“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

“No Doubt” Seminar: a review (part 1)

Akhir pekan kemarin (20 – 21 Februari 2016) menjadi salah satu momen berharga bagi saya, sebab Allah beri kesempatan untuk saya dapat belajar lebih luas dan dalam tentang Islam. It’s a blessing, sebab berbeda dengan  di Indonesia (Jakarta dan Depok tepatnya) di mana saya sangat mudah menjumpai kajian keislaman dengan berbagai topik yang diisi dengan ustadz yang berkapasitas di bidangnya (serta gratis), mengisi kembali gelas ilmu yang kosong atau menguap di pikiran saya merupakan hal yang harus diperjuangkan di sini.

Pertimbangan jarak, dana, dan Azima menjadi hal yang membuat saya maju mundur ingin ikut berpartisipasi atau tidak, ketika melihat brosur acara seminar yang diisi oleh Syeikh Yasir Qadhi, bertajuk “No Doubt: God, Religion, & Politics in The Modern World”. Kak Jay yang pada saat yang sama juga ada acara mabit bersama teman-temannya pun menyerahkan pada saya untuk ikut atau tidak. InsyaAllah beliau tidak berkeberatan soal dana yang akan beliau kucurkan untuk kebutuhan ilmu istrinya, asal dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan lebih efisien dalam penggunan dana di hari-hari selanjutnya.

brosur seminar "No Doubt" yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda
brosur seminar “No Doubt” yang saya dapatkan di Islamic Center of Alameda

Syukurnya lokasi mabit Kak Jay tidak terlalu jauh dari lokasi acara, sehingga pertimbangan jarak bisa dicoeret. Setidaknya menempuh perjalanan selama dua jam dengan BART dan bus tidak akan saya lalui seorang diri.  Adalah Anin dan Mbak Arin, dua orang kawan saya yang berhasil meyakinkan saya untuk ikut acara tersebut. Anin, high quality single muslimah yang sedang S2 di UK ini sering jadi tempat saya konsultasi soal hidup di luar negeri, khususnya negara Barat. Sedangkan Mbak Arin, lulusan S1 Teknik Sipil ITB yang kini sudah menjadi ibu muda dengan 3 orang anak, serta sudah menyelesaikan jenjang S2nya di Univeristy of California Davis sudah lebih dulu registrasi ke seminar tersebut dan meniatkan membawa tiga putra-putrinya ke lokasi acara. (Yeah, they’re very inspiring, indeed!) 

Mereka berdua menyarankan saya untuk ikut karena merupakan kesempatan yang langka dapat menimba ilmu dari syaikh sekelas Syaikh Yasir Qadhi, sosok keturunan Pakistan yang lahir dan besar di Amerika, serta memiliki kemampuan untuk memberikan wawasan keislaman yang terkombinasi secara unik: antara Universitas Madinah dan Yale University. Menurut cerita Mbak Arin, ada salah seorang temannya yang jauh-jauh terbang dari Seattle ke San Jose untuk mengikuti seminar tersebut. Saya jadi semakin terpicu untuk mensyukuri keberadaan saya yang tidak terlalu jauh dari San Jose, untuk hadir di seminar tersebut.

Kekhawatiran lain berupa tanggung jawab meng-handle Azima alhamdulillah bisa dihapus dengan ketersediaan childcare di lokasi acara. Meskipun harus menambah biaya lagi, saya bersyukur Azima dan saya bisa sama-sama fokus: sang bunda fokus menyimak seminar, sang anak fokus bermain dengan teman-temannya 😀

From “the Quest for ‘real Islam'” to ”Divine Law and Modern Governance”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam dari tempat saya tinggal, tibalah kami di lokasi acara, MCA (Muslim Community Building), San Jose, California. Auditorium yang lumayan besar tersebut (lebih kurang seukuran AJS FISIP UI ) terisi penuh sampai belakang, dengan audience dari ragam suku bangsa dan terikat agama yang sama.

Materi selama dua hari dengan durasi perharinya sekitar 8 jam tersebut diisi seorang instruktur, tidak lain adalah Sh Yasir Qadhi sendiri, dan dibagi menjadi 5 modul utama.

*disclaimer: ulasan materi di bawah ini dipahami dari seorang perempuan yang bahasa Inggrisnya masih tergolong standar (belum advanced gitu :D), bisa memahami inti konteks dari sebuah speech, tapi agak kesulitan mengurai detilnya dalam bahasa Indonesia. Actually, the genuine speech is much better than this review*

Pembahasan dimulai dari hal yang paling mendasar seputar aqidah Islam, The Quest for Real Islam, yang membahas beragam theologies yang ada di dalam Islam itu sendiri, yakni Khawarij, Mu’tazila, Zaidiyah, Syiah Itsna Asy’ari dan Sunni.

Kemudian berlanjut ke modul kedua, Faith and Reason, yang tak lain merupakan komparasi antara Islam dan beragam kepercayaan yang lahir sebelum dan sesudah (atheism, new atheism dan western theists). Hal yang menarik dari pembahasan beliau di antarnya ketika beliau berusaha mengkomparasi argumentasi dari paham atheist: kalau memang Tuhan itu ada, mengapa terjadi bencana besar, seperti tsunami yang meluluhlantakkan sebuah bangsa dan menelan korban jiwa? mengapa ada anak-anak yang menderita kelaparan di berbagai belahan dunia?

Menjawab pertanyaan tersebut, beliau menuturkan bahwa di antara hikmah  ada musibah atau bencana besar yang melanda manusia, adalah untuk melahirkan sisi kemanusiaan itu sendiri: dari mana akan lahir sifat dermawan, saling berbagi, kalau tidak ada lagi yang kelaparan? Selain itu, peristiwa buruk yang menimpa kita sejatinya adalah untuk menaikkan derajat kita di surga, dan menghapus segala dosa-dosa kita. Ujian juga sesungguhnya merupakan sarana untuk mengkoneksikan kembali jiwa kita pada Allah. Mengutip kekata Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “The divine decree related to the believer is always a bounty, even if it is in the form of withholding (something that is desired), and it is a blessing, even if it appears to be a trial, and an affliction that has befallen him is in reality a cure, even though it appears to be a disease!”

Seringkali pula Tuhan dan agama menjadi ‘kambing hitam’ atas segala pertikaan dan peperangan di dunia ini. Dengan tegas Sh Yasir Qadhi membantah, “human history told us, that the greatest war, greatest harm in the world has nothing to do with religion.” Beliau mengambil contoh peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, adalah buah dari ketamakan manusia-manusia yang well educated, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada masa tersebut).

http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html
http://nuclearauthority.weebly.com/hiroshima-and-nagasaki.html

Pola penjajahan atau peperangan besar di dunia memiliki karakteristik dua pihak yang konstan: between (west) civilization and uncivilization. Saya berfikir dan coba mengingat ragam perisitiwa besar yang terjadi dan secara siginifikan mengubah tata dunia, dan ya, akarnya seringkali adalah ego manusia, wajah lain dari megalomaniak yang me-negara.

Di lain pihak,  ada ragam argumentasi lain yang berasal dari ilmuwan Barat, seperti argumentasi soal moralitas, argumentasi soal Consciuousness, Higher Purpose (Transcendence), dan Beauty, yang keseluruhannya mewakili argumentasi bahwa Tuhan itu ada. Seperti argumentasi dari Augustine of Hippo, salah seorang teolog Barat, yang berkata, “Who made these beautiful changeable things, if not one who is beautiful and unchangeable?” 

Argumentasi-argumentasi tersebut secara komprehensif terrangkum dalam ajaran Islam. Secara retoris Allah SWT bertanya dalam QS. Ath-Thur ayat 35, “Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”, dan yang barangkali seringkali kita dengar, “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk: 3-4) 

Keberadaan Nabi dan Rasul yang Allah SWT utus dengan beragam mu’jizat juga menjadi bagian dari argumentasi yang menggenapkan segala kejanggalan yang tidak bisa dijawab oleh argumentasi-argumentasi Barat.

Jauh di atas itu semua, ada senjata rahasia yang menjadi pamungkas dari berbagai argumentasi tersebut, hal paling mendasar yang inheren dalam jiwa kita: setitik fithrah yang sudah Ia titipkan ke setiap manusia. Fithrah yang menuntun setiap manusia menemukan Tuhannya dan mengajarkan bahwa pada dasarnya jauh di dasar lubuk manusia, ia butuh hal mendasar bernama moralitas (bahwa membunuh dan mencuri adalah hal yang dilarang dan disepakati seluruh manusia), ia sadar bahwa ada Dzat yang Maha Esa yang mengatur segalanya.

“Fithrathallahillatii fatharannasa ‘alaiha — This is the fithra that Allah created mankind upon” (QS. Ar-Rum: 30-30)

Sayangnya, fithrah bukanlah sesuatu yang terus menerus konstan seperti OS dalam sebuah gagdet. Ia bisa terus menerus terjaga selama manusia berikhtiar untuk menjaga diri dengan aturan main-Nya, dan bisa juga corrupted jika manusia semena-mena membebaskan nafsu syahwatnya.

“And verily for everything that a slave loses there is a substitute, but the one who loses Allah will never find anything to replace Him.” Ibn al-Qayyim

–bersambung–