Inspirasi Dari Google

Inspirasi Dari Google

Ada beberapa inspirasi yang saya dapat dari mengunjungi kantor Google kemarin, meskipun hanya bagian luarnya saja yang saya dapat lihat, tapi cukup mengesankan.

di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View
di depan salah satu gedung perkantoran Google, Mountain View, bersama Android Marshmallow

Di balik sebuah hal “sederhana” yang seringkali kita jumpai setiap hari, kita ambil manfaatnya tak terhitung lagi dan bahkan menjadi istilah yang populer dalam dialog sehari-hari (“googling” aja!), ada sebuah kompleksitas sistem yang raksasa. Saya takjub ketika melihat komplek perkantoran Google yang ternyata luass sekali, dan memiliki banyak gedung (yang saya juga tak sepenuhnya faham fungsi tiap gedungnya, haha).

Tapi dari sana saya belajar: tampilan boleh sederhana dan sangat user friendly, tapi jangan lupa bahwa untuk menjadi satu hal yang bermanfaat dan berimplikasi besar, butuh kerja keras dan kerja banyak tangan yang saling berpilin bersama-sama, mencapai tujuan yang sama.

di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollypop
di depan patung-patung Android berbagai versi, dari Cupcakes sampai Lollipop

sdr

Sampai sekarang saya belum tahu mengapa Google memberi nama atau sebutan makanan untuk berbagai macam versi Androidnya, tapi kalau saya ambil hikmahnya: salah satu hal yang membuat orang menjadi lebih akrab dengan barang yang awalnya asing adalah ketika barang asing tersebut diperkenalkan dengan nama yang sehari-hari dijumpai, disukai dan bahkan dibutuhkan. Dalam hal ini, Google menggunakan nama-nama makanan yang sering dijumpai oleh masyarakat pada umumnya.

Google menciptakan Android yang kini sangat common digunakan oleh para pengguna handphonetanpa melihat strata sosial atau secanggih apa handphonenya. Ketika kita berfokus pada fungsi dan tujuan, maka tools akan mengikuti dan sangat fleksibel serta mampu diterapkan siapa saja.

Dalam skup menciptakan hidup yang tak sekedar hidup, saya yakin seorang muslim punya hal yang lebih berharga untuk diperjuangkan dengan cara-cara ala Google yang “basyiran wa nadzira, yassir wa laa tu’assir.”

means (2)

means (2)

“Kemewahan” bisa menjadi sangat relatif bergantung situasi dan seberapa besar kita mensyukurinya.

Setelah hampir 5 bulan di US, akhirnya saya berhasil membeli tempe pesanan dan mengolahnya sendiri. Membelinya pun tidak mudah, karena tidak banyak orang (dalam hal ini WNI) yang mengorbankan waktunya untuk berfokus membuat tempe, dan kemudian menjualnya dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi yang rutin. Kalau di Indonesia bisa dengan mudahnya menemukan sepotong tempe di tukang sayur, di pasar, setiap pagi setiap hari, orang-orang Indonesia di sini harus menunggu ketika ada yang membuatnya dalam jumlah yang massif, atau kalau punya waktu luang membuatnya sendiri dengan kesabaran yang ekstra: mengupas kulit kedelainya satu persatu, menunggu raginya berfungsi dan berubahlah kacang-kacang itu menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Jawa (saya baru tahu kalau ternyata tempe tidak terlalu digemari di dataran Sumatera :D).
Setelah memesannya lewat Mbak Tatin, seorang ibu baik hati yang membeli tempe dari produsen tempe yang berlokasi di San Jose (dari lokasi tempat tinggal saya ke San Jose dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam – 2 jam, lumayan yah), akhirnya tibalah 4 potong tempe tersebut di tangan saya. Mengulang kembali rutinitas masakan paling ringkas yang sering saya olah di Indonesia: tempe kecap. Pertama mencicipi tempe tersebut, rasanya enaaak, masyaAllah. 😅 Padahal resepnya biasa saja, pakai penyedappun tidak. Entah, apa mungkin karena faktor waktu memakannya setelah saya berpuasa seharian. Tapi sepertinya lebih disebabkan karena sulitnya menemukan panganan tersebut, menjadikan makanan sederhana tersebut terasa berbeda di lidah, lebih (me)wah. Harganya pun 10x lipat dari di Indonesia😅 Alhamdulillah ala kulli hal.. 😊

Bang San Thai, adalah nama resto Thailand halal favorit kami yang berlokasi di San Francisco. Pertama kali mencicipi panganan di sana ketika kami baru mendarat di tanah Paman Sam, dan dijemput sekaligus dijamu oleh Mbak Wiwid, seorang ibu baik hati berputra empat yang sudah bertahun-tahun tinggal di US untuk menemani suaminya yang bekerja di sini. Rasa hidangannya yang mengingatkan pada tanah kelahiran membuat kami (saya, suami dan Azima) berulang-ulang (setidaknya 2 minggu sekali) bertandang ke sana. Pun meski tidak mudah menjangkaunya dengan kendaraan umum, kalau sudah ingin sekali mencicipi nasi goreng dan sup tom kha di sana, jalan menanjak dari Islamic Society of San Francisco (tempat kami biasa shalat kalau sedang berperjalanan ke SF) sepanjang 1 KM pun kami tempuh jua. Dalam kondisi dingin, berangin, lelah menanjak dan berjalan, mencicipi masakan kaya rempah itu rasanya nikmaat benar. MasyaAllah..

Akira, adalah nama bocah berusia 11 tahun yang ditinggal pergi ibunya dengan kondisi sangat kekurangan, dan harus menjaga 3 orang adik-adiknya yang masih kecil. Ketika akhirnya kiriman uang dari ibunya tidak kunjung tiba, air dan listrik diputus dari pusat dan membuat mereka harus menjalani hari-hari di sebuah kamar sempit apartemen yang tidak layak untuk ditempati. Kertas pun menjadi penghibur yang dikunyah Shigeru, sang adik, karena tidak kuat menahan lapar. Shigeru yang rajin memeriksa kolong tempat kembalian minuman kaleng, kalau-kalau ada receh yang ditinggal pembeli dan bisa dikumpulkan untuk membeli sepotong nasi. Yuki, adik bungsu berusia 4-5 tahun yang akhirnya wafat karena tidak tertolong setelah jatuh dari kursi, sebab kakak-kakaknya tak punya cukup uang untuk membawanya berobat, pun harus menunggu cukup lama untuk dikuburkan (dan jenasahnya dimasukkan ke koper) di tanah yang jauh dari keramaian. Kisah nyata tentang kakak beradik di Jepang yang diangkat ke dalam sebuah film humanis berjudul “Nobody Knows” itu menyentil kesadaran saya betapa seringkali saya luput memperhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi suatu “kemewahan” untuk orang lain.

Ya, bahkan sebuah “kesyukuran” bisa menjadi suatu hal yang “mewah”.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Di antara beberapa destinasi wisata di California yang selama beberapa waktu terakhir saya kunjungi, Lake Tahoe adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena bentangan alam yang indah sepanjang perjalanan ke sana, terpenuhinya rasa penasaran melihat dan merasakan salju seperti apa, tapi proses perjalanan panjang ke sana sebagai backpacking family ternyata meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

 Terletak di antara state California dan Nevada, Lake Tahoe terbagi menjadi dua bagian besar yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri, yaitu North Lake Tahoe dan South Lake Tahoe. Berdasarkan informasi dan rekomendasi dari beberapa ibu-ibu di sini, North Lake Tahoe menjadi pilihan karena di sana masih terdapat salju dikarenakan kondisi geografisnya. Di samping pertimbangan waktu (dan dana tentunya :D) yang terbatas, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan sulit ditemui di daerah lain, khususnya tidak bisa dijumpai di negeri asal kami. Tentu saja salju adalah poin lebih yang kami incar selaku manusia-manusia khatulistiwa 😀

Berikut adalah jejak dokumentasi yang saya tuliskan sebagai bentuk sharing bagi ayah-ibu dengan balita yang berkesempatan pergi jauh ke sana tanpa kendaraan pribadi dan tanpa rombongan tour. Terasa benar travellingnya! 🙂

Setelah tertunda-tunda selama beberapa weekend, akhirnya berangkatlah kami Sabtu pagi pekan kemarin. Pukul 5 pagi sudah berjalan keluar rumah menuju ke pool Amtrak (kereta antar kota dan state di Amerika) di San Francisco, dengan kondisi Azima diangkat dalam kondisi tertidur. Tiket sudah kami pesan langsung ke loketnya satu hari sebelumnya.

Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak
Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak

Ohya, kalau ada credit card, tiket Amtrak bisa dibeli melalui online di situsnya langsung, dan ternyata memang lebih murah dan eksak tujuannya daripada kita membeli di loketnya. Kenapa eksak? Karena  meminimalisir bias pelafalan dan pendengaran dari dua komunikan seperti yang terjadi pada kami: suami saya menyampaikan “Truckee, Lake Tahoe” (lokasinya di North Tahoe) kepada petugas loket, sedangkan petugas hanya mendengar, “Lake Tahoe”, (which is lokasinya di South Tahoe). Kesalahan pemesanan ini baru kami sadari ketika sudah tiba di rumah, alhamdulillah bisa diatasi via telepon dan membayar langsung keesokan harinya.

Salah satu kekurangan dari perjalanan dengan kendaraan umum adalah harus bersedia menyediakan waktu lebih banyak untuk antisipasi keterlambatan dan bersedia untuk sambung menyambung beragam kendaraan dan agak sedikit berputar jaraknya daripada langsung dengan kendaraan pribadi.

Tapi syukurnya, berperjalanan jauh dengan Amtrak menimbulkan kesan tersendiri karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah, bentangan savana, bukit, gunung serta laut ala Amerika. Layanan serta fasilitas di Amtrak pun tergolong memuaskan untuk ukuran perjalanan antar kota jarak jauh.

penampakan Amtrak dari luar
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak, yey, kami sudah nyaris sampai!

Dalam cerita kami, ada spare waktu sktr 5 jam “sekedar” untuk hal-hal di atas tadi: kami keluar rumah jam 5 shubuh, naik bus dari Alameda ke SF, tiba di SF jam 6 pagi. Kemudian menaiki bus thruway (semacam penghubung) dari SF ke stasiun Amtrak di Emeryville jam 8, dari Emeryville berangkat jam 9.30, tiba di  stasiun Amtrak Truckee jam 14.38 disambut oleh hawa segar tapi dingin yang menusuk kulit. Sayangnya, 14.38, adalah 8 menit setelah bus lokal (TART, Tahoe Area Local Transportation) berangkat meninggalkan kami, sebuah bus yang baru datang sejam sekali :D.

Alameda-Tahoe
Alameda-Tahoe

Setelah menunggu bus sejam kemudian, berangkatlah kami dari Truckee, sebuah kota di wilayah utara Lake Tahoe, dan tiba di Tahoe City Inn, tempat penginapan yang kami pesan melalui booking.com jam 17.00.  Harapan kami untuk segera mendapatkan kehangatan setelah berjalan kedinginan nyaris buyar ketika kami ditolak oleh resepsionis karena tidak punya credit card sebagai bentuk jaminan. Meskipun pembayaran bisa melalui cash, tetapi tampaknya di sini (Amerika), alas dasar kepercayaan bagi sesama stranger adalah uang :(, dalam hal ini credit card. 

Setelah berfikir beberapa saat dan mencari penginapan lain di internet yang ternyata juga penuh, akhirnya Kak Jay mencoba menghubungi kawannya, Mas Jimo, sesama tim dari iGrow yang syukurnya bisa dipinjam sementara akun CC-nya. (Big thanks to Mas Jim0-Mbak Ayun! 🙂 ). Setelah coba diproses, alhamdulillah, akhirnya kami tidak jadi terlunta-lunta kedinginan mencari penginapan sepanjang jalan yang mau menerima kami, :D.

Suasana Lake Tahoe di senja hari sangat indah, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Indonesia. Meski dengan suasana dan hawa yang berbeda, serta penjagaan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih tertib daripada di Indonesia. Terlintas di fikiran saya, bahwa bentangan alam dan daratan yang Allah berikan untuk Indonesia dan Amerika adalah sama-sama blessing. Tapi bukan tanpa hikmah juga tentunya ketika Allah memilih ras, agama, dan sejarah manusia-manusia yang hidup di atasnya (begitu) berbeda. And yeah, I’m still loking for that hikmaaat.. 

di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi
di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi

-to be continued-

 

why do bad things happen?

why do bad things happen?

Di pengajian dwi pekanan east bay beberapa hari yang lalu, ada salah seorang Ibu muda yang bercerita bahwa terdapat sekitar 40 % masyarakat Amerika yang menenggak pil penenang sebagai obat anti depresi. Selain itu, dua profesi yang marak dan menempati profesi papan atas di sini (US) adalah psikiater dan divorce lawyer. 

Saya tercenung mendapati fenomena tersebut. Di sebuah negara yang diagung-agungkan sebagai negara pelindung kebebasan dan hak asasi manusia, nyatanya jiwa masyarakatnya kering. Di sebuah negara yang mewajibkan car seat untuk anak-anak demi keselamatan, sayangnya tidak ada “pengaman jiwa” anak-anak berupa kasih sayang yang meneduhkan dari kedua orang tuanya.

Teringat di benak saya penjelasan salah satu muslim scholar, Ustadz Nouman Ali Khan, tentang hakikat musibah dan bagaimana seharusnya orang beriman menyikapinya. Beliau mencoba mentadabburi salah satu ayat al-Qur’an yang membahas soal musibah, yakni surat Al-Baqarah ayat 155-156.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mushibah, atau jika ditarik ke akar katanya, “ashaba”, bermakna “headed target”. yang berarti setiap peristiwa buruk yang menimpa setiap manusia, sifatnya khusus, spesifik, dan tidak persis sama dengan manusia lainnya. Maka tidak tepat apabila kita dengan mudahnya men-judge sebuah peristiwa buruk yang terjadi di masa sekarang (kecuali di zaman dahulu yang secara jelas sudah Allah terangkan alasan dan hikmahnya dalam al-Qur’an) dan menimpa orang lain, dengan standar penilaian kita. Misalnya, “tuh kan kehilangan mobil, Allah pasti murka sama kamu karena kamu blabla..”

why

Rasa sedih dan takut yang lahir dari lintasan kejadian-kejadian buruk yang menimpa kita, adalah wajar adanya. Tapi jika kita menilik kembali ayat-ayat Allah di atas, kita akan lebih mudah dan lapang hati menerima kenyataan buruk tersebut. Dalam konteks ayat tersebut, Allah menyampaikan “wa basysyirish-shaabiriin”, “dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, atau dengan kata lain, “congratulate the people who have shabr”.

Kapan kita mengucapkan kata, “selamat ya!”? Tentu ketika ada kabar gembira bukan? Misalnya ketika kita berhasil diterima di perguruan tinggi favorit yang kita inginkan, ketika bayi yang kita nanti selama berbulan-bulan akhirnya lahir dengan selamat, atau ketika berhasil mencapai sebuah prestasi tertentu. Lantas mengapa ketika ada musibah, kemudian Allah memerintahkan untuk mengucapkan selamat?

Sebab ternyata ujung dari segala kejadian buruk atau musibah yang menimpa kita, tidak lain bertujuan untuk menjadikan kita orang yang sabar. Ketika kita berhasil menjadi orang yang sabar, maka kita pantas untuk mendapatkan ucapan “selamat”. Dari siapakah? Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan kata “wa basysyir” yang berarti kata perintah untuk satu orang. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa yang diperintahkan untuk mengucapkan selamat pada orang-orang sabar dalam ayat tersebut adalah Rasulullah SAW. :”)

Pernah kita merasa bangga ketika dipanggil oleh atasan di kantor, atau kepala sekolah, dekan atau rektor atas prestasi yang berhasil diraih. Terbayangkah ketika di akhirat kelak, Rasulullah sendiri yang menyampaikan pada kita, “selamat ya, telah menjadi orang yang sabar.” 🙂 MasyaAllah… Hal ini mengingatkan saya pada keindahan janji Allah dalam surat ar-Ra’d ayat 22-24,

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

size-500x500

Lantas, siapakah orang yang sabar itu? Ialah orang ketika ditimpa musibah, secara refleks mengatakan, “innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” Aksi reaksi yang muncul secara spontan, tidak butuh waktu untuk meratapi keadaan terlebih dahulu, tapi secara refleks langsung menyadari bahwa, we have nothing. We own nothing. We are from Allah. All things that we have are from Allah, gift from Him. So why do we complain? 

It’s not easy anyway. But it’s worth it.

Ketika kita sadar bahwa pada hakikatnya kita tidak punya apa-apa, rasa lapang akan lebih mudah menjalari hati kita dan mengimbangi rasa sedih yang wajar muncul akibat rasa kehilangan. Tapi insyaAllah, karena kita tersadar kembali big picture yang Allah SWT ingatkan dalam buku petunjuk-Nya: kita cuma transit, kebahagiaan sejati ada di akhirat nanti, daya lenting kita untuk move on akan muncul lebih cepat, dan lebih kuat.

Angka-angka tentang banyaknya orang yang depresi dan menenggak pil penenang niscaya tidak akan meningkat. Kekurangan, kesalahan dan perbedaan pendapat dengan pasangan akan lebih lapang kita sikapi, dan tidak berujung pada keretakan rumah tangga yang berdampak pada retaknya jiwa sang anak.

Tentu di samping adanya kesadaran penuh bahwa musibah adalah ujian untuk melatih kita menjadi orang yang sabar, kita juga harus mengimbanginya dengna sisi lain bahwa ujian juga adalah untuk membuat kita belajar, bahwa bisa jadi ada kesalahan yang memang kita lakukan, atau ketidaktaatan kita pada aturan main-Nya. Pada akhirnya, Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. He loves people who listen to Him. He loves people who trust in Him. He cares for them. 

Wallahu a’lam. 

*Referensi: Khuthbah Nouman Ali Khan, Why Do Bad Things Happen. 

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

Akhir pekan kemarin (20 – 21 Februari 2016) menjadi salah satu momen berharga bagi saya, sebab Allah beri kesempatan untuk saya dapat belajar lebih luas dan dalam tentang Islam. It’s a blessing, sebab berbeda dengan  di Indonesia (Jakarta dan Depok tepatnya) di mana saya sangat mudah menjumpai kajian keislaman dengan berbagai topik yang diisi dengan ustadz yang berkapasitas di bidangnya (serta gratis), mengisi kembali gelas ilmu yang kosong atau menguap di pikiran saya merupakan hal yang harus diperjuangkan di sini.

Pertimbangan jarak, dana, dan Azima menjadi hal yang membuat saya maju mundur ingin ikut berpartisipasi atau tidak, ketika melihat brosur acara seminar yang diisi oleh Syeikh Yasir Qadhi, bertajuk “No Doubt: God, Religion, & Politics in The Modern World”. Kak Jay yang pada saat yang sama juga ada acara mabit bersama teman-temannya pun menyerahkan pada saya untuk ikut atau tidak. InsyaAllah beliau tidak berkeberatan soal dana yang akan beliau kucurkan untuk kebutuhan ilmu istrinya, asal dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan lebih efisien dalam penggunan dana di hari-hari selanjutnya.

brosur seminar "No Doubt" yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda
brosur seminar “No Doubt” yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda

Syukurnya lokasi mabit Kak Jay tidak terlalu jauh dari lokasi acara, sehingga pertimbangan jarak bisa dicoeret. Setidaknya menempuh perjalanan selama dua jam dengan BART dan bus tidak akan saya lalui seorang diri.  Adalah Anin dan Mbak Arin, dua orang kawan saya yang berhasil meyakinkan saya untuk ikut acara tersebut. Anin, high quality single muslimah yang sedang S2 di UK ini sering jadi tempat saya konsultasi soal hidup di luar negeri, khususnya negara Barat. Sedangkan Mbak Arin, lulusan S1 Teknik Sipil ITB yang kini sudah menjadi ibu muda dengan 3 orang anak, serta sudah menyelesaikan jenjang S2nya di Univeristy of California Davis sudah lebih dulu registrasi ke seminar tersebut dan meniatkan membawa tiga putra-putrinya ke lokasi acara. (Yeah, they’re very inspiring, indeed!) 

Mereka berdua menyarankan saya untuk ikut karena merupakan kesempatan yang langka dapat menimba ilmu dari syaikh sekelas Syaikh Yasir Qadhi, sosok keturunan Pakistan yang lahir dan besar di Amerika, serta memiliki kemampuan untuk memberikan wawasan keislaman yang terkombinasi secara unik: antara Universitas Madinah dan Yale University. Menurut cerita Mbak Arin, ada salah seorang temannya yang jauh-jauh terbang dari Seattle ke San Jose untuk mengikuti seminar tersebut. Saya jadi semakin terpicu untuk mensyukuri keberadaan saya yang tidak terlalu jauh dari San Jose, untuk hadir di seminar tersebut.

Kekhawatiran lain berupa tanggung jawab meng-handle Azima alhamdulillah bisa dihapus dengan ketersediaan childcare di lokasi acara. Meskipun harus menambah biaya lagi, saya bersyukur Azima dan saya bisa sama-sama fokus: sang bunda fokus menyimak seminar, sang anak fokus bermain dengan teman-temannya 😀

From “the Quest for ‘real Islam'” to ”Divine Law and Modern Governance”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam dari tempat saya tinggal, tibalah kami di lokasi acara, MCA (Muslim Community Building), San Jose, California. Auditorium yang lumayan besar tersebut (lebih kurang seukuran AJS FISIP UI ) terisi penuh sampai belakang, dengan audience dari ragam suku bangsa dan terikat agama yang sama.

Materi selama dua hari dengan durasi perharinya sekitar 8 jam tersebut diisi seorang instruktur, tidak lain adalah Sh Yasir Qadhi sendiri, dan dibagi menjadi 5 modul utama.

*disclaimer: ulasan materi di bawah ini dipahami dari seorang perempuan yang bahasa Inggrisnya masih tergolong standar (belum advanced gitu :D), bisa memahami inti konteks dari sebuah speech, tapi agak kesulitan mengurai detilnya dalam bahasa Indonesia. Actually, the genuine speech is much better than this review*

Pembahasan dimulai dari hal yang paling mendasar seputar aqidah Islam, The Quest for Real Islam, yang membahas beragam theologies yang ada di dalam Islam itu sendiri, yakni Khawarij, Mu’tazila, Zaidiyah, Syiah Itsna Asy’ari dan Sunni.

Kemudian berlanjut ke modul kedua, Faith and Reason, yang tak lain merupakan komparasi antara Islam dan beragam kepercayaan yang lahir sebelum dan sesudah (atheism, new atheism dan western theists). Hal yang menarik dari pembahasan beliau di antarnya ketika beliau berusaha mengkomparasi argumentasi dari paham atheist: kalau memang Tuhan itu ada, mengapa terjadi bencana besar, seperti tsunami yang meluluhlantakkan sebuah bangsa dan menelan korban jiwa? mengapa ada anak-anak yang menderita kelaparan di berbagai belahan dunia?

Menjawab pertanyaan tersebut, beliau menuturkan bahwa di antara hikmah  ada musibah atau bencana besar yang melanda manusia, adalah untuk melahirkan sisi kemanusiaan itu sendiri: dari mana akan lahir sifat dermawan, saling berbagi, kalau tidak ada lagi yang kelaparan? Selain itu, peristiwa buruk yang menimpa kita sejatinya adalah untuk menaikkan derajat kita di surga, dan menghapus segala dosa-dosa kita. Ujian juga sesungguhnya merupakan sarana untuk mengkoneksikan kembali jiwa kita pada Allah. Mengutip kekata Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “The divine decree related to the believer is always a bounty, even if it is in the form of withholding (something that is desired), and it is a blessing, even if it appears to be a trial, and an affliction that has befallen him is in reality a cure, even though it appears to be a disease!”

Seringkali pula Tuhan dan agama menjadi ‘kambing hitam’ atas segala pertikaan dan peperangan di dunia ini. Dengan tegas Sh Yasir Qadhi membantah, “human history told us, that the greatest war, greatest harm in the world has nothing to do with religion.” Beliau mengambil contoh peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, adalah buah dari ketamakan manusia-manusia yang well educated, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada masa tersebut).

http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html
http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html

Pola penjajahan atau peperangan besar di dunia memiliki karakteristik dua pihak yang konstan: between (west) civilization and uncivilization. Saya berfikir dan coba mengingat ragam perisitiwa besar yang terjadi dan secara siginifikan mengubah tata dunia, dan ya, akarnya seringkali adalah ego manusia, wajah lain dari megalomaniak yang me-negara.

Di lain pihak,  ada ragam argumentasi lain yang berasal dari ilmuwan Barat, seperti argumentasi soal moralitas, argumentasi soal Consciuousness, Higher Purpose (Transcendence), dan Beauty, yang keseluruhannya mewakili argumentasi bahwa Tuhan itu ada. Seperti argumentasi dari Augustine of Hippo, salah seorang teolog Barat, yang berkata, “Who made these beautiful changeable things, if not one who is beautiful and unchangeable?” 

Argumentasi-argumentasi tersebut secara komprehensif terrangkum dalam ajaran Islam. Secara retoris Allah SWT bertanya dalam QS. Ath-Thur ayat 35, “Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”, dan yang barangkali seringkali kita dengar, “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk: 3-4) 

Keberadaan Nabi dan Rasul yang Allah SWT utus dengan beragam mu’jizat juga menjadi bagian dari argumentasi yang menggenapkan segala kejanggalan yang tidak bisa dijawab oleh argumentasi-argumentasi Barat.

Jauh di atas itu semua, ada senjata rahasia yang menjadi pamungkas dari berbagai argumentasi tersebut, hal paling mendasar yang inheren dalam jiwa kita: setitik fithrah yang sudah Ia titipkan ke setiap manusia. Fithrah yang menuntun setiap manusia menemukan Tuhannya dan mengajarkan bahwa pada dasarnya jauh di dasar lubuk manusia, ia butuh hal mendasar bernama moralitas (bahwa membunuh dan mencuri adalah hal yang dilarang dan disepakati seluruh manusia), ia sadar bahwa ada Dzat yang Maha Esa yang mengatur segalanya.

“Fithrathallahillatii fatharannasa ‘alaiha — This is the fithra that Allah created mankind upon” (QS. Ar-Rum: 30-30)

Sayangnya, fithrah bukanlah sesuatu yang terus menerus konstan seperti OS dalam sebuah gagdet. Ia bisa terus menerus terjaga selama manusia berikhtiar untuk menjaga diri dengan aturan main-Nya, dan bisa juga corrupted jika manusia semena-mena membebaskan nafsu syahwatnya.

“And verily for everything that a slave loses there is a substitute, but the one who loses Allah will never find anything to replace Him.” Ibn al-Qayyim

–bersambung–

A-ba-ta-tsa in Alameda

A-ba-ta-tsa in Alameda

Hari ini genap sebulan saya dan keluarga kecil saya tinggal di US. Refleksi yang cukup lengkap tentang bagaimana kami tinggal di sini alhamdulillah sudah dituliskan oleh bapak komandan, di sini. Tulisan ini sekedar melengkapi satu dari sekian pembelajaran yang saya dapati, dan mudah-mudahan menjadi bekal untuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Salah satu pembelajaran tersebut adalah mendapat challenge berupa mengajar mengaji seorang anak perempuan berusia 5 tahun dengan bahasa Inggris.

Setiap kali ditanya oleh orang, “Jadi Ifah di sana ngapain aja?”, saya tersenyum-senyum sambil berfikir. Iya, apa hal bermanfaat yang bisa saya berikan pada orang lain, di samping memastikan keluarga kecil saya terjaga kesehatannya lahir dan batin, mengurus hal-hal domestik teknis kerumahtanggaan dan mendampingi masa-masa emas si kecil Azima?

Kalau di Indonesia ada banyak pilihan pekerjaan yang bisa saya lakukan di samping sebagai full time mother (membantu mengurus pembinaan di kampus, menjadi pengajar al-Qur’an dan pengurus LTQ yang Ibu saya bangun, ikut les, seminar ini dan itu sembari mempersiapkan S2), kondisi merantau dengan ketiadaan keluarga dan mahalnya daycare membuat pilihan pekerjaan yang sifatnya kontributif jadi tidak terlalu banyak. Sebab ke manapun saya pergi ada tangan kecil yang akan selalu mengikuti, Azima. Di tambah dengan jarak dari satu tempat ke tempat lainnya yang tergolong jauh, mobilitas saya jadi agak terhambat karena ketiadaan transportasi pribadi (dan kemampuan mengendarainya :D).

“..keberadaan kita di suatu tempat adalah pilihan Allah. Oleh karena itu saya begitu yakin, di manapun Allah menempatkan kita, di situlah Allah menginginkan kebaikan bagi kita.” – Mbak Kiki Barkiah

Refleksi Mbak Kiki di atas, seorang ibu beranak lima yang pernah mengalami masa perantauan di California selama beberapa tahun tersebut agaknya memang benar.

Tentunya bukan tanpa maksud Allah mempertemukan saya dengan Ibu kontrakan (pemilik paviliun yang saya tempati sekarang), yaitu seorang Ibu keturunan Padang yang sebaya dengan Bu Lik atau tante saya, bersuamikan orang Mesir yang sudah menjadi WN Amerika serta memiliki dua anak perempuan lucu-lucu dan pintar. Putri pertamanya bernama Noureen (yang berarti Nuur ‘Aini = cahaya mata), berusia lima tahun, dan Janna Rose (Mawar Surga, sang ibu menuturkan bahwa spelling-nya juga bisa menjadi generous = baik hati, dermawan) berusia 3 tahun. Keduanya lahir dan besar di sini, sehingga first language mereka adalah English.

Kesibukan sang ayah bekerja dan sang ibu mengurus setumpuk pekerjaan rumah tangga membuat kedua putri cilik tersebut belum diajari membaca Al-Qur’an. Terpikirlah di benak saya, barangkali inilah ladang pembelajaran dan mudah-mudahan bisa menjadi ladang amal pula semasa saya tinggal di negeri yang tidak meletakkan pengajaran agama dalam kurikulum sekolah negerinya.

Alhamdulillah gayung bersambut setelah saya coba tawarkan kepada sang Ibu, apakah berkenan sekiranya saya bantu mengajar ngaji anak pertamanya.

Mengajar anak-anak tentulah berbeda dengan mengajar orang dewasa. Sepengalaman saya yang masih sedikit dalam mengajar al-Qur’an, saya belum pernah mengajar anak-anak dari nol, kecuali Azima yang saya sudah perkenalkan dengan flashcard hijaiyah dan diakrabkan langsung dengan talaqqi langsung dari saya, bacaan dan lantunan al-Qur’an.

Sesulit apapun mengajar orang dewasa yang baru mengeja huruf hijaiyah, saya masih bisa dengan perlahan menjelaskannya dalam bahasa Indonesia, contohnya untuk huruf ‘dal’, “iya Bu, lidahnya diangkat dan dipertemukan dengan gusi dekat gigi atas bagian dalam ya.” Nah, kira-kira bagaimana menjelaskannya dalam bahasa Inggris? 😀

Tentu harus lebih disederhanakan ya. Setelah bertanya-tanya pada orang-orang yang lebih pengalaman, berdiskusi dengan kak Jay dan mengingat bagaimana Ibu mengajari saya dan saudara-saudari di masa kecil, akhirnya bi idznillah saya memutuskan untuk bereksperimen sendiri berbekal ilmu yang saya tahu.

Dengan waktu yang terbatas (kurang dari empat bulan lagi kami akan berada di sini), frekuensi belajar yang saat ini baru sepekan sekali (selama kurang lebih 45 menit setiap pertemuan), serta sulitnya mencari source modul pembelajaran untuk anak-anak pemula (iqro’, qiroati, metode ummi, dll), saya memilih membeli modul Qur’an Made Easy melalui Amazon.

Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat
Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat

Awalnya agak canggung mengajar dengan bahasa Inggris, tapi seiring waktu berjalan, ide-ide improvisasi itu bermunculan saja ketika momen mengajar berlangsung.

Saya mencari akal bagaimana mencari asosiasi yang mudah dengan huruf-huruf ‘asing’ tersebut, “This is like you call your daddy!”

“Dal!”

“and your mommy?”

“Mim!”

“Like you exhausted after loonngg running,” (saya menirukan nafas terengah-engah dengan makharijul huruf ‘ha’ tipis)

“Ha!

“and this one?” (saya memasang wajah terkejut)

“Waww””

and so on, so on.

Keberadaan papan tulis hitam dan kapur warna-warni juga saya optimalkan sebisa mungkin dengan menulis huruf-huruf hijaiyah dan membuat tebak-tebakan untuk Noureen, serta memintanya untuk menuliskan huruf yang saya sebutkan. Saya juga memanfaatkan lagu-lagu (nasyid) anak-anak yang bertebaran di youtube, yang konten lagunya adalah huruf-huruf  hijaiyah.

Alhamdulillah Allah karuniakan kecerdasan intelektual yang lebih di atas rata-rata bagi Noureen, sehingga di usia 2 tahun sudah pandai membaca dan berbicara dengan artikulasi yang jelas. Begitu pula ketika saya ajarkan huruf-huruf hijaiyah, daya serapnya sangat cepat dan ia dapat mengingat serentetan huruf bisa jadi untuk Noureen tampak sangat asing.

Meskipun pada beberapa huruf yang spelling-nya memang tidak lazim digunakan di sini, seperti ‘kha’, ‘dha’, butuh waktu lebih lama daripada huruf-huruf lainnya, Noureen tampak antusias untuk terus belajar.  Keberadaan flashcard hijaiyah yang saya bawa dari Indonesia untuk bekal belajar Azima pun syukurnya sangat bermanfaat untuk games tebak huruf, sehingga Noureen lebih enjoy menikmati pembelajaran (thanks to Eza yang sudah menawarkannya ke saya :)) . Ketika mengalami kesulitan dan Noureen tampak overwhelmed, saya putar kembali nasyid hijaiyah dan bernyanyi bersama. Begitu seterusnya sehingga tidak terasa waktu belajar sudah habis.

Saat ini saya dan Kak Jay sedang berusaha mengatur waktu agar intensitas pertemuan bisa lebih sering, setidaknya tiga kali sepekan. Jadwal ini dipengaruhi pula oleh jadwal kepulangan Kak Jay dari kantor, sebab selama saya mengajar, Kak Jay-lah yang akan menemani Azima bermain.

Mungkin apa yang saya lakukan terlihat sederhana, dan kadangpula ketika saya tengah stuck atau kehabisan ide kreativitas bagaimana mengajar gadis cilik tersebut, saya membayangkan jika suatu saat, dengan izin Allah, Noureen kelak menjadi cahaya mata tidak hanya bagi orang tuanya, tapi juga bagi masyarakat Amerika yang rindu akan fitrah kemanusiaannya. Aamiin.

worth it

worth it

Setelah heboh bolak-balik kamar dan ruang pantry, minta spaghetti berulang-ulang, mengulang ipin-upin di youtube yang sudah serial keberapa–tapi tidak serius juga ia lihat, melempar-lempar mainan, mengobrak-abrik pakaiannya di lemari, mengikuti gerak bundanya ke manapun pergi, akhirnya gadis cilik itu lelah juga dan tertidur. Ada masanya di mana saya hanya bisa terdiam sejenak ketika tangisannya yang minta diperhatikan atau minta sesuatu–yang saya belum paham, meraung di telinga. Dengan kondisi fisik saya yang sedang melemah karena adaptasi cuaca, ada keinginan untuk berjarak sejenak dengan batita yang beberapa bulan lagi genap dua tahun usianya. Tapi saya tahu, terdiam bukanlah solusi akhir atas keriuhan yang tiap harinya ia ciptakan. Tapi saya tahu, masa-masa di mana ia mengikuti saya ke manapun pergi pasti akan berlalu juga, berganti dengan munculnya dunia baru untuk seorang anak perempuan yang beranjak dewasa, dan mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk melepasnya ketika ia berpindah tanggung jawab pada lelaki yang kelak jadi imamnya. Tapi saya tahu, kelucuan-kelucuan dan tawanya yang riang mengajak saya bermain cilukba atau kuda-kudaan akan berlalu juga, berganti keasikan dengan dunia maya atau buku-buku favoritnya. Tapi saya tahu, ciuman-ciumannya untuk mengajak saya bermain ketika saya tak kuat menahan kantuk karena kelelahan seharian, akan berganti dengan izin pulang agak malam karena ada kesibukan sekolah atau kampusnya. Dan ketika masa itu tiba, saya akan sangat merindukan masa-masa di mana 24 jam sehari saya selalu bersama gadis kecil itu.

so, all messiness in motherhood thing is worth it.

bunda sayang azima :)
bunda sayang azima 🙂

So I pray, yes I pray
‘Cause I know the life I want
When it’s hard I keep working
I’ll never give this up
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end
Because I know it’s worth it in the end
I know it’s worth, worth, worth
Worth it in the end

(“Worth It – Harris J)