebahagiaan yang ruah di jiwanya. Tapi melihat wajah-wajah datar dan tampak-menyambut-depresi yang berada di sekitarnya saat ini, mendorongnya untuk mengambil bukunya, membacanya dengan wajah riang, sendirian. Batinnya bertanya, bagaimana bisa setiap harinya orang-orang ini menjalani pagi sendirian saja? Dengan wajah tanpa semangat seperti itu?

Sampai tiba-tiba, “Bu, Ibu, ada bakpaonya nggak?” setengah berbisik pelan, perempuan berusia empat puluh tahunan persisi di sebelah kirinya memanggil sosok lain yang berjarak setengah meter dari tempat mereka.

Lho, mereka kenal? Apa tadi? Bakpao?

Sosok yang jadi sasaran pertanyaan adalah perempuan berusia empat puluh tahunan pula, berjilbab, dan yang unik dan membuat Sal faham kemudian adalah melihat jinjingan besarnya yang ia bawa dengan hati-hati. Sal berhasil melihat penuh wajahnya yang menoleh riang, “ada Bu..”

“Ya Allah, udah lama banget ya Bu, nggak jualan…”

Sambil bergeser dan bergerak pelan, transaksi itu akhirnya dilangsungkan. Bukan cuma bakpao, tapi juga risol, kue cokelat, dan penganan kecil yang biasa dilahap untuk mengganjal perut para commuter hawa ini, yang mungkin berangkat dari rumahnya saja masih dalam keadaan gelap, dan hanya sempat berberes sejenak tanpa sempat menyiapkan sarapan pagi. Dan, Oo! Rupanya ibu ini sudah dikenal akrab oleh para penghuni gerbong: satu, dua, lima, sepuluh, sayap kiri dan sayap kanan, yang duduk dan berdiri.. satu persatu isi jinjingan sang ibu penjual bakpao berkurang, diiringi bincang akrab dan pendek antara beliau dan penghuni kereta lainnya. Sesekali mata mereka melirik ke kanan dan ke kiri, khawatir ada petugas yang mendapati kegiatan ilegal itu, tapi di mata Sal, pemandangan itu mengesankan.

Gadis berwajah tirus itu tersenyum lebar, ternyata penghuni gerbong ini tidak se-zombie yang ia bayangkan sebelumnya. Ia melirik isi dompetnya, kemudian perang batin. Ah, sayangnya hanya tersisa selembar uang berwarna merah, yang kemungkinan besar hanya akan menyulitkan ibu-ibu ini kalau aku transaksikan. Tapi  bukankah itu cara terbaik untuk mengajaknya berkenalan? Menggali sisi lain dari perekat manusia-manusia berwajah datar dan tanpa semangat yang ia temui setiap pagi ini. Sal mencari wajah Ibu penjual bakpao, ingin melempar senyum lebar dan bertanya, “sudah lama Bu berjualannya? Wah, kreatif sekali ya Bu. Nanti Ibu berhenti di mana? Hati-hati  ya Bu.. ” 

Sudahlah, cepat beli, mumpung masih ada waktu dan kesempatan, besok belum tentu ada lagi.. tapi bagaimana kalau ketahuan petugas? Di mana integritasmu sebagai anak hukum?

Sekian menit dalam keraguan, akhirnya Sal ter-skak-mat oleh pintu kereta yang terbuka, dan pampangan nama di depannya: Cikini. Ia sudah tiba, dan harus turun. Fiuhh. Semoga masih ada kesempatan kedua.

Langkahnya pagi itu tetap riang dan cepat, masih ada energi positif yang harus ia bagikan pagi ini, sebelum segalanya menguap sia-sia terendam keegoan pribadi yang terasa makin hingar saja.

Ting. Lantai lift terbuka, pintu bernomor 301 itu berayun, dan rentetan narasi itu mengalir, “Assalamu’alaikum Mbak Liliii, gimana kabarnya pagi ini Mbak? Mbak, tadi aku.. ”

Terasa ada yang lepas dan melegakan dalam jiwa Sal. Bahkan hanya dengan sekedar melihat Lili, satu-satunya rekan sekantornya itu tersenyum senang dan mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Ia tidak bisa mendefinisikan itu apa, hanya perasaan lebih hidup ketika ia masih mendapati kemampuannya berbagi dengan sesama. Mengobati kekesalannya pada diri atas kepengecutan dan keraguan di scene sebelumnya.

_________________________________________________________

Miniarta M04, Depok, 19.35 WIB.

“Oh sayangku kau begitu.. sempurna..”

Bocah ini pintar sekali mencari lagu dan interval nada yang sesuai dengan berhentinya angkot di ujung trayek. Lihatlah, sebentar lagi topi yang digunakan olehnya akan dibuka menghadap ke atas, siap menerima recehan dari penumpang yang hendak turun. Sal yang masih tak habis pikir dengan deret lagu-lagu di atas umur milik pengamen cilik itu hanya bisa mengerutkan kening berpikir keras, bagaimana bisa berharap banyak pada generasi mendatang kalau perusakan mental itu dilakukan sejak, bahkan, sebelum anak-anak ini mengenal baik makna dari kata ‘sempurna’?

Sal menyiapkan amunisinya. Kali ini harus berhasil. Ia melirik beberapa logam receh yang tersisa di tas, dan.. benda penting yang urung ia berikan pada balita manis beberapa menit yang lalu.

“Makasih Mbak, Bu..”, bocah berpipi gembil itu menyerahkan topi terbukanya, pluk. Amunisi usai ditembakkan.

Sal mengulum senyum. Posisinya yang berada persis di dekat pintu membuat ia bisa lebih bebas menilik reaksi si bocah pengamen yang masih bertengger di pintu angkot. Senyumnya semakin lebar ketika ia mendegar pembungkus amunisi spesial itu dibuka: Beng-beng terakhir hasil kompetisi bersama kawan-kawan sekantornya. Karena bersisa banyak, mereka bersepakat membagikan semuanya ke kalangan tidak mampu yang sering mereka temui di jalanan, dan Sal memutuskan membaginya ke manusia-manusia muda yang sering jadi korban eksploitasi manusia tua yang tak bertanggung jawab. Bingkisan kecil memang, tapi bisa jadi spesial ketika penerimanya juga adalah kelas terberat penggemar cokelat: anak-anak.

Kepala Sal mendekat ke arah belakang telinga bocah pengamen itu, hatinya sudah menyiapkan kata-kata terbaik untuk sedikit mengejutkan bocah yang seharusnya ada di rumah, mengerjakan PR dan menyiapkan persiapan untuk sekolahnya besok. Ah, yakinkah kau bahwa dia bersekolah?

Satu, dua.. ayo, Sal, katakan, katakan sesederhana itu saja, “jangan lupa baca doanya dek, dan buang sampah di tempatnya ya,” dan setelah itu tersenyum lebar setengah jahil yang sering kau lempar untuk adik-adikmu. apa susahnya sih?

pada akhirnya,–sekali lagi, Sal hanya melepasnya dengan senyuman terbaik ketika mata polos bocah itu menengok sejenak ke belakang, mencari sosok yang telah menyelamatkan perut laparnya yang belum diisi nasi dari siang, menghapus kerinduannya akan cokelat–yang ia lupa kapan terakhir kali melahapnya, serta mengurangi sedikit beban pikiran dari hantu target harian yang harus ia kejar.. 

Sal masih mendengungkan kuat-kuat dalam hati, semoga kelak kau jadi anak baik-baik dek, ah, tidak hanya baik-baik, tapi juga harus kuat. ya, baik dan kuat.. 

Terlintas di benaknya kata-kata Dina, kawan dekatnya semasa kuliah dulu yang mendalami ilmu psikologi. “Pada dasarnya setiap manusia itu punya kantung kasih sayang, Sal, sehingga merupakan fitrahnya untuk dapat berbagi agar kantung itu berfungsi sesuai asalnya. mencari isi dan menuangkan kembali isi kantung itulah, yang membuat manusia bisa benar-benar ‘hidup’.. ” 

Kalau begitu, ia benar-benar harus pandai mencari jeda yang menghidupkan sebelum rutinitas yang ia temui membunuh kepekaan sosialnya secara perlahan..